Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Kebahagian Kay dan Ardi..


__ADS_3

Ardi sangat mencemaskan Kay yang kini sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka. Ardi setia mendampingi Kay sampai Kay melahirkan. Ardi tidak tega melihat Kay yang begitu kesakitan dalam melahirkan anaknya, keringat Kay bercucuran. Ardi mengusap keringat Kay dan memberi semangat kepada Kay.


"Kamu harus kuat sayang, demi anak kita," ucap Ardi sambil mengecup kening Kay.


"Kak...sakit, ini sakit sekali kak!" Teriak Kay sambil menahan sakit.


Ardi menggenggam tangan Kay dan terus memberinya semangat.



Sedangkan diluar orang tua Kay dan orang tua Ardi merasa sangat cemas karena belum ada kabar dari dalam ruang bersalin. Sudah berjam\-jam Ardi ada di dalam menemani Kay tapi tak kunjung keluar, bahkan suara tangis bayi belum terdengar sampai diluar.


"Bunda sangat mengkhawatirkan Kay, Yah," ucap Merisa cemas.


"Sabar bun, kita berdoa saja agar Kay dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja," ucap David sambil menenangkan istrinya.


Jonny dan Lina juga tak kalah cemasnya dengan Merisa dan David. Mereka masih setia menunggu di depan ruang bersalin.


Oeekkk..oeekkk..oeeekkk


Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan. Mereka yang mendengar suara tangisan bayi merasa sangat senang, mereka saling memeluk satu sama lain, akhirnya cucu mereka telah lahir ke dunia.


"Cucu kita sudah lahir, Pa.." ucap Lina senang lalu memeluk suaminya.


"Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyelamatkan cucu kami," ucap Merisa senang.


Tak berselang lama pintu terbuka dan Ardi keluar dari ruang persalinan sambil mengedong bayi mungil yang masih merah dan didampingi perawat di sampingnya.


"Ma..Pa, anak Ardi sudah lahir," ucap Ardi senang.


"Mama senang melihatnya sayang, anak kamu begitu tampan, dia sangat mirip dengan kamu," ucap Lina senang.


"Selamat datang ke dunia sayang, Ayah dan Bunda sudah lama menantimu sayang," ucap Ardi sambil mengecup kening putranya.


Setelah puas mengendong putranya Ardi menyerahkan putranya kepada perawat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


"Gimana keadaan Kay?" Tanya Marisa cemas.


"Kay baik-baik saja kok, Bunda tenang saja, sebentar lagi Kay akan dipindahkan ke ruang rawat inap," ucap Ardi sambil memeluk ibu mertuanya dan menenangkannya.


Mereka semua menunggu Kay di ruang rawat inap. Tak berselang lama Kay yang didampingi suster masuk ke dalam ruang rawat inap. Mereka semua bahagia menyambut kedatangan Kay dan juga keluarga baru mereka yang baru lahir.



Perawat memberikan bayi mungil kepada Kay untuk segera disusui. Kay mengusap lembut pipi gembul anaknya.


"Selamat datang ke dunia sayang, anak kesayangan bunda," ucap Kay sambil mengecup kening putranya.


Tanpa sadar air mata menetes di kedua pipi Kay. Ardi menghapus air mata Kay dan mengecup kening Kay.

__ADS_1


"Jangan menangis sayang, sambutlah kelahiran anak kita dengan senyuman kebahagiaan," ucap Ardi.


"Ini air mata kebahagiaan, Kak," ucap Kay sambil tersenyum menatap wajah putranya.


"Anak kita begitu tampan, dia sangat mirip denganku," ucap Ardi.


"Iya...tapi mata dan hidungnya mirip aku," ucap Kay.


"Terima kasih kamu sudah berjuang demi melahirkan buah hati kita sayang," ucap Ardi sambil menggenggam tangan Kay.


"Terima kasih juga karena kamu sudah setia mendampingi ku sampai anak kita lahir," ucap Kay..


"Aku hanya ingin menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan anak kita."


Merisa, Lina, David dan Jonny senang melihat kebahagian anak\-anaknya. Kay senang anaknya menyusu dengan sangat rakus.


"Sayang, lihat putra kita begitu rakus menghisap punting mu," ucap Ardi sambil mengusap lembut pipi gembul putranya.


"Mungkin dia merasa sangat kehausan," ucap Kay senang.


Kay merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat anaknya pertama kali menghisap punting nya dan meminum air susunya, tanpa sadar air mata menetes membasahi kedua pipinya.


"Mau diberi nama siapa anak kamu sayang?" Tanya Lina.


"Kalau Ardi terserah sama Kay, Ma."


"Nama yang bagus sayang," ucap Ardi sambil mengusap pipi gembul anaknya.


Lina mengambil cucunya dari gendongan Kay dan menimang\-nimangnya.


"Cucu Oma sangat tampan, dia sangat mirip sama kamu sayang," ucap Lina.


"Tentu dong, Ma. Dia kan anak Ardi, tentu saja mirip sama Ardi," ucap Ardi senang.


"Kak...Kevin kan juga anak aku lo," ucap Kay sambil cemberut.


"Iya sayang, Kevin anak kita berdua," ucap Ardi sambil memeluk Kay.


Merisa senang melihat Kay hidup bahagia, suami yang sangat mencintainya dan ditambah lagi dengan kelahiranya putranya yang menambah kebahagiaan mereka.


Satu minggu kemudian..


Kay dan Ardi sangat kerepotan mengurus anak mereka, ini pengalaman pertama mereka dalam mengurus anak. Ardi menyarankan Kay untuk mencari baby sister untuk membantunya merawat Kevin tapi Kay menolak. Kay tidak percaya dengan jasa baby sister, lebih baik Kay merawatnya sendiri.


"Kak...bantu aku dong, aku kerepotan ini," ucap Kay sambil mengendong Kevin yang tengah menangis.


"Sayang, coba kamu susui, pasti Kevin kehausan."


"Tapi tadi baru selesai menyusu."

__ADS_1


"Coba saja sayang, siapa tau Kevin masih merasa haus."


Kay duduk di tepi ranjang sambil menyusui anaknya, setelah disusui akhirnya Kevin berhenti menangis.


"Tu kan dia berhenti menangis," ucap Ardi sambil mengusap pipi gembul anaknya.


"Tapi baru juga satu jam dia selesai menyusu, masa sudah haus lagi," ucap Kay heran.


"Itu kan biasa sayang, Kevin kan masih bayi dan asupan gizinya kan cuma ASI kamu, jadi kamu harus banyak makan makanan yang bergizi."


"Tapi kak, aku kerepotan kalau harus mengurus Kevin sendirian, karena Kevin nggak bisa di tinggal-tinggal, jadi aku nggak bisa memasak," ucap Kay bingung.


"Gimana kalau kita sementara tinggal di rumah Mama lagi, sekalian menemani Mama, Mama pasti senang," usul Ardi.


"Apa nggak akan merepotkan Mama?" Tanya Kay.


"Nggak, bukannya Mama juga menawarkan untuk tinggal di rumahnya, tapi waktu itu kamu menolak."


"Iya sih, waktu itu kan aku pikir nggak sesulit ini merawat anak, tapi ternyata nggak gampang merawat anak sendirian. Apa lagi kalau kamu kerja, aku kerepotan sendiri," ucap Kay sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya sudah, aku akan menelfon Mama."


Ardi berjalan menuju meja dan mengambil ponselnya, dia lalu menelfon mamanya.



Tutt..tutt..tutt..


"Halo sayang," sahut Lina.


"Ma, boleh nggak Ardi, Kay, dan Kevin tinggal di rumah Mama?" Tanya Ardi.


"Boleh dong sayang, Mama malah senang kalian mau tinggal disini lagi. Mama jadi ada temannya," sahut Lina senang.


"Makasih ya, Ma. Besok kami akan datang ke rumah Mama."


"Baiklah, Mama tunggu."


"Sudah dulu ya, Ma." Ardi lalu mematikan telfon.


"Gimana kak?" Tanya Kay penasaran.


"Mama setuju, besok kita akan berangkat ke rumah Mama, kita akan tinggal di sana sampai kamu bisa merawat Kevin sendiri."


"Aku jadi nggak enak sama Mama," ucap Kay.


"Sudah nggak usah mikir yang aneh-aneh, sekarang tidurkan Kevin dan kamu juga harus tidur, besok pagi kita berangkat ke rumah Mama," ucap Ardi sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2