
Kay dan Ardi saling bertatapan. Kay menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, Pa, kami setuju," ucap Ardi.
"Kalau begitu kita akan mengadakan syukuran besok malam," ucap Jonny.
"Apa tidak terlalu cepat, Pa?" Tanya Ardi.
"Nggak, kalian kan menikah sudah hampir dua bulan, jadi jangan menunggu lagi, Papa ingin mengundang semua rekan bisnis Papa dan juga sahabat-sahabat kamu," ucap Jonny.
"Sayang, apa kamu ingin mengundang teman kampus kamu?" Tanya Lina kepada Kay.
"Mungkin Kay hanya akan mengundang satu orang yaitu sahabat dekat Kay, Ma," ucap Kay.
"Baiklah, sekarang kalian istirahat dulu, kalian pasti capek," ucap Lina.
Ardi dan Kay berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar. Kay duduk di sofa dan Ardi masuk ke dalam kamar mandi, setelah setengah jam Ardi selesai mandi. Ardi mencari handuk untuk mengeringkan tubuhnya.
"Dimana ya handuknya," ucap Ardi sambil mencari-cari.
"Kay, kamu tau handuk aku yang ada di kamar mandi!" Teriak Ardi.
"Aku taruh di cucian kotor!" Teriak Kay.
"Ah sial,.mana aku lupa bawa handuk lagi. Kay...tolong ambilkan handuk didalam lemari dong!" Teriak Ardi.
"Tunggu!" Teriak Kay lalu berjalan menuju lemari.
Kay mengambil handuk dalam lemari, Kay berjalan menuju kamar mandi, Kay mengetuk pintu kamar mandi.
Tokk..tokk..tokk.
Dengan reflek Ardi langsung membuka pintu.
"Aaaaaa....." teriak Kay sambil menutup matanya dengan handuk yang dibawanya.
"Kenapa kamu berteriak?" Tanya Ardi terkejut.
"Kenapa kamu keluar dengan telanjang seperti itu?" Kay menunjuk kearah Ardi yang tengah berdiri didepannya.
"Maaf..aku lupa, sini handuknya," ucap Ardi lalu mengambil handuk dari tangan Kay..
Ardi melilitkan handuk ke pinggangnya.
"Sudah, sekarang buka mata kamu," ucap Ardi lalu keluar dari dalam kamar mandi.
"Kalau kamu seperti itu terus lama-lama aku bisa jantungan," ucap Kay lalu berjalan menuju ranjang.
Kay merasa sangat capek, dia merebahkan tubuhnya di ranjang.
Ardi yang masih bertelanjang dada dan hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya berjalan menuju ranjang, Ardi berniat untuk menggoda Kay.
"Ngapain kamu kesini!" Seru Kay terkejut lalu bangun.
"Aku ingin menggoda kamu," ucap Ardi lalu duduk di tepi ranjang.
"M--maksud kamu?" Tanya Kay gugup.
__ADS_1
"Aku ingin..."
"Ingin apa! kamu jangan macam-macam ya," ancam Kay.
"Aku cuma ingin." Ardi membungkukkan badannya mendekati Kay.
"Mengambil ponsel aku,"imbuh Ardi sambil mengambil ponsel yang tergeletak di samping Kay.
Kini wajah Kay dan Ardi sangat dekat, bahkan bibir mereka hampir bersentuhan. Kay bisa merasakan hangatnya nafas Ardi, wajah Kay bersemu merah. Kay memalingkan wajahnya agar tidak menatap Ardi. Ardi tetap bertahan pada posisinya.
"Mau sampai kapan posisi kita seperti ini," ucap Kay pelan.
"Sampai aku puas memandang wajah cantik kamu."
Kay hanya diam, dia tidak berani menatap Ardi. Ardi menarik dagu Kay agar Kay menatapnya.
"Apa kamu malu?" Tanya Ardi sambil menatap wajah Kay yang bersemu merah.
"Aku malu karena kamu terus menatapku," ucap Kay pelan.
"Kenapa harus malu, aku kan suami kamu," ucap Ardi sambil tersenyum manis.
"Apa kamu nggak kedinginan?" Tanya Kay tanpa berani menatap Ardi.
"Kenapa? Apa kamu ingin menghangatkan ku?" Goda Ardi.
"B--bukan itu, kamu harus segera memakai bajumu, kalau nggak nanti kamu bisa sakit," ucap Kay gugup.
Bukannya berdiri dan memakai baju, tapi Ardi malah naik ke atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Kay terkejut karena Ardi tiba-tiba masuk ke dalam selimut yang dia pakai.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Kay terkejut.
"Lepasin, kamu nggak bisa tidur disini," ucap Kay sambil melepaskan tangan Ardi dari perutnya.
"Bukankah kita akan tinggal berdua, jadi mulai sekarang kamu harus terbiasa tidur satu ranjang sama aku," ucap Ardi sambil menyenderkan tubuhnya.
"Tapi kan aku malu, aku kan belum mandi," ucap Kay malu.
"Aku nggak perduli, mau kamu belum mandi atau sudah mandi, bagiku kamu tetap wangi," goda Ardi.
Kay turun dari ranjang.
"Kamu mau kemana?"
"Aku mau mandi," ucap Kay lalu berjalan menuju kamar mandi.
"Dasar! pasti lupa bawa baju lagi, lihat saja, aku akan kerjain kamu," ucap Ardi sambil tersenyum jahil.
Setelah setengah jam Kay selesai mandi, Kay keluar dari kamar mandi.
"Karena terburu-buru, aku jadi lupa membawa baju deh, semoga saja Ardi sudah tidur," ucap Kay lalu berjalan perlahan menuju lemari.
Saat Kay sedang asyik memilih piyama. Ardi turun dari ranjang dengan perlahan, Ardi melangkahkan kakinya dengan perlahan dan mendekati Kay. Kay terkejut saat tiba-tiba Ardi memeluknya dari belakang.
"K--kamu bukannya sudah tidur?" Tanya Kay gugup.
"Enggak, tadi aku cuma pura-pura tidur," ucap Ardi sambil mencium pundak Kay yang kini tak tertutup oleh apa pun.
__ADS_1
"Lepasin, kamu mau ngapain?" ucap Kay sambil melepaskan pelukan Ardi.
"Sebentar saja, izinkan aku memelukmu seperti ini," pinta Ardi.
Kay merasakan hangatnya pelukan Ardi. Kay merasakan sesuatu pada tubuhnya saat Ardi mulai menciumi tengkuk dan lehernya, tubuh Kay seketika menggeliat merasakan setiap kecupan yang Ardi berikan.
"A--ku mohon hentikan," ucap Kay sambil menahan gejolak dalam dirinya.
"Kenapa? apa kamu tak menginginkannya?" Tanya Ardi sambil terus mengecup leher Kay.
"B--bukan, em..aku..belum siap," ucap Kay sambil mengeluarkan desahan dari mulutnya.
"Tapi aku menginginkannya, izinkan aku untuk menyentuhmu, kali ini saja," pinta Ardi.
Tangan Ardi menarik handuk yang melilit tubuh Kay, handuk itupun terjatuh kelantai. Kini Kay telanjang bulat tidak memakai sehelai kain pun. Kay menutupi bagian sensitifnya dengan kedua tangannya, tapi kedua benda kenyal yang kini tengah membusung tidak dapat Kay tutupi.
Ardi menciumi leher Kay dan meninggalkan jejak-jejak kemerahan di leher putih Kay, bukan hanya satu tapi hampir di seluruh leher Kay. Entah berapa banyak Kay meracau kenikmatan atas setiap kecupan Ardi.
Tangan Ardi mulai merambat naik dan bermain dengan dua aset Kay yang kini telah membusung dan siap untuk di cumbu, dia mulai memainkan dua aset berharga milik Kay yang membuat Kay melenguh nikmat.
"Apa kamu menikmatinya sayang?" Tanya Ardi lalu membalikan tubuh Kay.
Mata Kay terpejam, nafasnya tidak beraturan. Kay mulai membuka matanya secara perlahan. Kay menatap Ardi yang kini tengah menatapnya.
"Apa aku boleh melakukannya?"
Kay menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?"
"Aku belum siap, aku ingin melakukannya saat kita benar-benar siap dan saling mencintai," sahut Kay dengan nafasnya yang masih memburu.
Ardi tersenyum dan mengecup kening Kay.
"Baiklah, aku akan menunggumu, maaf aku nggak bisa menahan diri aku."
"Maafin aku, aku janji akan melakukan itu jika aku benar-benar sudah siap," ucap Kay lalu memeluk tubuh Ardi.
"Aku tau, kita juga baru mau mulai dari awal, kita jalani pelan-pelan," ucap Ardi sambil memeluk erat tubuh Kay.
"Kamu nggak marah kan?"
"Nggak," ucap Ardi lalu mencium kening Kay.
Mata Ardi terbelalak melihat tubuh Kay yang polos tak tertutup oleh sehelai kain pun. Kedua mata Ardi tertuju pada dua aset Kay yang tengah membusung. Ardi hanya bisa menelan saliva nya, dia ingin sekali mencumbu dua aset itu, tapi Ardi menahannya.
Ardi mengambil handuk di lantai dan di pakaikan nya ke tubuh Kay. Ardi memeluk tubuh Kay, saat ini Jantung Kay dan Ardi sama-sama berdetak tak beraturan, seakan mau copot.
"Sekarang kita pakai baju terus tidur," ucap Ardi lalu melepaskan pelukannya.
Setelah selesai berpakaian Ardi dan Kay merebahkan tubuhnya di ranjang, tak berselang lama merekapun terlelap.
***
Arka yang sedari tadi marah-marah tidak terima atas perubahan sikap Kay. Arka tidak tau apa yang terjadi sama Kay hingga membuatnya menjauhinya.
"Sayang apa salah aku? bukannya kamu bilang hanya aku yang kamu cintai, kamu nggak mencintai kak Ardi, tapi mengapa kamu masih mau bertahan dengannya? sampai kapan pun aku nggak akan pernah melepaskan mu, kamu hanya milikku, sampai kapan pun kamu hanya milikku!"
__ADS_1
~oOo~