
Chan yang melihat Velia menangis ,dia tidak tega dan mengusap air mata Velia.
"Vel ,jangan menangis, aku tidak bisa melihat kamu menangis!" ucap Chan yang berusaha menenangkan Velia.
"Untuk apa kau perduli denganku Chan?!" ujar Velia "Ya maksud aku, aku tidak bisa melihat seorang wanita menangis Vel", " Oh iya bagaimana kalau aku ngajak kamu ke pantai?!" ajak Chan pada Velia.
Velia pun akhirnya menyetujui ajakan Chan, dan mereka berdua berangkat ke pantai hari itu juga.
Sesampainya mereka di pantai. Chan sengaja mengajak Velia ke pantai yang sepi pengunjung atau lebih tepatnya belum ramai yang tau tempat itu. Chan sengaja karena takut jika nantinya ada kejadian yang membuat pengunjung lain takut dan juga membuat Velia merasa bingung.
Jadi Chan memutuskan untuk pergi ke pantai yang tidak banyak pengunjung.
"Kok pantainya sepi sih Chan?!" tanya Velia pada Chan "Ya aku sengaja ngajak kamu ke sini ,supaya kamu bisa sepuasnya main dan bersenang-senang di sini?!" ujar Chan.
Velia dan juga Chan bermain air, di sana ada 2 bahkan 3 pengunjung yang melihat ke arah Chan. Yang mereka lihat hanyalah Chan yang sedang bermain -main air sendiri. Padahal nyatanya Chan sedang bermain air dengan Velia.
Saat mereka sedang bersenang-senang dan berlarian ke sana kemari, Velia sengaja melempari Chan dengan pasir hingga mengenai bajunya, namun Chan membalas dengan tidak sengaja melempar air dengan sedikit pasir dan mengenai mata Velia.
"Aw sakit, Chan mata aku perih?!" ujar Velia sambil mengucek matanya. "Hey jangan digituin nanti mata kamu jadi merah, sini biar aku tiup" perlahan meniup mata Velia yang terkena pasir.
"Gimana?! udah mendingan?!" tanya Chan. "Ini sudah lebih baik!" jawab Velia.
Velia dan Chan pun duduk di dekat batu karang dan bersenda gurau di sana.
"Gimana kamu udah lupa sama kejadian saat di cafe?!" tanya Chan pada Velia yang masih tertawa akibat candaan Chan "Astaga, aku sampai lupa sama masalah itu, bagaimana ya keadaan tuh cewek?!" ujar Velia yang penasaran "Syukurlah kalau kamu sudah lupa?!" Velia hanya menjawab ucapan Chan dengan anggukan dan senyuman di wajahnya.
"Andai kamu tahu Vel, bukan Dafa yang mengkhianati kamu, tapi itu memang sudah menjadi hak dia untuk memiliki kekasih baru, karena yang dia tahu ,kamu memang sudah tiada di dunia ini lagi Vel?!" batin Chan.
Velia yang saat itu sedang memandang indahnya suasana pantai, akhirnya merasa haus karena cuaca sangat panas.
__ADS_1
"Chan, aku haus nih, bisa tolong belikan aku minum?!" pinta Velia pada Chan " Ya udah aku beliin minum dulu ya , kamu tunggu di sini aja!" perintah Chan.
Velia pun menunggu Chan yang sedang membeli minum. Tak butuh waktu lama Chan pun kembali dengan membawa 2 botol air minum dingin. Namun dia bingung ,karena Velia tidak ada di sana. Chan tidak tau harus mencari Velia di mana.
"Loh Velia kemana?!" tanya Chan.
Tiba-tiba ada yang memeluk Chan dari belakang hingga membuatnya terkejut.
"Chan ,kamu sudah kembali?!" tanya Velia. Chan bingung dengan sikap Velia yang tiba-tiba memeluknya dari belakang "Kenapa tiba-tiba Velia memeluk aku seperti ini?!" Chan heran dengan Velia yang tiba-tiba berubah seperti itu.
"Vel ada apa?!" tanya Chan "Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin memelukmu!" ujar Velia yang masih memeluk Chan, "Baiklah sekarang lepaskan pelukannya dan ini minumlah!" ucap Chan sembari menyodorkan minum pada Velia yang ada di belakangnya. " Aku nggak mau minum, aku nggak haus" jawab Velia "Loh tadi katanya haus" ujar Chan lagi.
"Chan,?!" Suara yang tiba-tiba muncul dari arah depan, sontak membuat Chan membelalakkan. matanya dengan apa yang dia lihat. "Chan kenapa hanya menatapku seperti itu? mana minumnya ? aku haus nih?!" ujar Velia yang kini berdiri tepat di depannya.
Chan masih terdiam dan setelahnya menengok ke belakang untuk memastikan kalau tadi Velia memang sedang memeluknya.
Namun saat Chan lihat ke belakang tidak ada siapa-siapa, Chan tampak celingukan dan bingung sambil mencari tahu kemana perginya tadi ?. Kalau benar itu Velia, dia tidak mungkin bisa langsung pindah tempat begitu saja, seharunya dia tahu saat dia hendak pindah ke depan.
Chan yang terlihat bingung membuat Velia merasa sedikit penasaran ada apa dengan Chan?.
Namun Chan juga tidak mau membuat Velia takut, Chan memilih menutupi kebingungannya supaya Velia tidak merasa takut.
"Kamu dari mana Vel?!" tanya Chan yang mengalihkan pembicaraan " Oh tadi aku dari kamar mandi !" ujar Velia sambil meminum minuman yang di bawakan oleh Chan tadi.
Meskipun Chan sebenarnya merasakan kebingungan dengan semua ini ,dia memilih menutupinya dari Velia.
Mereka berdua kembali duduk di dekat batu karang sambil memandang keindahan pantai.
"Oh iya Chan, kamu tinggal di sendiri di rumah?!" tanya Velia, "Iya begitu lah" ujar Chan "Terus orang tua kamu kemana?!" tanya Velia.
__ADS_1
Chan yang mendengar pertanyaan Velia itu mendadak tersedak.
"Hey pelan-pelan aja Chan kalau minum" ujar Velia yang melihat Chan tersedak "Iya maaf, gimana? tadi apa yang kamu tanyakan padaku?!" tanya Chan untuk memperjelas.
Velia kembali bertanya tentang keberadaan orang tua Chan lagi. Chan pun menjelaskan kalau dia tinggal sendiri tanpa orang tuanya. Dia memang sengaja memilih tinggal sendiri dan jauh dari orang tuanya. Chan berkata pada Velia kalau sebenarnya dirinya masih ragu untuk menceritakannya pada siapapun. Karena memang sebelumnya Chan tidak pernah menceritakan masalah pribadinya pada siapapun kecuali adiknya sendiri yaitu Riri.
Velia meyakinkan Chan agar Chan bisa leluasa untuk bercerita padanya, Chan sedikit bingung, apakah dia harus menceritakan masalahnya atau tidak pada Velia.
"Katakan saja Chan, aku berjanji tidak akan menceritakannya pada siapapun!" Ujar Velia pada Chan sambil menunjukkan jari kelingkingnya. Chan hanya menatap jari kelingking Velia sambil berkata dalam hati.
"Mungkin Velia benar, tidak apa-apa kalau aku menceritakan kehidupanku pada Velia, toh dia juga tidak akan menceritakannya pada siapapun?!" ujar Chan dalam hatinya.
Chan pun akhirnya memutuskan untuk menceritakan kehidupannya pada Velia.
Chan dulu tinggal satu rumah dengan kedua orang tuanya dan Chan juga menceritakan kalau dia memiliki seorang adik. Velia sempat bertanya lagi apakah benar Chan memiliki seorang adik?. Lalu Chan meyakinkan Velia kalau dia memang benar-benar memiliki seorang adik.
"Adikku berumur 16 tahun, namanya Riri" ujar Chan "Dia perempuan ,sama seperti kamu! Tapi....." Ucapan Chan terpotong karena dia sedih mengingat Riri yang sudah tiada.
"Chan ada apa? kenapa kau terlihat sedih?! apa ada masalah?!" tanya Velia penasaran. Chan pun menghela nafas dan mulai mengatakan pada Velia tentang Riri.
"Aku sudah gagal menjadi seorang kakak Vel, karena aku tidak bisa melindunginya!" Ucap Chan yang membuat Velia semakin penasaran.
"Maksudnya gimana sih Chan, kok kamu bilang gitu?!" tanya Velia yang masih belum mengerti yang di maksud oleh Chan.
"Adikku sudah tiada Vel,?!" ucap Chan yang sontak membuat Velia terkejut.
"Astaga, maaf Chan ,aku tidak bermaksud untuk mengingatkan kamu tentang ini, maaf kalau aku udah bikin kamu jadi tambah sedih?!" ujar Velia.
"Tidak apa-apa Vel, mungkin memang tidak seharusnya aku menyimpan ini sendiri dan memendam masalah yang kelam ini?!" ujar Chan yang setelahnya menghela nafas "Lagi pula aku merasa lega setelah menceritakan ini padamu?!" ujar Chan lagi.
__ADS_1
Setelah itu Velia bertanya pada Chan, kenapa dia memilih tinggal sendiri dan jauh dari keluarganya, Chan pun menceritakan apa penyebabnya.