
Kehadiran Kevin di rumah itu membuat Ardi sedikit melupakan masalahnya, baik itu di kantor maupun di rumah. Zahra terus saja mengatakan jika dirinya bukanlah istri yang sempurna, dia bahkan menyuruh Ardi untuk menikah lagi.
Ardi sudah tidak tau harus berbuat apalagi, segala cara sudah dia lakukan untuk membujuk istrinya agar tidak membahas itu lagi, tapi setiap mereka ingin mengobrol berdua, Zahra selalu saja mengungkit soal dirinya yang tidak bisa memberinya keturunan.
“Sayang, mau sampai kapan kamu membicarakan itu terus? Bukankah aku sudah bilang sama kamu, aku nggak ingin anak lagi. Aku hanya butuh kamu sayang, apa kamu nggak tau itu?”
Zahra terkulai lemas di lantai, dia bahkan sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya yang seakan rapuh itu, “kakak nggak usah berbohong sama aku, aku tau kakak sangat menginginkan anak, tapi aku nggak bisa memberikan anak untuk Kak Ardi,” ucapnya di sela tangisannya.
“Aku yakin kamu bisa hamil sayang, hanya saja kita belum diberi kepercayaan untuk itu.” Ardi mencoba membantu istrinya untuk berdiri, dan mendudukkannya di tepi ranjang, “sayang, tatap aku,” pintanya sambil duduk berjongkok di depan Zahra.
Zahra pun menatap kedua mata suaminya itu. Ardi menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya, “yang aku butuhkan itu kamu sayang, bukan yang lain. Jika kita memang tidak dikaruniai anak lagi, aku nggak masalah soal itu, karena yang terpenting buat aku, kamu selalu ada untuk aku. dokter kan juga bilang sama kamu, kalau kamu bisa memiliki anak, jadi kamu jangan putus asa,” bujuknya.
“Tapi mau sampai kapan, Kak. Kak Kenzo saja sekarang sudah mempunyai anak, tapi aku...”
“Sayang, kamu masih punya Rasya dan Kevin, mereka anak-anak aku, dan itu berarti mereka juga anak-anak kamu.”
Zahra lalu memeluk suaminya dengan sangat erat, “aku mencintaimu, Kak. aku nggak mau kamu pergi meninggalkan aku hanya karena aku nggak bisa memberikan keturunan untuk kakak,” ucapnya di sela tangisannya.
“Aku nggak akan pernah meninggalkan kamu, aku janji.” Ardi melepaskan pelukannya lalu mengecup kening istrinya.
“Kak, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kakak.”
Ardi beranjak berdiri, dia lalu duduk di samping istrinya, “apa itu sayang?” tanyanya penasaran.
“Aku kemarin bicara dengan Kak Kay, aku minta pendapat dia soal kondisi tubuh aku. dan aku juga bertanya bagaimana agar aku bisa cepat hamil.”
Ardi mengernyitkan dahinya, “kenapa kamu bertanya sama Kay, diakan bukan dokter?” tanyanya bingung.
“Iya sih, Kak. tapi kan Kak Kay sekarang sudah mempunyai dua anak, siapa tau apa yang dia katakan bisa bermanfaat.”
“Lalu apa yang dikatakan Kay?”
__ADS_1
“Kak Kay bilang mungkin ini juga karena faktor kecapekan, kondisi tubuh aku yang menurun, pikiran aku yang stres, semua itu bisa mempengaruhi kenapa aku sampai sekarang belum juga hamil.”
Ardi tersenyum, “masuk akal juga sih, lalu apa yang akan kamu lakukan? Aku selalu membujuk kamu untuk tidak memikirkan semua itu, tapi kamu malah ngeyel,” omelnya.
Zahra mencemberutkan bibirnya, “aku sudah memikirkan ini, mungkin ini yang terbaik, tapi aku juga ingin meminta pendapat kakak,” ucapnya.
“Soal apa itu?” tanya Ardi penasaran.
“Aku ingin fokus dengan program hamil yang kita lakukan akhir-akhir ini, jadi aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Aku tau pekerjaan aku selama ini sangat menguras tenaga dan juga pikiran aku, jadi aku ingin berhenti bekerja,” ucap Zahra dengan menepiskan senyumannya.
Ardi menggenggam tangan istrinya, “sayang, kamu yakin dengan keputusanmu ini? Bukankah menjadi dokter itu impian kamu selama ini?” tanyanya terkejut.
Zahra tersenyum, “itu memang impian aku sejak dulu, Kak. tapi aku juga nggak boleh egois, apalagi sekarang aku sudah menikah, aku juga ingin segera mempunyai anak dari Kak Ardi. Untuk mewujudkan keinginan aku itu, aku bahkan sanggup merelakan apapun,” ucapnya.
“Aku akan mendukung apapun keputusan kamu sayang, jika kamu ingin bekerja, aku nggak akan melarang kamu, tapi jika kamu ingin berhenti bekerja, aku juga nggak akan melarang kamu untuk melakukan itu, karena aku hanya ingin kamu bahagia.”
Zahra tersenyum bahagia, “terima kasih ya, Kak. besok aku akan bicara dengan Kak Samuel,” ucapnya.
Ardi menganggukkan kepalanya, dia lalu menyuruh istrinya untuk tidur karena waktu sudah semakin larut.
Ardi sengaja tidak berangkat ke kantor, karena dia ingin mengantar istrinya ke rumah sakit untuk mengurus pengunduran dirinya. Setelah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan Samuel.
“Apa aku mengganggu kakak?” tanya Zahra lalu duduk di kursi di depan meja kerja Samuel. Ardi pun mendudukkan tubuhnya di samping istrinya.
Samuel menggelengkan kepalanya, “bukannya kamu sedang cuti, lalu kenapa kamu datang kesini?” tanyanya heran.
“Aku ingin mengundurkan diri dari rumah sakit ini,” ucap Zahra.
Kedua mata Samuel membulat dengan sempurna, “apa yang kamu katakan? Kamu sedang bercanda kan?” tanyanya terkejut.
__ADS_1
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku serius, Kak. aku ingin berhenti bekerja, aku ingin fokus untuk memiliki anak,” ucapnya.
“Tapi bukankah menjadi seorang dokter itu adalah impian kamu sejak dulu?” tanya Samuel masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
“Itu memang impian aku, Kak. tapi sekarang aku mempunyai impian baru lagi, yaitu aku ingin mempunyai anak, aku ingin tau bagaimana rasanya menjadi seorang ibu,” ucap Zahra dengan menatap suaminya yang saat ini duduk di sampingnya.
“Tapi kamu masih tetap bisa hamil meskipun kamu tetap bekerja,” ucap Samuel seakan tidak rela jika Zahra harus melepas impiannya hanya untuk menjadi seorang ibu.
“Aku juga sudah membujuk Zahra, tapi sepertinya keinginannya sudah bulat,” ucap Ardi.
“Tapi, Ra...”
“Aku mohon, Kak. izinkan aku untuk berhenti, aku ingin lebih fokus merawat kedua anak kau.” Zahra bahkan mengatupkan kedua telapak tangannya memohon.
Samuel menghela nafas panjang, “apa kamu sudah yakin dengan keputusan kamu itu?” tanyanya kembali memastikan, dia berharap Zahra akan berubah pikiran.
Zahra menganggukkan kepalanya, “aku sudah sangat yakin,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Samuel pun akhirnya menganggukkan kepalanya, “tapi jika kamu ingin kembali bekerja di rumah sakit ini, maka pintu rumah sakit ini akan terbuka lebar untuk menyambut kamu,” ucapnya.
“Terima kasih, Kak,” ucap Zahra senang.
Setelah mengatakan semuanya kepada Samuel, Zahra dan Ardi pun pamit undur diri, mereka lalu keluar dari ruangan Samuel. Samuel menyayangkan keputusan Zahra untuk berhenti bekerja, padahal Zahra termasuk dokter yang sangat populer dan berbakat di rumah sakit itu.
Ardi dan Zahra melangkahkan kakinya menuju mobil, mereka ingin menjemput Rasya, karena itu sudah waktunya Rasya pulang dari sekolah. Dalam perjalanan Ardi melihat raut wajah istrinya yang terlihat sangat senang itu.
“Kenapa kamu bisa sesenang itu?” tanyanya sambil terus fokus menatap ke depan.
“Karena aku bisa lebih fokus dengan program hamil yang sedang kita lakukan, aku juga bisa lebih fokus untuk mengurus rumah,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
Ardi menggenggam tangan istrinya, “kamu nggak usah mengurus rumah, karena ada bibik yang akan mengurus semuanya. Lebih baik kamu fokus dengan kondisi tubuh kamu saja, bukankah kamu ingin segera hamil?” tanyanya dan langsung mendapatkan anggukan dari Zahra.
__ADS_1
Ardi terlihat sangat bahagia, akhirnya dia bisa melihat lagi senyuman manis istrinya itu, ‘semoga nggak akan ada lagi kesedihan di kedua mata kamu sayang,’ gumamnya dalam hati.
~oOo~