
"Baik bos!" Jawab mafioso itu lalu segera undur diri dan mencari keberadaan pemimpin mafioso ketiga.
Di ruang tengah markas,
Chan duduk termenung dengan segala tanda tanya di pikirannya, dia bingung dengan siapa yang sudah tega menghabisi anak yang bahkan belum ada umur lebih dari 6 minggu itu.
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia mengincar anak gue? Gue nggak akan biarin mereka hidup dengan tenang! Gue harus habisi dia!" Chan mengucapkan itu dengan tatapan tajamnya ke arah lantai yang ada di depannya.
"Jika itu memang keinginan lo, itu pasti akan terjadi! Mafioso milik gue yang sudah handal udah gue suruh untuk membawa hidup-hidup mafia ke 3 itu!" Jelas Sehun yang yakin kalau mafioso suruhannya itu akan berhasil membawa apa yang Sehun minta.
Chan juga sempat menelpon Suho untuk bertanya, tentang kondisi Velia saat ini. Suho mengatakan kalau kondisi Velia sudah berangsur membaik, meskipun Velia belum juga sadar. Akan tetapi dokter sudah mengatakan kalau Velia akan segera sadar.
Setelah percakapan Chan juga Suho di telepon. Chan merasa gusar dan ingin segera bertemu dengan mafia ke 3 untuk membalaskan dendamnya.
"Kita nggak bisa diam saja di sini! Kita juga harus segera mencari keberadaan iblis itu!" Kesal Chan yang mengatai mafia itu sebagai iblis.
"Baiklah kalau itu mau lo! Kita datangi saja markasnya dan buat kekacauan di sana!" Saran Sehun yang tak menginginkan Chan merasa gusar.
"Nah gue suka nih kalau yang kayak gini!" Byun yang menyukainya merasa tak sabar dengan saran dari Sehun.
"Iya nih, tangan gue udah gatel banget pengen bunuh mereka semuanya!!" Jawab Kai yang juga setuju dengan saran dari Sehun.
Mereka pun akhirnya menyusun untuk merencanakan serangan balik ke markas mafia ke 3. Setelah selesai mereka segera menuju ke markas mafia ke 3. Sampai di sana mereka berempat bertemu dengan mafioso milik Sehun yang masih berdiri untuk menyusup masuk ke dalam markas musuh itu. Mafioso milik Sehun itu sedang bersiap sampai dirinya menyadari kalau Sehun datang.
"Bos di sini?!" Tanya mafioso itu mendekat ke arah Sehun.
"Iya, bagaimana keadaan di dalam?" Tanya Sehun.
"Pemimpinnya ada di dalam bos!" Kata mafioso itu memberi tahu Sehun.
"Bagus, sekarang siapkan semua pasukan, dan kita serang balik markas ini!" Perintah Sehun pada mafioso miliknya itu untuk segera mengumpulkan seluruh pasukan.
"Baik bos!" Jawab mafioso.
Mafioso yang di suruh itu pun segera mengumpulkan seluruh pasukan untuk menyerang, dan bahkan dalam sekejam pasukan mafioso milik Sehun itu sudah berkumpul. Namun mereka masih bersembunyi dan menunggu aba-aba untuk penyerangan.
"Kalian tunggu saja di sini! Gue akan masuk ke dalam sendiri!!" Ucap Chan tiba-tiba.
__ADS_1
"Lo yakin Chan?" Tanya Byun sembari menoleh ke arah Chan.
Tanpa menoleh ke arah Byun, Chan berkata sambil menatap ke arah markas, "Gue yakin kalau dia mengincar anak gue! Dia juga pasti ngincar gue!".
"Berhati-hatilah Chan! Lo tahu caranya dan segera beri kode kalau kau dalam masalah nanti!" Ucap Kai memberi tahu.
"Gue masuk dulu! Kalian berhati-hatilah di sini!" Ucap Chan yang setelahnya langsung perlahan masuk ke dalam markas.
Saat Chan masuk ke dalam markas itu pun langsung di serang beberapa mafioso musuh.
Dorrr,,,Dorr,,,,,Dorrr
Dorrr,,,,,Dorrr
Namun dengan mudah di kalahkan oleh Chan. Dengan cepat Chan berhasil membuat keributan di halaman markas. Seluruh musuh keluar dengan sendirinya ketika mengetahui markas mereka di serang. Musuh langsung mengepung Chan dengan menggunakan beberapa senjata. Kini Chan berada di tengah-tengah musuh dengan wajah datarnya.
Chan yang sudah terkepung hanya bisa menatap datar mafioso musuh yang mengepungnya saat ini.
"Cih, apa lo semua mau jadi seorang pengecut dengan mengepung gue seperti ini?" Ucap Chan dengan nada santainya. Padahal dia ada di dalam kepungan mafioso musuh.
Mafioso musuh itu bahkan sama sekali tidak peduli dengan ucapan Chan. Mafioso musuh itu bahkan hendak menarik pelatuk mereka yang diarahkan pada Chan. Namun tiba-tiba saja, ada suara yang membuat mereka berhenti untuk melakukannya.
"Hentikan!" Ucap seseorang yang berjalan mendekat ke arah mereka berada. Seorang yang mendekat itu menggunakan marker untuk menutupi wajahnya, sehingga Chan tidak bisa mengenali wajah orang itu. Namun Chan yakin kalau dia yang pernah menyusup ke dalam mansion. Chan masih mengingatnya dengan baik.
"Lo yang menyelinap masuk ke dalam lingkungan mansion gue?!" Ucap Chan saat melihatnya.
"Oh, ternyata kau menyadari itu rupanya!" Ucap seorang pria di balik topeng itu.
"Siapa lo sebenarnya? Kenapa lo tega menghabisi anak gue yang bahkan belum terlahir ke dunia hah?!" Ucap Chan dengan menahan geramnya, namun dia menyadari kalau akan langsung menyerang, seluruh mafioso langsung menembaknya. Jadi Chan memilih diam lebih dulu.
"Gue adalah orang yang akan menjadi penyebab kehancuran pada keharmonisan seluruh keluarga lo!" Ucapnya dengan angkuh.
"Apa mau lo?" Tanya Chan masih dengan datar.
"Gue mau lo semua mati!!!" Ucapnya dengan nada penuh penekanan.
"Tapi kenapa? Apa urusan lo sama keluarga gue?!" Ucap Chan mencoba bertanya baik-baik.
__ADS_1
"Lo bahkan udah di kepung oleh seluruh mafioso milik gue, sebentar lagi lo juga bakal mati! Mati kenapa ucapan lo seakan nggak ada beban sama sekali? Apa lo ufah pasrah?!" Jawabnya lagi dengan tersenyum seringai di balik topengnya.
"Cih, gue nggak akan mati dengan mudah!" Ucap Chan dengan tersenyum miring, "Sebaiknya lo perlihatkan wajah lo itu, dan mari kita selesaikan ini secara pria?!" Kata Chan setelahnya.
"Cih, kau berani sekali memerintah gue? Memangnya lo siapa? Hah?!" Jawabnya dengan nada sombongnya lagi.
"Bahkan tanpa lo suruh pun ,gue akan buka topeng ini!" Perlahan tapi pasti pria bertopeng itu membuka topengnya, dan memperlihatkan wajah aslinya.
Chan tampak mengernyitkan dahinya saat melihat orang yang memakai topeng tadi. Bagaimana tidak? Chan bahkan benar-benar tidak mengenal pria itu.
"Siapa kau?" Tanya Chan dengan bingung.
"Lo memang nggak kenal siapa gue! Tapi lo pasti kenal sama dia!" Pria itu menunjukkan sebuah foto di galeri ponselnya.
Deg,,,
Chan membelalakkan matanya saat mengetahui ada foto Intan yang tak lain adalah mama tiri Chan itu. Foto Intan ada di galeri pria yang bahkan tidak di kenal oleh Chan itu.
"Intan?!" Lirih Chan yang mampu di dengar oleh pria itu.
"Iya, dia adalah Intan!! Lo yang udah bunuh mama tiri lo itu dengan sadis!!! Dan gue? Lo tahu siapa gue? Gue adalah Varga!!" Ucapnya menjelaskan ," Gue adalah sepupu Intan!" Lanjutnya.
"Ck, dia pantas untuk mati akibat perbuatan yang udah dia perbuat!" Ujar Chan yang memang benar adanya kalau Intan pantas untuk mati.
"Kalau begitu, bukankah itu sepadan dengan lo yang udah kehilangan calon bayi lo?!" Varga tersenyum seringai.
Chan yang mendengarnya mengepalkan kedua tangannya, dirinya merasa sangat marah saat itu. Varga menyadari kalau Chan sangat marah padanya dan melihat Chan mengepalkan kedua tangannya.
"Apa lo mau nyerang gue sendiri? Gue akui kalau nyali lo memang besar! Karena berani datang ke sini sediri!" Ucap Varga yang mengetahui kalau Chan datang sendiri. Dia belum tahu kalau sebenarnya Chan datang dengan pasukan besar, "Jadilah salah satu mafioso pengikut gue! Dan gue nggak akan bunuh lo!" Varga menawari sebuah tawaran yang dianggap remeh oleh Chan.
"Cih, lebih baik gue mati dari pada harus jadi salah satu mafioso milik lo!" Chan meludah ke arah Varga.
"Kalau begitu, lo udah nggak akan bisa keluar dari sini lagi! Lo udah masuk ke kandang buaya, dan lo nggak akan bisa keluar hidup-hidup!" Ucap Varga dengan sombongnya.
"Benarkah?!" Chan tampah tersenyum menyungging, "Bagaimana kalau gue balikin omongan lo tadi!!! Lo udah masuk ke dalam kandang singa! Dan lo nggak akan bisa keluar hidup-hidup!" Kata Chan yang membalikkan ucapan Varga tadi.
"Haish, ini terlalu sulit bukan?!" Ucap Chan sambil menghela nafas.
__ADS_1