
Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna, “a—apa maksud Kak Ardi?” tanyanya gugup.
Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu berjalan mendekati Zahra dan menarik salah satu kursi di samping gadis itu. Ardi mendudukkan tubuhnya di kursi itu, dengan kedua lengan yang terlipat di dada, dia tatap kedua mata gadis itu, “kamu tau maksud aku,” ucapnya.
“Em...tapi kan aku nggak salah apa-apa?”
Ardi menopang dagunya dengan tangan kanannya yang bersandar pada meja, “kamu yakin kamu nggak salah apa-apa?” tanyanya dengan sorot mata yang tajam.
Zahra menelan ludah, dia terlihat sangat gugup, “a—aku...aku kan hanya mengatakan apa yang Kak Micel katakan,” ucapnya.
“Kenapa kamu nggak mengonfirmasikan itu dulu sama aku?”
“Bukannya tadi aku sudah bilang saat di kantor Kak Kenzo, tapi Kak Ardi hanya diam. Dengan diamnya kakak itu aku artikan jika Kak Ardi tidak menampiknya sama sekali.”
Ardi menjitak kening Zahra, “aku diam karena aku nggak mau membahas hal yang menurut aku nggak penting,” ucapnya.
“Hal kayak gitu bagi kakak nggak penting!” seru Zahra terkejut.
Ardi mengangguk, “kenapa, apa kamu cemburu?” tanyanya dengan nada menggoda.
“Hah...cemburu! kenapa Kak Ardi bisa berkata seperti itu?” tanya Zahra sambil mengernyitkan dahinya.
“Ya..siapa tau kamu cemburu, siapa tau kamu jatuh cinta sama aku,” ucapnya santai.
“Siapa juga yang cemburu,” ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya. Gadis itu memalingkan wajahnya dari tatapan pria itu.
__ADS_1
Ardi mendekatkan wajahnya ke wajah Zahra. Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna saat Ardi mengecup pipinya, “Kak!” pekiknya terkejut. Gadis itu menyentuh pipinya yang baru saja di kecup oleh Ardi, dia tidak
menyangka Ardi akan mencium pipinya.
“Apa? Kan tadi aku sudah bilang, jangan cemberut lagi, aku nggak bisa menahan diri kalau kamu cemberut gitu,” ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Memangnya kenapa kalau aku cemberut?” tanya Zahra kesal.
“Muka kamu tambah imut kalau kamu sedang cemberut, menggemaskan. Apa lagi bibir manyun kamu itu, aku serasa ingin mengecup bibir mungil itu,” godanya dengan senyuman di wajahnya.
“Awas ya kalau Kak Ardi sampai berani melakukan itu, aku akan marah!” ancam Zahra dengan sorot mata yang tajam.
Ardi tertawa, dia menganggap ancaman gadis itu seperti lelucon. Ini pertama kalinya bagi Ardi mendapatkan acaman dari gadis semuda itu, “aku nggak takut, coba aku lihat, aku ingin tau gimana wajah kamu kalau
sedang marah,” godanya.
Ardi mengusap puncak kepala Zahra, “iya-iya, aku juga nggak akan melakukan itu sekarang,” ucapnya.
“Kok hanya sekarang?” tanya Zahra penasaran.
“Karena aku nggak janji aku akan bisa menahannya sampai kapan.” Ardi lalu mengambil makanan untuk dirinya sendiri, “sudah habiskan makanan kamu, atau kamu benar-benar ingin aku mencium mu?” tanyanya.
“Idih...siapa juga yang mau di cium sama Kak Ardi. Ciuman aku akan aku berikan kepada pacar aku ya,” ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
“Kan pacar kamu aku, apa kamu lupa?” godanya.
__ADS_1
“Kakak itu hanya pacar pura-pura aku ya, jadi jangan pernah macam-macam,” ancam Zahra. Ardi hanya terkekeh mendengar ucapan gadis itu.
***
Ardi melipat kedua lengannya di dada, dia tatap wajah gadis yang kini tengah duduk di depannya, “apa maksud kamu mengatakan semua itu?” tanyanya.
Micel nampak bingung, “maksud kamu apa? Memang apa yang aku katakan?” tanyanya bingung.
“Bukan kah kamu bilang sama Zahra kalau aku calon suami kamu?”
Sialan! Berani-beraninya dia mengadu sama Ardi! Micel mengepalkan kedua tangannya. “aku...aku...itu karena aku ingin dia menjauhi kamu.”
“Kenapa? Apa hak kamu melarang Zahra untuk dekat dengan aku?” Ardi mencoba menahan amarahnya.
“Karena aku mencintai kamu. Kamu memilih gadis kecil itu ketimbang aku sahabat kamu, kamu jahat Ardi, kamu jahat!” seru Micel dengan menitihkan air mata.
Ardi meraup wajahnya dengan kasar, dia salah telah membiarkan Micel selama ini. Dia mengira gadis itu akan mengerti atas penolakannya waktu itu.
“Apa kurangnya aku di mata kamu? Apa kelebihan Zahra dari aku?” tanya Micel sambil menahan isak tangisnya agar tidak semakin pecah.
“Kamu baik, sahabat yang terbaik, kamu selalu membantu aku, tapi ini soal perasaan. Aku nggak mungkin memaksa hati aku untuk mencintai kamu, aku nggak bisa.”
“Kenapa? Apa hebatnya Zahra? Apa!” Micel seakan merasa emosinya semakin meluap-luap.
“Karena bagi aku Zahra adalah segala-galanya, dia berhasil menarik hati aku yang sudah lama tertutup. Senyuman dan tatapan mata Zahra berhasil mengobati luka di hati aku, aku juga nggak tau kenapa aku bisa jatuh cinta dengan gadis itu. Sebenarnya aku malu mengatakan ini, apa lagi dengan umur aku yang jauh di atas dia, dengan status aku yang duda, aku sebenarnya takut untuk mencintainya. Tapi aku sudah bertekad, aku nggak perduli orang mau bicara apa, aku akan tetap mengejarnya. Aku nggak ingin mengulang kesalahan yang sama,” ucap Ardi dengan kematapan hati yang membuat Micel mendengus kesal mendengar kata-kata Ardi.
__ADS_1
Aku nggak akan menyerah untuk mendapatkan kamu. Dengan kamu mengatakan semua itu, aku semakin yakin jika Zahra belum mengetahui tentang perasaan kamu. Micel seakan mendapatkan cara baru untuk membuat Zahra menjauhi Ardi.
~oOo~