
Tubuh Ardi seketika lemas, dia lalu terduduk di tepi ranjang dengan menundukkan wajahnya, “sayang, kenapa kamu tega sama aku.” Pria itu lalu menatap bagian bawahnya, “apa aku harus menunggu satu minggu lagi, agar si Jerry bisa masuk ke dalam sangkarnya?” tanyanya dengan suara lemahnya.
Zahra yang melihat raut wajah suaminya merasa bersalah, padahal ini bukan kesalahannya, dia juga tidak ingin malam pertamanya berakhir seperti ini. Tapi mau apa dikata, ini memang waktunya dia datang bulan. Wanita itu lalu memakai kembali lingerienya yang sempat terbuka bagian atasnya, dia lalu beranjak turun dari ranjang.
Zahra berdiri tepat di depan suaminya yang saat masih dalam posisi menundukkan wajahnya, “Kak, maafkan aku, aku juga nggak tau kalau akan datang hari ini,” ucapnya.
Ardi menghela nafas panjang, dia juga menyadari jika ini bukan kesalahan istrinya, tapi memang jalannya harus seperti ini. Selain itu, ini mungkin juga ujian untuk dirinya agar lebih bisa menahan diri lagi.
Pria itu lalu menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya, “untuk apa minta maaf, ini kan bukan salah kamu.” Ardi lalu beranjak dari duduknya, “aku akan membelikan pembalut untuk kamu, kamu mau yang ukuran berapa dan merk apa?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya.
Zahra pun menyebutkan merk dan ukuran yang biasa dia pakai, “maaf ya, Kak. Seharusnya malam ini menjadi malam yang sangat membahagiakan untuk kita, tapi ternyata harus berakhir seperti ini,” ucapnya.
“Demi kamu, apapun akan aku lakukan. Aku akan menunggu sampai kamu siap.”
Ardi lalu mengambil pakaian dari dalam lemari pakaiannya lalu dia kenakan. Setelah itu dia mengambil kunci mobil dari atas nangkas, “kamu tunggu sebentar ya, aku pergi dulu untuk membeli apa yang kamu minta,” ucapnya sambil mengecup kening istrinya.
Zahra menganggukkan kepalanya, dia tidak menyangka suaminya akan mau membelikannya pembalut. Karena setahu dia mana ada lelaki yang mau disuruh membeli barang keperluan wanita, apalagi pembalut.
Ardi dengan langkah gontai keluar dari kamarnya, tubuhnya terasa sangat lemas. Apalagi bagian bawahnya yang saat ini masih terasa begitu menyakitkan saat menahan gejolak yang sangat ingin dia tumpahkan. Tapi apalah daya, dia juga tidak bisa memaksa istrinya untuk memenuhi hasratnya yang kini masih bisa dia rasakan.
Arka yang melihat kakaknya menuruni tangga pun merasa sangat penasaran, ‘kakak mau kemana itu, bukankah ini malam pertamanya?’. Pria itu lalu menyenggol lengan istrinya yang saat ini tengah asyik menonton acara televisi, “sayang, kamu lihat itu Kak Ardi. Kenapa mukanya ditekuk kayak gitu?” tanyanya.
Kay yang semula menatap layar datar di depannya, kini mengalihkan tatapannya ke arah Ardi yang saat ini tengah menuruni tangga, “mana aku tau, kamu tanya saja sendiri sama kakak kamu,” ucapnya cuek dan kembali mengalihkan tatapan ke layar datar di depannya.
Arka yang merasa penasaran pun akhirnya memanggil kakaknya, “Kak!” panggilnya dengan nada sedikit keras.
Ardi yang semula ingin melangkahkan kakinya menuju pintu utama pun akhirnya menghentikan langkahnya, dia lalu berjalan menuju ruang tengah tempat Kay dan Arka yang tengah duduk di sofa sambil menonton acara televisi, “ada apa?” tanyanya.
“Kakak mau pergi kemana malam-malam begini? Terus kenapa muka kakak kusut kasat gitu?” tanya Arka.
“Aku mau pergi ke supermarket, ada sesuatu yang ingin aku beli,” ucap Ardi.
“Memangnya apa yang ingin kakak beli, apa kakak ingin membeli obat kuat, ini kan malam pertama kakak,” goda Arka dengan menaikkan kedua alisnya.
Kay yang semula menatap layar datar di depannya, seketika mengalihkan tatapannya menatap Ardi. Ardi pun saat ini juga tengah menatap Kay. Pria itu tidak bisa mengartikan tatapan kedua mata wanita itu.
Ardi langsung mengalihkan tatapan ke arah lain, “untuk apa membeli barang begituan, apa kamu pikir stamina aku ini lemah? Aku bahkan masih bisa membuat Zahra sampai lemas tak berdaya,” ucapnya.
__ADS_1
“Apa kakak sudah berhasil melakukannya?” tanya Arka penasaran.
“Kamu nggak perlu tau. Aku pergi dulu, kasian Zahra sudah menunggu.” Ardi lalu melangkahkan kakinya menjauh.
“Sayang, aku pergi dulu ya, ada sesuatu yang ingin aku beli.” Arka lalu beranjak dari duduknya dan bergegas menyusul Ardi yang sudah sampai di depan pintu.
“Kak aku ikut ya, ada sesuatu yang ingin aku beli.” Arka berjalan di samping Ardi menuju mobil.
“Apa yang ingin kamu beli? Apa kamu juga ingin membeli obat kuat? Apa stamina kamu sudah lemah?” ledek Ardi balik. Dia lalu membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil.
Arka pun membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil, “aku nggak butuh barang kayak gitu untuk bisa memuaskan Kay,” ucapnya.
Ardi berdecih, dia lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya. Ardi pergi ke supermarket terdekat, mereka lalu keluar dari mobil dan masuk ke dalam supermarket itu.
Ardi nampak tengah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia bingung harus bagaimana meminta tolong kepada pelayan toko itu untuk mencarikan apa yang dia cari. Ini pertama kalinya bagi pria itu membeli barang seperti itu, bahkan dulu saat masih bersama dengan Kay, dia tidak pernah sekalipun diminta untuk membeli barang seperti itu. Ini sungguh memalukan, pikirnya.
Arka yang melihat kakaknya sedari tadi hanya diam mematung di dekat pintu pun merasa sangat penasaran, “Kak, kenapa kakak malah bengong?” tanyanya.
Ardi begitu malu mengatakan kepada adiknya, tapi hanya Arka yang bisa membantunya saat ini, “apa kamu mau membantuku?” tanyanya.
“Memangnya apa yang kakak inginkan?”
“Ka, sekali ini saja tolongin aku,” pinta Ardi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
“Nggak mau! Masa aku di suruh beli barang begituan, Kay saja nggak pernah menyuruh aku untuk membeli barang seperti itu,” tolaknya lagi.
Ardi menghela nafas panjang, “terpaksa aku minta tolong sama pelayan toko ini, apalagi saat ini Zahra pasti sedang kesakitan. Nggak peduli deh dengan harga diri aku,” ucapnya lalu melangkah masuk menuju kasir.
“Jadi kakak sampai sekarang belum melakukan malam pertama?” tanya Arka dengan nada meledek.
“Kenapa? Apa kamu ingin meledekku, apa kamu senang melihat kakak mu menderita seperti ini?” Ardi lalu menghentikan langkahnya tepat di depan meja kasir.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanya pelayan toko itu.
“Em...sebenarnya saya ingin meminta to—long.” Ardi begitu gugup saat mengucapkan kata tolong.
“Apa yang tuan butuhkan? Biar saya bantu untuk mencarinya,” tawar pelayan toko itu.
__ADS_1
Dengan mempertaruhkan harga dirinya Ardi mengatakan apa yang ingin dia beli. Pelayan toko itu mencoba untuk tidak tertawa setelah mendengar apa yang ingin pelanggannya itu beli. Tetapi tidak dengan Arka, pria itu saat ini tertawa terbahak-bahak hingga membuat wajah Ardi memerah karena menahan malu.
“Em...tuan ingin pembalut ukuran berapa dan merk apa? Untuk siang atau malam?” tanya pelayan toko itu dengan sedikit tertawa.
Ardi lalu mengambil uang dari dalam dompetnya, “terserah anda saja, yang penting nyaman di pakai, siang dan malam juga nggak apa-apa. Tolong cepat ya.” Pria itu lalu memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada pelayan toko itu.
Pelayan toko itu menerima uang pemberian Ardi, “tuan, apa semua uang ini hanya untuk membeli pembalut saja? Ini bahkan bisa untuk membeli sekantong kresek besar pembalut,” ucapnya.
“Terserah anda saja, mau dapat berapa. Saya ingin anda segera mengambilkannya.” Ardi sudah tidak ingin berlama-lama di supermarket itu. Dia bahkan sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan datang ke supermarket itu.
Pelayan toko itu pun mengambilkan apa yang dia minta oleh Ardi, dia memasukkan begitu banyak pembalut dengan berbagai ukuran dan merk, “ini tuan, barang yang anda minta,” ucapnya sambil memberikan sekantong kresek besar yang berisi begitu banyak pembalut.
“Terima kasih.” Ardi lalu mengambil kantong kresek itu, dia lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah kakinya keluar dari toko itu.
“Tuan tunggu!” teriak pelayan toko itu.
Ardi menghentikan langkahnya, dia lalu membalikkan tubuhnya, “ada apa lagi?” tanyanya.
“Anda melupakan uang kembaliannya.”
“Untuk kamu saja, anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih saya, karena anda telah menolong saya hari ini.” Ardi lalu kembali melanjutkan langkahnya, dia bahkan melupakan Arka yang masih sibuk mencari apa yang ingin dia beli.
“Sudah tampan, baik hati lagi. Aku juga ingin mempunyai suami seperti dia.” Pelayan toko itu tidak menyadari jika saat ini Arka sudah berdiri di depan meja kasirnya.
“Apa kamu mengagumi kakakku?” goda Arka.
“Em...maafkan saya, saya tidak bermaksud...”
“Tolong total semuanya, sebelum kakakku pergi meninggalkan aku.” Arka menaruh sekeranjang belanjaannya di atas meja kasir.
Pelayan toko itu lalu mentotal semua belanjaan Arka dan memberi tahu nominal yang harus dibayar oleh Arka. Arka mengambil dua lembar uang seratus ribuan dan memberikannya kepada pelayan toko itu, “terima kasih.” Arka lalu mengambil belanjaannya dan bergegas keluar dari toko itu.
“Tuan...uang anda!” teriak pelayan toko itu.
“Untuk kamu saja!” teriak Arka lalu membuka pintu kaca di depannya dan keluar dari toko itu.
“Hari ini aku sungguh beruntung. Bertemu dua cowok ganteng, baik hati pula.” Pelayan toko itu lalu memasukkan uang pemberian Ardi dan Arka ke dalam kantong celananya, “semoga besok mereka kembali ke toko ini lagi, lumayan bisa sekalian cuci mata.”
__ADS_1
~oOo~