
"Chan, kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mau membantuku?" Tanya Velia yang masih terus menangis.
"Vel, jangan menangis, ku mohon! Aku tidak bisa melihatmu menangis seperti ini! Aku akan membantu kamu, tapi kamu tolong berhenti menangis ya?!" Ucap Chan.
"Sungguh?" Jawab Velia dengan penuh semangat.
Chan menjawabnya dengan anggukan.
"Chan, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" Tanya Velia tiba-tiba.
Chan heran pada Velia yang tiba-tiba saja menanyakan hal seperti itu pada Chan, dia hanya bingung harus menjawabnya apa. Sementara di sisi lain Velia terus mendesak Chan untuk mengatakan segalanya.
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Chan! Ku mohon berjanjilah kalau kau akan mengatakan semuanya besok!" Kata Velia.
"Tapi ,Vel,,,,," Terpotong.
"Tidak ada penolakan, Chan! Aku ingin kau jujur Chan!" Kata Velia lagi sembari mengusap air matanya.
Chan hanya bisa pasrah dan menghela nafas. Chan juga tak tahu lagi ingin mengelak dari Velia bagaimana.
Setelah itu Chan pulang ke rumahnya sedangkan Velia langsung masuk ke dalam rumahnya lalu meratapi nasibnya.
Seperti biasa, Velia duduk termenung di kamarnya. Terdengar suara piano yang berada di rumah Velia berbunyi dan seperti sedang di mainkan oleh seseorang, namun Velia seakan tidak bergeming dan memperdulikannya. Velia masih terus melamun dan meratapi nasibnya.
Sampai akhirnya dia tertidur dengan posisi duduk. Di dalam mimpinya ,Velia mendengar suara Pipi dan juga Maminya. Akan tetapi Velia tidak melihat adanya mereka. Hanya suara saja yang Velia dengar, sampai akhirnya Velia terbangun dan mendapati kalau itu tadi hanyalah sebuah mimpi saja.
Velia menangis karena mengingat kedua orang tuanya yang tak kunjung pulang untuk menemui Velia. Riri yang mendengar tangisan Velia pun akhirnya datang ke rumah Velia.
"Apa kakak baru saja mimpi buruk?" Tanya Riri yang tiba-tiba muncul di kamar Velia.
"Tidak, Ri! Tadi cuma mimpi ketemu sama orang tua aku." Ujar Velia sembari mengusap air matanya.
"Kalau begitu kakak tidurlah, aku akan menemani dan menjaga kakak!" Suruh Riri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah Chan, dia sedang bingung harus bagaimana cara mengatakannya pada Velia yang sebenarnya. Bahkan Chan sendiri seakan tak siap untuk mengatakannya. Chan bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang hal yang harus dia katakan pada Velia besok. Lebih tepatnya kebenaran tentang Velia.
"Bagaimana mungkin aku bisa mengatakannya pada Velia? Aku takut kalau nantinya Velia pergi untuk selama-lamanya" Ujar Chan frustasi dengan apa yang ada di pikirannya.
__ADS_1
Saat Chan sibuk berseteru dengan batin dan juga dirinya sendiri. Chan mendengar suara minta tolong yang tak lain adalah dari makhluk yang tak kasat mata. Namun Chan sama sekali tidak peduli pada suara itu, dan masih saja berpikir tentang Velia.
"Haish, semua ini membuatku gila! Lebih baik aku tidur saja."
Chan pun akhirnya memutuskan untuk tidur setelah lelah berpikir mengenai kebenaran Velia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih di waktu yang sama, Pipi dan juga Mami Velia sedang berbincang mengenai Velia. Pipi Velia bernama Kim Chen Ze sedangkan Maminya bernama Vebiola.
"Sayang, bagaimana ini? Kau tau kan apa yang aku maksudkan?" Tanya Pipi Kim
"Iya aku tahu, ini tentang Velia bukan?" Tanya Mami Vebiola.
"Apa kita sudah terlalu lama meninggalkannya? Ingin rasanya aku memeluk anakku itu dan aku juga merasa kasihan padanya!" Ujar Pipi Kim.
"Begitu juga denganku! Aku juga ingin sekali memeluknya! Tapi jika kita kembali itu tidak akan ada gunanya!" Kata Mami Vebiola.
"Kita harus berusaha untuk menemuinya, sayang!" Ujar Pipi Kim.
"Tapi dengan kondisi kita yang seperti ini, Velia tidak akan mau menerima kita ,Pi!" Ucap Mami Vebi dengan mata berkaca-kaca.
"Kau benar." Kata Pipi Kim yang mengakhiri percakapan itu dan langsung memeluk istrinya yang sudah berderai air mata.
Velia menatap dirinya di depan cermin dan segera mencuci mukanya untuk menemui Chan.
Di waktu yang sama, namun berbeda tempat Chan berusaha meyakinkan dirinya untuk mengatakan kebenarannya pada Velia. Riri yang saat itu muncul di rumah kakaknya juga ikut meyakinkan Chan tentang itu.
"Apa kakak sudah yakin ingin memberi tahu kak Velia tentang semuanya?" Tanya Riri meyakinkan Chan.
"Sebenarnya kakak masih ragu, dek! Tapi mau bagaimana lagi, kakak sudah terlanjut berjanji pada Velia!" Jawab Chan.
"Nanti saat kak Velia sudah mengetahui kalau dirinya sudah meninggal, mungkin kak Velia akan menjadi hantu yang sama sepertiku karena harti kak Velia baik!" Ujar Riri.
"Kakak tidak perduli dengan wujudnya, Ri! Kakak akan menerimanya apa adanya, karena kakak sayang sama dia!" Jawab Chan yang membuat hati Riri tersentuh.
"Kakak juga ingin tahu apa yang menjadi penyebab meninggalnya Velia!" Kata Chan setelahnya.
"Aku dulu kali kak!" Jawab Riri yang juga harus mencari kebenaran sebab doa meninggal.
__ADS_1
"Apa kamu tahu, kenapa kakak lebih sering menunda untuk mencari tahu tentang siapa pembunuh kamu, dek? Itu karena kakak takut kalau kamu akan pergi meninggalkan kakak untuk selama-lamanya!" Ujar Chan yang seketika sedih.
"Kak, yakinlah kalau kita pasti akan dipertemukan kembali nantinya" ujar Riri meyakinkan Chan.
"Nggak dek! Kakak belum siap kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya!" Tegas Chan.
Riri hanya menghela nafas, tanda bahwa dia hanya pasrah pada kakaknya.
"Terserah kakak saja."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Velia yang sudah selesai mandi, dia kini duduk di meja rias miliknya sembari bercermin. Namun tak di sangka dari cermin itu ada makhluk yang sangat menyeramkan dan dia berkata,,,,,
"Aku membencimu!!!!!"
Velia yang amat terkejut dengan wajah dan juga suara itu berkata,,,,
"Siapa kau? Kenapa kau membenciku?" Ucap Velia dengan rasa takutnya.
"Pergi dari sini!!" Ujar Velia yang setelahnya mengambil vas di dekatnya lalu memecahkan cermin itu.
Cetiar,,,,,,,
Suara itu terdengar oleh Chan yang abru saja turun dari mobilnya dan hendak mengetuk pintu rumah Velia.
"Vel? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Chan dari pintu depan.
"Chan?" Ujar Velia yang masih mengatur nafasnya karena terkejut akan sosok mengerikan tadi.
Tanpa pikir panjang, Velia pun berlari menuju pintu depan, dan segera membukakan pintu untuk Chan.
"Ada apa Vel? Kenapa tadi seperti ada suara pecahan kaca? Dan kenapa kamu berteriak?" Tanya Chan yang bertubi-tubi membuat Velia bingung untuk menjawabnya.
Melihat Chan yang sangat khawatir pada Velia. Velia pun memutuskan untuk berbohong kepada Chan, dengan mengatakan kalau tadi hanya ada kecoa saja dan tidak terjadi apa-apa selain hal itu.
"Kamu kok kayaknya khawatir banget sama aku?" Tanya Velia.
__ADS_1
"Nggak kok, aku cuma nggak mau aja kalau sampai kamu kenapa-kenapa!" Ujar Chan mengelak.
"Itu sih sama aja, Chan!"