
“Em...om, tante. Saya masih ada satu hal yang ingin saya sampaikan. Saya ingin mengajak Zahra untuk mengunjungi keluarga saya di Pekanbaru, apa om dan tante akan mengizinkannya? Selain itu kami akan menginap di sana selama tiga hari,” ucap Ardi dengan sedikit takut. Dia takut dengan jawaban penolakan yang akan mereka lontarkan nantinya.
Kedua orang tua Zahra saling menatap.
“Kenapa harus menginap?” tanya Mama Zahra.
“Karena saya ada urusan juga di sana, jadi setelah urusan saya selesai, kami baru kembali ke Jogja,” sahut Ardi.
“Kalian belum resmi menikah, jadi Om nggak menginjinkan Zahra untuk ikut sama kamu,” tolak Papa Zahra.
“Tapi, Pa. zahra sudah berjanji dengan Rasya kalau Zahra akan ikut. Apa Papa dan Mama mau nanti anak Kak Ardi jadi membencin Zahra karena telah berbohong padanya?” tanya Zahra dengan kedua mata sendunya.
“Om, Tante. Saya berjanji tidak akan melakukan apapun di luar batas, saya akan menjaga kepercayaan tante dan om. Jadi saya mohon, izinkan saya untuk mengajak Zahra ke Pekanbaru,” pinta Ardi.
“Pa, Ma, Zahra mohon, sekali ini saja. Zahra juga ingin mengenal keluarga Kak Ardi, Zahra juga ingin lebih dekat dengan anak Kak Ardi,” pinta Zahra.
“Pa...izinkan saja mereka. Kita percayakan saja Zahra sama Ardi. Mereka kan juga nggak hanya berdua, tapi juga ada anaknya Ardi dan juga keluarganya,” ucap Mama Zahra.
Papa Zahra menghelaa nafas panjang, “Om, percaya sama kamu, tapi jika sampai kamu mengkhianati kepercayaan kami, maka kami tidak akan membiarkan kamu untuk menemui Zahra lagi,” ucapnya.
Ardi mengangguk mengerti, “saya janji, Om. Dan terima kasih,” ucapnya.
“Kapan kalian akan berangkat ke Pekanbaru?” tanya Mama Zahra.
“Besok pagi, tante. Besok biar saya yang menjemput Zahra di sini,” ucap Ardi.
“Terima kasih ya Ma, Pa. Zahra sayang sama Mama dan Papa,” ucap Zahra sambil memeluk kedua orangtuanya.
“Kapan-kapan ajak anak kamu ke sini, kami juga ingin mengenalnya,” ucap Mama Zahra.
Ardi menganggukkan kepalanya, dia lalu pamit undur diri. Zahra mengantar Ardi untuk keluar dari rumahnya.
“Kakak ini nekat ya, coba kalau tadi Mama dan Papa nggak mau menerima masa lalu kakak, apa kakak nggak takut kedua orang tua aku akan melarang aku untuk bertemu lagi dengan kakak?” Zahra mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Ardi menarik tubuh Zahra kedalam dekapannya, hingga tak menyisakan cela di antara keduanya. Zahra maupun Ardi bahkan sampai bisa merasakan hembusan hangat yang keluar dari lubang hidung mereka.
Ardi mendongakkan dagu Zahra, “apa kamu nggak percaya padaku?” tanyanya.
Zahra menelan ludah, jarak mereka sungguh terlalu dekat. Kedua manik mata Zahra menatap ke arah bibir Ardi yang terlihat sangat menggoda, “a—ku bukannya nggak percaya, tapi aku hanya takut,” ucapnya sambil mengalihkan tatapannya.
Saat ini jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, wanita itu mencoba untuk lepas dari dekapan Ardi, tapi Ardi semakin erat mendekapnya.
“Apa yang kamu takutkan?” Ardi kembali menarik wajah Zahra agar tetap menatap ke arahnya, “apa kamu takut kehilangan aku?” tanyanya lagi.
Zahra mengangguk pelan, “aku nggak mau kehilangan Kak Ardi lagi. Cukup sekali aku melakukan hal bodoh itu, dan aku nggak ingin mengulanginya lagi,” ucapnya.
Ardi menatap manik kedua mata Zahra yang berwarna kecoklatan, lalu tatapannya turun menuju bibir mungil yang berwarna merah muda dan terlihat begitu menggoda, “aku nggak akan meninggalkan kamu, kamu nggak akan kehilangan aku lagi.”
Ardi lalu menarik tengkuk Zahra dan mendaratkan ciuman di bibir merah muda itu. Zahra memejamkan kedua matanya, dia melingkarkan kedua lengannya ke leher Ardi dan membiarkan pria itu untuk memperdalam ciumannya.
Ardi semakin menarik tengkuk Zahra, hingga membuat gadis itu mendorong tubuhnya pelan karena dirinya seakan kehabisan nafas. Zahra mulai mengatur nafanya yang tak beraturan, dia lalu mendongak menatap Ardi yang masih bisa-bisanya tersenyum dengan manisnya.
“Tapi enakkan, mau lagi nggak,” godanya.
Zahra dengan cepat menggelengkan kepalanya, “takut ketahuan sama Mama dan Papa. Sekarang Kak Ardi lebih baik pulang, dan besok jangan lupa jemput aku,” ucapnya.
Ardi mengangguk, “ya udah, aku balik dulu. terima kasih untuk pengobat rindunya. Besok aku tagih lagi,” ucapnya dengan senyuman manisnya.
Zahra mendorong tubuh Ardi agar masuk ke dalam mobil. Ardi terpaksa membuka pintu mobil itu, sebelum dia masuk ke dalam mobil, dia menarik Zahra dan mengecup pelan bibir mungil gadis itu lagi.
“Kak!” pekik Zahra kesal.
Ardi masuk ke dalam mobil, “maaf, sekarang kamu istirahat biar besok badan kamu bisa frees,” ucapnya .
Zahra menganggukkan kepalanya, dia masuk ke dalam rumah saat melihat mobil Ardi keluar halaman rumahnya.
***
__ADS_1
Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya, Ardi dan Rasya bersiap-siap untuk menjemput Zahra. Ardi memang sengaja berangkat lebih pagi dari jadwal sebenarnya. Itu dia lakukan jika nanti kedua orang tua Zahra masih ingin bertemu dengan Rasya.
Kedatangan Ardi dan Rasya di sambut baik oleh kedua orangtua Zahra, mereka lalu menyuruh Ardi dan Rasya untuk masuk ke dalam rumahnya. Mereka juga mengatakan jika Zahra sedang bersiap-siap.
“Halo sayang, siapa nama kamu?” sapa Mama Zahra.
“Rasya.” Sahutnya singkat. Rasya bingung harus memanggil apa kepada kedua orang tua Zahra.
“Nama yang sangat bagus. Sayang, apa kamu bingung ingin memanggil kami apa?” tanya Mama Zahra. Rasya hanya mampu menganggukkan kepalanya.
“Rasya boleh memanggil kami dengan sebutan kakek dan nenek atau oma dan opa,” ucap Mama Zahra.
“Baik oma, opa,” ucap Rasya sambil mencium tangan kedua orang tua Zahra.
Ardi senang mendengar kedua orang tua Zahra dia panggil dengan sebutan oma dan opa oleh Rasya, ‘apa ini pertanda Rasya sudah mau menerima Zahra.’
Zahra yang sudah bersiap-siap kini tengah berjalan menuruni tangga, dia lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu, “maaf menunggu lama,” ucapnya.
Ardi terus menatap ke arah Zahra dan sama sekali tidak ingin mengalihkan tatapannya, “kamu sangat cantik,” pujinya saat Zahra berdiri tepat di sebelahnya.
Zahra tersipu malu saat Ardi memujinya di depan kedua orangtuanya dan juga Rasya.
“Pa, ayo kita berangkat sekarang,” rengek Rasya.
Zahra menganggukkan kepalanya.
“Ya udah, ayo kita berangkat sekarang, tapi kamu harus pamit dulu sama oma dan opa,” ucap Ardi yang membuat Zahra membulatkan kedua matanya. Dia juga tidak menyangka Rasya akan menuruti kemaunan Papanya.
Setelah berpamitan dengan kedua orangtua Zahra. Ardi mengambl tas yang Zahra bawa, lalu dia letakkan di bangku penumpang yang berada i belakangnya, lebih tepatnya di samping Rasya yang kini tengah sibuk dengan ponselnya. Ardi lalu melajukan mobilnya menuju bandara.
~oOo~
__ADS_1