
Zahra mengambil nafas sambil memejamkan kedua matanya, dia lalu menghela nafas secara perlahan. Dengan perlahan Zahra membuka kedua matanya, dia tatap kedua mata sendu Ardi. Dia bisa melihat ada harapan dia kedua mata itu, dan juga kesedihan yang mendalam.
“Kak...” panggil Zahra lirih.
Ardi menggelengkan kepalanya, “nggak! Nggak! Aku nggak akan melepaskan kamu! Nggak!” teriaknya lalu memeluk Zahra dengan sangat erat.
“Beri aku kesempatan untuk membuktikan jika aku benar-benar tulus mencintai kamu. Aku memang pernah gagal dua kali dalam pernikahan aku, tapi aku janji, pernikahan kita akan menjadi yang terakhir dalam hidup ku. Jangan ubah keputusan kamu, jangan pergi.” Ardi masih tetap memeluk Zahra dengan sangat erat. Keputusan untuk menceritakan semuanya, kini dia sesali. Dia tidak menyangka respon Zahra akan seperti ini.
Zahra ingin melepaskan pelukan Ardi, tapi Ardi terus memeluk Zahra dengan sangat erat, “Kak, lepas! Aku nggak bisa nafas kalau kakak seperti ini!”
“Aku nggak akan melepaskan kamu, nggak akan!”
Zahra mengusap punggung Ardi dengan sangat lembut, “aku nggak akan meninggalkan Kak Ardi, jadi lepas dulu pelukan kakak,” pintanya.
“Janji...”
Zahra mengangguk, “iya, aku janji,” ucapnya.
Ardi melepaskan pelukannya, dia lalu menggenggam tangan Zahra dan mengecupnya, “aku juga nggak berharap pernikahan aku akan gagal seperti itu,” ucapnya.
Zahra menangkup kedua pipi Ardi, “Kak, lebih baik kita bicarakan ini nanti aja. Sekarang kita jemput Rasya dulu, kasian dia pasti sudah menunggu dari tadi,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.
“Zahra, aku benar-benar tulus mencintai kamu. Aku benar-benar nggak bisa kehilangan kamu.”
Zahra mengangguk, “aku tau itu, Kak,” ucapnya.
Ardi lalu melajukan mobilnya menuju sekolah Rasya. Dalam perjalanan dia bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya. Zahra hanya menghela nafas sambil menatap Ardi yang sesekali juga menatapnya.
“Kenapa semua harus serumit ini? Bagaimana jika Mama dan Papa tau semua ini, apa mereka akan merestui hubungan kami?” gumam Zahra dalam hati.
Ardi menghentikan mobilnya di depan sekolah Rasya, dia melihat Rasya yang sudah menunggunya dan di dampingi oleh gurunya. Ardi keluar dari mobil, dia meminta maaf kepada guru Rasya karena terlambat menjemput Rasya. Dia juga mengucapkan terima kasih karena telah menemani Rasya sampai dia menjemputnya.
Ardi membuka pintu penumpang bagian belakang, dia lalu menyuruh Rasya untuk masuk. Rasya mengernyitkan dahinya saat melihat Zahra duduk di samping papa nya. Siapa tante itu? Pikirnya.
“Sayang, kamu mau makan apa? Papa akan mengajak kamu makan dimana pun kamu mau,” tawar Ardi.
Rasya menggelengkan kepalanya, “siapa tante ini, Pa?” tanyanya.
“Papa akan mengenalkan tante cantik ini sama kamu, tapi kita cari makan dulu ya, Papa lapar.”
__ADS_1
Rasya tidak menjawab, dia memilih untuk menatap keluar jendela. Ardi melihat Rasya dari kaca spion di depannya, dia tau Rasya marah padanya.
***
Ardi mengajak Rasya dan Zahra untuk makan di restoran, dia lalu memesan makanan kesukaan Rasya. Dan ternyata makanan kesukaan Rasya itu juga makanan kesukaan Zahra.
“Tante nggak menyangka makanan favorit kita sama,” ucap Zahra sambil menatap Kevin yang tengah sibuk dengan benda pipih di tangannya.
Zahra tau ini pasti akan terjadi, tidak mudah juga baginya untuk mengambil hati anak kecil yang akan menjadi anak tirinya itu.
“Rasya, mainan ponselnya nanti lagi ya, ada yang ingin Papa kenalkan sama Rasya,” pinta Ardi.
Rasya menghela nafas, dia lalu mengerucutkan bibirnya, “siapa yang ingin Papa kenalkan sama Rasya? Apa tante ini?” tanyanya sambil menatap Zahra.
“Sayang, tante ini namanya tante Zahra.Tante Zahra ini seorang dokter lo, hebat nggak?”
Tidak ada tanggapan dari Rasya. Aku tau apa maksud Papa mengenalkan tante ini sama aku, Papa pasti ingin menikah dengannya? Rasya mendengus kesal.
“Kak, sudahlah. Mungkin Rasya memang nggak menyukai aku.”
Ardi menggenggam tangan Zahra, dia lalu menggeleng pelan. Dia akan terus membujuk Rasya agar mau menerima kehadiran Zahra.
Rasya lalu mencium tangan Zahra dan menyapa Zahra.
“Kalau boleh tante tau, Rasya sekarang kelas berapa?”
“Kelas tiga, tante,” sahut Rasya malas.
Tak berselang lama makanan yang mereka pesan datang. Zahra memotongkan daging sapi lalu dia berikan kepada Rasya. Ardi senang melihat usaha Zahra untuk bisa dekat dengan anaknya.
“Terima kasih,” ucap Rasya lalu mulai memakan steak yang sudah di potong-potong oleh Zahra.
“Mau aku potongin steaknya?” tawar Ardi.
Zahra menggeleng, “nggak usah, kakak mulai makan saja,” tolaknya.
“Pa...” panggil Rasya.
__ADS_1
“Hem...” Ardi mendongakkan wajahnya menatap Rasya.
“Mulai besok Rasya sudah libur sekolah, apa Papa bisa mengantar Rasya untuk bertemu dengan bunda? Rasya kangen sama bunda.”
Ardi menatap Zahra, lalu menggenggam tangan Zahra, “apa boleh Papa mengajak tante Zahra juga?” tanyanya.
“Kenapa Papa ingin mengajak tante Zahra? memangnya dia siapanya Papa?”
“Tante Zahra ini adalah calon istri Papa, itu berarti tante Zahra akan menjadi mamanya Rasya.”
Rasya menggelengkan kepalanya, “Rasya nggak mau mempunyai Mama baru! Bunda Rasya cuma bunda Kay, Rasya nggak mau yang lain!” serunya.
“Rasya! Papa nggak suka Rasya bicara seperti itu!” bentak Ardi.
Rasya menundukkan kepalanya, anak itu menangis. Ini pertama kalinya Ardi membentak Rasya.
Zahra beranjak dari duduknya, dia lalu beralih duduk di samping Rasya, “sayang, maafkan Papa ya, dia nggak bermaksud untuk membentak kamu. Jika Rasya nggak ingin tante Zahra menjadi mama nya Rasya juga nggak apa-apa, tapi apa tante boleh jadi temannya Rasya?” tanyanya.
Rasya tetap diam. Zahra lalu menghapus air mata Rasya, “kalau Rasya nggak mau berteman dengan tante juga nggak apa-apa, tante nggak akan memaksa,” ucapnya.
Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu duduk berjongkok di samping Rasya, “sayang, maafin Papa. Papa nggak bermaksud untuk membentak Rasya,” ucapnya.
“Rasya mau pulang,” pintanya.
“Kita habis kan dulu makanannya,” bujuk Ardi.
Rasya menggelengkan kepalanya, “Rasya mau pulang sekarang,” rengeknya.
“Kak, lebih baik kita pulang sekarang. Aku nggak mau Rasya semakin sedih nanti,” ucap Zahra.
Ardi menghela nafas, dia lalu berdiri, “ya udah, ayo kita pulang,” ucapnya.
Rasya beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menjauh.
“Zahra, maafin sikap Rasya ya, dia pasti terkejut mendengar semua ini.” Ardi menggenggam tangan Zahra, dia tidak menyangka respon Rasya akan seperti ini. Dia merasa tidak enak hati dengan Zahra, pasti gadis itu merasa sangat kecewa.
“Kak, aku bisa mengerti perasaan Rasya saat ini. Karena aku sudah pernah melihat situasi seperti ini. Apa kakak lupa jika Kak Kenzo juga mempunyai ibu tiri, mungkin apa yang di rasakan Rasya saat ini sama seperti yang Kak Kenzo rasakan saat itu.” Zahra lalu menarik tangan Ardi dan mengikuti Rasya yang sudah jauh di depan, “kakak nggak usah khawatir, aku akan terus berusaha untuk dekat dengan Rasya, dia sangat mirip dengan kakak, tampan,” pujinya dengan senyuman di wajahnya.
Ardi tersenyum, dia senang mendengar pujian itu dari gadis yang sangat dia cintai. Ardi lalu merangkul pundak Zahra, “kamu juga cantik,” pujinya balik.
__ADS_1
~oOo~