Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Aku baik-baik saja


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah dua tahun pernikahan Zahra dan juga Ardi. Tapi sampai saat ini mereka belum juga dikaruniai momongan. Zahra yang belum juga hamil membuat wanita itu semakin frustasi. Apalagi kedua orangtuanya sangat ingin memiliki cucu darinya.


Tapi Ardi tetap memberi semangat kepada istrinya itu untuk tidak pernah menyerah, dia bahkan tidak peduli jika istrinya itu tidak bisa memberikan anak untuknya. Tapi meskipun begitu Zahra merasa jika dirinya bukanlah istri yang sempurna, karena dirinya tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya.


Sudah berbagai cara mereka lakukan, tapi hasilnya masih juga nihil. Sebenarnya tidak ada kendala apa-apa pada diri Zahra maupun Ardi, tapi semua itu juga bukan karena kehendak mereka, tapi yang kuasa yang menentukan segalanya.


Hari ini Zahra sengaja mengambil cuti, dia ingin menenangkan dirinya, apalagi semakin banyak pasien yang harus dia tangani setiap harinya. Ardi dan Rasya dengan senantiasa tetap mendampingi Zahra. Seperti hari ini, anak yang saat ini sudah duduk di bangku kelas 6 SD itu kini tengah membantu papanya untuk membuatkan sarapan untuk mamanya tersayang.


“Pa, kita harus memasak kan makanan yang enak untuk Mama agar Mama bisa secepatnya sembuh,’ ucap Rasya sambil membantu papanya untuk mencuci sayuran.


“Kita akan membuatkan Mama sop buntut, itu juga makanan kesukaan kita kan sayang,” ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Rasya.


Asisten pembantu rumah tangga Ardi begitu kagum melihat majikan mereka yang begitu sangat mencintai istri dan juga keluarganya. Mereka berdua bersyukur bisa bekerja di rumah Ardi. Setelah satu jam berkutat di dapur, akhirnya masakan mereka sudah tersaji rapi di meja makan.


“Sayang, sekarang kamu panggil Mama kamu untuk sarapan.”


Rasya menganggukkan kepalanya, “baik, Pa,” ucapnya.


Anak kecil yang saat ini sudah genap berumur 11 tahun itu berjalan menuju kamar kedua orangtuanya, “Mama, ayo kita sarapan, makanan sudah siap,” ucapnya dengan nada sedikit keras.


Zahra rasanya begitu enggan untuk beranjak dari ranjang, tubuhnya seakan lemas, apalagi semalaman dia terus menerus menangis hingga membuat kedua matanya begitu sembab.


Karena tidak mendapatkan sahutan dari dalam, Rasya pun membuka pintu itu, “Mama, ayo kita sarapan,” ajaknya sambil berjalan mendekat.


“Sayang, kamu dan Papa kamu sarapan saja dulu, biar Mama nanti saja.”


Rasya duduk di tepi ranjang, “apa Mama nggak mau mencicipi masakan Rasya dan Papa? Hari ini kami memasak sop buntut untuk Mama,” ucapnya.


Zahra akhirnya beranjak dari ranjang itu, karena dia tidak ingin mengecewakan suami dan juga anaknya yang sudah bersusah payah membuatkannya sarapan. Ardi menarik salah satu kursi meja makan untuk istrinya duduk.


“Sayang, kamu harus makan yang banyak ya, biar badan kamu nggak lemas. Bagaimana kalau aku suapi?” tawar Ardi.


Zahra menggelengkan kepalanya, “aku bisa makan sendiri, Kak,” tolaknya.


Ardi lalu meletakkan mangkuk yang sudah berisi sup dan nasi di depan Zahra. Wanita itu lalu mulai memakan makanan itu sedikit demi sedikit. Begitu juga dengan Ardi dan Rasya, mereka terlihat tengah menikmati makanan mereka.

__ADS_1


“Lebih baik Kak Ardi dan Rasya nggak usah mengkhawatirkan aku lagi, aku baik-baik saja kok, Kak.”


Ardi menggelengkan kepalanya, “tubuh kamu saja lemas seperti itu, berarti kamu nggak baik-baik saja,” ucapnya.


“Rasya juga, Ma. Rasya akan terus jagain Mama,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Zahra mengusap puncak kepala Rasya, “Mama bersyukur bisa mendapatkan anak yang baik seperti kamu sayang,” ucapnya.


Setelah selesai makan, Ardi dan Rasya menemani Zahra di dalam kamar. Ardi menyuruh Zahra untuk kembali beristirahat, sedangkan dirinya dan juga Rasya tengah duduk di sofa sambil membaca buku. Rasya membawa semua buku pelajarannya ke kamar itu.


“Sayang, apa kamu ada pekerjaan rumah?”


Rasya menganggukkan kepalanya, “pelajaran itu sangat sulit, Pa,” keluhnya.


“Bagi Papa nggak ada yang sulit sayang, sini biar Papa bantu.”


***


 


“Sayang, apa kamu sudah membawa semua yang ingin kamu bawa?”


“Sudah, Bun. Nanti sisanya biar Kevin beli di Jogja saja,” ucap Kevin sambil menutup dan mengunci kopernya.


Ansel berlari masuk ke dalam kamar kakaknya, “apa kakak akan lama tinggal di Jogja?” tanyanya.


Kevin menganggukkan kepalanya, “sekarang Ansel sudah besar, Ansel harus bisa jagain Ayah sama Bunda, Kakek dan juga nenek,” ucapnya.


“Siap. Aku akan jagain mereka buat kakak,” ucap Ansel antusias.


“Itu baru adik kakak.”


Kay hanya tersenyum melihat kedekatan kedua putranya, tapi sayang mereka harus terpisah untuk waktu yang lama, karena setelah lulus SMA nanti, Kevin masih ingin berkuliah di Jogja, di Universitas tempat ayah dan bundanya dulu menuntut ilmu.


Setelah berpamitan dengan kakek dan neneknya, mereka pun masuk ke dalam mobil. Mereka diantar oleh supir Arka ke bandara. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, mereka akhirnya sampai di Jogja. Kevin dan Ansel terlihat sangat bahagia, sudah dua tahun mereka tidak datang ke kota kelahiran Kevin dan juga Arka itu.

__ADS_1


Kini mereka sudah berdiri di depan pintu rumah kedua orangtua Arka. Setelah pintu itu di ketuk tiga kali, tak berselang lama pintu itu mulai terbuka. Asisten rumah tangga keluarga Arka yang membuka pintu itu.


“Mama dan Papa ada nggak bik?” tanya Arka sambil menyeret koper masuk ke dalam rumah.


“Ada tuan, mereka sedang berada di kamar,” ucap wanita paruh baya itu.


Kay, Ansel dan Kevin juga masuk ke dalam kamar itu, mereka sangat merindukan suasana rumah itu. Ansel dan Kevin langsung berhambur ke pelukan kakek dan neneknya, mereka sangat merindukan kakek dan neneknya.


“Cucu nenek sudah besar sekarang, dan nenek semakin bertambah tua saja,” ucap Lina sambil mengusap lengan Kevin.


“Walau nenek sudah semakin tua, tapi nenek masih tetap cantik,” puji Kevin.


“Sayang, sekarang kamu sudah pandai menggombal ya. Pasti banyak cewek-cewek yang kamu rayu di sekolah,” ucap Lina.


“Kevin bukan cowok seperti itu, Nek. Lagian Kevin ingin fokus sekolah, Kevin nggak ingin punya pacar. Kata bunda, Kevin harus sekolah dulu baru mikirin cewek,” ucap Kevin sambil melirik bundanya.


Selama ini Kay memang terlalu ketat mengawasi Kevin. Di usianya yang beranjak dewasa itu, Arka maupun Kay begitu takut, takut Kevin akan bergaul dengan orang yang salah. Apalagi wajahnya yang tampan mewarisi wajah ayahnya, pastilah membuat kaum hawa jatuh cinta padanya.


“Sekarang usia Kevin berapa tahun sayang, nenek lupa?” tanya Lina.


“15 tahun, Nek.”


“Belajar yang rajin sayang, jadilah anak yang bisa membanggakan kedua orangtua kamu,” ucap Lina sambil mengusap lengan Kevin.


Kevin menganggukkan kepalanya, “oya, Nek. Dimana Ayah, Rasya dan tante Zahra?” tanyanya.


“Mereka sudah nggak tinggal disini lagi sayang, mereka sekarang sudah tinggal di rumah mereka sendiri,” ucap Lina.


“Kakek dengar saat ini tante kamu itu sedang sakit,” ucap Jonny.


Kay dan Arka memang sengaja tidak memberitahu Kevin tentang Ardi dan Zahra yang sudah tidak tinggal di rumah itu lagi, apalagi Kevin waktu itu benar-benar sedang disibukkan dengan sekolahnya.


“Ayah, Bunda, apa Kevin boleh menjenguk tante Zahra?” tanya Kevin.


Arka dan Kay menganggukkan kepalanya. Setelah berpamitan dengan Lina dan Jonny, mereka keluar dari rumah itu, tapi sebelumnya Arka mengambil kunci mobilnya dari dalam kamarnya. Meskipun mobil Arka jarang dipakai, tapi Jonny selalu merawatnya kondisi mobil itu. Mereka pun mulai berangkat ke rumah Ardi dan Zahra.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2