
Keesokan harinya..
Kay merasakan berat di tubuhnya, dengan perlahan Kay mulai membuka kedua matanya. Mata Kay terbelalak, dia terkejut melihat Arka kini tengah tidur di sampingnya sambil memeluknya.
"Aaaaaaaa! apa yang kau lakukan di sini?" Teriak Kay terkejut.
Tentu saja teriakan Kay membuat pemuda yang tengah tidur di sampingnya sontak langsung bangun dan ikutan berteriak.
"Ada apa sayang, kenapa pagi-pagi kamu sudah berteriak? bikin telinga aku sakit!" Teriak Arka sambil menutup kedua telinganya.
"Kamu yang kenapa, kenapa kamu tidur disini? bukannya semalam kamu tidur diluar?" Tanya Kay lalu bangun dan turun dari ranjang.
"Maaf, habis semalam diluar dingin banget, jadi terpaksa aku tidur di kamar kamu. Semalam aku kedinginan sayang, jadi aku memelukmu," ucap Arka tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Kay memasang muka yang kini mulai memerah, bukan karena malu tapi karena dia tengah menahan amarah.
"Bukannya kamu sudah berjanji nggak akan ngapa-ngapain kalau aku mengizinkanmu tidur disini, kenapa kamu ingkar janji?" Tanya Kay marah.
"Aku memang nggak ngapa-ngapain kamu, aku cuma tidur di ranjang kamu dan memelukmu, itu saja," ucap Arka sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu pasti bohong, kamu pasti sudah melakukan sesuatu kan waktu aku tidur," tuduh Kay.
"Sumpah sayang, aku nggak sebejat itu juga kali, mana mungkin aku melakukan itu sama kamu, aku mencintaimu, jadi aku akan menjagamu," ucap Arka tidak terima Kay menuduhnya.
Mata Kay mulai berkaca-kaca, dia tidak tau apa yang terjadi semalam, apa Arka telah merenggut kesuciannya tanpa dia sadari?
Arka yang melihat Kay mulai menangis, akhirnya Arka bangun dan turun dari ranjang, Arka memeluk tubuh Kay.
"Sayang, apa kamu nggak percaya sama aku? kamu masih suci sayang, aku nggak melakukan apa-apa sama kamu," ucap Arka sambil mengecup kening Kay.
"Beneran, kamu nggak bohong kan?" Tanya Kay sambil menghapus air mata yang telah membasahi kedua pipinya.
"Iya sayang, percaya sama aku, dan aku juga minta maaf karena aku tidur di kamar kamu tanpa seizin kamu," ucap Arka sambil menggenggam tangan Kay.
"Baiklah, aku akan memaafkan kamu, sekarang kamu keluar, aku mau mandi."
"Gimana kalau kita mandi bareng," goda Arka sambil memasang senyum manis di bibirnya.
"Arkaaaaa!" Teriak Kay keras dengan mengepalkan tangannya dan siap untuk memukul Arka.
"Cuma bercanda sayang, jangan galak gitu dong," ucap Arka sambil melangkah mundur.
"Cepetan kamu keluar!" Teriak Kay.
"Iya, aku keluar, galak banget sih," ucap Arka sambil melangkah keluar kamar.
Kay lalu mengunci pintu kamarnya, dia takut Arka akan masuk ke kamarnya lagi.
"Kenapa juga tadi malam aku lupa mengunci pintu kamar," gerutu Kay.
Kay masuk ke dalam kamar mandi dan mulai melakukan ritual mandinya, setelah setengah jam Kay selesai mandi. Kay masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arka. Kay mulai mencari jawaban atas pertanyaan yang ada dipikirannya.
__ADS_1
"Bukannya wanita yang telah direnggut kesuciannya biasanya mengeluarkan darah, coba aku cek, apa ada noda darah di ranjang aku," ucap Kay sambil berjalan menuju ranjang.
Kay menyibakkan selimut dan melihat ke seluruh seprei, tapi Kay tidak menemukan noda darah sedikitpun. Kay pun menghembuskan nafas lega.
"Ternyata Arka tidak berbohong," ucap Kay lega.
Kay merasa bersalah karena telah menuduh Arka yang tidak-tidak. Untuk menebus kesalahannya, Kay berniat membuatkan masakan yang enak untuk Arka. Setelah selesai berpakaian Kay keluar dari kamar.
Kay melihat Arka sedang duduk di ruang tamu. Kay melangkah menghampiri Arka.
"Sayang kamu nggak mandi?" Tanya Kay sambil duduk di samping Arka.
"Nanti saja," ucap Arka ketus.
"Kamu marah ya sama aku."
"Aku nggak marah, tapi aku cuma kesal saja, kenapa kamu tega menuduh aku kayak gitu, apa kamu nggak percaya sama aku?" Tanya Arka sambil menatap wajah Kay.
"Maafin aku ya sayang, aku sudah menuduh kamu yang nggak-nggak, aku percaya kok sama kamu."
"Sudahlah sayang aku nggak mau membicarakan ini lagi," ucap Arka sambil menundukkan wajahnya.
Kay bisa melihat kalau Arka sangat kecewa padanya, baru kali ini Kay melihat Arka sesedih ini.
"Sayang, jangan marah dong, aku beneran minta maaf," ucap Kay sambil menggenggam tangan Arka.
"Apa kamu mencintaiku?" Tanya Arka dengan nada serius.
"Nggak apa-apa, aku cuma ingin tau saja."
"Sayang, please jangan marah dong, aku nggak bisa jika kamu marah sama aku," ucap Kay sedih.
Arka menatap Kay dan memeluknya, dia sadar jika sebenarnya dialah yang salah bukan Kay. Dia lah yang telah masuk ke kamar Kay tanpa izin dan tidur di sampingnya.
"Sayang, kamu nggak salah kok, aku yang salah, aku minta maaf ya," ucap Arka sambil mempererat pelukannya.
"Tapi kamu jangan marah lagi," pinta Kay.
"Iya, aku nggak akan marah lagi, mana mungkin aku bisa marah sama kamu."
"Ya sudah, sekarang kamu mandi, aku mau buat sarapan dulu," ucap Kay sambil melepas pelukan Arka.
Arka mengecup kening Kay dan berjalan menuju kamar Kay. Sedangkan Kay berjalan menuju dapur. Kay berniat memasakan Arka sup dan ayam krispi kesukaan Arka.
Kay membuka lemari pendingin dan mengambil beberapa sayuran dan daging ayam. Setelah satu jam Kay akhirnya selesai memasak.
"Ayo sarapan dulu sayang," ucap Kay lalu menyiapkan makanan di atas meja
Arka yang sedari tadi berdiri melihat Kay memasak kini duduk di salah satu kursi meja makan.
"Baunya harum sayang, kamu tau saja kalau aku suka sup dan ayam krispi buatan mu," ucap Arka sambil mengambil nasi dan sup.
__ADS_1
"Tentu dong, aku tau saat pertama kali aku memasak makanan ini untuk kamu, kamu memakannya dengan sangat lahap."
"Ya aku ingat, itu pertama kalinya kamu memasak buat aku dan itu juga pertama kalinya kita makan berdua. Aku nggak menyangka kita akhirnya bisa bersama seperti sekarang," ucap Arka sambil memasukan satu suapan ke mulutnya.
"Pakai ini juga sayang," ucap Kay sambil menaruh ayam krispi di mangkuk Arka.
"Makasih, sekarang kamu juga cepetan makan," ucap Arka.
Setiap kali melihat Arka makan dengan lahap membuat Kay bahagia, apalagi Arka menyukai masakannya.
"Sayang, ini kan weekend kamu mau kemana?" Tanya Arka sambil membantu Kay membereskan meja makan.
"Aku ada janji sama Vero, ya ampun...aku lupa sayang, pagi ini Vero akan datang menjemput aku, bagaimana ini," ucap Kay bingung.
"Memangnya kenapa kalau Vero menjemputmu?" Tanya Arka penasaran.
"Kamu ini ya, gimana kalau Vero tau kamu menginap disini, dia pasti mikir yang bukan-bukan, oya sekarang pukul berapa?" Tanya Kay panik.
"Pukul 09.00, kenapa sih sayang?" Tanya Arka bingung.
"Vero akan menjemput aku pukul 09.00, gimana ini?" Tanya Kay yang semakin panik.
"Sudah nggak usah panik, biarin saja Vero tau, kita kan juga nggak ngapa-ngapain," ucap Arka santai.
Terdengar suara pintu diketuk. Kay terlihat semakin panik saat mendengar suara ketukan di pintunya. Kay menatap Arka dengan wajah paniknya.
"Biar aku yang buka," ucap Arka.
"Nggak! jangan! aku saja yang buka," ucap Kay .
Dengan jantung yang berdebar-debar, Kay melangkahkan kakinya menuju pintu.
"Tenang Kay, tenang, ini bukan akhir dari segalanya," ucap Kay mencoba menenangkan hatinya yang mulai tak karuan. Kay langsung membuka pintu.
"Kenapa lama banget sih bukain pintunya," ucap Vero sambil masuk ke dalam rumah.
"Vero, tunggu!" Teriak Kay sambil mengejar Vero yang sedang menuju ruang makan.
"Kenapa kamu panik gitu, aku cuma mau mengambil air, aku haus banget ini," ucap Vero lalu mulai melangkahkan kakinya lagi.
Sesampainya di dapur Vero terkejut melihat Arka sedang duduk di ruang makan.
"Hai, Ver," sapa Arka sambil tersenyum.
"Ngapain pagi-pagi gini kamu di sini? bukannya kemarin kamu pakai baju itu, apa jangan-jangan kamu semalam--" Vero menatap Kay dan Arka secara bergantian.
"Ver, aku bisa jelasin semuanya," ucap Kay panik.
"Apa yang mau kamu jelasin sama aku, apa kamu mau mencari alasan kalau Arka semalam tidak tidur sini," goda Vero.
"Bukan gitu..tapi--"
__ADS_1
~oOo~