
Setelah selesai berbelanja Kay dan Arka memutuskan untuk pulang ke rumah. Arka memasukan semua barang belanjaan ke dalam bagasi. Kay dan Arka masuk ke dalam mobil. Arka melajukan mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Kay membantu Arka mengeluarkan barang belanjaan dari dalam bagasi. Mereka berjalan menuju pintu, Arka dan Kay terkejut saat melihat Kevin tengah bermain dengan seorang anak laki-laki yang asing di mata mereka.
Arka dan Kay berjalan menghampiri Kevin yang tengah asyik bermain dengan Rasya.
"Sayang, kamu sedang bermain dengan siapa?" Tanya Kay sambil melirik Rasya.
"Dia teman baru Kevin Bun, kata ayah dia adik Kevin." Arka dan Kay saling menatap. Arka mengangkat kedua bahunya tanda ia tidak tahu apa-apa.
"Ka..jangan bohong ya, anak ini siapa? Kenapa tadi Kevin bilang kalau anak ini adiknya Kevin, kamu selingkuh di belakang aku, dan anak ini anak hasil selingkuhan kamu!" Seru Kay.
Arka menghela nafas panjang dan mendudukkan tubuh Kay di sofa. Arka mencoba menenangkan Kay yang sudah salah paham.
"Sayang lihat aku, bagaimana aku bisa selingkuh, sedangkan istri aku saja cantik kayak gini," goda Arka.
"Kamu nggak usah menutup-nutupi lagi. Sekarang buktinya ada di depan mata aku. Kevin bilang anak itu adiknya, kamu kan yang bilang begitu sama Kevin. Kamu jahat Ka," ucap Kay sedih. Arka memeluk Kay dengan sangat erat.
"Sayang, aku berani sumpah, aku nggak pernah mengatakan itu sama Kevin. Aku juga nggak kenal sama anak itu. Kalau kamu nggak percaya kita tanya aja langsung kepada anak itu, siapa dia sebenarnya. Kalau kamu menuduh aku berselingkuh, terus bagaimana aku bisa selingkuh, di lihat dari umur anak itu aja kira-kira dia masih berumur satu tahunan, terus dalam jangka waktu hampir dua tahun ini kan aku--" Arka menghentikan ucapannya.
"Itu kan benar, anak itu pasti anak kamu, kamu jahat, Ka. Kamu tega sama aku!" Seru Kay sambil memukul lengan Arka.
"Sayang, hentikan! Sakit kan, kamu salah paham. Aku nggak kenal sama anak itu. Tapi aku ingat sesuatu, lebih baik aku tanyakan langsung sama anak itu." Arka berdiri dan berjalan menghampiri Rasya dan Kevin. Arka duduk di samping Rasya.
"Sayang, kalau Om boleh tahu, kamu ke sini sama siapa?" Tanya Arka sambil menatap kedua mata Rasya.
"Ama papa."
__ADS_1
"Kalau boleh Om tahu, siapa nama papa kamu?"
"Papa Adi."
Arka mengernyitkan dahinya. Dia tidak kenal dengan laki-laki yang bernama Adi. Arka menatap Kay yang sedari tadi cemberut dan terus menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Arka menghela nafas berat. Kevin menarik kemeja Arka, Arka menatap Kevin lalu menaikan kedua alisnya.
"Ayah, nama anak ini Rasya, dia anaknya ayah Ardi," ucap Kevin menjelaskan.
Arka membulatkan kedua matanya dan menatap Rasya. Arka langsung memeluk Rasya dengan sangat erat.
Kay yang tidak tahu apa-apa semakin menaruh curiga kepada Arka, karena tiba-tiba Arka langsung memeluk anak itu. Kay beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Dia menatap Arka dengan tatapan penuh kebencian.
"Sayang, sekarang dimana papa kamu?" Rasya menggelengkan kepalanya.
"Ayah Ardi sedang istirahat, Yah," ucap Kevin. Arka mengusap lembut puncak kepala Kevin, dia senang karena Kevin masih mau menganggap Ardi sebagai ayahnya.
Arka berjalan masuk ke dalam kamar, ia duduk di samping Kay. Arka bisa mengerti keadaan Kay saat ini. Entah mengapa semenjak kehamilannya, Kay sering sekali merasa cemburu. Ia bahkan cemburu dengan pelayan toko langganannya hanya karena pelayan itu tersenyum ramah kepada Arka.
Arka menarik Kay ke dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala Kay.
"Sayang, aku senang deh lihat kamu cemburu kayak gini," goda Arka.
Kay memalingkan wajahnya. Dia tidak ingin menatap wajah Arka. Arka beralih duduk dan menatap kedua mata Kay.
"Masa kamu cemburu sama anak kecil?" Goda Arka lagi.
Kay yang merasa sangat kesal sontak langsung berdiri dan berjalan menuju ranjang. Arka mengikuti Kay dan duduk di tepi ranjang. Kay menarik selimut untuk menutupi tubuhnya tapi Arka menahan selimut itu.
__ADS_1
"Lepasin, Ka! lebih baik kamu keluar sekarang, aku nggak mau melihat wajah kamu, aku benci kamu, Ka! aku benci!" Teriak Kay dan tanpa sadar air mata mengalir membasahi kedua pipinya.
Arka merasa bercandanya kini sudah kelewatan, ia tidak suka melihat Kay menangis. Arka merebahkan tubuhnya di samping Kay lalu memeluknya.
"Kamu salah paham sayang, anak itu sebenarnya adalah an--"
"Aku nggak mau tau dan aku nggak perduli, lebih baik kamu temani anak kamu itu!" Seru Kay sambil menahan tangisannya.
"Anak itu memang sudah aku anggap seperti anak aku sendiri, dia juga anak kamu Kay."
Kay membulatkan kedua matanya, dia membalikkan tubuhnya dan menatap Arka. Dia tidak percaya suaminya akan menyuruhnya untuk menganggap anak hasil perselingkuhannya sebagai anaknya.
"Nggak! Aku nggak mau menganggap anak itu sebagai anak aku, aku nggak sudi menerima anak hasil perselingkuhan kamu!" Teriak Kay.
"Sayang dengerin aku dulu," ucap Arka mencoba menenangkan Kay.
"Kamu jahat, Ka. Kamu jahat." Air mata Kay semakin mengalir deras.
"Iya aku jahat, terserah kamu mau bilang apa, tapi dengerin aku dulu, anak itu adalah anak kak Ardi."
Kay membulatkan kedua matanya, dia tidak percaya dengan apa yang di katakan suaminya. Kay bangun lalu turun dari ranjang.
"Ka..kamu bohong kan! Mana mungkin kak Ardi ada di sini, dia sekarang ada di LA bersama dengan Monic. Ini pasti cuma alasan kamu saja kan, untuk menutupi kesalahan kamu." Arka turun dari ranjang dan mendekati Kay, dia menggenggam tangan Kay.
"Aku nggak bohong sayang, tadi Kevin sudah menjelaskan semuanya ke aku, nama anak itu Rasya, dia anaknya kak Ardi. Untuk lebih memperjelasnya lagi lebih baik kita tanya sama mama." Arka menarik Kay ke dalam pelukannya.
"Aku nggak akan pernah mengkhianati kamu, karena yang aku cintai di dunia ini hanya kamu." Arka melepaskan pelukannya lalu mengecup kening Kay.
__ADS_1
⭐⭐⭐⭐