Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Aku sudah menghancurkan semuanya


__ADS_3

Ardi mengajak Zahra pergi ke rumah sakit milik keluarga Zahra, yaitu rumah sakit tempat dulu Zahra bekerja untuk memeriksakan kandungan Zahra. Samuel begitu senang saat mendengar kabar gembira itu, akhirnya adik sepupunya itu mendapatkan apa yang dia inginkan selama ini, mengandung dan menjadi seorang ibu.


Kini Zahra nampak tengah berbaring di atas tempat pembaringan yang di sampingnya terpampang sebuah layar monitor. Saat ini yang memeriksa Zahra adalah sahabat Zahra sendiri yang berprofesi sebagai dokter kandungan. Zahra mempercayakan sahabatnya itu untuk memeriksa kondisi kandungannya.


Cesa, adalah nama dokter kandungan Zahra. Saat ini Cesa menunjukkan janin yang masih tumbuh sangat kecil itu di layar monitor tersebut. Senyuman Ardi dan Zahra mulai mengembang secara bersamaan.


“Sa, apa itu anak aku?” tanya Zahra yang masih tidak percaya jika saat ini sudah ada kehidupan di dalam rahimnya.


Cesa menganggukkan kepalanya, “itu memang anak kamu, memang anak siapa lagi,” celetuknya sambil tersenyum.


“Kenapa dia sekecil itu dan nggak terlihat begitu jelas, padahal usia kandunganku sudah 6 minggu?” tanya Zahra heran.


“Sayang memang segitu besarnya, nanti kalau usia kandungan kamu sudah berusia 3 bulan, kita bisa melihatnya dengan jelas,” ucap Ardi.


Cesa tersenyum, “suami kamu saja yang bukan dokter tau semua itu, la kamu...seorang dokter kok malah nggak tau apa-apa,” ledeknya.


Zahra mengerucutkan bibirnya, ‘apa Kak Ardi kembali teringat saat dia menemani mantan-mantan istrinya untuk memeriksakan kandungan mereka,’ gumamnya dalam hati.


“Lalu kapan aku akan bisa mengetahui jenis kelamin anak aku?” tanya Zahra.


“Tunggu sampai usia kandungan kamu 6-7 bulan,” ucap Cesa.


Ardi mengusap lembut lengan istrinya, “kenapa kamu sangat ingin tau jenis kelamin anak kita sayang? Bagi aku cowok atau cewek sama saja, yang penting mereka terlahir dengan sehat dan tidak kurang satu apapun,” ucapnya.


“Ra, aku sangat kagum dengan suami kamu ini, sudah ganteng, cerdas lagi. Kenapa dia nggak bekerja sebagai dokter saja,” ucap Cesa.


“Kalau Kak Ardi bekerja sebagai dokter, maka semua dokter cewek dan para suster disini nggak akan ada yang mau bekerja,” ucap Zahra.


Ardi mengernyitkan dahinya, “kok gitu, mereka pada nggak suka kalau ada dokter yang seperti aku ini?” tanyanya bingung.


Cesa menggelengkan kepalanya, “justru mereka akan senang kalau ada dokter yang seperti kakak, mereka bisa cuci mata gratis setiap hari,” godanya.


Ardi tersenyum senang, ternyata di usianya yang sudah hampir menginjak 40 tahun, masih banyak yang mengagumi ketampanannya.


Zahra mendengus kesal, “bahagia ya, masih banyak gadis-gadis yang sangat mengagumi kakak,” ucapnya kesal.


Cesa dan Ardi tertawa, “sayang, apa kamu cemburu?” tanya Ardi sambil menggenggam tangan istrinya itu.


“Kak, kalau kakak punya saudara lagi yang belum menikah, aku mau dong di kenalkan padanya,” ucap Cesa dengan senyuman di wajahnya.


“Tapi sayang, suami aku ini nggak mempunyai adik lagi, karena adiknya sudah menikah tuh,” ucap Zahra.

__ADS_1


“Kenapa kamu nggak deketin Dokter Samuel saja, sampai sekarang dia masih betah melajang, padahal umurnya hampir 35 tahun,” ucap Ardi.


Zahra dan Cesa saling menatap, mereka lalu tertawa hingga membuat Ardi mengernyitkan dahinya, “kenapa kalian malah tertawa?” tanyanya heran.


“Asal Kak Ardi tau, Cesa ini sudah melakukan segala cara untuk menarik perhatian Kak Samuel, tapi Kak Samuel sampai sekarang pun nggak membalas perasaan Cesa,” ucap Zahra.


Ardi hanya bilang ‘oh’ setelah mendengar penjelasan Zahra. Setelah selesai memeriksakan kandungan Zahra, mereka pun keluar dari ruangan itu.


Dalam perjalanan pulang Ardi mendengar suara ponselnya berbunyi, “sayang tolong kamu lihat siapa yang menelponku,” ucapnya.


Zahra mengambil ponsel suaminya dari dalam dasbor mobil, dia lalu melihat siapa yang sudah menghubungi suaminya, “Papa, Kak,” ucapnya.


“Coba kamu angkat, dan kamu louspacker,” pinta Ardi.


Zahra lalu menjawab panggilan itu, “hallo, Pa,” sahutnya.


“Zahra, dimana Ardi?”


“Ada apa, Pa? tumben Papa menelpon Ardi?” tanya Ardi yang ikut menjawab panggilan telepon itu.


“Kamu sekarang dimana? Apa kamu bisa datang ke rumah sekarang?”


“Ada apa, Pa? apa terjadi sesuatu?” tanya Ardi cemas.


“Ada apa ya, Kak, kok sepertinya Papa kelihatan panik gitu?”


Ardi menggelengkan kepalanya, “lebih baik kita ke rumah sekarang, aku takut terjadi apa-apa dengan Papa atau Mama,” ucapnya. Zahra menganggukkan kepalanya, dia juga sangat mencemaskan kedua mertuanya itu.


***


 


Ardi dan Zahra sangat terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh kedua orang tuanya. Apa yang Ardi takutkan selama ini akhirnya terjadi.


“Pa, lalu bagaimana dengan Kay, Arka dan tante Merisa, mereka pasti sangat terpukul,” ucap Ardi cemas.


Kevin dan Rasya sejak tadi tidak berhenti menangis, Zahra memeluk mereka berdua dan menenangkan mereka.


“Kita harus berangkat ke Pekanbaru sekarang juga, Papa sudah mengurus semuanya,” ucap Jonny.


“Sayang, jangan menangis lagi, tante juga sedih mendengar berita ini,” ucap Zahra sambil mengusap punggung Kevin.

__ADS_1


“Kakek, tante, kakek. Bunda dan nenek, pasti sangat sedih sekarang,” ucap Kevin di sela tangisannya.


Zahra memeluk Kevin, “kita akan segera berangkat kesana, tante tau kamu sangat ingin menghibur bunda, ayah dan juga nenek kamu,’ ucapnya.


Setelah bersiap-siap, mereka pun berangkat ke bandara. Sebelum berangkat ke bandara, Ardi menghubungi Arka jika saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju Pekanbaru. Ardi bisa mendengar suara Arka yang sangat menyesali semua perbuatannya, tapi semuanya sudah terjadi dan tidak mungkin bisa terulang kembali.


Sesampainya di Pekanbaru mereka langsung menuju rumah Kay. Rumah itu sudah dikerubungi banyak orang. Mereka lalu masuk ke dalam rumah itu, mereka melihat Arka yang sedang duduk di samping jenazah David.


Arka langsung memeluk kakaknya dengan sangat erat, “ini semua gara-gara aku, Kak. aku sudah menghancurkan semuanya,” ucapnya di sela tangisannya.


Ardi mengusap punggung adiknya itu, “semua sudah terjadi, jangan menyesalinya karena semua juga tidak akan kembali lagi,” ucapnya.


“Kay sangat marah sama aku, Kak. Dia pasti sangat membenciku.”


“Kak Arka, Kak Kay sekarang dimana?” tanya Zahra yang juga terlihat sangat cemas.


Arka menghapus air matanya, “dia ada di kamar Bunda, bersama dengan Ansel,” ucapnya.


Kevin yang sejak tadi terus menangis tidak tau harus berkata apa, kakek yang sangat dia sayangi kini telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Arka memeluk anaknya dengan sangat erat, “jangan menangis lagi sayang, biarkan kakek kamu beristirahat dengan tenang,” ucapnya.


“Ayah, kakek kenapa? Apa yang terjadi sama kakek?” tanya Kevin di sela tangisannya.


Arka hanya diam, dia tidak sanggup untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, “sayang, lebih baik kamu antar tante Zahra untuk menemui bunda kamu,” pintanya.


“Baik, Yah,” ucap Kevin lalu menghapus air matanya.


“Sayang, tolong hibur dan temani Kay, dia pasti sangat terpukul,” pinta Ardi.


“Kakak nggak usah khawatir, aku akan menghibur Kak Kay,” ucap Zahra.


“Mama ikut sayang,” ucap Lina.


Lina dan Zahra kini menuju kamar Merisa, diantar oleh Kevin. Meskipun sangat sedih, tapi Kevin mencoba untuk tetap tegar, demi bunda dan juga neneknya. Kevin tidak ingin bundanya semakin terlihat sedih jika melihatnya sedih seperti itu.


Sesampainya di kamar Merisa, mereka lalu masuk ke dalam kamar itu. Mereka melihat Merisa tengah terbaring lemah dengan jarum infus di pergelangan tangannya. Zahra memeluk Kay dengan sangat erat, dan bergantian dengan Lina.


“Kakak harus tetap kuat, demi tante Merisa, Ansel dan juga Kevin,” ucap Zahra.


“Ra, aku nggak menyangka Ayah aku akan meninggalkan kami secepat ini, aku masih nggak percaya dengan semua ini,” ucap Kay di sela isak tangisnya.

__ADS_1


Kevin dan Ansel yang melihat bunda nya menangis, mereka pun ikut menangis. Kevin tidak sanggup untuk membendung air matanya yang sudah memenuhi kedua sudut matanya. Lina memeluk kedua cucunya itu, dia juga tidak tega melihat mereka menangis seperti itu, tapi mungkin dengan menangis akan mengurangi kesedihan mereka.


~oOo~


__ADS_2