
Dua bulan setelah kejadian itu, Ardi dan Zahra sudah tidak lagi bertemu. Ardi merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya, tapi dia tidak berani untuk menemui Zahra sebelum dia mengetahui apa jawaban dari pertanyaan Zahra waktu itu.
Ardi mencoba untuk menemui Kay di Pekanbaru dengan alasan mengantar Kevin yang katanya sangat merindukan ayah dan Bundanya. Dia ingin tau apa yang dia rasakan saat berdekatan dengan Kay. Ternyata tebakan Zahra benar, jantungnya masih berdebar-debar saat berdekatan dengan Kay, tapi di pikiran dia saat ini hanya ada Zahra.
Ardi meminta solusi dari Kenzo, tapi pria itu sudah tidak mau ikut campur dalam urusan Ardi lagi. Kenzo masih kecewa dengan sikap Ardi yang plin plan dan tidak bisa mengambil keputusan. Sudah tau dia mencintai Zahra, tapi kenapa dia masih terlihat ragu-ragu.
Rasa rindu Ardi kepada gadis itu sudah tidak dapat dia bendung lagi, pikirannya kacau, bahkan urusan pekerjaan sampai terbengkalai hingga membuat Jonny harus ikut turun tangan untuk mengurus perusahaan.
Micel selalu mengambil kesempatan itu untuk menarik simpati dari Ardi. Selama dua bulan ini Micel selalu menemani Ardi kemana pun dia pergi. Bukan hanya untuk urusan kantor, tapi juga menemani nya untuk makan
siang di luar.
Ardi tidak terlalu memperdulikan perhatian yang Micel tunjukkan, toh itu hanya rasa simpati sesama teman, pikirnya. Setelah mengantar Micel pulang, Ardi melajukan mobilnya menuju rumah Zahra, dia ingin melihat
wajah gadis itu. Walau pun hanya dari jauh, yang penting dia bisa melihat gadis itu.
Zahra yang baru pulang dari rumah Kenzo keluar dari mobilnya. Ardi menampakkan senyuman di wajahnya saat melihat gadis yang sangat dia rindukan dalam keadaan baik-baik saja. Tapi senyuman itu langsung sirna saat Ardi melihat seorang pria keluar dari mobil Zahra, pria itu nampak akrab dengan gadis itu, “siapa dia?” tanyanya penasaran.
Zahra mengandeng lengan pria itu dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Ardi mengepalkan kedua tangannya, jika dia mempunyai keberanian, dia akan keluar dari mobil dan mendatangi rumah Zahra. Tapi Ardi
memikirkan ulang keinginannya, karena Ardi sadar diri, dia bukan siapa-siapa Zahra. Zahra berhak dekat dengan siapa saja.
Ardi melajukan mobilnya menjauh dari rumah Zahra. Dalam perjalanan pulang pria itu terus menggerutu sambil merutuki kebodohannya karena telah melepaskan Zahra begitu saja hanya karena rasa ragu yang sudah
menghancurkan semua usahanya.
Sesampainya di rumah, Ardi langsung berjalan menuju kamarnya. Dia sama sekali tidak menyapa kedua anaknya dan juga kedua orangtuanya.
Lina merasa ada yang tengah Ardi sembunyikan darinya, “Pa, Papa merasa ada yang aneh nggak dengan Ardi?” tanyanya.
Jonny yang tengah duduk di atas ranjang sambil memangku laptopnya hanya mengangguk. Dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari laptop itu.
__ADS_1
“Apa dia sedang ada masalah ya, Pa? tapi kenapa dia nggak cerita sama Mama.”
“Udahlah, Ma. Lagian Ardi kan udah dewasa juga, udah punya dua anak lagi. Biarkan dia mengurus urusannya sendiri. Papa pusing mikirin perusahaan, Ardi semakin tidak fokus dengan pekerjaannya.”
“Maka dari itu, Pa. Mungkin itu juga yang membuat Ardi sering murung akhir-akhir ini. Apa ini ada hubungannya dengan seorang gadis?” tanya Lina penasaran.
“Dari pada Mama penasaran, mendingan Mama tanya langsung ke orangnya.”
Lina nampak tengah mondar-mandir sambil meremas jemari-jemari tangannya. Jonny menghela nafas panjang saat melihat istrinya terus mondar-mandir sudah seperti komedi putar, bikin pusing.
“Ma...Papa pusing melihat Mama terus menerus mondar mandir seperti itu!” serunya.
“Papa ini gimana sih, apa Papa sama sekali tidak khawatir dengan anak Papa? Kalau sampai dia sakit bagaimana? Mama kan cemas, Pa.” Lina lalu duduk di tepi ranjang.
“Kalau Mama nggak mau bertanya sama Ardi, mendingan Mama minta Kevin untuk bertanya sama Ardi, siapa tau Ardi mau cerita sama anaknya,” usul Jonny.
“Mana mungkin Ardi mau menceritakan masalahnya kepada anak kecil seperti Kevin. Papa kan tau bagaimana sifat Ardi, dia akan selalu memendam masalahnya sendiri, Pa,” ucap Lina cemas.
jika Ardi tetap tidak mau menceritakan sama Papa. Mama nggak boleh seperti ini lagi. Mama juga harus tau kalau Papa juga mempunyai pekerjaan yang penting,” ucapnya.
Lina mengangguk. Jonny lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar, dia melihat Ardi yang sedang menuruni tangga, “kamu mau pergi ke mana?” tanyanya sambil berjalan mendekati Ardi.
“Ardi ada urusan di luar dengan teman, Pa.”
“Boleh Papa bicara sebentar sama kamu?”
Ardi mengangguk, mereka lalu berjalan menuju ruang tengah. Mereka duduk saling berhadap-hadapan hanya terhalang meja kecil yang terbuat dari kayu yang berlapis kaca tebal.
“Apa yang ingin Papa bicarakan?” tanya Ardi membuka obrolan.
“Apa kamu sedang ada masalah? Karena Papa lihat akhir-akhir ini kamu nggak bisa fokus dengan pekerjaan kamu?”
__ADS_1
“Maaf, Pa. tapi Ardi akan berusaha untuk memperbaiki semuanya,” ucap Ardi merasa bersalah kepada papanya.
“Sekarang usia kamu sudah tidak lagi muda, apa kamu masih ingin bermain-main seperti ini?”
Ardi hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Jonny menghela nafas panjang, “apa semua ini ada hubungannya dengan seorang gadis?” tanyanya.
“Maksud Papa?” Ardi mendongakkan wajahnya untuk menatap papanya.
“Apa kamu ingin menikah lagi? Ini sudah lebih dari 2 tahun kamu menduda, apa kamu ingin menikah lagi?”
Ardi menggelengkan kepalanya, “bukan seperti itu, Pa,” sangkalnya.
“Lalu apa, apa kamu hanya ingin terus bermain-main? Ingat Ardi, kamu sudah mempunyai dua orang anak. Meskipun Kevin bukan anak kamu, tapi Kevin masih menganggap kamu sebagai ayahnya. Apa yang ingin kamu ajarkan kepada anak-anak kamu?”
“Ardi juga menganggap Kevin sebagai anak Ardi, Pa.”
“Jika kamu menganggap Kevin seperti anak kamu, kamu harus ajarkan hal-hal yang baik untuk Kevin, karena dia sekarang sudah mulai tumbuh dewasa, dia sudah tau hal-hal yang kamu lakukan di luar sana,” tegur Jonny.
Ardi kembali terdiam, selama ini dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia sampai lupa dengan kedua anaknya dan juga perusahaannya.
“Apa perlu Papa mencarikan wanita untuk menjadi istri kamu? Untuk membantu kamu menjaga kedua anak kamu?”
Dengan cepat Ardi menggelengkan kepalanya, dia sudah trauma dengan yang namanya perjodohan, “Ardi nggak mau, Pa,” tolaknya.
“Apa kamu sudah mempunyai calon sendiri? Apa perlu Papa lamarkan dia untuk kamu?”
Ardi kembali menggelengkan kepalanya, “nggak usah, Pa, terima kasih. Lagi pula Ardi belum memikirkan ke arah itu,” tolaknya.
“Papa hanya ingin melihat kamu bahagia. Arka sudah bahagia dengan Kay. Papa tau bagaimana perasaan kamu dengan Kay, tapi itu sudah sangat lama. Apa kamu belum bisa melupakan Kay?” tanya Jonny sambil mengernyitkan dahinya.
“Ardi sudah melupakan Kay, Pa. Ardi juga sudah mengikhlaskan Kay untuk Arka, jadi Papa nggak usah khawatir,” ucap Ardi sambil menepiskan senyumannya.
__ADS_1
~oOo~