Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Kenapa kamu begitu ingin membuatku senang?


__ADS_3

Ardi yang sedari tadi berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, akhirnya keluar dari kamar mandi. Pria itu keluar dari kamar mandi hanya mengenakan sehelai handuk berwarna putih yang kini membalut pinggangnya. Memperlihatkan dadanya yang bidang yang masih basah dengan tetesan-tetesan air sisa-sisa saat dia mandi tadi. Tubuh itu bahkan memperlihatkan perut sixpacknya yang bak roti sobek, serta rambutnya yang kecoklatan masih terlihat basah.


Meskipun sudah berumur 37 tahun, tapi Ardi tetap rutin berolahraga untuk menjaga kebugaran dan bentuk tubuhnya. Seketika matanya tertuju pada sosok cantik yang kini sedang duduk di tepi ranjang sambil menundukkan wajahnya itu dengan lingerie yang melekat di tubuh wanita itu.


Dahi Ardi mengernyit, ‘apa Zahra memang terbiasa tidur mengenakan lingerie tipis seperti itu, atau hanya karena ini malam pertama kita, jadi dia ingin menggodaku?’


Dengan perlahan Ardi melangkahkan kakinya mendekati wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu, “sayang.” Pria itu lalu duduk di samping istrinya kemudian mengecup keningnya, “malam ini kamu terlihat cantik.” Dia lalu membisikkan satu kata lagi di telinga istrinya itu, “dan juga seksi,” imbuhnya yang mampu membuat wajah Zahra kini merah merona, dia bahkan tidak berani mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah dan juga tubuh suaminya yang kini bertelanjang dada.


Ardi yang melihat istrinya kini yang tengah tersipu malu pun lalu menggenggam tangan istrinya itu, “apa kamu sengaja memakai lingerie ini untuk menggodaku?” godanya dengan senyuman di wajahnya.


Tatapan mata pria itu bahkan semakin mendamba saat melihat isi dibalik lingerie yang dipakai istrinya itu. Gaun dengan bahan yang begitu tipis itu kini memperlihatkan lekuk tubuh Zahra, bahkan kedua aset yang sedikit menyembul itu semakin terlihat jelas di balik lingerie itu meskipun masih berada di balik bungkusnya.


Seketika Ardi menelan ludahnya, gejolak dalam dirinya kini mulai memanas, tapi Ardi mencoba untuk menahannya. Walaupun sudah sangat lama Ardi tidak melakukan hubungan itu, dan bahkan sangat ingin segera menyalurkan hasratnya itu, tapi pria itu mencoba untuk tetap bertahan.


Ardi tidak ingin terlalu terburu-buru, dia ingin menikmati momen-momen ini, apalagi ini adalah pengalaman pertama untuk istrinya itu. Walaupun Ardi sudah begitu berpengalaman dalam hal ini, tapi entah di depan wanita ini dia menjadi sedikit kikuk dan grogi.


“Sayang, kenapa kamu menundukkan wajah kamu, apa kamu malu?” tanyanya lagi setelah tak ada jawaban dari pertanyaan yang keluar dari mulut wanita itu.


Ardi pun mendonggakan wajah istrinya itu, dan kini kedua mata itu saling bertatap, “ada apa?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya, “apa kamu malu memakai lingerie ini di depanku?” imbuhnya.


Zahra menggelengkan kepalanya dengan senyuman di wajahnya, “kenapa aku harus malu, aku memakai ini kan di depan suami aku bukan pria lain,” ucapnya.


“Apa kamu memang sengaja memakai lingerie ini untukku?” tanya Ardi merasa sangat senang.

__ADS_1


Zahra menganggukkan kepalanya, “ini hadiah dari Kak Kenzo, dia bilang Kak Ardi akan suka kalau aku memakai baju ini saat malam pertama kita,” ucapnya.


Ardi mengusap pipi istrinya dengan jemari-jemari tangannya, “kenapa kamu begitu ingin membuatku senang?” tanyanya.


“Karena aku sangat mencintai kakak, aku ingin mengganti semua kesedihan-kesedihan kakak dengan kebahagiaan.”


Ardi begitu tersentuh saat mendengar kata-kata yang keluar dari bibir tipis istrinya itu. Dia tidak menyangka istrinya itu akan berpikiran seperti itu. Pria itu lalu memeluk istrinya dengan sangat erat, “terima kasih. Terima kasih karena kamu mau mencintai pria seperti diriku, padahal kamu bisa mendapatkan pria yang lebih segala dari aku,” ucapnya.


Zahra mengusap lembut punggung suaminya, “nggak ada pria yang aku inginkan menjadi suami aku selain kakak. Hanya kakak lah pria yang mampu menarik hati aku. Selain sifat kakak yang baik dan perhatian, aku juga sangat menyukai sifat kakak yang bisa jujur dengan kondisi kakak saat ini dan tidak menutup-nutupinya dariku, jujur...itu yang paling aku suka dari kakak,” ucapnya.


Ardi tersenyum, dia lalu melepaskan pelukannya, “hanya itu? Apa kamu nggak menyukai ketampanan aku?” godanya.


“Ketampanan kakak itu adalah bonus buat aku,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


Ardi menggenggam tangan istrinya itu, “apa kamu benar-benar sudah siap untuk melakukan malam pertama kita?” tanyanya memastikan. Dengan malu-malu dan wajah yang sudah merah merona, wanita itu hanya mampu menganggukkan kepalanya.


Ardi memulainya dengan mengusap lembut kedua pipi istriya itu, mengecup keningnya, kedua mata istrinya yang saat ini terpejam. Terlihat senyuman merekah di kedua sudut bibir Ardi saat melihat wajah istrinya yang semakin merah merona dan semakin menggemaskan itu.


Dengan perlahan Ardi mulai membenamkan bibirnya ke bibir tipis istrinya yang berwarna merah muda itu, menyecap setiap bagian-bagian dari bibir tipis itu. Hingga kini kecupannya semakin menurun dan beralih ke leher jenjang istrinya.


Ini pertama kalinya Zahra mendapatkan perlakukan seperti ini, dan ini juga pertama kalinya bagi gadis itu membiarkan seseorang menikmati leher jenjang milikinya. Suara-suara lenguhan kecil kini lolos dari bibir tipisnya saat kedua tangan Ardi mulai mengusap lembut lengannya dan terus merambat naik, hingga kedua tangan itu berhenti di kedua tali yang menempel di pundak Zahra.


Sentuhan-sentuhan yang Ardi berikan pada tubuh Zahra seakan memberinya aliran listrik, tapi yang dia rasakan bukan rasa sakit saat terkena aliran listrik itu, tapi rasa nikmat yang baru pertama kali dia rasakan hingga membangkitkan gejolak yang rasanya begitu aneh dalam dirinya. Dia bahkan belum merasa puas hanya dengan kecupan-kecupan di lehernya, dan mungkin kini lehernya sudah dipenuhi oleh kecupan-kecupan merah yang Ardi tinggalkan di sana.

__ADS_1


Tanpa melepaskan kecupannya dari leher jenjang wanita itu, Ardi bahkan tidak menghiraukan desahan-desahan kecil yang keluar dari bibir tipis istrinya itu, dengan perlahan dia mulai menurunkan kedua tali yang melekat di bahu istrinya hingga memperlihatkan pundak istrinya yang begitu putih tanpa noda sedikitpun.


Ardi menelan ludah, saat dia mengalihkan tatapannya menuju dua aset milik istrinya yang kini terpampang jelas di depan kedua matanya, walau masih terbungkus oleh bungkusnya yang berwarna hitam itu.


Zahra terus menundukkan wajahnya saat kedua mata suaminya terus menatap ke arahnya, bahkan tatapan pria itu semakin mendalam dan mendamba. Jantungnya pun kini semakin berdebar hebat, nafasnya semakin memburu saat salah satu tangan Ardi melepas pengait yang mengunci pembungkus kedua aset miliknya itu.


Ardi semakin tidak mampu menahan hasrat yang semakin membara dalam dirinya, dia pun mulai merebahkan tubuh istrinya ke atas ranjang, “setelah sekian lama aku menunggu, bisakah malam ini aku melakukannya?” bisiknya saat dia sudah membaringkan tubuh istrinya dan kini sedikit menindih tubuh istrinya itu.


Zahra kini membuka kedua matanya yang sejak tadi dia pejamkan. Dia tatap kedua manik mata suaminya yang berwarna kecoklatan itu, “lakukanlah,” ucapnya pelan. Namun saat ini Zahra merasakan perutnya yang tidak nyaman, tapi wanita itu mengira itu hanyalah reaksi biasa saat dirinya yang kini terlihat sangat gugup di depan suaminya.


Ardi pun memulainya dengan menyatukan bibirnya dengan bibir tipis istrinya. Ciuman itu dia lakukan secara perlahan-lahan dan lembut hingga keduanya kini saling menikmati dan menghayati suasana yang terjadi malam itu. Ciuman itu kini semakin lama semakin memanas dengan bertambahnya gejolak di dalam diri Ardi, ciuman itu semakin lama semakin turun ke leher jenjangnya, bahkan lebih menurun lagi hingga tepat di kedua belahan dadanya.


Zahra merasakan semakin sakit di perutnya hingga membuatnya meringis menahan rasa sakit yang entah mengapa tidak dapat dia tahan lagi. Gemeretak giginya menandakan dia sangat menahan rasa sakit itu, sampai...


“Akh sakit, Kak...sakit!” teriak Zahra dengan kedua sudut mata yang sudah mengalirkan cairan bening.


Ardi mengernyitkan dahinya dan melepaskan kecupannya, “kok sakit sih sayang, aku kan belum melakukan apa-apa, masa kecupan aku membuatmu kesakitan seperti itu?” tanyanya bingung.


Terlihat Zahra meringkuk sembari kedua tangannya menekan perutnya. Dan terlihat memang itu bukan candaan Zahra atau pura-pura. Saat ini Zahra benar-benar merasa kesakitan.


“Sayang, aku kan belum ngapa-ngapain kamu, kamu kenapa?” tanya Ardi yang begitu panik melihat istrinya yang tengah meringkuk menahan sakit.


“Kak...sepertinya aku akan datang bulan, perut aku rasanya sakit sekali...melilit. Kak...boleh aku minta tolong...belikan aku pembalut, karena aku lupa membelinya,” pinta Zahra sambil menyengir kuda.

__ADS_1


Kedua mata Ardi membulat dengan sempurna. Kenapa harus datang sekarang sih, kenapa nggak besok-besok saja! Pikirnya.


~oOo~


__ADS_2