
Kehidupan rumah tangga Ardi dan Monic tidak ada perubahan sedikitpun. Kini Rasya sudah berumur 1 tahun. Monic sama sekali tidak pernah mencurahkan kasih sayangnya kepada anak semata wayangnya.
Setiap malam Monic selalu pulang dalam keadaan mabuk. Ardi sudah tidak bisa lagi mentolerir sikap Monic. Apa lagi ketika Monic dalam keadaan mabuk Monic pernah memukul anaknya hanya gara-gara Rasya meminta untuk di temani tidur.
Sejak saat itu Rasya tidak pernah lagi mendekati mamanya. Rasya seakan merasa takut saat mamanya ingin mendekatinya. Monic merasa sangat bersalah karena telah menyakiti anak semata wayangnya.
"Rasya sayang, sini peluk Mama." Monic mengulurkan kedua tangannya. Rasya bukannya mendekat tapi malah melangkah mundur dan menggelengkan kepalanya. Rasa takut anak itu kepada mamanya begitu besar.
"Ini Mama sayang, kenapa Rasya begitu takut sama Mama ? Mama minta maaf sayang, Mama sayang sama Rasya," sambung Monic lagi.
Ardi yang baru pulang dari kantor turun dari mobil dan berjalan menuju pintu. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Rasya yang melihat kedatangan papanya langsung berlari ke arah papanya. Ardi pulang terlambat karena ada meeting dengan koleganya.
Walau Ardi terlihat sangat lelah, tapi Ardi selalu meluangkan waktu untuk anaknya. Karena Rasya tidak akan bisa tidur sebelum melihat dan memeluk papanya. Ardi berjongkok di depan Rasya lalu memeluknya.
"Aca atut Ma..ma," rengek Rasya kepada papanya.
"Rasya sayang, kamu nggak usah takut sama Mama. Mama nggak jahat kok, Mama sayang sama Rasya." Walau Ardi tidak suka dengan sikap Monic yang sudah kelewat batas, tapi Ardi tidak ingin menjauhkan Monic dari anaknya.
__ADS_1
Rasya menggelengkan kepalanya dan memeluk papanya dengan sangat erat. Ardi menatap Monic dan menghela nafas lelah. Ardi mengendong Rasya dan berjalan mendekati Monic.
"Mon, ini semua adalah hasil dari perbuatan kamu sendiri. Kamu sendiri yang telah menjauhkan Rasya dari kamu. Aku sudah berusaha membujuk Rasya, tapi Rasya tetap tidak mau sama kamu."
"Aku tahu aku salah. Aku sudah sering menyakiti dan mengabaikan Rasya hanya karena keegoisan aku. Tapi sampai kapanpun aku tetap Mamanya," ucap Monic sedih.
"Mon, aku nggak pernah melarang Rasya untuk dekat denganmu. Aku juga tak pernah menyuruh Rasya untuk membencimu. Kamu harus bersabar dan mendekati Rasya secara pelan-pelan, tapi jika Rasya tetap menolak jangan sekali-kali kamu memaksanya karena itu akan membuatnya semakin membencimu."
"Maafkan aku, tapi sekali saja aku ingin memeluk Rasya. Aku sangat merindukannya. Walau kita tinggal satu atap tapi Rasya selalu menghindar dari aku. Dia lebih memilih bermain bersama suster yang merawatnya ketimbang bersama aku," ucap Monic sedih.
"Aku tau aku salah dan aku telah menyesali semuanya. Tapi bujuk lah Rasya agar aku bisa memeluknya. Aku sangat merindukannya," pinta Monic.
Ardi menatap anaknya dan menganggukkan kepalanya. Ardi menurunkan Rasya dari gendongannya. Monic berjongkok di depan Rasya lalu memeluknya. Air mata Monic mengalir deras. Sudah hampir 3 bulan Rasya tidak mau dekat dengan mamanya. Itu di karenakan Monic selalu meluapkan kekesalannya kepada Rasya.
Monic bahkan tidak segan-segan memukul Rasya. Padahal saat itu Rasya belum genap berumur 1 tahun. Trauma itulah yang membuat Rasya takut sama mamanya. Monic mencium kedua pipi Rasya.
"Rasya harus ingat, Mama sayang sama Rasya. Maafin Mama ya sayang jika selama ini Mama sudah menyakiti kamu dan tidak pernah mencurahkan kasih sayang Mama," ucap Monic sembari mengusap lembut puncak kepala Rasya.
__ADS_1
Rasya berjalan mundur dan bersembunyi di belakang papanya. Monic merasa hatinya sangat hancur ketika anak kandungnya sendiri menolaknya dan menjauh darinya. Air mata Monic semakin mengalir deras.Ardi tidak tega melihat Monic yang terlihat sangat menyedihkan. Ardi membantu Monic berdiri dan mendudukkannya di sofa.
"Mon, bukannya aku ingin menambah kesedihan kamu, tapi aku ingin kita cerai," ucap Ardi. Monic mendongakkan wajahnya dan menatap Ardi. Monic tidak percaya Ardi akan benar-benar menceraikannya.
»»»»»
Saat ini Kay dan Kevin sudah tinggal di rumah Arka. Arka merasa sangat bahagia, dia dan Kay akhirnya bisa bersama. Arka tengah berdiri sembari melihat Kay dan Kevin tengah bermain duduk di ayunan. Arka berjalan mendekati Kay dan Kevin.
Arka duduk berjongkok di depan Kay. Arka mencium perut Kay yang sudah mulai membuncit. Saat ini Kay tengah hamil 5 bulan. Arka sangat bahagia ketika mengetahui Kay hamil. Ini pertama kalinya bagi Arka mengalami masa-masa seperti ini. Karena saat Kay mengandung Kevin bukan Arka yang ada di sisi Kay tapi Ardi.
Kay mengusap lembut puncak kepala Arka. Kay bahagia memiliki suami yang sangat perhatian seperti Arka. Meski Kay tidak pernah minta yang aneh-aneh di masa kehamilannya ini tapi Arka selalu memenuhi apa pun yang Kay mau.
"Terima kasih Ka, kamu sudah hadir dalam hidup aku," ucap Kay sembari tersenyum melihat Arka yang terus menerus menciumi perutnya.
"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak-anak ku. Kamu sudah melengkapi hidupku sayang. Kehadiran kamu dan Kevin adalah kebahagiaan terindah dalam hidupku. Apa lagi sebentar lagi akan ada anggota baru di keluarga kita." Arka berdiri lalu mengecup kening Kay. Arka memeluk Kay dan Kevin.
~oOo~
__ADS_1