Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 36


__ADS_3

Kay kini tengah duduk di bangku taman bersama dengan Arka dan juga Ansel. Pagi ini adalah pagi yang sangat cerah untuk menikmati udara pagi. Ansel tengah duduk di pangkuan ayahnya sambil menikmati biskuit


kesukaannya.


“Ansel benar-benar mirip sama kamu,” ucap Kay sambil mengusap puncak kelapa Ansel.


“Tentu mirip aku, aku kan yang bikin kamu hamil.” Arka menatap lekat wajah istrinya yang kini tengah membersihkan mulut Ansel yang belepotan karena biskuit yang dia makan, “sayang, kamu merasa ada yang aneh


dengan Kak Ardi nggak?” tanyanya.


“Hem...aneh gimana maksud kamu?”


“Perhatian yang Kak Ardi berikan untuk gadis itu, sepertinya ada yang berbeda.”


“Em...maksud kamu Zahra?” Arka mengangguk, “iya sih, aku juga merasakan hal yang sama. Aku nggak pernah melihat Kak Ardi seperhatian itu sama cewek manapun,” ucap Kay sambil menaruh tisu ke atas meja.


“Apa jangan-jangan Kak Ardi suka sama Zahra, tapi jika itu memang benar, masa Kak Ardi jatuh cinta sama daun muda.” Rasa penasaran Arka begitu tinggi, selama ini dirinya juga tidak pernah melihat kakaknya telfonan


atau pergi keluar dengan wanita manampun. Membawanya ke rumah pun tidak pernah hingga dia di jodohkan dengan Kay. Kay wanita pertama yang pernah mengisi hati Ardi, itu yang Arka tau selama ini.


“Memangnya kenapa kalau Kak Ardi suka sama daun muda, nggak ada salahnya juga,” ucap Kay dengan nada santai.


“Iya sih, tapi jika mereka akhirnya menikah, masa Zahra sama Kevin akan jadi ibu dan anak gitu, sedangkan mereka lebih pantas jadi kakak dan adik.”


“Kevin itu anak aku, Zahra bukan ibunya,” ucap Kay marah.

__ADS_1


Arka merasa kata-katanya telah menyingung hati istrinya, padahal niat nya bukan seperti itu, “sayang, maaf, aku nggak bermaksud seperti itu, aku hanya...kamu tau kan kalau selama ini Kevin tetap menganggap Kak Ardi


sebagai ayahnya,” ucap Arka sambil menggenggam tangan Kay.


“Aku tau, aku juga nggak keberatan soal itu, tapi walau Kak Ardi menikah dengan Zahra, dia nggak akan memanggil Zahra dengan sebutan mama. Aku nggak suka ada wanita lain yang di panggil ibu selain aku, aku yang melahirkan Kevin, aku yang lebih berhak di panggil ibu oleh Kevin.”


Arka lupa jika istrinya itu sekarang menjadi sangat sensitif setelah perceraiannya dengan kakaknya. Diaa bukan Kay yang dulu lagi, yang selalu tegar dan kuat, “maafkan aku,” ucapnya lalu mengecup punggung tangan Kay.


“Ka, kapan kita balik ke Pekanbaru? Aku kangen sama Bunda


dan Ayah.”


“Urusan aku sudah hampir selesai, sebentar lagi kita balik ke Pekanbaru,” ucap Arka sambil merangkul pundak Kay dan mengecup kening Kay.


Arka mengangguk, “tapi apa kamu akan mengizinkannya? Dia sekarang sudah kelas empat, dia sudah bisa memilih apa yang dia inginkan. Apa kamu akan mengabulkan keinginannya?” tanyanya.


“Aku nggak mau jauh dari anak-anak aku, tapi kamu kan tau Kevin itu selalu mendapatkan apa yang dia inginkan? Dia sangat mirip denganmu,” sindir Kay.


“Anak cowok itu memang harus seperti itu, perjuangkan apa yang menjadi milik kita, jangan mudah menyerah. Aku nggak mau Kevin menjadi anak yang lemah.” Arka menepiskan senyumannya, mungkin cara dia mendidik anaknya salah, karena dengan didikanya Kevin akan menjadi anak yang tak akan pernah mengalah kepada siapapun lawannya.


Tapi walau pun begitu, Arka mendidik Kevin untuk lebih mementingkan kebahagiaan dirinya dan juga keluarganya. Jangan pernah mengusik milik keluarga kamu meskipun kamu sangat menginginkannya, itu kata-kata yang Arka ucapkan kepada Kevin.


“Aku tetap akan membawa Kevin balik ke Pekanbaru, di sini kan Kak Ardi juga sibuk dengan urusan kantor dan urusan pribadinya, dia juga nggak mungkin ada waktu untuk Kevin,” ucap Kay lalu mengambil alih Ansel dari


pangkuan Arka.

__ADS_1


Kay lalu berdiri dari duduknya, “urus urusan kamu satu minggu lagi, setelah itu kita kembali ke Pekanbaru. Kevin sudah terlalu lama tidak masuk sekolah,” ucapnya.


“Sayang, sebenarnya...Kevin...” Arka tidak berani meneruskan kata-katanya. Dia takut Kay akan marah atas keputusan yang telah dia ambil.


“Ada apa dengan Kevin? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku?” tanya Kay penasaran.


“Sebenarnya Kevin sudah keluar dari sekolahnya,” ucap Arka sambil menundukkan kepalanya.


Kay membulatkan kedua matanya dengan sempurna, “maksud kamu apa? Keluar gimana?” tanya Kay terkejut.


“Kevin sudah tidak sekolah di sekolahnya yang dulu lagi. Sebenarnya Kevin meminta aku untuk mendaftarkan dia sekolah Jogja.”


“Apa! Kenapa kamu nggak bilang sama aku? Kenapa kamu mengambil keputusan tanpa bertanya dulu sama aku, kenapa!” teriak Kay marah.


“Maaf, kamu tau kan aku paling nggak bisa menolak permintaan Kevin, apa lagi dia sangat ingin tinggal dengan Kak Ardi. Aku nggak mau Kevin sedih karena aku menolak permintaannya,” ucap Arka sambil menggenggam tangan


Kay.


Kay menghempaskan tangan Arka, “apa kamu nggak suka Kevin tinggal sama kita? Apa kamu nggak suka Kevin dekat sama kita?” tanyanya kecewa.


“Bukan begitu maksud aku, bagaimana kamu bisa berfikiran seperti itu, kamu tau kan betapa bahagianya aku saat aku tau anak yang selama ini aku sayangi ternyata anak kandung aku.”


“Lalu kenapa kamu melakukan ini, kamu ingin memisahkan aku dengan anak aku, begitu?” Kay terlihat sangat kecewa dengan keputusan yang Arka ambil, “aku nggak perduli, mau Kevin marah, kecewa atau apa, dia akan tetap ikut ke Pekanbaru,” imbuhnya lalu pergi meninggalkan Arka.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2