Jadi Suami Dari Hantu Cantik

Jadi Suami Dari Hantu Cantik
Barang bukti


__ADS_3

"Kenapa anak ini selalu saja membahas, Riri? Ini sangat mencurigakan! Sepertinya ini akan menjadi ancaman bagiku!" Ujar Intan di dalam batinnya.


"Chan!!!" Bentak papa Chan.


"Ada apa, Pa? Kenapa dia tidak menjawab?" Tanya Chan yang langsung melihat ke arah Intan berada.


Intan langsung gelagapan saat di tatap oleh Chan.


"A,,,aku melakukan yang terbaik untuk Riri, Mas!" Ujar Intan sembari pura-pura menangis agar Papa Chan percaya " Aku memang mama yang bodoh! Aku bahkan tidak bisa menjaganya!" Ucapnya lagi.


"Sudah sayang, ini mungkin sudah menjadi takdir, Riri! Semua ini bukan salah kamu!" Ucap Papa Chan sembari memeluk erat istrinya itu.


"Ya, ini memang takdir Riri! Takdir yang berada di tangan ****** ini!!" Umpat Chan.


Plakkkk,,,,,,


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Chan, Papa Chan sangat murka dengan kelakuan anaknya itu yang kurang ajar.


Namun Chan melakukan itu juga demi kebaikan papanya, agar terlepas dari Intan, yang tak lain adalah mantan psikopat yang kejam.


"Apa selama ini papa mengajarkan kamu untuk tidak sopan terhadap orang hah? Kenapa kau berani mengatai orang tuamu sendiri seperti itu hah?" Bentak Papa Chan.


Tanpa memegang pipi kirinya yang merah karena tamparan dari Papanya itu, Chan hanya sedikit meringis lalu berkata,,,,,


"Ayo tampar aku lagi, Pa!!" Pinta Chan sembari menunjukkan pipi kanannya yang tidak terkena tamparan, "Sebentar lagi Papa akan tahu kebenaran tentang wanita ini!!" Ujar Chan, tanpa melihat waktu, ternyata pembicaraan Chan dan juga orang tuanya itu berlangsung selama 1 jam. Polisi yang sudah di suruh oleh Chan pun datang dan langsung mengepung rumah besar Leo Alexandra.


Tok tok tok,,,,,,


Suara pintu rumah itu di ketuk, Chan tahu kalau ketukan itu berasal dari polisi suruhannya. Tanpa pikir panjang, Chan dan Papanya juga di susul oleh Intan langsung ke pintu dan melihat siapa yang datang.


Chan membuka pintu itu dan terlihatnya banyak polisi yang memang datang ke sana.


"Permisi, apakah ini kediaman tuan Alexandra?, orang tua dari Chan?" Tanya salah satu polisi itu kepada papa Chan.


"Saya, Chan dan dia adalah papa saya!" Ucap Chan yang langsung menjawab pertanyaan dari polisi itu.

__ADS_1


"Kenapa ada banyak sekali polisi di sini? Apa yang sebenarnya direncanakan oleh anak ini?" Tanya Intan dalam batinnya.


"Chan, ada apa ini? Kenapa ada banyak polisi seperti ini?" Tanya Papa Chan yang bingung dengan banyaknya polisi yang datang ke rumahnya.


"Kau akan melihatnya, Pa!" Ucap Chan dengan melirik ke arah papanya.


"Pak, mari ikut saya!" Ajak Chan pada seluruh polisi yang ada di sana.


Chan bersama dengan Papa dan juga Mama tirinya diikuti oleh polisi menuju ke halaman belakang kediaman tuan Alexandra.


Sesampainya di halaman belakang, Chan berdiri di dekat tanah yang terdapat barang bukti atas pembunuhan adiknya yaitu Riri.


"Sekarang aku akan tanya kepada mama tiri ku ini! Apakah dia ingin mengaku sendiri atau aku yang akan membongkar di depan semuanya!". Ujar Chan yang mencoba bernegosiasi dengan Intan, mama tirinya.


Deg,,,,,


Intan merasa seperti terpojok dan bingung harus melakukan apa.


"Ma,,maksud kamu ap,,apa nak? Mama tidak mengerti?!" Ujar Intan yang berusaha mengelak.


Velia yang juga berada di sana, memandang Chan dan mendukung Chan walaupun dirinya tidak terlihat oleh siapapun kecuali oleh Chan. Velia tampak tersenyum melihat keberanian Chan yang akan membongkar semuanya di depan polisi juga Papanya.


"Apa kau masih mau mengelak?" Jawab Chan setelah pertanyaan Intan.


"Chan, sebenarnya apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Papa Chan yang masih bingung dengan situasi yang kini dia alami.


"Bukan aku, Pa! Tapi dia!!" Ucap Chan sembari menunjuk ke arah Intan berada.


"Sayang, aku tidak melakukan apapun!" Ujar Intan yang berusaha membela dirinya sendiri di hadapan Alexandra.


"Kurasa ini hanya akan membuang-buang waktu saja! Biar aku tunjukkan pada kalian!" Ucap Chan yang setelahnya langsung menggali tanah dengan cangkul yang sudah dia persiapkan.


Deg,,,,,


Hati Intan merasa was was karena melihat Chan yang menggali tepat di tempat saat Intan mengubur barang bukti yang dia gunakan untuk membunuh Riri.

__ADS_1


"Astaga anak ini sungguh gila, ternyata dia tidak main-main dengan ucapannya! Kalau aku sampai ketahuan, aku pasti akan dipenjara!! Bagaimana pun caranya aku harus menghalangi dia untuk meneruskan menggali!" Ujar Intan di dalam batinnya.


"Chan, nak! Kenapa kau menggali tanah di tempat yang indah ini! Kau bisa merusak pemandangan jika menggali tanah ini!" Kata Intan yang berusaha menghalangi Chan untuk menggali. Namun Chan sama sekali tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Intan, dan masih terus menggali tanah itu.


Sampai akhirnya Chan menemukan barang bukti yang dia cari, hal itu membuat intan membelalakkan matanya karena terkejut dengan benda yang sudah lama terkubur itu.


Deg,,,,,,,


Intan terdiam membeku melihat Chan menemukan barang bukti itu. Saat Chan hendak mengambilnya,,,,,,


"Tuan, jangan di sentuh! Biarkan kami saja yang mengambilnya!" Saran salah satu polisi yang ada di sana.


"Baiklah, Pak!" Jawab Chan setelahnya.


Setelah itu, polisi mengambil barang bukti itu dan segera meminta penjelasan pada Chan.


"Sekarang jelaskan, tuan!" Pinta salah satu polisi yang kini sudah memasukkan pisau itu ke dalam kantong plastik untuk dilakukan pengecekan.


Alexandra hanya terdiam tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi di sana. Dia masih bingung dengan semuanya.


"Biar saya jelaskan, Pak! Jadi, benda ini adalah benda yang digunakan untuk membunuh adik saya, dan pelakunya telah mengubur itu di sini!" Ucap Chan yang perlahan menjelaskan semuanya kepada polisi.


"Apa ini bisa dipastikan?" Tanya polisi itu.


"Iya, Pak! Aku sangat yakin dengan apa yang aku lihat!! Kalian bisa lakukan tes DNA nanti!" Ujar Chan menyarankan.


"Astaga bagaimana sekarang? Kenapa anak ini bisa tahu?" Ujar Intan di dalam hatinya karena merasa sangat khawatir.


"Dia adalah pelakunya!" Kata Chan yang menunjuk ke arah Intan berada.


Deg,,,,,,,


Intan membelalakkan matanya saat di tunjuk oleh Chan , seluruh mata tertuju padanya membuat dia merasa khawatir akan terbongkarnya rahasianya.


"Bagaimana kau bisa menuduh Mama kamu seperti itu, Chan?" Tanya Alexandra pada anaknya itu.

__ADS_1


"Pa, aku akan membuktikan padamu kalau tuduhan yang aku katakan ini benar adanya! Aku tahu Papa tidak akan percaya padaku kalau aku bisa berbicara dengan makhluk tak kasat mata! Tapi sekarang Chan sudah membuktikan siapa dalang di balik semua ini!!" Menghela nafas lalu berkata lagi.


"Riri di bunuh dan tidak ada yang tau siapa pembunuhnya! Chan, nggak rela kalau Riri dibunuh dengan cara sekejam itu, Papa lihat sendiri bukan? Dan wanita ini sengaja menutup kasus supaya polisi tidak bisa menemukan buktinya!!" Ucap Chan panjang lebar dengan menunjuk ke arah Intan.


__ADS_2