
Kehidupan Ardi dan Kay sangat bahagia, hari-hari yang Kay lalui penuh dengan kasihsayang dan perhatian Ardi.
"Sayang aku kangen banget sama Mama dan Papa, gimana kalau kita berkunjung ke rumah mereka?"
"Baiklah, aku juga kangen sama Mama."
"Sekarang kamu siap-siap aku akan tunggu kamu dimobil." Ucap Ardi lalu berjalan keluar dari kamar.
Setelah selesai bersiap-siap Kay keluar dari kamar dan berjalan menghampiri Ardi. Kay menutup pintu dan menguncinya. Kay berjalan menuju mobil dan masuk kedalam mobil. Ardi melajukan mobilnya.
Sesampainya dirumah, Ardi dan Kay keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu. Ardi mengetuk pintu rumahnya.
Tokk..tokk..tokk..
"Sebentar." Teriak Lina sambil berjalan menuju pintu.
"Hallo Ma." Sapa Ardi saat pintu terbuka sepenuhnya.
"Sayang, Mama sangat merindukan kalian." Ucap Lina sambil memeluk Kay dan Ardi.
Lina mengajak mereka masuk kedalam rumah.
"Papa mana Ma?" Tanya Ardi sambil melihat sekeliling ruangan.
"Papa kamu pergi sama temannya. Gimana hubungan kalian, apa udah ada kemajuan?" Tanya Lina penasaran.
"Tentu dong Ma, aku dan Kay kini udah saling mencintai." Ucap Ardi sambil memeluk tubuh Kay dari belakang.
"Mama senang mendengarnya, terus kapan ni Mama akan dikasih cucu, Mama udah nggak sabar ingin mengendong cucu."
"Sabar dong Ma, ini lagi dalam proses." Ucap Ardi lalu mempererat pelukannya.
Arka yang sedang menuruni tangga tidak sengaja mendengar percapakan Ardi dan Mama nya, hati nya begitu sakit saat mendengar Kay sudah mencintai Ardi bahkan mereka berencana untuk memiliki anak. Arka menghampiri Ardi, Kay dan Lina.
"Hai kak, Kay, lama nggak datang kemari, ada angin apa nie?" Tanya Arka berbasa-basi.
"Aku kangen sama Mama." Ucap Ardi lalu melepaskan pelukannya.
"Apa kabar Ka?" Sapa Kay.
__ADS_1
"Baik, selamat ya kalian sekarang udah hidup bahagia." Ucap Arka dengan senyuman palsunya.
"Terimakasih." Ucap Kay sambil mengandeng lengan Ardi.
"Maaf aku tinggal dulu, aku ada urusan, Arka pergi dulu ya Ma." Ucap Arka lalu mencium tangan Lina.
"Jangan pulang malam lagi sayang, jaga kesehatan kamu." Teriak Lina.
" Arka nggak janji Ma, karena hari ini Arka mau pergi sama Tony dan teman Arka yang lain, jangan tunggu Arka pulang." Teriak Arka sambil terus melangkah pergi.
"Ma, sebenarnya ada apa ini?" Tanya Kay penasaran dengan sikap Arka yang dingin.
"Semenjak kepindahan kalian dari sini Arka berubah, dia jarang pulang dan kalau pulang itu pun pasti pulang larut malam." Ucap Lina sedih.
"Mama yang sabar ya" Ucap Kay sambil mengusap lengan Lina.
"Ka, sebenarnya apa yang terjadi sama kamu? kenapa kamu merusak hidup kamu sendiri." Guman Kay dalam hati.
"Kalian nanti menginap disini kan?"
Ardi menatap Kay.
"Baiklah, kita akan menginap disini Ma."
"Makasih sayang." Ucap Lina sambil memeluk Kay.
"Oya Ma, lusa Ardi ada kerjaan diluar kota selama satu bulan, ini berhubungan dengan pembukaan kantor cabang dan pengaturan menejemen baru di kantor, jadi selama Ardi keluar kota, Ardi mau menitipkan Kay disini ya Ma, karena Ardi nggak tega meninggalkan Kay sendirian dirumah."
"Tenang aja sayang, Mama akan menjaga Kay dengan baik-baik." Ucap Lina sambil tersenyum.
"Kak Ardi kok nggak bilang sama aku dulu." Ucap Kay terkejut.
"Maaf sayang, aku lupa." Ucap Ardi sambil menggenggam tangan Kay.
"Sayang kamu tenang aja, dengan adanya Kay disini Mama jadi ada temennya, karena semenjak lulus kuliah Arka jarang dirumah dan Papa kamu selalu sibuk dengan kerjaan."
Ardi sebenarnya juga tidak tenang meninggalkan Kay dirumah orangtuanya karena disitu ada Arka, bagaimanapun Arka pernah menjadi orang yang penting dihati Kay.
"Tolong jagain Kay ya Ma, Ardi percaya sama Mama."
__ADS_1
"Tenang aja, Mama akan menjaga Kay baik-baik."
Mereka pergi keruang keluarga, mereka saling berbincang dan melepas rindu. Kay sejak tadi selalu kepikiran dengan perubahan sikap Arka. Kay merasa perubahan sikap Arka mungkin disebabkan karena dirinya, Kay sedang memikirkan cara bagaimana bisa membuat Arka kembali lagi seperti dulu.
Setelah lama berbincang-bincang tak terasa waktu udah malam, Kay dan Ardi beristirahat didalam kamar.
"Sayang, kenapa dari tadi aku lihat kamu begitu gelisah?" Tanya Ardi penasaran.
"Aku kepikiran Arka, perubahan sikap Arka itu semua pasti gara-gara aku."
"Jangan menyalahkan diri kamu, Arka sudah dewasa dia seharusnya bisa menerima semua ini bukannya malah membuat dirinya menderita seperti ini." Ucap Ardi sambil memeluk Kay.
"Tapi setelah mendengar cerita Mama tadi, aku semakin yakin semua itu gara-gara aku, andai Arka bisa mengerti keadaan aku, apa dia masih akan tetap bersikap seperti ini, tidak mudah juga bagi ku untuk melupakannya,seandainya dia mau membuka diri untuk orang lain mungkin dia juga bisa melanjutkan hidupnya." Ucap Kay sedih.
"Jangan berfikiran yang macam-macam, kita akan bicara sama Arka besok, sekarang kita harus tidur, tapi sebelum tidur kita harus olahraga malam dulu." Goda Ardi.
"Kamu ni ya, nggak capek apa tiap malam kayak gini terus." Ucap Kay sambil tersipu malu.
"Kalau soal ginian nggak ada capeknya sayang, kalau perlu kita lakukan sampai pagi." Goda Ardi.
"Apa! nggak! nggak! aku capek kak."
Ardi sama sekali tidak perduli akan ucapan Kay.
Semenjak penyatuan mereka malam itu, Ardi menjadi semakin ketagihan, Ardi tak melepaskan Kay barang semalam pun.
"Terimakasih sayang, semoga benih-benih yang aku tanam dalam rahim kamu akan segera membuahkan hasil, aku sudah nggak sabar ingin mempunyai anak denganmu." Ucap Ardi lalu mengecup kening Kay.
"Semoga aja kak, aku juga ingin merasakan rasanya menjadi seorang ibu."
"Kamu pasti capek, ayo kita tidur." Ucap Ardi sambil menarik selimut.
Tak butuh waktu lama mereka pun akhirnya terlelap.
Arka yang ingin masuk kedalam kamar tidak sengaja mendengar semua yang terjadi didalam kamar Ardi. Hati Arka semakin hancur berkeping-keping.
"Seharusnya kamu menjadi milikku Kay, seharusnya aku yang tidur disamping kamu bukan kak Ardi, begitu cepat kamu melupakan semuanya, seandainya dulu aku tak menahan diri aku untuk memiliki kamu mungkin sekarang kita akan hidup bahagia Kay."
Tanpa sadar air mata mengalir membasahi kedua pipi Arka.
__ADS_1
🌟🌟🌟🌟