
"Aku pergi untuk menjalani kemoterapi ku di luar negeri, kak! ini aku berniat kembali hanya untuk Chen! tapi aku takut dia tidak mau menerima aku lagi, Karena aku sudah pernah meninggalkan dia!" Kata Irene menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dia alami.
"Apa kau tahu, Chen bahkan tidak pernah berpikir kalau dia ingin mencari wanita lain! Dia memilih untuk menunggumu kembali!! Tapi karena tadi dia melihat kamu bersama dengan pria lain, dirinya merasa sangat marah dan kecewa sama kamu!!" ucap Kyungsoo yang membuat Irene langsung menitikkan air matanya karena merasa sangat bersalah.
"Hiks, ini memang salahku Kak! dan aku rasa Chen tidak akan pernah memaafkan aku, hiks!!" ucap Irene sambil menunduk menitihkan air matanya.
Melihat Irene yang menangis, jadi tidak tega dan mengusap pundak Irene untuk menenangkannya.
"Kamu tenang saja, ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang harus diluruskan!!" Kyungsoo yang yang berhasil membuat Irene menatap kearahnya.
"Tapi apakah masih ada kesempatan untuk ku Kak?" tanya Irene sambil menatap mata Kyungsoo lekat.
"Semua orang pasti memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dimasa lalunya! ini hanyalah kesalahpahaman saja, Ayo ikut aku!!" ajak Kyungsoo pada Irene dengan menarik tangan Irene perlahan. Irene langsung mengikuti langkah Kyungsoo untuk masuk ke dalam markas, tepatnya tempat Cen menyiksa Fadil.
"Kita akan ke mana Kak?" tanya Irene penasaran.
"Kakakmu Fadil ada di sini dia disekap oleh Chen!" ucap Kyungsoo sambil terus berjalan menatap ke depan tanpa menoleh kearah Irene.
"Apa? aku mohon selamatkan dia Kak! Kak Fadil tidak bersalah!" Irene terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Kyungsoo, dirinya takut kalau nantinya akan terjadi apa-apa pada kakak kandung itu.
Irene tahu kalau Chen sudah marah dan emosi dirinya tidak bisa mengontrolnya. dan Irene takut kalau sampai kakaknya dibunuh oleh Chen. Karena Fadi lah yang selama ini menemani Irene saat menjalani kemoterapi di luar negeri.
Flashback off
Mendengar penjelasan dari Kyungsoo, Chen langsung duduk bersimpuh dan memandang kosong ruangan yang digunakan untuk menyekap Fadil.
"Jadi selama ini, dia menyembunyikan penyakitnya dari gue?" Kata Chen sambil menatap kosong ruangan itu dan matanya mulai berkaca-kaca, "Bahkan gue udah salah paham sama kakak kandungnya sendiri? Kenapa gue bisa sebodoh ini?" ucap Chen lagi, menyadari kesalahannya yang sudah dia buat.
Chen memukul kepalanya sendiri sambil mengatai kalau dirinya itu adalah orang terbodoh. Chan yang tidak tega melihatnya langsung menghalangi tangan Chen yang digunakan untuk memukul kepalanya.
"Lo jangan lakuin itu Chen! lebih baik sekarang lo perbaiki semuanya sebelum terlambat!" Chan mencoba menenangkan Chen dan menyuruhnya untuk ke rumah sakit menyusul Irene dan juga Fadil.
"Chan benar, lo harus temui Irene dan meminta maaf sama dia!" kata Suho yang juga sependapat dengan Chan.
__ADS_1
"Tapi apa gue masih pantas?" Ujar Chen menunduk.
"Setidaknya lo udah berusaha dan mencoba memperbaiki semuanya, apapun keputusan Irene nanti lo harus bisa terima!" kata Kyungsoo yang mencoba membangkitkan posisi Chen yang duduk bersimpuh di lantai.
Mereka semua menyarankan supaya Chen pergi ke rumah sakit menyusul Irene. akhirnya mereka memutuskan untuk menyusul Dafa dan juga Kai yang mengantar Fadil ke rumah sakit.
Sesampainya mereka di rumah sakit,
Pov Irene
"Kak bangunlah! Maafkan Irene, karena Irene Kakak jadi seperti ini! bangun Kak! apa yang nantinya akan aku katakan kepada Mama kalau sampai kau meninggalkanku!" ucap Irene yang menangis di dekat ranjang ruang rawat Fadil.
Irene terus menangis menatap kakaknya yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
Sampai akhirnya mereka semua yang tadinya di markas, datang untuk menjenguk Fadil. Dafa dan juga Kai yang tadinya ada di dalam ruang rawat Fadil bersama dengan Irene pun , menyadari kedatangan Byun dan mengkode Dafa dan Kai untuk keluar. Tujuan mereka supaya Irene nantinya bicara empat mata dengan Chen di dalam.
Di depan ruang perawatan terlihat Chen yang masih menunggu Dafa dan juga Kai keluar. Sampai akhirnya mereka berdua keluar karena di beri kode oleh Byun tadi.
"Chen, sebaiknya lo masuk dan temui Irene! Karena bagaimanapun juga, lo yang udah buat kakak Irene jadi seperti ini!" kata Dafa sembari menepuk pelan pundak Chen.
"Gue enggak tahu harus ngakuin apa! gue juga yakin kalau mereka nggak bakal bisa nerima gue!" ucap Chen yang sudah putus asa, padahal dirinya belum mencobanya.
Melihat Chen yang sudah putus asa Chan pun menepuk pelan pundak Chen.
"Masuklah dan selesaikan semuanya! jika nanti Irene gak bisa nerima Io kembali ,lo harus terima kalo lo harus pergi dari kehidupan dia!!" kata Chan.
Mendengar itu kan menarik nafas panjangnya, dan mencoba meyakinkan dirinya sendiri untuk masuk ke dalam menemui Irene dan juga kakaknya.
"Baiklah kalau begitu! Thanks buat dukungan dari kalian!" Ucap Chen yang setelahnya masuk ke dalam ruang rawat Fadil.
Akan tetapi sebelum Chen masuk ke dalam ruang rawat Fadil. Tiba-tiba saja ponsel Chan berdering dan yang menelponnya adalah Velia.
"Ponsel siapa yang bunyi?" Tanya Byun sambil mencari-cari ponsel di sakunya.
__ADS_1
"Punya gue!" Jawab Chan dengan datar lalu mengangkat telepon dari Velia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo sayang?!" Ucap Chan memulai pembicaraan di dalam telepon.
"Chan, kok nggak ngabarin sih? Apa ada masalah? Bagaimana perkembangannya? Terus Chen gimana? Kalian lagi sama Chen kan?" Tanya Velia tanpa henti dan jeda membuat Chan merasa bingung harus menjawab bagaimana.
"Astaga, belum juga gue jawab udah nanya lagi!😫" Gumam Chan yang tak di dengar oleh Velia.
"Sayang kok malah diam sih?" Ucap Velia lagi.
"Gimana mau jawab kalau kamu aja nanyanya kayak gitu!" Kata Chan dengan menghela nafasnya.
"Eh maaf, ya udah cepetan kasih tahu ish!" Velia yang sudah sangat penasaran dan tidak sabar mendengar cerita dari Chan, suaminya.
Chan pun menceritakan semuanya pada Velia, termasuk firasat Velia yang mengatakan kalau semua hanyalah kesalahan pahaman saja. Chan juga memberitahu istrinya kalau dirinya sedang berada di rumah sakit. Untuk menemani Chen yang akan berbicara empat mata dengan Irene.
Setelah itu pun Chan segera menyuruh Chen untuk masuk ke dalam dan menyelesaikan semuanya.
Ceklek,,,,
Suara pintu dibuka oleh Chen. Irene yang ada di dalam dan tengah duduk di dekat ranjang Fadil, tidak menyadari adanya Chen yang masuk ke dalam ruang itu. Terlihat Irene sedang duduk dan menangis sambil melihat kakaknya yang terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.
"Kak, bangunlah ku mohon!" Kata Irene sambil memegang tangan kakaknya.
"Maafkan aku!" Ucap Chen yang berdiri tepat di belakang Irene dan sontak membuat Irene berhenti menangis. Lalu dirinya menoleh ke sumber suara.
Chen langsung duduk bersimpuh di kaki Irene sambil menunduk, dirinya merasa bersalah akan apa yang sudah dia lakukan terhadap kakak kandung Irene.
"Maaf karena aku sudah salah paham terhadap mu, membuat kakakmu menjadi seperti ini!" ucap Chen memohon dengan ketulusan hatinya dan rasa penyesalan yang sangat besar, "Sungguh aku tidak tahu kalau dia adalah kakak kandung kamu Irene!" Ucap Chen lagi yang perlahan menitihkan air matanya.
"Ka-kau!!!" Ucap Irene terbata dan masih menangis.
__ADS_1