
Lina menatap Kay dengan tatapan serius.
"Maksud kamu keputusan soal apa sayang?"
"Soal pernikahan Kay dan Kak Ardi. Kay ingin bercerai dari Kak Ardi. Kay merasa Kay sudah nggak sanggup menjalani ini semua, Ma. Kak Ardi berhak bahagia bersama dengan Monic dan calon anaknya."
"Sayang, apa yang kamu bicarakan, kenapa tiba-tiba kamu berfikiran seperti itu?" tanya Lina terkejut.
Lina tidak menyangka Kay akan berfikiran sejauh ini.
"Ma, ini adalah jalan yang terbaik, Ma. Kay tidak ingin di madu, dan Kay juga tidak bisa membiarkan Kak Ardi meninggalkan Monic, karena sekarang Monic sangat membutuhkan Kak Ardi. Apalagi Monic sedang mengandung darah daging Kak Ardi. Kak Ardi sudah nggak perlu bertanggungjawab sama Kay, karena Kevin bukan anak kak Ardi."
"Jangan bicara seperti itu sayang, Mama nggak ingin kalian bercerai," ucap Lina sambil menggenggam tangan Kay.
"Tapi Ma, Monic lebih membutuhkan Kak Ardi ketimbang Kay, karena saat ini Monic sedang mengandung anak Kak Ardi. Kay nggak bisa membiarkan anak yang tidak berdosa itu menderita, Ma. Kay mohon Mama bisa ngertiin posisi Kay," pinta Kay.
"Tapi sayang, Ardi itu sangat mencintai kamu."
"Kay tau Ma, maka dari itu Kay melepaskan Kak Ardi agar kak Ardi lebih bahagia bersama anak kandungnya. Mama kan tau Kevin itu bukan anak Kak Ardi. Kay sadar kok, Ma, kalau selama ini Kay sudah mengecewakan dan menyakiti Kak Ardi. Maka dari itu Kay ingin membebaskan Kak Ardi agar kak Ardi bisa mendapatkan kebahagiaannya."
"Apa kamu sudah bicara sama Ardi?"
"Belum, Ma. Kay ingin membicarakan ini sama Mama dulu, Kay ingin Mama mendukung Kay demi kebaikan semua orang."
"Tapi sayang, apa kamu bahagia atas keputusan kamu ini?"
"Itu nggak penting, Ma. Kay sudah nggak perduli dengan kebahagiaan Kay, karena Kay hanya ingin membahagiakan orang-orang yang sayang sama Kay. Sekarang yang menjadi prioritas Kay hanya Kevin, Ma. Kay ingin membesarkan Kevin dan membahagiakannya."
Monic mendengar percakapan Lina dan Kay. Monic berjalan ke arah mereka.
"Kay, boleh aku bicara sebentar sama kamu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," ucap Monic sambil menatap Kay.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Kay penasaran.
"Kalian bicaralah, Mama akan menyiapkan makan malam," ucap Lina lalu berdiri dan meninggalkan mereka.
Monic duduk di samping Kay.
"Kay aku minta maaf jika aku sudah hadir dalam rumah tangga kamu. Aku tau kalau ini akan terjadi saat Rico mengingat semuanya, tapi waktu itu aku nggak perduli, karena aku sudah jatuh cinta padanya. Rico adalah segala-gala nya buat aku, hanya Rico yang aku miliki."
"Maksud kamu Kak Ardi? Jadi namanya Rico. Monic...apa kamu pernah berfikir kalau kak Ardi itu sudah mempunyai istri?" tanya Kay penasaran.
"Ya...aku tau karena aku melihat cincin di jari manisnya, tapi Rico tetap menikahi ku walau dia tau kalau di masa lalunya dia sudah mempunyai istri, karena Rico tidak berfikir kalau ingatannya akan pulih."
"Ok..kalau begitu aku pergi dulu," ucap Kay sambil berdiri.
__ADS_1
"Kay, aku mohon sama kamu jangan pisahkan anak aku dari ayahnya, karena aku dan anak aku sangat membutuhkan Rico," pinta Monic.
Kay hanya tersenyum dan berjalan meninggalkan Monic. Hati Kay semakin sakit setelah mendengar penjelasan Monic. Kay semakin memantapkan hatinya untuk meminta cerai dari Ardi.
Arka melihat Kay yang sedang bersedih. Arka berjalan menghampiri Kay.
"Kamu lagi mikirin apa sih, baru juga tadi tertawa lepas sekarang cemberut lagi," ledek Arka.
"Em...ngomong-ngomong Kevin sudah bangun belum?" Tanya Kay mengalihkan pembicaraan.
"Kevin masih tidur, Kay aku mau kamu ceritakan semua keluh kesah mu kepadaku seperti dulu, jangan kamu simpan semua masalahmu," ucap Arka sambil menepuk pundak Kay.
Kay hanya tersenyum, dia tidak ingin melibatkan Arka dalam masalahnya. Kay tidak ingin masalahnya menjadi runyam. Kay tidak ingin Ardi salah paham atas perhatian Arka kepadanya.
Arka ingin pergi menemui Tony, sudah lama mereka tidak bertemu.
"Kay, kamu mau ikut denganku?" tawar Arka.
"Kemana?"
"Ketemuan sama Tony dan juga Vero, kita janjian untuk kumpul bareng. Aku kangen masa-masa kita dulu."
"Maaf Ka, aku nggak bisa, aku ada urusan yang harus aku selesaikan," tolak Kay.
"Nggak usah, terima kasih."
"Ya sudah, nanti kalau Kevin bangun kamu datang saja ke kamar aku, kamarnya tidak aku kunci. Kalau gitu aku pergi dulu, ingat Kay aku selalu ada buat kamu," ucap Arka lalu berjalan keluar.
Kay berjalan menaiki tangga dan menuju kamar Arka. Kay berpapasan dengan Ardi.
"Kamu mau kemana sayang?"
"Kamar Arka," ucap Kay singkat.
"Untuk apa kamu ke kamar Arka?"
"Aku mau melihat Kevin sudah bangun atau belum." Kay berjalan menuju kamar Arka lalu membuka pintu kamar Arka.
Kay masuk ke dalam kamar Arka dan Ardi mengikutinya. Kay melihat kamar Arka penuh dengan foto-fotonya saat masih bersama Arka dulu.
"Arka masih sangat mencintaimu ya, dia pasti sangat senang melihat kita ada masalah seperti ini," ucap Ardi sambil melihat bingkai-bingkai foto yang tersusun rapi di atas meja.
Kay tidak menggubris omongan Ardi. Kay duduk di tepi ranjang sambil menatap Kevin yang masih terlelap.
"Kevin sangat mirip seperti Arka saat masih kecil, apa kamu senang ternyata Kevin itu anak Arka bukan anak aku?" tanya Ardi yang mulai pedas ucapannya karena terbakar cemburu setelah melihat foto-foto Arka dan Kay yang begitu mesra.
__ADS_1
"Apa Kakak bahagia, karena akhirnya kakak akan memiliki anak kandung kakak sendiri? kakak nggak perlu lagi membesarkan anak orang lain," sindir Kay.
"Maksud kamu apa sayang?"
"Sekarang Monic sedang mengandung anak Kak Ardi darah daging Kak Ardi, jadi Kak Ardi nggak perlu lagi membesarkan Kevin, karena Kevin bukan anak Kak Ardi."
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Bukankah itu maksud dari pertanyaan Kak Ardi tadi, Kak Ardi bertanya apa aku senang kalau Kevin ternyata anak Arka bukan anak Kak Ardi. Aku semakin yakin Kak Ardi memang sudah nggak perduli lagi sama Kevin. Maaf kak jika selama ini kakak harus merawat anak aku, aku akan membalas kebaikan Kak Ardi selama ini sama aku dan Kevin."
"Apa maksud kamu?" tanya Ardi semakin di buat bingung.
"Aku akan membebaskan Kak Ardi dari semua tanggungjawab Kak Ardi terhadap aku dan Kevin. Kak Ardi sekarang cukup bertanggungjawab kepada Monic dan calon anak Kak Ardi."
"Maksud kamu apa?" tanya Ardi yang masih belum paham maksud ucapan Kay.
"Kak..aku ingin kita bercerai. Aku nggak mau merepotkan Kak Ardi lagi."
"Apa kamu bilang! cerai! Nggak! aku nggak akan pernah menceraikan kamu, karena aku sangat mencintaimu sayang." Ardi berjongkok di depan Kay.
"Maafin aku kak, tapi itu keputusan terakhir aku. Aku sangat kecewa sama Kak Ardi, Monic sudah menceritakan semuanya. Kak Ardi tau kalau di masa lalu Kak Ardi sudah menikah, tapi Kak Ardi tetap menikahi Monic," ucap Kay sambil menahan air mata yang kini mulai memenuhi kedua matanya.
"Sayang, kamu salah paham. Ya...aku akui, tapi saat itu aku nggak punya pilihan lain, karena aku sudah berjanji sama papa nya Monic kalau aku akan menikahi Monic, aku terpaksa sayang," ucap Ardi sambil memeluk Kay.
"Terpaksa! apa kakak juga terpaksa menghamili Monic?" tanya Kay sambil melepaskan diri dari pelukan Ardi.
Kay sudah tak sanggup lagi menahan air matanya. Hatinya terasa amat sakit.
"Maafin aku sayang, aku melakukan itu karena aku belum ingat siapa aku, dan saat itu Monic memintanya di malam peng--"
"Cukup kak! cukup! aku tak ingin mendengarnya!" Teriak Kay sambil menutup kedua telinganya.
"Sayang aku mohon maafin aku," pinta Ardi sambil memeluk Kay.
"Lepasin kak! lepasin! jangan pernah menyentuhku lagi!" Teriak Kay sambil mendorong tubuh Ardi.
"Sayang, aku mohon tenanglah, kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik."
"Nggak ada yang perlu dibicarakan lagi, keputusan aku sudah bulat Kak, aku mau kita bercerai, dan aku nggak akan merubah keputusan aku."
"Nggak! sampai kapanpun aku nggak akan menceraikan kamu!" seru Ardi ngotot.
"Kalau begitu ceraikan Monic sekarang juga, apa kakak sanggup melakukan itu?" tantang Kay.
~oOo~
__ADS_1