
"Apa kau bilang?" Ucap cewek itu sembari berjalan ke arah Byun dan hendak memukulnya.
Akan tetapi tiba-tiba saja high heels yang di pakai oleh cewek itu membuatnya terkilir karena berjalan tidak hati-hati. Cewek itu hendak terjatuh, namun dengan cepat Byun menangkapnya. Hingga mata mereka kini saling beradu.
"Kenapa jantung gue rasanya kayak mau copot kayak gini? Nggak mungkin juga kan gue suka sama cewek gila ini?" Batin Byun yang masih dalam posisi menatap cewek itu dan masih memeganginya supaya tidak jatuh.
"Kenapa dada gue rasanya kayak mau meledak? Apa jangan-jangan gue suka sama laki-laki kayak dia? Tapi tidak mungkin! Gue nggak mungkin suka sama cowok gila ini!" Batin wanita itu yang masih menatap mata Byun.
Sampai akhirnya cewek itu tersadar dari lamunannya.
"Eh eh apaan sih lo Iepasin gue!"ucap cewek itu sambil mencoba melepaskan dirinya.
Namun seketika,,,
Brukkkk,,,
Byun langsung melepaskan cewek itu hingga dirinya terjatuh di lantai.
"Aduh, lo gila ya!" Cewek itu meringis kesakitan karena terjatuh oleh Byun.
"Lo sendiri kan yang tadi minta di lepasin?" Ucap Byun dengan santainya. Lalu kemudian mengulurkan tangannya untuk menolong cewek itu. Namun cewek itu justru malah menghempaskan tangan Byun dan langsung berdiri.
Cewek itu langsung pergi begitu saja dengan wajah kesalnya terhadap Byun, karena apa yang sudah di lakukan oleh Byun tadi.
"Haish, dasar wanita tidak tahu terima kasih!" Kata Byun sambil berkacak pinggang dan melihat cewek itu yang perlahan mulai tidak terlihat lagi dari pandangan Byun.
Pov cewek itu
"Dasar cowok gila, bisa-bisanya gue dilepasin gitu aja, nggak tahu kalau sakit apa!" Gerutunya sambil berjalan kembali ke acara.
"Eh, Sindy!!" Panggil Irene pada cewek itu, yang kini kita tahu namanya adalah Sindy.
"Eh,? Irene?" Sindy melihat Irene yang memanggilnya, dengan segera Sindy mendekat kearah Irene yang sedang bersama para sahabatnya. Termasuk dengan Byun juga, karena Byun yang lebih dulu mendekat ke arah mereka.
Sindy yang ini sudah ada di dekat Irene. Dirinya tersenyum kearah mereka dan melihat adanya Byun di sana juga.
"Perkenalkan, ini adalah sepupu aku, namanya Sindy!" Ucap Irene memperkenalkan Sindy pada suami dan semua para sahabatnya.
"Oh jadi nama cewek itu Sindy?" Ujar Byun dalam hatinya sambil meminum minuman yang sudah disediakan di sana.
"Eh, ngapain tuh cowok gila di sini?" Kata Sindy dalam hati sambil menatap heran ke arah Byun.
__ADS_1
Saat itu Irene yang akan memperkenalkan siapa saja para sahabatnya kepada Sindy. Tiba-tiba saja Velia yang baru datang dari arah toilet, langsung menyela pembicaraan mereka. Tanpa mengetahui dan melihat seperti apa wajah Sindy.
Sampai pada akhirnya Velia tampak terkejut dan tidak percaya akan apa yang dia lihat.
Deg,,,
Bak tak percaya akan apa yang dilihat, karena ternyata wajah Sindy begitu mirip dengan wajah mama kandung Velia.
"Kamu??" Kata Velia sambil menunjuk ke arah Sindy, sedangkan Sindy tampak bingung dengan tatapan yang diberikan oleh Velia pada dirinya.
"Chan, di-dia!!" Ucap Velia lagi terbata dengan masih menunjuk Sindy.
"Maaf sebelumnya, apa aku pernah melakukan kesalahan? kalau kehadiranku di sini membuat kalian merasa tidak nyaman ,aku akan pulang!" Kata Sindy yang mendadak tidak enak hati pada tatapan Velia.
Greppp,,,,
Velia langsung memeluk Sindy dengan erat, dan itu sontak membuat mereka terkejut sekaligus heran dengan apa yang di lakukan Velia.
"Velia kamu kenapa sayang?" Tanya Chan yang melihat Velia masih memeluk Sindy dengan erat.
"Mami!" Panggil Velia sambil masih terus memeluk Sindy.
Mereka bertanya-tanya akan apa yang Velia maksudkan ,bahkan bisa menyebut kalau Sindy adalah maminya.
"Sayang lepas ya, kamu sudah membuat Sindy jadi tidak nyaman!" Ucap Chan yang menyuruh Velia untuk melepaskan pelukan Velia pada Sindy.
"Tidak, apa kau sudah lupa dengan wajah mami kandungku Chan? Dia adalah Mami kandungku Chan!" Ucap Velia yang masih terus memeluk Sindy.
Sindy yang terkejut sekaligus merasa bingung akan ucapan Velia, "Astaga, apa aku setua itu kak?" Ucap Sindy membuat Velia langsung melepaskan pelukannya.
"Apa kau bukan mami ku? Kamu melupakan aku mami?" Tanya Velia padanya.
"Tidak kak, aku bahkan tidak mengenal siapa mami kakak!" Ucap Sindy memberi tahu.
"Vel, kamu tenang ya! tidak mungkin Sindy adalah Mami kamu! bahkan umurnya baru 19 tahun, Bagaimana kau bisa menyebutnya sebagai mami kamu?" ucap Chen memberi tahu.
"Sayang, mungkin hanya mereka mirip saja, kamu tidak bisa sembarangan menganggapnya seperti ini!" Ucap Chan setelahnya sambil memegang pundak kiri Velia.
"Bagaimana bisa kakak ini menganggap ku sebagai Maminya? bahkan umurku baru 19 tahun! tapi Apa aku kelihatan semua itu? Kakak ini pasti sangat merindukan sosok Maminya, makanya dia mengira kalau aku adalah Maminya!" Batin Sindy.
Velia pun menitihkan air matanya, dan tiba-tiba saja dirinya pingsan. Lalu kemudian dengan segera Chan membawa Velia masuk ke dalam Mansion.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya,,
Setelah acara selesai mereka masuk ke dalam Mansion Velia, untuk memastikan kalau Velia baik-baik saja. Sindy juga masih berada di sana, karena merasa tidak enak hati sudah membuat Velia pingsan. Dan memilih menunggu Velia sadar. Sebenarnya Irene sudah menyuruhnya pulang untuk istirahat, tapi Sindy dan memilih untuk berada di sana terlebih dahulu, sembari menunggu Velia sadar.
Karena tadi belum sempat memperkenalkan Sindy kepada para sahabat Irene, Chen pun memutuskan untuk memperkenalkan Sindy kepada mereka. Supaya mereka bisa lebih akrab lagi, dan tidak merasa canggung.
"Kalau boleh tahu, memangnya maminya kak Velia ke mana kak? sampai-sampai dia mengira kalau aku ini adalah Maminya?!" Tanya Sindy penasaran.
"Ikutlah denganku, aku akan menceritakannya padamu!" Ucap Dila yang memilih untuk menceritakannya pada Sindy di sebuah ruangan.
Sesampainya di suatu ruangan , Dila menunjukkan sebuah foto keluarga milik Velia. Pan betapa terkejutnya Sindy saat melihat foto itu, yang ternyata wajahnya memang sangat mirip dengan Sindy.
"Astaga kenapa wajahnya sangat mirip denganku?" kata Sindy menutup mulutnya seakan tak percaya akan apa yang dia lihat, sebuah foto yang wajahnya mirip dengannya terlihat jelas di sana.
Dila selalu menceritakan kejadian yang menimpa keluarga Velia beberapa bulan yang lalu. Dila menceritakan kejadian saat kecelakaan sampai Velia bertemu dengan Chan.
Mendengar cerita itu Sindy terharu bahkan sampai meneteskan air matanya.
"Kenapa malang sekali nasib kak Velia? Kak Dila, apa nanti setelah kak Velia sadar, aku bisa menemuinya?" Ucap Sindy yang terharu pada ceritanya dan sekaligus bertanya.
"Tentu saja boleh!" Ujar Dila yang setelahnya mengajak Sindy kembali berkumpul bersama dengan yang lainnya.
Setelah itu Dila dan para wanita yang lainnya pun masuk ke dalam kamar Velia setelah melihat Chan keluar dari sana.
Kamar Velia.
Di dalam kamar itu, Velia sedang makan di suapi oleh Lisa yang ternyata sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar Velia.
"Kak!" Panggil Sindy pada Velia yang tadinya makan sambil melamun, sontak langsung menoleh ke arah Sindy.
"Mami? Ah maaf, aku lupa!" Ucap Velia yang tadinya antusias kini berubah menjadi lesu.
"Tidak apa-apa kak, jika kakak ingin memanggilku begitu, anggap saja aku sebagai mami kakak!" Ucap Sindy mencoba membuat hati Velia bahagia, karena Sindy tahu kalau Velia sedang hamil.
"Benarkah?" Ucap Velia antusias lalu memeluk Sindy.
"Tapi aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan mami! karena pasti umurmu jauh lebih muda dariku! aku akan menganggap kamu sama seperti Lisa! " ucap Velia memberitahu, Karena kini Hatinya sudah mulai tenang.
"Jika itu membuatmu bahagia, Aku pasti ikut bahagia untuk mu kak!" kata Sindy sambil tersenyum bahagia menatap Velia. Velia juga membalas senyuman Sindy.
__ADS_1
"Tapi sungguh wajahmu sangat mirip sekali dengan wajah mendiang Mamiku!" ucap Velia, yang dimaksud tidak bisa dipungkiri kalau wajah Sindy sama persis dengan wajah Maminya yang telah tiada.
"Mulai sekarang, kakak akan melihat wajah Mami kakak yang ada dalam diriku!" ucap Sindy yang tersenyum bahagia melihat Velia tersenyum.