
Ardi dan keluarganya memutuskan untuk menginap di rumah Kay selama beberapa hari. Mereka tidak mungkin meninggalkan Arka dan juga Kay yang masih dalam keadaan berkabung. Zahra selalu menemani Kay, memberinya dukungan agar tetap tegar, apalagi masih ada ibu dan kedua anaknya yang juga masih sangat membutuhkan dirinya.
Setelah kematian suaminya, kondisi kesehatan Merisa semakin menurun. Bahkan wanita paruh baya itu harus di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Kematian suaminya yang secara mendadak sungguh sangat mengguncang jiwanya.
Arka setiap waktu selalu meminta maaf kepada Kay dan juga ibu mertuanya itu. Tapi entah mengapa Kay begitu berat untuk memaafkan suaminya itu. Arka sudah dengan tega menyimpan rahasia besar seperti itu. Rahasia yang bahkan telah menghancurkan keluarganya, mengambil ayah tercintanya dari sisinya, suami tercinta dari istrinya, dan juga kakek tercinta dari kedua anaknya.
Arka saat ini sedang berada di kamar bersama dengan Kay. Kesehatan Kay juga semakin menurun, sehingga dia memutuskan untuk beristirahat di rumah sebentar, sedangkan yang menunggu bundanya di rumah sakit adalah kedua mertuanya, Ardi dan juga Zahra. Kay terlalu stres memikirkan kondisi kesehatan bunda nya yang semakin hari semakin menurun.
“Sayang, aku minta maaf, aku tau aku salah, tapi kamu nggak harus mendiamkan aku seperti ini.” Arka berlutut di depan Kay, dia berharap istrinya itu akan memaafkannya. Tapi wanita itu hanya diam dengan air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya. Kay sebenarnya juga tidak ingin memperlakukan Arka seperti itu, tapi perbuatan Arka kali ini sudah kelewatan.
“Sayang, apapun akan aku lakukan untuk menebus kesalahan aku, tapi jangan diamkan aku seperti ini,” pinta Arka lagi. Entah sudah berapa puluh kali Arka mengatakan semua itu, tapi mulut Kay tetap tertutup rapat. Hanya kedua matanya yang mewakili kesedihannya.
“Aku terpaksa merahasiakan semua itu, karena aku tidak ingin keluargaku hancur. Aku sudah melakukan berbagai cara untuk memperbaiki semuanya, membangkitkan kembali perusahaan itu, tapi semuanya sia-sia. Aku ingin sekali cerita sama kamu, tapi aku takut, aku takut kamu akan kecewa dan menyalahkan aku.” Arka menggenggam tangan Kay, “sayang, aku tidak mungkin bisa mengembalikan semuanya seperti semula lagi, tapi apa kamu harus bersikap seperti ini selamanya sama aku?” tanyanya kemudian.
Hanya suara Arka yang terdengar di kamar itu sejak 3 jam yang lalu. Pria itu masih betah pada posisinya saat ini, bersujud di depan Kay, memohon ampun untuk semua kesalahan yang sudah dia lakukan, yang memang kesalahannya itu tidak pantas untuk dimaafkan.
“Jika kamu tetap tidak bisa memaafkan aku, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku terpuruk, bahkan orang yang aku harapkan bisa memberikan aku dukungan, kini malah mendiamkan aku dan membenciku. Lalu kepada siapa lagi aku akan mengadukan kesedihan aku ini, Kay? Apa aku harus lari kepada orang lain, minuman keras, mungkin dengan begitu kamu baru akan merasa puas.”
Kay menatap kedua mata Arka yang sejak tadi juga mengeluarkan air mata, kedua mata itu bahkan sudah sangat memerah, “jika kamu melakukan itu, apa kamu pikir semua masalah akan selesai begitu saja?” tanyanya dengan suara yang terdengar begitu berat.
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Bahkan pelukanmu, dukungan mu, tidak mungkin akan aku dapatkan lagi.” Arka menundukkan wajahnya, “kenapa kamu tidak bisa mengerti kondisi aku waktu itu juga. Betapa sulitnya aku menghadapi masalah sebesar itu seorang diri, bahkan tidak ada seorang pun yang membantuku untuk menyelesaikan semua kekacauan itu,” imbuhnya.
“Jika kamu ingin seseorang membantumu, nggak seharusnya kamu merahasiakan itu dari kami, Ka! Apa kamu lupa jika kita ini keluarga? Apa kamu lupa betapa bangganya Ayah sama kamu? Tapi apa yang kamu lakukan? kamu dengan tega melakukan semua itu. Perusahaan Ayahku yang dia rintis dari nol telah kamu hancurkan, dan kamu merahasiakan itu semua dari kami!” air mata Kay semakin mengalir dengan deras, suara isak tangisnya semakin pecah. Wanita itu sangat merindukan sosok Ayahnya yang sangat dia sayangi, “Ka...kamu tau kenapa aku dulu menerima perjodohan itu? Karena aku nggak ingin kehilangan Ayahku. Aku bahkan rela melepaskan kamu, kebahagiaan aku, dan impianku, agar Ayah tetap hidup, tapi...sekarang kamu sudah mengambil dia dari sisiku untuk selama-lamanya,” imbuhnya.
“Kay, apa kamu juga akan menyalahkan aku? aku juga nggak ingin semua itu terjadi, tapi apa dayaku, aku juga harus memberitahu Ayah tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena Ayah berhak tau kondisi perusahaannya. Aku juga sudah memberitahunya secara perlahan, agar dia tidak shock setelah mengetahui yang sebenarnya, tapi aku juga tidak menduga kondisi Ayah waktu itu juga sedang menurun kesehatannya, hingga Ayah terkena serangan jantung itu lagi.”
Kay beranjak dari duduknya, dia lalu menghapus air matanya, “untuk sementara ini aku belum bisa memaafkan kamu, Ka. Aku mohon kamu juga harus mengerti kondisi aku,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Arka meraup wajahnya gusar, ini pertama kalinya dirinya di acuhkan dan di benci oleh wanita yang sangat dia cintai. Orang yang dia harapkan untuk selalu mendukungnya setiap waktu, tapi kini semakin menjauh darinya.
“Sebenci itu kah kamu padaku, Kay? Setelah apa yang sudah aku lakukan demi kamu, ini yang aku dapatkan. Kenapa kamu sama sekali tidak bisa mengerti kondisi aku, kenapa?”
__ADS_1
***
“Sayang, apa nggak sebaiknya kamu di rumah saja menemani Kay? Dia pasti masih sangat sedih,” ucap Ardi sambil menggenggam tangan Zahra.
“Aku bukannya nggak mau menemani Kak Kay, tapi sepertinya dia dan Kak Arka membutuhkan waktu untuk berbicara berdua. Apa kakak nggak kasihan melihat Kak Arka yang selalu diacuhkan oleh Kak Kay? Aku tau apa yang dia alami ini sangat berat, tapi dia seharusnya juga mengerti kondisi suaminya waktu itu.”
“Sayang, apa yang kamu katakan itu memang benar, tapi kamu juga harus mengerti kondisi Kay saat ini, dia baru kehilangan orang yang sangat dia sayangi, dan sekarang ibunya di rawat di rumah sakit, kondisinya kesehatan tante pun semakin menurun. Kay pasti juga sedang hancur saat ini, suami yang sangat dia cintai, yang seharusnya melindungi keluarganya, tapi dia malah menghancurkan keluarganya. Kondisi Kay mungkin saat ini juga sama terpuruknya seperti Arka.”
Zahra menatap lekat kedua manik mata suaminya yang berwarna kecoklatan itu, “jadi kakak juga menyalahkan Kak Arka untuk semua ini?” tanyanya tidak percaya.
“Kamu jangan salah paham sayang, aku nggak menyalahkan Arka. Tapi kondisi saat ini juga nggak semudah yang kamu pikirkan. Arka dan Kay adalah keluarga aku, mereka sama-sama membutuhkan dukungan aku, aku nggak mungkin menyalahkan keduanya.”
Zahra beranjak dari duduknya, “aku lapar, aku nggak mau ikutan stres memikirkan semua ini. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan kandungan aku,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Ardi.
Ardi menghela nafas panjang, pria itu tidak menyangka menghadapi mood orang hamil sesulit itu, “kenapa mood Zahra selalu berubah-ubah, dulu bahkan Kay dan Monic saat hamil nggak seperti itu.” Pria itu lalu beranjak dari duduknya dan mengikuti istrinya yang saat ini sedang menuju kantin rumah sakit itu.
“Sayang, kenapa kalau kamu sedang ngambek selalu minta untuk di suapi? Bukahkan orang ngambek itu nggak mengajak orang itu bicara ya?” goda Ardi dengan senyuman di wajahnya.
Ardi mengusap puncak kepala Zahra, “apa kamu ingin menjadikan anak kita alasan untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang aku,” sindirnya.
Saat Ardi dan Zahra sedang menikmati makan siang mereka, tiba-tiba ponsel Ardi berdering. Pria itu lalu mengambil ponselnya dari saku celananya, “hallo, Pa,” sahutnya saat panggilan itu tersambung.
“Kamu sekarang dimana?”
“Ardi dan Zahra sedang ada di kantin rumah sakit, Pa. apa terjadi sesuatu?”
“Kondisi Merisa semakin memburuk, saat ini dokter sedang menanganinya, kamu cepatlah kemari, sejak tadi Mama kamu terus menangis.”
Kedua mata Ardi membulat dengan sempurna, “Ardi dan Zahra akan segera kesana,” ucapnya lalu mengakhiri panggilan itu.
__ADS_1
“Ada apa, Kak?”
“Kita harus secepatnya keruangan tante Merisa, kondisinya semakin buruk.”
Zahra dan Ardi pun bergegas menuju ruangan bundanya Kay. Mereka terlihat sangat cemas, dan takut. Sesampainya di depan ruang inap Merisa, Ardi dan Zahra melihat kedua orang tuanya saling memeluk setelah berbicara dengan dokter yang merawat Merisa. Mereka lalu melangkahkan kaki mereka untuk mendekat.
“Pa, Ma, apa yang terjadi?” tanya Ardi panik.
Jonny menggelengkan kepalanya. Kedua mata Ardi dan Zahra membulat dengan sempurna, Lina semakin tidak sanggup menahan isak tangisnya. Ardi memeluk Zahra dengan sangat erat, dia tau jika saat ini istrinya sama terkejutnya dengan dirinya.
“Kamu jaga Mama kamu, Papa akan mengurus semuanya,” ucap Jonny.
“Lalu bagaimana dengan Arka dan Kay, bagaimana kita memberi tahu mereka semua ini? Ardi nggak tega melihat mereka semakin hancur, Pa.”
Ardi menepuk bahu Ardi, “kita harus memberi tahu mereka, semuanya sudah takdir, kita juga tidak bisa melawan takdir,” ucapnya.
“Kak, Kak Kay pasti akan semakin hancur. Aku nggak tega melihat kondisinya yang semakin terpuruk nanti,” ucap Zahra yang masih dalam dekapan suaminya.
Ardi mengecup puncak kepala istrinya, “aku berharap kamu akan membantu Kay untuk melewati semua ini, biar Arka aku urus,” ucapnya dan langsung mendapatkan anggukkan dari Zahra.
Setelah mengurus semuanya, Ardi dan Zahra pulang ke rumah untuk memberitahu Arka dan juga Kay. Mereka tidak mungkin memberitahu mereka lewat telepon, meskipun sangat berat, mereka harus menyampaikan berita itu.
Arka dan Kay terlihat sangat shock mendengar kabar buruk itu, Kay yang kondisi masih sangat lemas pun akhirnya tidak sadarkan diri. Arka membopong tubuh Kay ke dalam kamar dan merebahkannya di atas sana.
Ardi menepuk bahu Arka, “jangan salahkan diri kamu sendiri, semua ini sudah takdir,” ucapnya.
“Kay akan semakin membenciku, Kak. Secara tidak langsung aku sudah merenggut kedua orang tuanya,” ucap Arka sambil terus menggenggam tangan Kay.
“Kamu juga harus mengerti kondisi Kay saat ini, kamu harus menghiburnya, jangan memikirkan hal yang lainnya. Aku yakin lambat laun Kay akan memaafkan kamu.” Zahra dan Ardi lalu keluar dari kamar itu, mereka harus segera mengurus semuanya.
Arka mengecup punggung tangan Kay, “sayang, maafkan aku, aku tau kesalahan aku ini tidak mudah untuk kamu maafkan. Aku akan menerima semua hukuman yang akan kamu berikan, tapi jangan pernah kamu berpikir untuk meninggalkan aku, karena aku tak akan sanggup hidup tanpa kamu,” ucapnya.
__ADS_1
Ardi dan Zahra tidak tega melihat Arka seperti itu, mereka tau semua itu kesalahan Arka, tapi tidak seharusnya dia mendapatkan hukuman seberat itu. Mereka hanya bisa berharap Arka dan Kay bisa kembali seperti dulu lagi.
~oOo~