
Lina begitu terkejut saat melihat Ardi membawa seorang gadis di rumahnya. Wanita itu berjalan mendekati Ardi dan Zahra yang baru saja masuk ke dalam rumah. Zahra mencium punggung tangan Lina saat wanita itu berada tepat di depannya.
“Sepertinya tante pernah melihat kamu, tapi dimana ya?” Lina mengingat-ingat wajah gadis yang kini tengah berdiri di depannya.
“Dia Zahra, Ma. Gadis yang dulu pernah aku kenalkan sama Mama,” ucap Ardi sambil tersenyum menatap ke arah Zahra.
“Ah...tante sudah ingat, kamu gadis yang memiliki mata seperti Kay. Kenapa kamu jarang main ke sini lagi? Padahal tante berharap waktu itu kalian memiliki hubungan, tetapi ternyata tante salah,” ucap Lina sedih.
“Maafin Zahra, tante. Zahra sibuk dengan kuliah Zahra.”
Ardi menggenggam tangan Zahra, “Mama nggak perlu khawatir lagi, mulai sekarang Zahra akan sering datang ke sini. Karena Zahra adalah calon istri Ardi,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Kedua mata Lina membulat dengan sempurna, “kamu sedang tidak bercanda kan?” tanyanya terkejut.
“Nggak, Ma. Ardi serius, Ardi sudah melamar Zahra, dan Zahra mau menikah dengan Ardi.”
Terlihat senyuman di wajah Lina, “Mama senang mendengarnya, setelah sekian lama akhirnya kamu menemukan gadis yang benar-benar mau menerima kamu apa adanya,” ucapnya sambil mengusap lengan Zahra.
Zahra hanya tersenyum sambil menatap Ardi yang kini juga tengah menatapnya penuh haru. Pria itu tidak menyangka keinginannya untuk memiliki Zahra sudah berada di depan mata. Tidak sia-sia dia terus menunggu selama ini.
“Rasya mana, Ma?” tanya Ardi sambil mengajak Zahra untuk duduk di ruang tamu.
“Rasya belum pulang dari sekolah, tadi gurunya menelpon ada pelajaran tambahan. Mungkin nanti jam 15.00 sore. Tapi Mama harus pergi, jadi Mama nggak bisa menjemput Rasya.”
“Nanti biar Ardi yang menjemputnya.”
“Apa kalian sudah makan siang?”
Ardi menggelengkan kepalanya, “Ardi sengaja mengajak Zahra ke sini untuk makan siang bersama dengan Mama, Papa dan Rasya, tapi sayang Papa dan Rasya belum pulang,” ucapnya.
__ADS_1
“Papa kamu sebentar lagi pasti pulang, karena Papa kamu sekalian ingin mengambil dokumen penting.” Lina mengajak Zahra untuk menyiapkan makan siang. Meskipun mereka tinggal menatanya di atas meja, karena asisten rumah tangga Ardi sudah memasaknya.
Ardi duduk di salah satu kursi meja makan sambil menopangkan dagunya dengan tangan kanannya yang bertumpu pada meja. Kedua matanya tidak henti-hentinya menatap Zahra yang sedang menata makanan di atas meja.
Zahra terlihat tersipu malu karena Ardi yang terus menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya, “Kak, jangan melihatku seperti itu, aku kan malu,” ucapnya pelan takut terdengar oleh Lina yang sedang mengambil nasi dan memindahkan ke dalam mangkuk berukuran besar.
“Aku nggak bisa mengalihkan pandangan aku. Aku ingin terus menerus menatapmu, karena wajah kamu sungguh menggemaskan,” goda Ardi sambil terus menatap Zahra.
Lina yang mendengar obrolan Zahra dan Ardi hanya menggelengkan kepalanya, “itu Papa kamu,” ucapnya saat melihat suaminya tengah berjalan menuju meja makan.
“Ada tamu ternyata,” ucap Jonny sambil menarik salah satu kursi di samping istrinya.
Zahra yang masih berdiri di samping Ardi, menyapa dan mencium tangan papanya Ardi. Jonny menyuruh Zahra untuk duduk. Ardi menarik kursi di sampingnya dan menyuruh Zahra untuk duduk. Mereka lalu memulai makan siang mereka tanpa obrolan apapun.
Zahra tidak menyangka dirinya akan berada di rumah Ardi dan bertemu dengan kedua orang tua Ardi, apa ini nggak terlalu cepat? Pikirnya. Setelah selesai makan, Jonny dan Lina mengajak Zahra dan Ardi untuk berbincang-bincang di ruang tengah.
“Jadi gadis ini yang mau kamu kenalkan sama Papa dan Mama?” tanya Jonny sambil menatap Zahra.
“Kalau boleh Om tau, apa kamu sudah tau semua tentang Ardi, tentang statusnya? Apa kamu juga sudah yakin dengan keputusan kamu untuk menerima Ardi? Karena Om lihat kamu itu masih sangat muda, pasti kamu juga mempunyai keinginan untuk memiliki suami yang yang umurnya mungkin cuma beberapa tahun di atas kamu?” tanya Jonny dengan nada serius.
Jonny hanya ingin memastikan jika Zahra benar-benar tulus mencintai Ardi, karena dia tidak ingin melihat Ardi kecewa dan terluka untuk ketiga kalinya. Selain itu masih ada Rasya, bagaimana pun pendapat Rasya juga sangat penting.
Zahra mengangguk, “Kak Ardi sudah memberi tahu semuanya kepada saya, tentang statusnya yang duda dan juga Kak Ardi yang memiliki anak bernama Rasya. Saya mau menerima Kak Ardi apa adanya,” ucapnya sambil menatap Ardi.
Ardi menggenggam tangan Zahra lalu mengecupnya, “Ardi berharap Papa dan Mama mau merestui hubungan kami,” ucapnya.
“Kalau Mama sih setuju aja, apalagi kalian sudah saling menerima satu sama lain, tapi...bukankah Zahra itu sepupunya Kenzo?” tanya Lina.
“Iya, Ma. Memangnya kenapa? Apa ada masalah?” tanya Ardi penasaran.
__ADS_1
“Apa kamu lupa jika Kenzo itu mempunyai keyakinan yang berbeda dengan keluarga kita? Maksud Mama, apa kamu dan Zahra mempunyai keyakinan yang sama?”
“Tante nggak usah khawatir soal itu, Kak Kenzo memang kakak sepupu Zahra, tapi kami mempunyai keyakinan yang berbeda. Papa mengubah keyakinannya saat Papa menikah dengan Mama. Jadi saya dan Kak Ardi mempunyai keyakinan yang sama,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
Lina menghela nafas lega, karena dia tidak ingin melihat Ardi merubah keyakinan yang sudah dia yakini selama ini, “kalau begitu, Mama bisa bernafas lega. Mama juga akan merestui hubungan kalian,” ucapnya.
“Kalau bagi Papa, asal kamu bahagia, Papa sih setuju saja. Apalagi keinginan Papa selama ini hanya ingin melihat kamu menikah dan memberikan keluarga yang lengkap untuk Rasya. Tapi kamu juga harus meminta persetujuan Rasya, karena dia juga berhak memutuskan,” ucap Jonny.
Ardi mengangguk mengerti, “Ardi akan mengenalkan Zahra sama Rasya, Ardi berharap Rasya juga menyukai Zahra,” ucapnya.
Setelah mendapatkan restu dari kedua orangtuanya, Ardi bisa bernafas lega. Kini tinggal mengenalkan Rasya kepada Zahra dan membujuk anak itu agar mau menerima Zahra sebagai ibunya.
Ardi yang tengah mengemudikan mobilnya, sekilas menatap ke arah Zahra yang terlihat murung. Pria itu lalu menggenggam tangan gadis itu, “apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya tanpa memalingkan wajahnya dan masih fokus menatap ke depan.
“Apa Rasya mau menerima aku? Karena Mama kamu tadi bilang kalau Rasya sangat dekat dengan bundanya.”
Ardi tidak bisa menyangkal apa yang Zahraa katakan. Selama ini Rasya memang begitu dekat dengan Kay, Kay bahkan sudah seperti ibunya sendiri. Sampai sekarang pun Rasya bahkan belum pernah bertemu atau berbicara dengan ibu kandungnya sendiri.
“Kamu nggak perlu khawatir, kita pelan-pelan saja untuk memberi pengertian kepada Rasya. Lambat laun dia pasti juga akan menyukai kamu.”
“Kak...” panggil Zahra lirih.
Ardi menatap Zahra sekilas lalu kembali menatap ke depan, “ada apa?” tanyanya.
“Kenapa Kak Kay bisa hidup jauh dari Rasya, bukankah Rasya itu juga anaknya, tapi kenapa dia hanya mau merawat anaknya dengan Kak Arka?”
Ardi seketika menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia melupakan satu hal, selama ini dia hanya menceritakan kepada Zahra tentang pernikahannya dengan Kay, tapi tidak tentang pernikahan keduanya yang juga gagal.
“Kenapa Kak Ardi diam saja? Maaf jika aku terlalu ikut campur dengan urusan pribadi kakak,” ucap Zahra sambil menundukkan wajahnya.
__ADS_1
~oOo~