
Ardi terdiam, dia sekilas menatap Micel yang duduk di sebelahnya. Dahi Ardi mulai mengkerut, dari mana Micel tau? Pikirnya dalam hati.
“Maaf jika pertanyaan aku menyinggung perasaan kamu,” ucap Micel merasa tidak hati.
“Dari mana kamu tau?” tanya Ardi tanpa menatap Micel dan tetap fokus menatap ke depan.
“Jadi semua itu benar!” seru Micel terkejut.
“Aku memang pernah menikah dua kali, aku juga menjadi duda untuk yang kedua kalinya,” ucap Ardi sambil menepiskan senyumannya.
“Kenapa kamu sampai bercerai, apa kamu melakukan kesalahan atau istri kamu yang mengkhianati kamu?” tanya Micel penasaran. Jiwa keponya kini sudah mulai muncul.
“Kenapa kamu begitu ingin tau, apa cerita kehidupan aku begitu menarik buat kamu?”
Micel terlihat salah tingkah, dia bahkan merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya mulutnya dengan lancangnya melontarkan pertanyaan itu.
“Maaf,” ucap Micel sambil menundukkan wajahnya.
Dengan arahan dari Micel, akhirnya Ardi sampai di rumah Micel. Sebelum membuka pintu mobil dan keluar dari mobil, Micel terlebih dahulu mengucapkan permintaan maaf kepada Ardi, dia juga mengucapkan terima kasih
karena sudah di antar pulang.
Ardi melajukan mobilnya meninggalkan rumah Micel, sedangkan Micel terus melihat mobil Ardi hingga sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1
“Jadi Ardi seorang duda, apa aku mempunyai kesempatan untuk mendekatinya?”
Micel berfikir dengan Ardi menjadi seorang duda, dirinya mempunyai kesempatan untuk mendekati Ardi. Apa lagi setelah pertemuan mereka saat itu, Ardi bersikap baik terhadap Micel. Dia bukan lagi sang pangeran es yang Micel kenal selama ini.
Setelah mengenal Kay, Ardi menjadi sosok yang hangat dan perhatian. Bahkan dia menjadi CEO yang bisa bersikap ramah terhadap karyawan-karyawannya, tapi sayangnya semua karyawannya malah bergosip ria di
belakangnya.
“Apa Kevin sudah tidur, Ma?” tanya Ardi sambil membuka lemari pendingin dan mengambil satu botol air mineral. Dia membuka tutup botol itu lalu meneguknya.
“Belum, sepertinya dia masih bermain bersama Rasya di dalam kamar.”
Ardi berjalan menaiki tangga menuju kamar Rasya, dia membuka pintu kamar dengan perlahan. Ardi melihat Kevin dan Rasya sedang berbicara dengan seseorang lewat telfon.
Ardi melihat wajah Kay di layar ponsel Kevin, dia terlihat sangat gugup. Tiga bulan lebih dirinya tidak melihat Kay, bahkan Foto-foto Kay yang dulu ada di kamarnya kini telah Ardi simpan sebagai kenangan indah masa lalunya.
“Kevin sedang menelfon Bunda, Ayah. Kevin kangen sama Bunda,” ucap Kevin.
Ardi mengusap puncak kepala Kevin, “hai Kay, apa kabar?” sapa Ardi dengan menampakkan senyuman di wajahnya.
“Baik, Kak. Kabar Kak Ardi sendiri bagaimana? Maaf ya Kak, jika selama Kevin tinggal di situ sudah merepotkan Kak Ardi,” ucap Kay.
Kevin memberikan ponselnya kepada ayahnya, dan membiarkannya mengobrol dengan bundanya. Kevin mengajak Rasya bermain.
__ADS_1
“Kevin anak yang penurut, jadi dia sama sekali tidak merepotkan aku. Oya Kay, kapan kamu akan melahirkan, kata Arka dalam waktu dekat ini?” Ardi mencoba menenangkan gejolak di dalam hatinya.
“Kalau menurut HPL sih, satu minggu lagi, tapi aku juga nggak tau pasti.”
“Semoga persalinan kamu lancar ya, anak kamu terlahir dengan sehat dan tak kurang satu apa pun.” Ardi teringat saat dirinya dulu menemani Kay melahirkan, tanpa terasa air mata mulai mengenangi sudut matanya.
Ardi mengambil nafas dan membuangnya secara perlahan, dia tidak ingin Kay menyadari kondisinya saat ini. Ardi mencoba mengusap sudut matanya, saat Kay memalingkan tatapannya dari layar ponselnya.
“Makasih ya, Kak. Maaf kalau aku sibuk sendiri tadi, habisnya Arka minta di bikinin kopi,” ucap Kay.
“Kalau gitu kamu lanjutin aja bikin kopinya, aku juga mau melihat anak-anak dulu,” ucap Ardi dengan mencoba mencari alasan untuk mengakhiri panggilan itu.
“Salam untuk Kevin dan Rasya ya, Kak. Bilang juga sama Kevin kalau Bundanya sangat merindukannya.”
“Nanti aku sampaikan, selamat malam Kay.” Ardi lalu mengakhiri panggilan.
Ardi mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, dia meraup wajahnya dengan kasar, “sampai kapan aku akan terus seperti ini? Kay bahkan sudah bahagia bersama dengan Arka, apa yang bisa aku harapkan lagi?” Ardi menghela nafas panjang, dia menatap kedua anaknya yang terlihat sangat akur. Kevin bahkan sudah menganggap Rasya seperti adik kandungnya sendiri.
Ardi keluar dari kamar Rasya dan berjalan menuju kamarnya. Setelah selesai membersihkan diri, Ardi membuka lemari lamanya, tempat dia menyimpan semua kenangan-kenangan Kay. Dari foto, baju bahkan tas yang dia berikan kepada Kay saat perayaan aniversery pernikahan mereka yang kedua tahun.
Ardi mulai membuka album foto pernikahannya bersama dengan Kay. Tanpa Ardi sadari air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Rasa ridunya terhadap Kay kini mulai muncul lagi. Pada hal selama tiga bulan ini Ardi sudah berusaha untuk mengiklaskan Kay, tapi karena vidio call yang tidak dia sengaja tadi telah membangkitkan kembali perasaannya yang sudah dia pendam dalam-dalam di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
“Maafkan aku, Ka. Aku masih belum bisa sepenuhnya melupakan Kay, meski kini dia sudah menjadi istri mu.”
__ADS_1
~oOo~