
Sesampainya di rumah sakit, Chan langsung di tangani oleh dokter. Suho dan Dila menunggu dokter yang sedang memeriksa Chan di ruang IGD, sampai akhir dokter yang menangani Chan keluar dari ruang IGD itu.
"Bagaimana keadaan teman saya, dok?" Tanya Suho pada dokter yang baru saja memeriksa keadaan Chan.
"Pasien harus segera di operasi dikarenakan ada luka sobekan pada lambungnya!" Kata dokter itu menjelaskan apa yang terjadi pada Chan.
"Lakukan yang terbaik, Dok!!" Ujar Suho yang menyuruh dokter itu melakukan apa saja yang dia bisa untuk menyelamatkan nyawa Chan.
"Baiklah, sekarang anda harus tanda tangan di sini?!" Pinta dokter itu pada Suho.
"Tapi, bukankah harus keluarganya dok?" Tanya Suho.
"Kita tidak memiliki banyak waktu untuk menunggu keluarga pasien datang! Pasien sudah kehilangan banyak darah!" Ujar Dokter itu sehingga Suho langsung menandatangani surat pernyataan itu agar Chan segera dioperasi.
Dokter pun menyuruh beberapa suster untuk membawa Chan ke ruang operasi dan dengan segera dokter itu melakukan operasi Chan. Suho dan Dila kini berada di depan ruang operasi Chan mereka bingung harus melakukan apa lagi untuk menyelamatkan nyawa Chan.
"Sayang, bagaimana ini? Apa kita tidak akan memberi tahu keluarga Chan?" Tanya Dila yang memulai pembicaraan setelah keheningan melanda mereka berdua di depan ruang operasi itu.
"Tapi kita mau kasih tahu siapa, Dil? Kita aja nggak tahu keluarga Chan!" Ujar Suho yang tak mengetahui siapa keluarga Chan.
"Lalu bagaimana ini?" Tanya Dila yang khawatir.
"Lebih baik kita temani Chan sampai dia pulih dan siuman!" Saran Suho karena tidak ada cara lain lagi selain itu.
Sedangkan di sisi Velia, kini dia duduk tak berdaya di lorong rumah sakit. Tidak ada satu orang pun yang melewati lorong itu, karena Velia memang sengaja mencari tempat yang sepi dari keramaian rumah sakit.
"Kenapa kamu sampai nekat melakukan ini, Chan? Aku tahu kita memiliki perasaan yang sama?! Tapi kita juga harus tahu batasan kita, Chan! Kamu harusnya tahu kalau kita tidak akan pernah bisa bersatu?!!" Ujar Velia menangis.
"Aku akan pergi jauh dari kamu setelah kamu sembuh, Chan!! Kamu harus sembuh!! Aku akan menghilang dari kamu! Aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi padamu!!" Ujar Velia yang masih saja menangis namun akhirnya menyeka air matanya.
"Aku akan menyelesaikan urusanku sendiri!! Aku tahu kita saling menyayangi , tapi sampai kapan pun kita tidak akan pernah bisa bersatu?!" Ujar Velia yang setelahnya langsung menghilang begitu saja dari lorong itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Beberapa jam kemudian,,,,,
Dokter akhirnya keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan teman saya, Dok?" Tanya Suho dengan rasa khawatir yang menghantui dirinya.
"Syukurlah operasinya berjalan dengan lancar, dan sebentar lagi pasien akan segera siuman?!" Ujar Dokter hingga Suho dan Dila bisa bernafas dengan lega karena mengetahui hal itu.
"Terima kasih, Dok!" Ucap Suho.
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu!" Pamit dokter itu yang setelahnya pergi meninggalkan Suho dan Dila di depan ruang operasi.
Setelah selesai di operasi, Chan langsung dipindahkan ke ruang rawat inap.
Saat itu Dila dan Suho memang menemani Chan sampai mereka ketiduran di sofa yang ada di tempat Chan di rawat.
Velia muncul di dekat ranjang milik Chan. Dia melihat Chan yang masih tak sadarkan diri pasca operasi.
"Riri, maafkan aku karena tidak bisa menepati janjiku untuk selalu bersama dengan Chan dan menjaganya! Aku harus pergi, aku tidak bisa terus menerus berada di dekat Chan , karena dia pasti tidak akan bisa melupakan aku?! Hanya ini satu-satunya cara untuk menjaga kamu tetap aman, Chan!! Aku akan pergi demi kebaikan dirimu!" Ujar Velia lalu mencium kening Chan lagi, dan setelahnya Velia langsung menghilang dari ruangan itu.
Keesokan harinya, Chan telah sadar dari pasca operasi kemarin yang dia jalani.
Chan membuka matanya dan langsung menyebut nama Velia hingga membuat Suho dan Dila terbangun dari tidurnya.
"Velia?!" Ucap Chan pertama kali setelah dia sadar.
"Chan, kamu sudah sadar?!" Tanya Suho yang langsung terbangun dari tidurnya lalu berjalan mendekat ke ranjang Chan. Chan menatap Suho sendu sembari berkata,,,,
"Di mana Velia?" Tanya Chan.
"Chan, Velia itu siapa?" Tanya Suho yang memang tak mengetahui siapa sebenarnya Velia itu.
"Aku mau cari Velia!" Ujar Chan yang perlahan hendak bangun dari posisinya tidur.
__ADS_1
"Hey, lo mau kemana? Lo tuh baru aja selesai operasi! Jadi jangan banyak gerak dulu!" Kata Suho yang menyarankan agar Chan tetap berada di ranjangnya.
"Akhhh" Rintih Chan yang merasakan sakit pada bagian perutnya yang setelah dioperasi.
"Nah, kan udah gue bilangin!" Kata Suho.
"Tapi gue harus nyari Velia!" Ujar Chan yang masih keras kepala.
"Haish, iya! Lo boleh nyari Velia! Tapi nanti setelah lo pulih!" Saran Suho pada Chan yang kini kembali ke posisinya awal.
"Velia!!" Panggil Chan sembari menatap langit-langit ruang rawat itu.
Velia sendiri sebenarnya masih ada di sana, namun dirinya sengaja tidak menunjukkan wujudnya di depan Chan.
"Entah kenapa aku tidak sanggup untuk meninggalkan kamu, Chan?! Tapi aku juga tidak sanggup jika harus melihat kamu terus bertaruh nyawa demi cinta kita dan untuk bersatu denganku, Chan?!" Ujar Velia yang hanya bisa melihat Chan dari jauh supaya Chan tidak mengetahui keberadaannya.
Velie berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit itu, namun dia terkejut saat melihat suatu hal yang tidak dia sangka sebelumnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
2 hari kemudian Chan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Suho dan Dila yang menemani Chan sampai Chan pulang ke rumahnya. Suho dan Dila juga menjaga Chan sampai dia benar-benar pulih, karena setelah pulang dari rumah sakit, Chan sangat sulit jika di suruh makan.
"Chan, makanlah sesuatu!" Pinta Suho dengan memegang sepiring makanan untuk Chan dan menaruhnya di atas meja yang ada di kamar Chan.
"Aku tidak lapar," Jawab Chan dengan tatapan kosongnya.
Suho menghela nafasnya lalu berkata,,,,,
"Aku berjanji akan membantumu untuk mencari Velia nanti!!" Kata Suho yang mampu membuat Chan menoleh ke arahnya.
"Memangnya kau tau siapa Velia?" Tanya Chan pada Suho dengan tatapan lesunya. Suho bingung harus menjawab apa sampai akhirnya dia hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Velia, kamu di mana? Aku sangat merindukan kamu, Vel!! Ku mohon datanglah dan temani aku lagi, Vel!! Aku hanya ingin bersama denganmu saja!!" Ucap Chan di dalam lubuk hatinya.
__ADS_1