
"Kok kamu bisa tahu kalau namanya Dila?!" Tanya Chan pada Riri.
Riri pun terdiam.
"Oh ,jangan-jangan kamu tadi ngikutin kakak ya?!" Tanya Chan pada Riri lagi.
"Yee, nggak lah kak, orang tadi aku cuma lihat bentar doank?!" Ujar Riri yang mengelak dari tuduhan Chan.
Chan pun menghela nafasnya , dan kemudian dia berpikir sejenak, sebelum dia menanyakan suatu hal pada Riri.
"Dek ,kakak bingung deh?!" Tanya Chan pada Riri.
"Bingung kenapa sih kak?!?"ujar Riri yang penasaran.
Chan kembali menghela nafasnya dan mencoba memberi tahu Riri.
"Aneh banget nggak sih Ri, masak Dila tiba-tiba ngajakin kakak buat pacaran. Padahal kan kita baru aja kenal?!" Ujar Chan.
Mendengar hal itu , Riri menertawakan Chan ,dan Chan sendiri bingung kenapa Riri tertawa.
"Masak iya sih kak, mungkin kak Dila memang udah nggak sabar kali buat jadi pacarnya kak Chan?!" Ujar Riri yang masih saja tertawa " Bahkan kakak aja kalah cepat sama kak Dila, masak yang ngajakin buat jadian malah kak Dila sih kan seharusnya kakak dulu?!" Ujar Riri.
Chan pun kesal dengan ucapan Riri yang sangat membuatnya jengkel. Sampai akhirnya Chan pun menceritakan bagaimana pertemuannya dengan Dila dari awal.
"Kok aneh sih kak?, Padahal kan kakak baru aja ketemu sama kak Dila, tapi masak sih langsung bisa jadian gitu ,bahkan kak Dila lagi yang nembak?!" Ujar Riri yang masih terheran dengan hal itu.
Chan pun akhirnya menceritakan pada Riri saat dia pertama kali bertemu dengan Dila di saat masih berada di bangku SMA. Chan dulunya sangat pendiam dan tidak mau terbuka dengan orang lain, saat di sekolah pun dia sering sekali menyendiri. Itu karena orang-orang mengira kalau Chan adalah pria yang aneh. Chan sering sekali di dapati oleh teman-temannya yang sedang memperhatikannya. Chan seolah berbicara sendiri dan tidak ada satu orang pun yang percaya ,kalau Chan memiliki penglihatan yang spesial.
"Oh gitu ya kak, tapi menurut Riri kakak juga nggak ada bedanya dari yang dulu?!"ujar Riri yang membuat Chan menatapnya dengan tatapan malas.
Setelah itu, mereka pun berbicara banyak mengenai Dila dan juga menceritakan bagaimana bisa Chan terluka.
Saat mereka sedang asik berbincang ,tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu rumah mereka, sehingga membuat Chan memutuskan untuk melihat siapa yang datang.
Sedikit terjadi perbedaan pendapat mengenai siapa yang mengetuk pintu rumah Chan. Riri dan juga Chan saling beradu mulut hanya karena memikirkan siapa yang datang malam-malam seperti itu.
__ADS_1
Sampai akhirnya Chan pun memutuskan untuk memastikan siapa yang bertamu malam-malam begitu.
Dan ternyata Dila yang datang ke rumah Chan, Dila datang dengan wajah yang penuh dengan kekhawatiran.
"Dila? Kamu kenapa malam-malam gini ada di luar?!" Tanya Chan pada Dila.
"Chan tolong aku , tadi Suho datang dan hendak membawaku pergi bersamanya?!" Ujar Dila yang khawatir akan apa yang harus dia lakukan lagi.
"Lalu kenapa kamu bisa sampai di sini? Apa Suho mengejar kamu? Atau apa perlu aku membantu kamu buat ngusir Suho, Dil,?!" Tanya Chan pada Dila.
"Aku tadi lari lewat pintu belakang tanpa sepengetahuan Suho, aku nggak mau pulang ke rumah dulu?!" Ujar Dila.
"Oh iya Chan, boleh kan kalau semisal aku tidur di rumah kamu buat beberapa hari aja kok?!" Ujar Dila yang membuat Chan membelalakkan matanya.
"Tapi Dil, nanti kalau....." Ucapan Chan terpotong dengan ucapan Dila.
"Kenapa Chan? Apa kamu melarang aku untuk menginap di rumah kamu?!" Tanya Dila.
"Bukan begitu Dil ,tapi....." Ucap Chan yang kembali terpotong oleh ucapan Dila.
Dila pun melangkah pergi dari rumah Chan ,akan tetapi Chan menahan tangan Dila dan menyuruhnya untuk tidak pergi dari rumahnya.
"Tunggu Dil, jangan pergi?! Maaf bukan maksud aku tidak memperbolehkan kamu untuk tinggal di sini! ,kamu boleh tinggal di sini?!" Ujar Chan menyuruh Dila untuk tinggal bersama dengannya.
"Akhirnya kau masuk ke dalam perangkap aku Chan!" Ujar Dila di dalam hatinya.
Pada dasarnya , Dila hanya berbohong kepada Chan mengenai Suho. Dila berbohong pada Chan kalau Suho datang ke rumahnya, padahal Suho sama sekali tidak datang ke rumah Dila.
Sebenarnya Dila hanya ingin mempermainkan hati Chan saja ,dan tidak benar-benar mencintai Chan. Bagi Dila , Chan semata-mata hanya di jadikan mainan untuk Dila saja.
Chan pun membuatkan minum untuk Dila di dapur. Sedangkan Dila melihat-lihat foto yang terpajang di rumah Chan. Namun Dila merasa tidak asing dengan foto yang terpajang di dalam rumah Chan itu. Akan tetapi Dila hanya berpikir kalau mungkin hanya mirip saja.
"Chan ini foto siapa?!" Tanya Dila.
"Oh ,itu foto adik aku ?!" Ujar Chan
__ADS_1
"Kamu tinggal sama adik kamu? Di mana dia sekarang?" Tanya Dila lagi.
"Dia sudah meninggal satu tahun yang lalu, Dil?!" Jawab Chan sedikit sedih ketika mengingat kematian Riri ,adiknya.
"Akh maaf Chan, aku tidak bermaksud untuk mengingatkan kamu! Aku tidak tau kalau adik kamu sudah tiada!" Ujar Dila meminta maaf kepada Chan akan apa yang sudah dia tanyakan.
"Iya nggak apa-apa kok?!" Jawab Chan sembari tersenyum kecil di wajahnya.
Dila pun meminum jus yang di buatkan oleh Chan.
"Oh iya Chan, kenapa ada banyak sekali foto adik kamu? Apa dia dulu seorang model?!" Tanya Dila pada Chan.
"Iya aku ingin selalu mengingatnya ,jadi aku memutuskan untuk memasang foto-foto adik aku. dan ya kamu benar dia memang seorang model dulu?!" Jawab Chan sembari menjelaskan kepada Dila.
"Kalau boleh tahu, adik kamu umur berapa Chan?" Tanya Dila lagi yang masih penasaran akan sosok adik Chan.
"Dia berusia 16 tahun, dia meninggal karena di bunuh?!" Ujar Chan dengan raut muka sedih.
"Di...dibunuh?" Jawab Dila sedikit gugup.
"Kenapa Dila?!" Tanya Chan yang melihat Dila gugup.
"Ti..tidak apa-apa kok Chan, kasihan sekali ya adik kamu?!" Ujar Dila yang masih sedikit gugup.
Setelah mengucapkan itu, tiba-tiba saja arwah Riri melintas di dekat jendela, lebih tepatnya di samping tempat duduk Dila. Akan tetapi Dila tidak dapat melihat kehadiran Riri, namun Dika bisa merasakan kalau dirinya merinding.
"Chan?!" Panggil Dila pada Chan yang menyeruput kopi yang dia buat untuk dirinya sendiri.
Chan pun menoleh ke arah Dila sembari meletakkan kopi yang tadi dia minum.
"Ada apa ,Dil?" Tanya Chan pada Dila.
"Aku mencintaimu?!" Ujar Dila sembari menatap mata Chan.
"Aku juga mencintai kamu, Dil!" Jawab Chan dengan tenang lalu mereka saling memeluk hangat satu sama lain.
__ADS_1