
Hari ini adalah hari dimana mama Matteo akan menjalani operasi pengangkatan rahim. Sebelum memasuki ruang operasi, mama Matteo ingin bertemu dengan Zahra. Karena selama tiga hari ini wanita paruh baya itu tidak bertemu dengan Zahra karena Zahra mengambil cuti karena kondisinya yang sedang tidak fit.
Zahra membuka pintu ruang inap mama Matte, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati ranjang. Wanita itu bisa melihat senyuman mulai merekah dari kedua sudut bibir wanita paruh baya itu.
“Sayang, tante kangen sama kamu, kenapa kamu nggak bilang sama tante kalau kamu sedang sakit. Lalu sekarang bagaimana keadaan kamu sayang?” tanya wanita paruh baya itu cemas.
Zahra tersenyum, “Zahra baik-baik saja kok, tante. Jadi tante nggak usah khawatir,” ucapnya.
“Selama tiga hari ini Matteo selalu bercerita tentang kamu sayang, dia bahkan tersenyum bahagia saat bercerita tentang kalian.” Wanita paruh baya itu lalu menggenggam tangan Zahra, “setelah sekian lama, tante bisa melihat senyuman itu lagi, kamu memang gadis yang pantas untuk anak tante,” imbuhnya.
Zahra hanya menepiskan senyumannya, dia tidak mungkin menceritakan semuanya kepada mamanya Matteo, karena hari ini dia akan menjalani operasi yang akan mempertaruhkan antara hidup dan mati.
“Tante jangan memikirkan itu dulu, sekarang yang terpenting adalah kesehatan tante. Apalagi sebentar lagi tante anak menjalani operasi,” ucap Zahra sambil menepiskan senyumannya.
Matteo yang habis dari luar pun kembali masuk ke dalam kamar itu, dia terkejut saat melihat Zahra berada di dalam kamar itu. Pria itu lalu berjalan mendekati Zahra dan mamanya.
“Ra, makasih ya kamu sudah mau menemani Mama aku,” ucap Matteo saat berdiri di samping Zahra.
Zahra menganggukkan kepalanya, “aku hanya ingin melihat tante sebelum tante menjalani operasi, selain itu Kak Samuel bilang sama aku kalau tante sangat ingin bertemu denganku,” ucapnya.
Matteo menggenggam tangan mamanya, “Mama harus berjuang ya, Matteo selalu ada buat Mama,” ucapnya.
“Seandainya Papa kamu masih ada, Mama nggak akan sesedih ini sayang,” ucap Mama Matteo sambil meneteskan air mata.
Zahra menghapus air mata wanita paruh baya itu, “tante jangan bersedih seperti ini karena Om pasti sudah bahagia di Atas sana,” ucapnya.
“Tante senang ada kamu disini sayang, tolong temani Matteo, dia pasti bersedih saat tante memasuki ruang operasi nanti,” pinta Mama Matteo.
Zahra menganggukkan kepalanya dengan senyuman di wajahnya. Mama Matteo pun dibawa ke ruang operasi oleh suster rumah sakit itu. Zahra dan Matteo dengan setia menunggu di depan ruang operasi itu.
“Makasih ya, Ra. Kamu sudah mau menemani aku disini.”
Zahra menganggukkan kepalanya, “Mat, kenapa kamu masih mengingat kenangan-kenangan kita dulu?” tanyanya.
“Apa Mama aku bilang sesuatu sama kamu?” tanya Matteo terkejut.
“Tante hanya bilang, dia bahagia saat bisa melihat senyuman kamu lagi. Dia bilang sudah lama kamu tidak tersenyum seperti itu lagi, dan penyebab kamu bisa tersenyum seperti itu lagi adalah aku. kenapa Matt? Kenapa?”
“Karena selamanya aku akan tetap mencintai kamu, Ra. Aku nggak bisa melupakan kamu dari pikiran aku.”
“Tapi semua itu salah, nggak seharusnya kamu menyiksa diri kamu sendiri. Kamu harus bisa membuka hati kamu untuk orang lain, aku ingin kamu bahagia, Matt,” ucap zahra dengan tatapan sendunya.
Matte menatap kedua mata Zahra, “Ra, kamu tenang saja. Aku bukan tipe orang yang suka menghancurkan rumah tangga orang lain. Meskipun aku masih mencintai kamu, tapi aku juga nggak berharap kamu akan membalas perasaan aku. aku senang saat tau kamu sudah menikah, aku juga berdoa semoga kamu bahagia selamanya bersama dengan suami kamu,” ucapnya.
__ADS_1
“Lalu...bagaimana dengan tante? Sepertinya dia salah paham dengan hubungan kita.”
“Kalau soal Mama, biar aku saja yang mengurusnya, setelah keadaan Mama membaik, aku akan menceritakan semuanya,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.
Zahra pun menganggukkan kepalanya, “semoga tante bisa menerima semuanya,” ucapnya.
“Ra, sekarang ceritakan sama aku, bagaimana hidup kamu setelah menikah? Apa suami kamu baik sama kamu? Apa anak Ardi mau menerima kehadiran kamu?” Matteo begitu penasaran dengan kehidupan rumah tangga Zahra. Apalagi wanita itu menolaknya dan lebih memilih duda beranak satu.
“Aku bahagia dengan pernikahan ini, Kak Ardi juga baik dan selalu manjain aku. dan soal Rasya, dia sudah mau menerima aku sebagai ibu sambungnya.” Zahra bercerita dengan senyuman di wajahnya. Tapi wanita itu tidak menceritakan kepada sahabatnya itu jika sampai sekarang dirinya belum juga dikaruniai seorang anak, buah cintanya dengan suaminya.
“Aku senang mendengarnya, lalu...apa kamu sudah memiliki anak?” Matteo mengira Zahra dan Ardi sudah menikah lama, dan mereka pasti sudah dikaruniai seorang anak.
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku belum hamil sampai sekarang,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
Matteo yang melihat kesedihan di raut wajah zahra pun merasa sangat bersalah, tidak seharusnya dia menanyakan itu kepada wanita itu, “Ra, aku minta maaf, nggak seharusnya aku menanyakan itu,” ucapnya.
Zahra tersenyum, “kenapa kamu meminta maaf, aku memang belum mempunyai anak, tapi aku masih mempunyai harapan untuk memilikinya,” ucapnya.
“Apa kamu sudah memeriksakan kondisi kamu?”
“Apa kamu mengira aku ini mandul?” Zahra bertanya dengan nada tidak suka.
“Maaf, tapi bukan itu maksud aku. ya.. mungkin ada sesuatu yang menghalangi kamu tidak juga hamil sampai sekarang,” ucap Matteo sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Matte menjitak kening Zahra hingga membuat wanita itu meringis kesakitan, “kalau kamu dokter terus kenapa? Apa kamu bisa tau kondisi tubuh kamu? Seorang dokter juga memerlukan saran dari dokter lain tau, jadi jangan sok-sok an dengan gelar dokter kamu itu,” sindirnya.
“Matt! Kamu nggak berubah ya, masih saja kamu suka menjitak kening aku, sakit tau!” pekik Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kamu sendiri apa juga nggak nyadar kalau kamu juga tidak berubah sama sekali? Tetap saja keras kepala,” ledek Matteo balik.
“Aku membencimu, Matt!” seru Zahra kesal.
“Tapi aku masih mencintai kamu,” ucap Matteo dengan senyuman di wajahnya.
“Matt...”
Matteo mengusap puncak kepala Zahra, “cinta itu tidak harus saling memiliki kan, yang penting kamu bahagia, itu sudah cukup buat aku,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.
Tiba-tiba ponsel Zahra berbunyi, wanita itu mengambil ponselnya dari saku jas putihnya, “Kak Ardi!” wanita itu lalu menjawab panggilan itu, “ya, Kak,” sahutnya.
“Sayang, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?”
“Aku sedang duduk di depan ruang operasi.”
__ADS_1
Ardi mengernyitkan dahinya, “siapa yang sedang di operasi?” tanyanya terkejut.
“Mamanya Matteo, dia sedang menjalani operasi pengangkatan rahim, karena tante menderita sakit kanker rahim.”
Kedua mata Ardi membulatkan kedua matanya, “apa kamu sedang bersama dengan Matteo sekarang?” tanyanya tidak suka.
“Hem...” Zahra menjawab dengan deheman, karena saat ini Matteo tengah menatapnya.
“Apa kalian hanya berdua?”
“Hem...”
“Sayang...aku nggak suka kamu bersama dengan Matteo, apa kamu lupa jika dia itu suka sama kamu?”
Zahra beranjak dari duduknya, dia meminta izin kepada Matteo untuk pergi sebentar, “Kak, itu kan sudah lama sekali, Kak. dia juga tau kalau aku sudah menikah dengan kakak, jadi kakak nggak perlu cemas,” ucapnya setelah menjauh dari Matteo.
“Tapi sayang...”
“Apa kakak nggak percaya sama aku?”
Ardi menghela nafas, “aku percaya sama kamu, tapi aku nggak percaya dengan Matteo, aku akan ke rumah sakit sekarang juga.” Pria itu lalu mematikan panggilan itu.
***
Ardi yang sudah sampai di rumah sakit langsung masuk ke dalam lobby rumah sakit, dia lalu menanyakan letak ruang operasi kepada perawat yang dia jumpai. Setelah mengetahui letak ruang operasi, Ardi bergegas menuju tempat itu.
“Kak Ardi!” Zahra sangat terkejut saat melihat suaminya benar-benar mendatanginya ke rumah sakit.
Matteo yang melihat kedatangan Ardi pun beranjak dari duduknya. Pintu ruang operasi mulai terbuka, bersamaan dengan kedatangan Ardi. Samuel keluar dari ruang operasi itu. Zahra dan Matteo melangkahkan kakinya menghampiri Samuel.
“Bagaimana keadaan Mama saya, Dok?” tanya Matteo cemas.
“Operasinya berjalan dengan lancar. Pasien masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat,” ucap Samuel dengan senyuman di wajahnya.
Matteo menjabat tangan Samuel dan mengucapkan terima kasih, Zahra pun ikut senang dengan berita yang sangat menggembirakan itu.
Samuel menatap ke arah Ardi yang hanya diam mematung, “Ra, kenapa suami kamu ada disini? Apa dia juga mengenal Matteo?” tanyanya penasaran.
Ardi berjalan mendekati mereka, “tentu saja aku mengenal Matteo, diakan sahabat terbaik Zahra. aku datang kesini ingin melihat keadaan Mamanya Matteo, karena aku mendengar dari Zahra, beliau sedang menjalani operasi,” ucapnya sambil merengkuh pinggang Zahra.
Samuel hanya menganggukkan kepalanya. Matteo tidak memperdulikan kehadiran Ardi di sana, dia lebih memperdulikan keadaan mamanya. Dia terus bertanya kepada Samuel tentang mamanya, Matteo sangat senang saat mendengar mamanya akan segera sembuh, sudah tidak ada lagi kanker di dalam tubuh wanita paruh baya itu.
__ADS_1
~oOo~