
“Apa yang ingin kamu katakan? Bukankah kamu sudah memberitahu kamu semuanya tentang status kamu yang duda?” tanya mama Zahra.
“Ada satu hal lagi yang belum saya ceritakan tentang masa lalu saya. Zahra sebenarnya melarang saya untuk mengatakan semua ini, tapi saya tidak bisa melakukannya. Kalian juga berhak tau tentang masa lalu saya, karena saya tidak ingin ada masalah nantinya.” Ardi mengambil ponselnya dari saku celananya, dia lalu mengetikkan pesan dan dia kirim ke pada Zahra.
“Om, tante. Saya mengatakan semua ini karena saya benar-benar sayang sama Zahra, dan saya ingin Zahra menjadi istri saya. Itu sebabnya saya memberanikan diri untuk menceritakan tentang masa lalu saya.”
“Baiklah, sekarang katakan apa yang ingin kamu katakan,” ucap Papa Zahra.
“Saya memang seorang duda dengan satu anak, tapi sebenarnya saya sudah menikah dua kali dan gagal dua kali pula. Saya masih memiliki satu anak lagi.”
Kedua orang tua Zahra membulatkan kedua matanya, apa yang di katakan Ardi sungguh sangat mengejutkan mereka, “jadi maksud kamu, kamu sudah menikah dua kali dan kedua pernikahan kamu gagal?” Ardi menganggukkan kepalanya, “jadi jika Zahra menikah sama kamu, dia akan menjadi istri kamu yang ketiga?” Ardi kembali menganggukkan kepalanya.
***
Setelah mendapat pesan dari Ardi, Zahra bergegas keluar dari ruangannya. Dia terlihat begitu gelisah, “apa yang Kak Ardi lakukan, apa dia bodoh!”
Samuel yang melihat Zahra begitu terburu-buru saat keluar dari ruangannya pun merasa penasaran, dia lalu memanggil adik sepupunya itu. Zahra yang merasa terpanggil menghentikan langkah kakinya.
“Kamu mau kemana? Kenapa begitu terburu-buru?”
“Kak Ardi sekarang ada di rumah, kak. Dia akan mengatakan semuanya sama Mama dan Papa.” Zahra terlihat begitu panik, entah apa yang sudah Ardi lakukan, kenapa dia tidak mengatakan semua itu sama Zahra terlebih dahulu.
“Semuanya, maksudnya tentang apa?” tanya Samuel penasaran.
__ADS_1
“Em...bukan apa-apa. Maaf, Kak. aku harus pulang dulu, tadi aku juga sudah mengajukan cuti selama tiga hari.” Zahra lalu melangkah kan kakinya meninggal kan Samuel yang masih belum paham maksud perkataan Zahra.
***
“Apa kamu yakin Zahra mau menerima status kamu itu, setelah dia tahu kebenaran ini?” tanya papa Zahra dengan nada kecewa.
Ardi menganggukkan kepalanya, “Zahra mau menerima masa lalu saya. Om, tante, saya tau, om dan tante pasti mempunyai perasaan takut, takut jika nanti saya akan menyakiti Zahra dan pernikahan kami akan gagal nantinya. Tapi om dan tante tidak perlu cemas, saya tidak akan pernah menyakiti Zahra. pernikahan saya gagal mungkin itu memang salah saya, tapi semua itu tidak akan mempengaruhi pernikahan saya dan Zahra nantinya,” ucapnya.
“Tapi Zahra itu putri kami satu-satunya, apa dia harus menjadi istri ketiga, bahkan usianya masih sangat muda,” ucap mama Zahra.
Zahra yang sudah sampai di rumah, bergegas masuk ke dalam rumah. Dia melihat kedua orangtuanya yang masih berdebat dengan Ardi.
“Ma, Pa!” teriak Zahra sambil melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu menggenggam tangan Zahra, “aku harus melakukan ini, aku nggak mau memulai hubungan dengan membohongi kedua orang tau kamu, mereka juga berhak tau tentang masa lalu aku. aku minta maaf, jika aku nggak bicara dulu sama kamu.” Ardi menarik Zahra ke dalam pelukannya.
Mama dan papa Zahra saling menatap, mereka bisa melihat betapa Zahra dan Ardi saling mencintai satu sama lain. Meskipun begitu mereka masih merasa takut untuk melepaskan putri satu-satunya kepada pria yang bahkan sudah dua kali gagal dengan pernikahannya.
Zahra melepaskan pelukan Ardi, dia lalu menatap kedua orangtuanya, “Pa, Ma. Zahra sudah tau semuanya, dan itu semua tidak menjadi masalah untuk Zahra.” tatapan Zahra dia alihkan ke arah Ardi, “Zahra sangat mencintai Kak Ardi, dan Zahra ingin menikah dengannya,” imbuhnya.
“Tapi sayang...” Mama Zahra menyentuh lengan suaminya. Papa Zahra menghela nafas, “kalian duduklah, kita bicarakan ini dengan baik-baik. Bagaimanapun semua ini tidak bisa diputuskan dengan begitu saja. Kamu ini putri Papa satu-satunya, Papa hanya ingin yang terbaik untuk kamu,” imbuhnya.
Zahra dan Ardi duduk berdampingan. Zahra terlihat sangat gelisah, tapi tidak dengan Ardi. Meskipun dalam keadaan seperti itu dia tetap tenang, karena dia yakin dengan apa yang sudah dia lakukan. Jika nanti kedua orang tua Zahra memutuskan untuk tidak menerima lamarannya, dia tetap tidak akan menyerah begitu saja. Kali ini Ardi akan melakukan segala cara agar Zahra bisa menjadi miliknya sepenuhnya.
__ADS_1
“Ardi, om bukannya tidak suka sama kamu, tapi kamu tau kan jika Zahra itu putri om satu-satunya. Om hanya takut...om takut Zahra akan menderita nantinya. Apalagi kamu sudah bercerai dua kali. Bagaimana kalau mantan-mantan istri kamu datang lagi dan meminta untuk kembali sama kamu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya papa Zahra dengan nada serius.
“Om tenang saja, hanya Zahra yang saya cintai om. Dan saya janji, apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah menyakiti dan meninggalkan Zahra,” ucap Ardi sambil menggenggam tangan Zahra.
“Pa, Zahra mohon sama Papa dan Mama, tolong restui kami. Zahra hanya ingin menikah dengan Kak Ardi, bukan yang lain. Jika Mama dan Papa tidak mengizinkan Zahra untuk menikah dengan Kak Ardi, Zahra tidak mau menikah dengan siapapun,” ancamnya.
“Zahra, apa yang kamu katakan? Nggak seharusnya kamu bicara seperti itu sama kedua orang tua kamu,” ucap Ardi terkejut.
“Aku serius kak, aku nggak akan pernah menikah jika itu bukan dengan kakak.”
Mama Zahra mengusap lengan suaminya, “Pa, turuti saja kemauan Zahra. hanya dia putri kita satu-satunya, apa Papa tidak ingin melihat Zahra bahagia?”
“Tapi, Ma. Ini nggak semudah yang Mama pikirkan.”
“Kita percayakan semuanya kepada mereka. Jika suatu saat Ardi menyakiti putri kita, maka kita akan mengambil Zahra kembali,” ucap mama Zahra penuh penekanan.
Papa Zahra menghela nafas panjang, “Zahra, apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini? Apa kamu tidak akan menyesalinya?” Zahra menggelengkan kepalanya, dia juga berkata jika dirinya sangat yakin dengan keputusannya.
“Baiklah, Papa juga tidak mungkin bisa memaksa kamu untuk merubah keputusan kamu. Jadi Papa dan Mama akan merestui hubungan kalian,” ucapnya kemudian.
Ardi dan Zahra saling menatap, terlihat senyuman merekah di bibir mereka. Zahra beranjak dari duduknya, dia lalu memeluk kedua orang tuanya secara bergantian dan mengucapkan terima kasih.
“Em...om, tante. Saya masih ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Saya ingin mengajak Zahra untuk mengunjungi keluarga saya di Pekanbaru, apa om dan tante akan mengizinkannya? Selain itu kami akan menginap di sana selama tiga hari,” ucap Ardi dengan sedikit takut. Dia takut dengan jawaban penolakan yang akan mereka lontarkan nantinya.
__ADS_1
~oOo~