
Kay dan Arka saat ini tengah bersiap-siap untuk pindah ke rumah yang dulu pernah Kay tempati saat masih bersama dengan Ardi. Awalnya Kay menolak untuk tinggal di rumah itu lagi, karena rumah itu penuh dengan kenangan saat dirinya masih bersama dengan Ardi. Tapi Kevin dan Arka terus membujuknya, dan akhirnya Kay pun mau tinggal di rumah itu lagi.
Saat mereka ingin berpamitan dengan kedua orang tuanya, Lina dan Jonny begitu berat untuk melepas kepindahan mereka. Tapi mereka juga tidak bisa menghalangi Kay dan Arka yang sudah memutuskan untuk tinggal terpisah.
Ardi dan Zahra membantu kepindahan mereka, mereka bahkan sudah berada di rumah itu terlebih dahulu. Zahra sangat kagum melihat keindahan rumah itu. Walaupun rumah itu tidak sebesar rumah yang dia tempati saat ini, tapi rumah itu terlihat sangat asri.
Apalagi halaman rumah itu yang dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman bunga, belum lagi taman yang berada tepat di samping rumah itu. Ayunan yang dulu sering Kay pakai untuk menikmati udara segar, masih terpasang di taman itu. Bahkan ayunan itu masih terlihat bagus, karena Ardi selalu menyuruh pengurus rumah itu untuk selalu membersihkan dan merawatnya.
Zahra saat ini sedang mendekorasi ulang kamar utama. Kamar yang dulu pernah dia pakai oleh Kay dan Ardi. Wanita itu merubah semua yang ada di kamar itu dan menggantinya dengan suasana yang baru, karena dia tau, jika Kay melihat kamar ini dengan dekorasi lama, maka itu akan mengingatkannya dengan kenangan masa lalunya.
Meskipun Zahra terlihat sangat tegar saat memasuki rumah itu, tapi sebenarnya ada sedikit rasa sakit di hatinya. Apalagi saat dirinya memasuki kamar utama itu, bayangan saat suaminya sedang bercumbu dengan mantan istri pertamanya itu sekelebat hadir di dalam pikirannya. Dan itu tentu saja membuat hatinya sakit.
“Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?” Ardi melangkah masuk ke dalam kamar itu saat melihat Zahra yang tengah melamun.
Zahra menepiskan senyumannya, dia lalu memeluk suaminya itu, “kapan mereka akan datang?” tanyanya.
“Mereka sudah berangkat dari tadi, sepertinya sebentar lagi mereka akan sampai.” Ardi lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar itu, “kamu pandai dalam mendekorasi ulang ruangan ya sayang, kamar ini seperti baru lagi. Bahkan ranjang itu sekarang berada di dekat di jendela,” imbuhnya.
“Aku sengaja menyuruh orang untuk memindahkan ranjang itu di dekat jendela, agar kalau malam hari, cahaya bulan bisa mengenai ranjang itu, romantis gitu jadinya,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
“Aku bersyukur mempunyai istri secantik dan sepintar kamu sayang,” ucap Ardi sambil mengecup kening Zahra.
Setelah selesai mengecek semuanya, dan memastikan semuanya sudah beres, mereka lalu keluar dari kamar itu dan beralih menuju kamar Kevin. Ardi sengaja mendekorasi kamar Kevin sama persis seperti kamar yang ada di rumahnya. Begitu juga kamar Ansel, yang dia dekorasi sama seperti kamar Rasya.
Ardi dan Zahra melangkahkan kakinya menuju pintu utama saat mereka mendengar suara mobil berhenti di halaman rumah itu. Arka, Kay, Kevin dan Ansel sudah sampai di rumah itu.
“Selamat datang di rumah baru kalian,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
Kay hanya mengulas senyum, ‘rumah ini masih sama seperti saat aku tinggalkan dulu, sama sekali tidak ada yang berubah,’ gumamnya dalam hati saat kedua matanya menatap ke seluruh halaman rumahnya.
Kedua mata Kay tertuju pada ayunan yang berada di taman itu, dia teringat kembali akan kenangannya di masa lalu. Dimana saat itu dirinya tengah mengandung Kevin dan sering duduk di ayunan itu. Ardi dengan sangat lembut mencurahkan semua perhatian dan kasih sayangnya, usapan lembut tangannya yang mengusap perut buncitnya. Tanpa Kay sadari kedua sudut matanya mulai menitihkan air mata.
Kay secepatnya menghapus air mata itu, dia tidak ingin siapapun melihat air mata itu, ‘apa aku kan sanggup tinggal di rumah ini? Rumah ini penuh dengan kenangan Kak Ardi,’ gumamnya dalam hati.
Arka mengajak Kay untuk masuk ke dalam rumah itu. Kay membulatkan kedua matanya saat masuk ke dalam rumah itu, ‘apa ini? Semuanya berbeda, dulu tidak seperti ini penataan ruangannya,’ gumamnya dalam hati.
“Aku tau kakak pasti merasa heran karena rumah ini beda dengan rumah yang dulu kakak tempati. Aku dan Kak Ardi memang sengaja mendekorasi ulang seluruh ruangan ini. Bukan hanya ruang tamu, tapi seluruh ruangan di rumah ini. Aku dan Kak Ardi hanya ingin Kak Kay dan Kak Arka akan merasa nyaman tinggal di rumah ini,” jelas Zahra saat melihat raut wajah keterkejutan Kay.
“Kenapa kamu sampai melakukan ini semua untuk aku? bukankah seharusnya kamu membenciku? Bukankah istri baru biasanya membenci mantan istri suaminya?” tanya Kay.
Zahra tersenyum, “aku nggak suka menyimpan dendam, Kak. lagian itu adalah masa lalu Kak Ardi, dan aku nggak berhak untuk menghakimi kalian, karena saat itu aku bahkan tidak mengenal kalian,” ucapnya.
Ardi merangkul pundak istrinya, “aku bersyukur mempunyai istri yang sangat pengertian seperti kamu sayang,” ucapnya lalu mengecup kening Zahra.
“Ayah, dimana kamar Kevin?” tanya Kevin.
Arka dan Kay saling menatap, mereka tau betul apa maksud pertanyaan Ardi itu.
Kevin terlihat malu-malu, dia bingung harus memulainya dari mana, “nanti saja, Yah,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
Zahra mengernyitkan dahinya, “apa ada yang nggak aku tau?” tanyanya penasaran.
“Sayang, Kevin ingin mengatakan sesuatu sama kamu,” ucap Ardi sambil menggenggam tangan Zahra.
“Benarkah? Apa itu sayang, tante ingin tau?” tanya Zahra yang sudah sangat penasaran.
__ADS_1
Kevin menatap Bunda dan Ayahnya secara bergantian. Kay tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia sudah ikhlas jika Kevin ingin memanggil Zahra dengan panggilan Mama.
“Em...tante, mulai sekarang apa Kevin boleh memanggil tante dengan panggilan Mama?” tanya Kevin sambil menundukkan wajahnya.
Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna, dia terlihat sangat terkejut, “apa sayang, coba katakan lagi?” tanyanya ingin memastikan tentang apa yang baru saja dia dengar.
“Apa tante Zahra ingin menjadi Mamanya Kevin juga?” Kevin mengulang lagi pertanyaannya.
“Kak, apa aku sedang bermimpi sekarang?” tanya zahra sambil menggenggam tangan suaminya.
Ardi menggelengkan kepalanya, “kamu sedang tidak bermimpi sayang. Kevin ingin kamu menjadi ibunya juga, sama seperti Rasya yang menganggap Kay sebagai ibunya,” ucapnya.
Zahra lalu memeluk Kevin, “tentu saja sayang, kamu boleh menganggap tante sebagai Mama kamu, karena selama ini tante sudah menganggap Kevin seperti anak tante sendiri,” ucapnya lalu melepaskan pelukan itu.
“Terima kasih, Ma. Selama Kevin tinggal bersama dengan Ayah, Mama selalu perhatian dan mencurahkan kasih sayang Mama untuk Kevin. Bahkan Mama sama sekali tidak membedakan Kevin sama Rasya,” ucap Kevin dengan senyuman di wajahnya.
Zahra menganggukkan kepalanya, “karena kamu adalah anak yang baik sayang,” ucapnya sambil mengusap lengan Kevin.
Zahra lalu menatap Kay, “apa Kak Kay juga setuju, Kevin memanggilku Mama?” tanyanya.
Kay tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, “bukankah itu malah baik, itu berarti banyak orang yang menyayangi Kevin,” ucapnya sambil mengusap lengan Kevin.
“Sayang, Ayah akan tunjukan kamar kamu,” ucap Ardi lalu mengajak Kevin menaiki tangga menuju kamarnya.
Sedangkan Arka dan Kay menuju kamar utama di rumah itu yang letaknya berada di bawah. Kay masih ingat dengan jelas letak kamar yang dulu pernah dia pakai bersama dengan Ardi. Kay kembali terkejut, karena dekorasi kamar itu berubah total. Bahkan letak ranjang, lemari pakaian, dan sofa semuanya berubah posisi.
“Sayang, aku keluar dulu ya, aku ingin melihat kamar Kevin dan juga Ansel.” Kay menganggukkan kepalanya, Arka lalu keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Kay melangkahkan kakinya menuju jendela kamar itu, dia lalu membuka jendela itu dan menghirup udara yang sangat menyejukkan, “aku sangat merindukan pemandangan ini,” ucapnya sambil menatap pemandangan dari jendela kamarnya.
~oOo~