
Zahra akhirnya bisa mengancingkan sabuk pengamannya, dia lalu menatap ke arah Ardi, “sebenarnya siapa kamu, apa kamu mengenalku? Apa kita saling mengenal?” tanyanya penasaran.
Ardi menganggukkan kepalanya, “aku mengenalmu dan kita juga saling mengenal. Aku akan menjelaskan semuanya, tapi tidak sekarang. Ini sudah terlalu malam. Lebih baik aku akan mengantar kamu pulang,” ucapnya.
“Tapi aku butuh penjelasannya sekarang juga.” Rasa penasaran gadis itu begitu besar, ini pertama kalinya ada seseorang yang berhasil mengusik hidupnya dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.
“Aku akan menghubungi kamu besok, aku akan menjelaskan semuanya, tapi sebelum itu apa aku boleh minta nomor telfon kamu?” tanya Ardi sambil menyodorkan ponselnya.
Zahra mengernyitkan dahinya, “ini bukan alasan kamu untuk mengambil keuntungan dari rasa penasaran aku kan?” tanyanya dengan sedikit rasa takut. Gadis itu tidak bisa mempercayai pria ini sepenuhnya, ini pertama kalinya mereka bertemu, bahkan umur pria ini juga jauh di atasnya. Dia takut ini hanya akal-akalan pria itu untuk menyakitinya.
Ardi reflek mengusap puncak kepala gadis itu yang sontak membuat gadis itu membulatkan kedua matanya secara sempurna, “ternyata benar apa kata Kenzo, cara pikir kamu masih seperti anak kecil. Kamu tenang saja, aku bukan pria seperti itu. Aku juga sama sekali tidak tertarik dengan gadis kecil seperti mu,” ucapnya sambil menggelengkan kepalanya.
Zahra melipat kedua lengannya di dada, dia mendengus kesal. Gadis itu paling tidak suka jika ada orang yang masih menganggapnya seperti anak kecil, “aku mau pulang, sekarang!” serunya kesal lalu memalingkan wajahnya menatap keluar jendela.
Kekesalan Zahra membuat wajahnya semakin terlihat menggemaskan di mata Ardi, diam-diam pria itu masih terus memperhatikan Zahra saat dirinya mengemudikan mobilnya. Entah mengapa Ardi sama sekali tidak bisa lepas dari tatapan gadis itu. Tatapan yang mengingatkannya kembali dengan tatapan wanita yang sangat dia cintai.
***
Ardi mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, dia mengambil ponselnya dan membuka galeri foto di layar pipih itu. Pria itu menatap foto yang tercetak di layar ponselnya, “Kay, kenapa tatapan mata kamu ada di tatapan mata Zahra? Di saat aku ingin melupakan kamu, kenapa aku harus menatap tatapan mata itu lagi?”
Ardi meraup wajahnya dengan gusar, dia tidak mau selamanya terpuruk seperti ini. Dia ingin lepas dari masa lalu yang terus membelenggunya selama ini. Ardi ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Zahra, dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan gadis itu. Jika itu sampai terjadi, dirinya tidak akan pernah bisa melupakan Kay selama-lamanya.
Ardi segera menghubungi Kenzo untuk meminta nomor telfon Zahra, karena gadis itu tidak mau memberikan nomor telfonya saat dirinya memintanya.
“Halo,” sahut Kenzo saat telfon itu terhubung.
“Aku mau minta nomor telfon Zahra,” ucap Ardi tho the point.
“Untuk apa? Apa kamu naksir sama sepupu aku itu?” tanya Kenzo curiga.
__ADS_1
“Itu nggak akan pernah terjadi. Mana mungkin aku menyukai gadis yang belum dewasa itu, sudah gila apa!” seru Ardi.
“Woy...kenapa kamu jadi sewot gitu, aku kan cuma nanya. Terus untuk apa kamu meminta nomor telfon Zahra?” tanyanya penasaran.
“Tadi aku belum sempat memberi tahu Zahra semuanya, aku juga belum sempat meminta maaf padanya, dia keburu ngambek duluan.” Ardi bisa mendengar sahabatnya itu mulai menertawakannya, “kenapa kamu tertawa, memangnya ada yang lucu apa!” serunya kesal.
“Kalian ini baru pertama kali bertemu setelah sekian lama, tapi sudah mulai ngambek-ngambekan, sungguh
mencurigakan. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?” tanya Kenzo penasaran.
“Kan aku sudah bilang, tidak ada apa-apa. Jadi kamu nggak usah mikir macam-macam, aku tunggu nomor telfon Zahra.” Ardi lalu memutuskan panggilan.
Tak berselang lama Ardi mendapat pesan dari sahabatnya itu, tentu saja itu kiriman nomor telfon Zahra. Tapi ada pesan lain yang sanggup membuat Ardi mengernyitkan dahinya saat membacanya.
Jika kamu memang tertarik dengan Zahra, aku akan membantumu, aku akan merestui kalian 😄😄😄
Aku nggak butuh restu dan bantuan kamu, karena itu nggak akan pernah terjadi. Jika itu terjadi berarti aku sudah gila!! 😒😒
Ardi meletakkan ponselnya ke atas meja, dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia tatap langit-langit kamarnya, “Kenzo sudah gila kali ya, bagaimana dia bisa berfikir aku menyukai Zahra. Sudah gila apa, Zahra aja umurnya baru 20 tahun, sedangkan aku...sekarang usiaku sudah 31 tahun. Nggak! Itu nggak akan pernah terjadi.”
Ardi kembali mendengar notifikasi ponselnya, tanda ada pesan baru masuk. Pria itu mengambil ponselnya dan membaca pesan dari sahabatnya itu.
Aku tunggu kegilaan kamu wkkkkkk.
Ardi mendengus kesal dan melempar ponselnya ke sofa. Pria itu mengernyitkan dahinya, “kenapa aku harus marah, memangnya apa hubungan aku dengan gadis itu? Ini semua gara-gara Kenzo, awas saja, aku akan beri dia pelajaran!” serunya sambil mengepalkan kedua tangannya.
***
Setelah mengirim pesan kepada Zahra, Ardi keluar dari ruangannya. Pria itu berjalan menuju meja kerja sekretarisnya, “Tolong batalkan semua janji saya hari ini. Jika nanti ada yang mencari saya, bilang saya sedang ada urusan penting,” ucapnya sambil berdiri di depan meja kerja Micel.
__ADS_1
“Kalau boleh tau, anda mau kemana?” tanya Micel penasaran.
“Saya ada janji dengan Zahra siang ini, kalau begitu saya pergi dulu.” Micel mengangguk, Ardi melangkahkan kakinya menuju lift.
“Zahra! Bukannya dia itu gadis yang tadi malam ikut makan malam! Apa hubungan Ardi dengan gadis itu? Nggak mungkin kan Ardi tertarik dengan gadis muda itu? Itu nggak boleh terjadi, jika sampai itu terjadi, akan hilang kesempatan aku untuk mendapatkan Ardi.” Micel terus menatap Ardi hingga dia tak lagi nampak di depannya.
Ardi melajukan mobilnya menuju restoran tempat dia janjian dengan Zahra. Sesampainya di restauran, Ardi sengaja memesan ruangan khusus di restoran itu yang letaknya ada di lantai dua. Pria itu tidak ingin ada siapapun yang menganggu saat dirinya sedang menjelaskan kepada Zahra tentang semua hal yang sebenarnya terjadi.
Kedua mata Ardi membulat seketika, mulutnya mengaga saat melihat gadis yang kini tengah berjalan ke arahnya. Zahra terlihat sangat cantik dengan balutan mini dress selutut dengan rambut yang tergerai indah.
Gadis itu mengernyitkan dahinya saat melihat pria di depannya tengah menatapnya dengan kedua mata yang membulat sempurna. Zahra menggetok meja dua kali, dan itu sontak membuat Ardi tersadar dari lamunannya.
“Ah...maaf, silahkan duduk,” ucap Ardi gugup.
~oOo~
Zahra
Micel
Ardi
😘😘😘😘😘
__ADS_1