
Arka dan Kay kini tengah duduk di teras. Saat ini Ardi sedang beristirahat di dalam kamarnya, karena kondisinya masih lemah.
"Ka...sampai kapan aku harus seperti ini, aku nggak mau kak Ardi berharap lagi sama aku."
"Kay...apa kamu benar-benar nggak mau kembali lagi sama Kak Ardi?"
"Aku kan sudah bilang, aku nggak mau menjadi istri kedua, aku juga nggak mau merebut kak Ardi dari Monic."
"Tapi sejak awal Kak Ardi itu milik kamu, Kay. Dan Kak Ardi sangat mencintai kamu."
"Cukup Ka! aku mau ke sini karena kamu yang memohon sama aku, karena aku peduli sama kamu!" seru Kay kesal.
"Kay, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Soal apa?"
"Apa masih ada sedikit cinta kamu buat aku?"
"Maksud kamu apa, Ka?" tanya Kay sambil mengernyitkan dahinya.
"Kamu tahu kan Kay, kalau selama ini aku masih mencintai kamu, tapi aku memendamnya karena aku nggak mau memaksa kamu."
"Ka...kamu tau kan aku nggak mau mikirin hal kayak gitu sekarang, karena aku hanya ingin fokus sama pekerjaan aku dan juga Kevin."
"Aku tau Kay, aku cuma nanya doang kok, kalau kamu nggak mau jawab juga nggak apa-apa, anggap saja aku nggak pernah menanyakannya," ucap Arka sambil tersenyum.
"Kamu itu teman terbaik aku, Ka. Kamu selalu ada di saat aku butuh tempat untuk bersandar."
"Aku tau kok kalau kamu itu butuh aku, karena kamu nggak bisa hidup tanpa aku, iya kan..ayo ngaku," goda Arka sambil merangkul pundak Kay.
"Kamu nggak perlu membalas cinta aku, Kay, karena aku sudah bahagia bisa berada didekat kamu walaupun cuma sebagai teman dan tempat buat mu bersandar," imbuh Arka.
"Makasih ya, Ka."
"Buat apa?"
"Buat semuanya, buat kebahagian yang telah kamu berikan untuk keluarga aku dan juga Kevin."
"Keluarga kamu juga keluarga aku dan Kevin adalah anak aku."
✓✓✓✓
Lina dan Jonny meminta Kay untuk tetap tinggal sampai Ardi benar-benar sembuh. Karena hanya Kay yang bisa membujuk Ardi.
"Mama mohon sayang, tetaplah tinggal disini sampai Ardi sembuh."
"Tapi, Ma, Kay nggak bisa lama-lama disini, Kevin juga butuh Kay, Ma."
"Arka bujuk lah Kay, demi kakak kamu," pinta Jonny memelas.
"Pa, Arka nggak bisa memaksa Kay, Pa, kalau Kay tetap disini nanti Kak Ardi akan semakin susah untuk melepaskan Kay. Sekarang kan Kak Ardi sudah lebih sehat," ucap Arka.
"Kalau gitu kalian tinggal disini sehari lagi, gimana?" usul Jonny.
__ADS_1
"Gimana, Kay?" tanya Arka.
"Tapi Ka, aku nggak mau membuat Kak Ardi lebih menderita lagi," ucap Kay sedih.
"Mama mohon sayang," pinta Lina sambil menggenggam tangan Kay.
Kay tidak tega melihat Lina dan Jonny yang begitu putus asa karena Ardi.
"Baiklah, Ma. Kay akan tinggal disini sehari lagi."
"Makasih ya sayang," ucap Lina sambil memeluk Kay.
"Tapi, Ma. Kay akan bilang sama kak Ardi kalau kita nggak akan mungkin bisa kembali lagi seperti dulu. Kay nggak ingin kak Ardi semakin berharap," ucap Kay.
"Baiklah sayang, Mama juga akan membujuk Ardi."
"Tapi gimana caranya, Ma? Kak Ardi pasti tetap ngotot nggak ingin Kay pergi?" tanya Arka cemas.
"Gimana kalau kalian pura-pura sudah menikah, mungkin dengan begitu Ardi akan merelakan Kay," usul Jonny.
"Apa!" Teriak Kay dan Arka bersamaan.
"Memangnya nggak ada cara lain apa, Pa," ucap Kay terkejut.
"Ok, Arka setuju."
"Ka, kamu ini apa-apaan sih, main setuju setuju saja," ucap Kay kesal.
"Tapi--"
"Apa kamu mau selamanya kak Ardi mengharapkan kamu?" tanya Arka sambil memegang kedua pundak Kay.
"Ya enggaklah, aku nggak tega melihat kak Ardi menyiksa dirinya seperti ini."
"Makanya kita lakukan saran Papa," bujuk Arka lagi.
Kay berfikir sejenak, "em...baiklah," ucapnya.
Lina berjalan menuju kamar dan mengambil sebuah kotak berisi cincin.
"Untung masih aku simpan," ucap Lina sambil membuka kotak itu.
Lina keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang keluarga.
"Ini buat kalian," ucap Lina lalu memberikan kotak itu kepada Arka.
"Apa ini, Ma?" tanya Arka sambil menerima kotak itu.
"Buka saja."
Arka membuka kotak itu, "ini kan--" Arka melihat sepasang cincin dalam kotak itu.
"Itu cincin yang waktu itu kamu buang, Mama tau kamu membeli cincin itu untuk Kay kan?" tanya Lina.
__ADS_1
"Jadi Mama mengambilnya?"
"Ya, Mama tau itu sangat berharga buat kamu," ucap Lina dengan tersenyum.
"Arka pikir cincin ini sudah hilang, Ma. Arka membuang cincin ini saat Arka tau Kay adalah istri kak Ardi. Arka membeli cincin ini untuk melamar, Kay," ucap Arka sambil melihat dua cincin yang terukir nama Arka dan Kay.
Arka dan Kay saling bertatapan. Arka tersenyum menatap Kay.
"Maafin aku, Ka," ucap Kay sedih.
"Kamu nggak perlu minta maaf, semua sudah berlalu, sekarang cincin ini akan ada di jari manis kamu," ucap Arka lalu memasangkan cincin itu ke jari manis Kay.
"Ka...ini--"
"Agar kak Ardi semakin percaya kalau kamu istri aku."
"Dasar Arka! aku kira kamu melamar aku beneran. Mikir apa sih aku ini, nggak mungkin kan Arka akan melamar aku, mana Arka mau sama Janda," pikir Kay dalam hati.
"Ni." Arka memberikan cincin satunya kepada Kay.
"Apa?" Kay mengernyitkan dahinya.
"Pakaikan cincin ini di jari aku," ucap Arka sambil tersenyum.
"Kamu kan bisa pakai sendiri."
"Nggak! aku mau kamu yang pakaikan."
"Dasar!"
Kay mengambil cincin itu dan melihat namanya terukir dalam cincin itu. Kay menatap Arka.
"Kenapa? Kamu terharu karena ada nama kamu di cincin itu," goda Arka
Kay memakaikan cincin itu di jari manis Arka. Arka menarik Kay kedalam pelukannya.
"Sekarang kita sudah resmi bertunangan," bisik Arka.
"Apa!" seru Kay terkejut dan langsung mendorong tubuh Arka.
"Bercanda, Kay," ucap Arka sambil tersenyum.
"Kamu!" Kay lalu memberi bogem mentah ke lengan Arka.
"Aww...sakit tau!" Teriak Arka sambil mengusap lengannya yang kena tabok.
"Syukurin," ucap Kay kesal.
Lina dan Jonny senang melihat kedekatan Arka dan Kay. Jonny berharap Arka bisa membahagiakan Kay.
"Apa yang kalian lakukan?" Teriak Ardi.
~oOo~
__ADS_1