
Tidak mungkin?!" Ujar Riri yang tidak menyangka kalau dirinya dulu mengenal Dila.
"Dek, kenapa Dila bisa ada di masalalu kamu?" Tanya Chan yang juga bingung.
"Aku sudah menduganya kak, pasti ada sesuatu yang tidak asing dengan kak Dila, dan ternyata benar!" Ujar Riri yang yakin pada pemikirannya.
"Kenapa bisa Dila bersikap seperti itu padamu?" Tanya Chan lagi yang masih bingung.
"Aku juga tidak tahu kak, ini adalah gambaran masalalu saat pertama kali aku bertemu dengan kak Dila,,dia terlihat begitu membenciku,,, mungkin karena saat itu aku lebih dulu terkenal di bandingkan dengan kak Dila,,,apa mungkin kak Dila dulu merasa iri padaku" ujar Riri.
Setelah itu, mereka di perlihatkan lagi di masalalu Riri yang sedang berada di sebuah cafe XIU.
...⏳⏳Gambaran masalalu⏳⏳...
Di sana terlihat Riri sedang duduk sendirian sambil menyantap makanan yang dia pesan. Dan ternyata Dila juga sedang berada di cafe yang sama bersama dengan Suho.
Dila menyadari kalau di cafe itu ada Riri, jadi Dila memutuskan untuk mendekati Riri.
"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya!" Ujar Dila pada Suho yang sedang memakan makanannya.
"Iya sayang" jawab Suho singkat.
Dila pun akhirnya mendekati Riri yang sedang makan di cafe itu.
"Hay gadis manja?!" Ujar Dila menyepelekan Riri.
Riri pun menoleh ke sumber suara dan berkata,,,,
"Kak Dila?" Ujar Riri.
"Jangan panggil aku kakak! Aku bukan kakakmu!!" Ujar Dila kesal.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Bukankah tidak sopan jika aku hanya memanggil namamu saja? Aku lebih muda darimu jadi wajar kalau aku memanggil kamu kakak?!" Ujar Riri menjelaskan panjang lebar.
"Cih,,wajah polos mu itu tidak berpengaruh bagiku! Aku sebenarnya tau niat busuk mu! Kau ingin menyingkirkan aku dari dunia permodelan bukan?!" Ujar Dila.
"Apa yang kakak katakan? Aku bahkan tidak tahu apa-apa, kenapa bisa kakak menuduhku seperti itu?!" Ujar Riri menjelaskan.
__ADS_1
"Apa kau bilang? Menuduh?" Ujar Dila dengan mengangkat satu alisnya.
"Aku tidak pernah memiliki niat buruk padamu kak! Sungguh!!" Ujar Riri dengan bersungguh-sungguh.
"Kau munafik!!!" Ujar Dila sembari menyiram Riri dengan segelas jus yang ada di meja itu.
Riri hanya bisa terdiam diperlakukan Dila seperti itu.
"Ups,,, sorry, aky sengaja?!" Ucap Dila sembari tersenyum bangga pada dirinya, lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Riri.
Setelahnya Riri pun membersihkan pakaiannya di toilet cafe itu.
...⏳⏳Gambaran masalalu⏳⏳...
"Astaga, kejadian apa ini? Kenapa Dila melakukan itu padamu, dek?" Tanya Chan yang masih tidak menyangka kalau Dila berbuat seperti itu pada adiknya.
Riri tak menjawab pertanyaan Dila, dan merasa sangat kesal, dan juga emosi melihat kejadian itu.
"Kenapa dia membencimu, Ri?" Tanya Chan yang belum mendapat jawaban dari Riri.
"Aku sudah bilang kalau dia itu iri!!!!" Ujar Riri kesal dan marah pada kakaknya dan hendak pergi.
"Karena dia kekasihmu kak!" Ujar Riri yang membuat Chan terdiam, "Ayo kita kembali saja, aku tidak sanggup melihat diriku yang diperlakukan seperti ini?!" Ujar Riri lagi yang mengajak Chan untuk kembali ke raganya.
"Tunggu dek!" Ucap Chan menghalangi langkah Riri. "Kita bisa mengetahui siapa pembunuh kamu kalau kita masih terus di sini!" Ujar Chan lagi.
"Kak, melihat ini saja aku sudah tidak sanggup lagi! Dan lagi pula ragamu juga tidak begitu baik saat ini, kalau kita tidak segera kembali kau akan sulit untuk kembali lagi ke ragamu kak!" Ujar Riri memberi tahu Chan.
"Apa yang terjadi jika aku tidak kembali?" Tanya Chan yang tidak mengetahui apa-apa.
"Ya pasti semua orang akan mengira kalau kakak sudah tiada?!" Ujar Riri memberi tahu Chan.
Chan yang mengetahui hal itu, langsung saja mengikuti arahan dari Riri untuk kembali ke dunia manusia.
Setelah mereka berhasil kembali ke dunia manusia, Chan masih bingung dengan sikap Dila di masalalu terhadap Riri.
Riri pun menyuruh Chan untuk beristirahat di kamarnya, sembari memulihkan tenaganya yang sudah terkuras habis setelah melakukan perjalanan di masalalu.
__ADS_1
Saat hendak tidur, Chan teringat akan Velia.
"Astaga , Velia? Kenapa aku bisa melupakannya? Apa aku harus pergi ke rumahnya sekarang? Tidak-tidak aku harus menyembuhkan luka di wajahku dulu,,baru aku akan ke sana menemuinya!" Ujar Chan yang bingung harus bagaimana " kira-kira kamu lagi ngapain ,Vel? Aku sangat merindukan kamu?!" Ujar Chan lagi.
Chan pun teringat akan saat pertama kali dia bertemu dengan Velia dan mengajaknya untuk tinggal di rumahnya saat itu.
"Apa aku kasih tahu Velia saja tentang kebenaran kalau dia itu sebenarnya sudah tiada? Tapi kalau aku memberi tahunya apakah dia akan membenciku?!" Ujar Chan yang tak ada henti-hentinya memikirkan Velia.
Riri yang masih mendengar kakaknya bicara sendiri di kamar pun ,akhirnya muncul di hadapan Chan.
Riri pun bertanya kepada kakaknya, kenapa tidak beristirahat padahal tubuhnya memerlukan istirahat untuk mengembalikan tenaganya seperti semula. Chan akhirnya mengatakan pada Riri kalau dirinya tidak bisa tidur dan terus memikirkan Velia. Chan pun berkata bahwa Velia lah yang pantas untuk di cintai.
"Akhirnya kakak sadar juga?!" Ujar Riri yang senang dengan kejujuran kakaknya.
"Apa mungkin kalau kakak menikah dengan Velia ,dia akan menjadi manusia?!" Tanya Chan dengan kepolosannya.
Riri hanya bisa membulatkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya.
"Kenapa kakak bisa mengatakan hal seperti itu?!" Tanya Riri bingung.
"Ya kan siapa tau aja dek?!" Ujar Chan biasa saja.
"Haish, kakak ini sungguh bodoh ya? Mau kakak menikah ataupun tidak, itu sama saja tidak akan mengubah status kak Velia yang sudah meninggal kak!" Ujar Riri memberi tahu kakaknya.
"Tapi apa nantinya kakak sanggup untuk kehilangan Velia?" Ujar Chan yang tiba-tiba saja menatap ke luar jendela.
"Itulah yang harus kakak yakinkan, jika kakak memang mencintai kak Velia, kakak harus tau konsekuensi yang akan kakak dapatkan ,,,karena cinta kalian beda alam! Dan cinta juga tak harus memiliki kak?!" Ujar Riri dengan tingkat pengetahuan yang tak ada batasnya.
"Haish, kau ini masih kecil sudah berbicara layaknya orang tua yang sedang menasehati anaknya?!" Ujar Chan meremehkan Riri.
"Hey, apa kakak lupa kalau aku sudah berusia 16 tahun?!" Ujar Riri dengan pedenya.
"Mau kamu berusia 16 ataupun 30 sekalipun, kamu akan tetap menjadi gadis kecil kakak?!" Ujar Chan.
"Tapi masalah kepintaran, lebih pintar aku di bandingkan kakak?!" Ujar Riri dengan sombongnya.
"Apa kamu bilang? Jadi menurut kamu kakak tidak pintar?😒😒😒" Ujar Chan dengan mata malasnya.
__ADS_1
"Sedikit😕🤏" ujar Riri tanpa dosa.
"😤😤😤😤" Wajah Chan penuh dengan amarah, namun tidak bisa marah pada adiknya yang cantik itu.