
“Kak, ada yang ingin aku tanyakan sama kakak,” ucap Zahra lalu duduk di samping Kenzo yang sedang asyik melihat layar datar di depan matanya.
“Hem...kamu mau nanya apa?” tanyanya tanpa mengalihkan tatapannya dari layar datar itu.
“Apa Kak Ardi sudah menikah?”
Kenzo mengernyitkan dahinya, pria itu lalu mengalihkan tatapannya menatap gadis yang duduk di sampingnya, “kenapa kamu menanyakan itu?” tanyanya penasaran.
“Waktu aku datang ke rumah Kak Ardi, aku melihat Kak Ardi mengendong bayi mungil. Saat aku tanya itu siapa, kak Ardi menjawab kalau itu anaknya. Aku percaya dengan jawaban dia, tapi ternyata bayi mungil itu bukan anaknya melainkan keponakannya. Makanya aku penasaran, Kak Ardi itu sudah menikah atau belum,” jelasnya.
“Kenapa kamu nggak tanya langsung sama orangnya?” tanya Kenzo lalu kembali mengalihkan tatapannya menatap layar datar di depannya.
Pria itu tidak mungkin mengatakan kepada sepupunya tentang status sahabatnya yang sebenarnya, karena yang berhak memberi tahu adalah Ardi sendiri. Ardi yang harus menjelaskan kepada Zahra tentang statusnya yang duda.
“Aku takut menanyakan ini sama Kak Ardi, aku takut akan menyinggung perasaannya.”
“Kenapa kamu begitu penasaran dengan status Ardi?” tanya Kenzo penasaran.
“Karena waktu itu mamanya Kak Ardi bertanya sama aku, apa aku mempunyai kakak perempuan, mamanya Kak Ardi meminta aku untuk mengenalkannya dengan Kak Ardi. Katanya dia ingin mempunyai menantu seperti aku.”
Kenzo tersenyum mendengar penjelasan sepupunya, “kenapa nggak kamu aja yang menikah dengan Ardi?” tanyanya.
Zahra membulatkan kedua matanya dengan sempurna, “apa kakak ini sudah gila, mana mungkin aku menikah dengan Kak Ardi. Lagi pula aku nggak mau menikah muda, umur aku aja baru 20 tahun. Aku masih ingin bebas, aku nggak mau terikat dengan siapa pun, aku masih ingin mengejar mimpi aku!” serunya.
“Tapi jika Ardi ingin melamar kamu, apa jawaban kamu?” tanya Kenzo serius.
“Aku akan jawab, apa kakak sudah gila. Bagaimana bisa langsung melamar gitu aja. Aku nggak mengenal Kak Ardi, kita bahkan baru 3 kali bertemu, belum lagi umur dia kan jauh di atas aku. Kita juga nggak ada hubungan apa-apa, bagaimana dia bisa berfikir untuk melamar aku. Sebenarnya di sini yang gila itu kakak atau Kak Ardi?” tanya Zahra heran mendengar pertanyaan bodoh yang terlontar dari mulut kakak sepupunya.
__ADS_1
“Aku kan Cuma tanya, kenapa kamu kesal gitu.” Kenzo nampak tengah berfikir, “ternyata Zahra tidak tertarik sama Ardi. Jika Ardi mengetahui semua ini, dia pasti akan sakit hati,” gumamnya dalam hati.
“Ra, apa kamu menyukai Matteo?” tanyanya serius.
“Kenapa kakak tiba-tiba menanyakan itu?” tanya Zahra penasaran.
“Karena aku lihat sampai sekarang Matteo sama sekali tidak menyerah.”
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku tidak tau, Kak. Matteo itu pemuda yang sangat baik, dia juga selalu ada di saat aku membutuhkannya, tapi sampai sekarang aku sama sekali tidak merasakan apa-apa saat bersama dengan
Matteo,” ucapnya.
“Kamu harus jujur dengan diri kamu sendiri, jangan suka menggantungkan jawaban yang belum pasti. Kasian Matteo, kamu harus tegas dengannya agar dia bisa melepaskan kamu dan mengejar wanita lainnya,” ucap Kenzo sok menasehati. Padahal dirinya sendiri sampai sekarang belum bisa menautkan hatinya pada satu wanita. Bahkan
Micel ragu dengan perasaan Kenzo yang sebenarnya.
“Aku nggak bermaksud untuk menggantungkan jawaban untuk Matteo, tapi saat aku ingin memberi jawaban aku, Matteo selalu mengalihkan pembicaraan. Dia meminta aku untuk memikirkan ulang, padahal aku belum sempat mengatakan jawaban aku.”
Zahra menganggukkan kepalanya, “tapi aku juga nggak ingin menyakiti perasaannya,” ucapnya.
“Bagaimana kalau kamu pura-pura mempunyai pacar, dengan begitu Matteo akan menyerah dan membuang jauh-jauh perasaannya. Selama ini Matteo masih menunggu jawaban dari kamu karena kamu masih sendiri dan juga
tidak mempunyai kekasih, jadi Matteo pikir kamu juga menyukainya, tapi kamu masih ragu untuk mengakuinya,” ucap Kenzo panjang lebar.
Zahra mencoba untuk mencerna kata-kata yang keluar dari mulut kakak sepupunya, “memangnya siapa yang mau menjadi pacar pura-pura aku?” tanyanya kemudian.
“Kalau kamu setuju dengan ide aku, aku akan membantu kamu untuk mencari pria yang mau kamu jadikan pacar pura-pura kamu,” ucap Kenzo sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun.
__ADS_1
Zahra menghela nafas panjang, gadis itu sebenarnya juga tidak tega melihat Matteo yang masih saja mengharapkannya. Dia juga sulit mengatakan kepada pemuda itu, jika dirinya sama sekali tidak mencintainya, selama ini dirinya hanya menganggap Matteo sebagai sahabat dan tidak lebih.
Akhirnya gadis itu menganggukkan kepalanya, “tapi aku nggak mau kakak mencari sembarangan cowok ya,” ucapnya.
Kenzo mengacungkan jari jempolnya, “kamu tenang saja. Mana mungkin aku mencarikan pria seperti itu buat kamu,” ucapnya.
“Tapi kalau aku boleh tau, siapa cowok yang akan kakak mintai tolong?” tanya Zahra penasaran.
“Nanti kamu juga akan tau, tapi sekarang kamu siapain aja mental kamu untuk bertemu dengannya. Selain itu pikirkan apa yang akan kamu lakukan dalam kepura-puraan ini?”
“Maksud kakak, memangnya apa yang harus aku pikirkan?” tanya Zahra bingung.
Kenzo menepuk keningnya sendiri, “ya apa yang akan kamu lakukan nanti saat melakukan sandiwara itu, nggak mungkin kan Matteo percaya begitu saja kalau kamu tiba-tiba mempunyai kekasih, padahal selama ini Matteo
tau kalau kamu itu masih jomblo,” ucapnya.
“Memangnya apa yang harus aku lakuin, aku kan nggak tau soal begituan. Kakak kan tau kalau aku belum pernah sekalipun pacaran. Ciuman pertama aku aja belum aku berikan kepada cowok manapun,” ucap Zahra sambil
mengerucutkan bibirnya.
“Kalau kamu mau sandiwara ini berhasil, kamu harus minta tolong sama dia. Dia mungkin akan membimbing kamu untuk melakukan apa yang harus kamu lakukan agar Matteo percaya sama kamu. Itu pun kalau kamu mau,” ucap
Kenzo sambil menengadahkan kedua telapak tangannya.
Zahra terlihat seakan tengah berfikir keras, keputusan apa yang akan dia ambil. Gadis itu menghela nafas panjang, “ok, aku setuju. Aku akan turutin apa pun yang dia katakan, aku ingin Matteo secepatnya membuang jauh-jauh perasaannya. Aku juga ingin dia bahagia, Kak,” ucapnya.
Kenzo mengangguk mengerti, terlihat senyuman merekah di wajah itu, “aku akan membuat kamu dekat dengan Ardi, hingga kamu tidak mungkin mau lepas darinya. Ardi pria yang sangat baik, dia sangat cocok untuk kamu,
__ADS_1
Zahra. Hanya saja kamu belum menyadari itu,” pikirnya dalam hati.
~oOo~