Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 23


__ADS_3

Ardi mengambil Ansel dari pangkuan Zahra, pria itu takut jika nanti Ansel akan menangis jika terlalu lama berada di pangkuan Zahra, “kamu belum menjawab pertanyaan aku. Bagaimana kamu tau rumahku dan untuk apa kamu datang ke rumah aku? Apa ada sesuatu hal yang penting, yang ingin kamu bicarakan sama aku?” tanyanya penasaran.


Zahra menepuk keningnya sendiri, “astaga, karena melihat kelucuan anak kakak aku sampai lupa niat aku datang kemari,” ucapnya.


Terdengar suara ketukan di pintu.


“Siapa lagi yang datang.” Ardi lalu berdiri, “aku buka pintu dulu,” ucapnya. Pria itu lalu berjalan menuju pintu utama.


“Matteo!” seru Ardi terkejut saat pintu sudah terbuka sepenuhnya.


Matteo menampakkan senyuman di wajahnya, “hai, Kak. Apa Zahra sudah selesai?” tanyanya.


Ardi mengernyitkan dahinya, “sudah selesai? Maksudnya apa ya?” tanyanya bingung.


Zahra berjalan menuju pintu, “ah...Matt. Maaf, karena keasyikan mengobrol aku lupa kalau kamu sedang menunggu ku di mobil,” ucapnya.


“Jadi kamu ke sini sama Matteo?” tanya Ardi terkejut.


Zahra menganggukkan kepalanya, “iya, Kak. Sebenarnya aku datang ke sini ingin mengembalikan ini.” Zahra mengambil sebuah benda berbentuk persegi panjang, di sana tertera nama Ardi Raditya Pratama, “ini punya kakak


kan?” tanyanya lalu menyerahkan benda itu.


Ardi menerima benda itu, yang tak lain adalah KTP nya sendiri, “kok KTP aku bisa ada di kamu?” tanyanya bingung.


“Aku menemukan ini di halaman rumah aku, mungkin ini terjatuh dengan tidak sengaja,” ucap Zahra.


Terlihat kekecewaan di wajah Ardi, pria itu mengira gadis itu datang ingin bertemu dengannya dan membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan dirinya. Tapi ternyata...salah!


Arka yang merasa penasaran dengan gadis yang datang untuk menemui kakaknya akhirnya memutuskan untuk melihat gadis itu.


“Kemana mereka, kok nggak ada?” Arka berjalan keluar rumah, dia melihat kakaknya tengah mengobrol dengan seorang gadis dan juga seorang


pemuda.


Arka berjalan menghampiri mereka, “kenapa kakak malah ngobrol di luar?” tanyanya penasaran. Ansel yang berada di gendongan Ardi mengulurkan kedua tangannya, sepertinya bayi mungil itu minta di gendong oleh ayahnya.


“Ansel sayang, sini sama ayah. Kasian Om Ardi dari tadi menggendong kamu terus,” ucap Arka lalu mengambil Ansel dari gendongan kakaknya.


“Tadi Kak Ardi bilang Ansel ini anak Kak Ardi, tapi kenapa kakak ini tadi bilang kalau kakak ini om nya Ansel?” tanya Zahra sambil mengernyitkan dahinya.


“Maaf, Ansel sebenarnya anaknya adik aku, Arka. Tapi aku sudah menganggapnya seperti anak aku sendiri,” ucap Ardi ambil mengusap puncak kepala Ansel.

__ADS_1


“Aku kira bayi mungil ini juga anaknya Kak Ardi,” ucap Matteo.


Arka menatap gadis yang tengah berdiri di depan kakaknya, “kalau boleh tau kalian ini siapa ya? kok aku nggak pernah lihat kalian datang ke rumah ini?” tanyanya penasaran.


“Iya, Kak. Kami baru pertama kali datang ke sini. Aku Zahra, dan ini teman aku Matteo,” ucap Zahra dengan menepiskan senyumannya.


“Dia adik sepupunya Kenzo yang aku ceritakan tadi,” jelas Ardi.


“O...aku Arka, adiknya Kak Ardi. Anak kecil ini Ansel, anak aku,” ucap Arka sambil menciumi kedua pipi gembul putranya.


“Ayo masuk dulu, nggak enak mengobrol di luar,” ajak Arka lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


“Ayo masuk,” ajak Ardi dan langsung mendapat anggukkan dari Zahra dan Matteo.


Mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Ardi mempersilahkan mereka duduk, sedangkan Arka memanggil istrinya untuk membuatkan minuman untuk tamu kakaknya. Tak berselang lama Kay dan Lina berjalan menuju ruang tamu


sambil membawa nampan berisi minuman dan camilan. Kay meletakkan nampan itu di atas meja.


“Mereka siapa sayang?” tanya Lina sambil menatap Matteo dan Zahra.


Matteo dan Zahra berdiri dan mencium tangan Lina, mereka juga memperkenalkan diri mereka.


“Zahra selama ini tinggal di Jepang, Ma. Makanya dia tidak tau semua teman-temannya Kenzo,” jelas Ardi.


“Wah, kuliah jurusan apa? Kenapa harus jauh-jauh sampai ke Jepang?” tanya Lina penasaran.


“Kedokteran, Tante. Tapi sekarang sudah nggak kuliah di sana lagi, saya mau kuliah di Jogja aja, biar bisa selalu dekat dengan Mama dan Papa,” ucapnya sambil menatap Ardi. Ardi menepiskan senyumannya saat Zahra


menatapnya.


“Lalu pemuda yang di samping kamu itu kekasih kamu? Dia sangat tampan, kalian terlihat sangat serasi,” puji Lina.


Ardi yang mendengar pujian mamanya untuk Matteo merasa sangat kesal, dia tidak suka melihat mamanya yang malah menjodohkan gadis itu dengan pemuda yang kini tengah duduk di depannya.


“Doa kan saja, Tante. Semoga kami benar-benar berjodoh. Saya sudah menunggu jawaban Zahra selama 3 tahun, tapi belum juga di jawab,” ucap Matteo sambil melirik gadis yang duduk di sampingnya.


“La..kenapa, kalian padahal sangat cocok?” tanya Lina penasaran.


“Ma, udahlah. Kenapa Mama ikut campur urusan mereka,” tegur Ardi.


“Sayang, Mama juga mau mempunyai menantu seperti Zahra, dia sangat cantik. Dan tatapan mata itu mengingat Mama dengan tatapan mata...” Lina seakan tengah mengingat-ingat di mana dia melihat tatapan mata itu.

__ADS_1


“Itu seperti tatapan mata, Kay, Ma,” ucap Arka.


“Ah...ya, tatapan mata Kay. Kalian memiliki mata yang sama,” ucap Lina sambil menatap Kay dan beralih menatap Zahra.


Kay dan Zahra saling menatap, mereka sama-sama saling menepiskan senyuman mereka. Ardi tidak ingin memperpanjang obrolan ini, dia pun mencoba mengalihkan pembicaraan. Pria itu tidak ingin keluarga nya sampai


mengetahui perasaannya terhadap gadis itu.


“Matteo, Zahra silahkan di minum,” tawar Ardi.


“Karena ke asyikkan mengobrol, Tante sampai lupa mempersilahkan kalian minum. Ayo di minum dulu, nggak usah sungkan-sungkan,” tawar Lina. Matteo dan Zahra menganggukkan kepalanya. Mereka lalu mengambil minuman dari atas meja lalu meneguknya.


“Zahra, kalau boleh Tante tau, apa kamu punya seorang kakak perempuan? Kalau punya, tolong kenalkan sama anak Tante, Ardi,” pinta Lina.


Zahra mengernyitkan dahinya, “maksud Tante gimana ya, saya tidak mengerti?” tanyanya bingung.


“Zahra, kamu jangan dengerin kata-kata Mama aku,” ucap Ardi merasa sangat malu dengan sikap mamanya yang tiba-tiba menanyakan itu kepada Zahra.


Arka yang melihat kakaknya yang terlihat sangat gelisah, akhirnya memutuskan untuk mengajak mamanya pergi dari situ. Awalnya Lina menolak, tapi setelah Kay yang membujuknya, akhirnya Lina beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Ardi dan kedua tamunya.


“Maafkan sikap Mama aku, ya. Anggap aja Mama aku tidak pernah berbicara apa-apa kepada kalian,” ucap Ardi sambil menepiskan senyumannya.


Zahra dan Matteo hanya mengangguk mengerti. Tapi dalam benak gadis itu ada banyak pertanyaan. Soal kenapa mama nya Ardi sampai menanyakan apakah dirinya mempunyai kakak atau tidak, dan yang lebih membuat dia


penasaran, kenapa mama nya Ardi seakan ingin mencarikan jodoh untuk Ardi.


Matteo mengajak Zahra untuk pulang, gadis itu pun menganggukkan kepalanya. Mereka lalu beranjak dari duduknya.


“Maaf, Kak. Kami harus pulang dulu,” pamit Zahra.


Ardi mengangguk sambil menepiskan senyumannya. Meskipun terasa berat untuk melepaskan, tapi dirinya merasa lega bisa melihat tatapan mata itu lumayan lama. Tapi ada sedikit insiden yang membuatnya sedikit merasa malu melihat sikap mamanya.


Bagaimana bisa mamanya menanyakan hal itu kepada Zahra. Untung Zahra tidak banyak bertanya, tapi jika saat itu gadis itu bertanya dengan apa maksud pertanyaan mamanya, maka dirinya tidak akan sanggup menjawabnya. Dia takut Zahra akan terkejut saat mengetahui statusnya yang sebenarnya. Kenyataan jika dirinya sudah gagal dua kali dalam pernikahan, menjadi duda dua kali pula.


~oOo~




__ADS_1


__ADS_2