Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Jadilah diri kamu...


__ADS_3

Di tepi ranjang hotel itu, saat itu Zahra tengah terduduk dengan raut wajah yang terlihat sangat gugup. Zahra mencoba untuk meredakan rasa gugup yang kini tengah melandanya.


Ardi yang sejak tadi mengamati raut wajah istrinya pun mendongakkan wajah gadis itu agar menatapnya, “sayang, apa kamu merasa sangat gugup?” tanyanya.


Zahra menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin suaminya mengetahui jika tebakannya benar, “aku hanya...malu,” ucapnya.


“Kenapa harus malu, bukannya biasanya kamu selalu manja sama aku? bahkan setiap malam kamu merengek meminta untuk dipeluk,” goda Ardi dengan senyuman di wajahnya.


Zahra memukul pelan dada bidang suaminya, “jangan gitu dong, Kak, aku kan semakin tambah malu,” ucapnya dengan wajah yang semakin merah merona.


Ardi menggenggam kedua tangan istrinya itu, “jadilah diri kamu seperti biasanya, anggap saja malam ini seperti malam-malam sebelumnya. Mungkin yang berbeda hanyalah malam ini kita akan melakukan hal yang seharusnya sudah kita lakukan dari kemarin-kemarin,” ucapnya.


Zahra mengangguk mengerti, “tapi...” gadis itu menghentikan ucapannya.


“Aku tau kamu masih takut, karena ini adalah pengalaman pertama kamu. Tapi aku janji, aku nggak akan menyakiti kamu, jika kamu merasakan sakit nantinya, kamu tinggal bilang, maka aku akan menghentikannya, karena aku nggak ingin memaksakan keinginan aku.” Ardi lalu mengecup punggung tangan istrinya.


Zahra tersenyum, dia bahagia, suaminya sangat mengerti akan apa yang dia rasakan saat ini. Kak Ardi adalah pria yang sangat baik, tapi kenapa dia harus selalu tersakiti? Kak Kay, apa kamu sama sekali nggak menyesal melepaskan pria sebaik Kak Ardi? Pikirnya.


“Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ardi saat melihat istrinya yang tampak tengah melamun.


“Ha...em...bukan apa-apa.” Zahra menjawab dengan nada sedikit gugup.


“Apa aku bisa memulainya sekarang?”


Dengan perlahan Zahra mulai menganggukkan kepalanya. Senyuman mulai merekah dari kedua sudut bibir Ardi. Pria itu lalu menatap istrinya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


“Sayang, gaun ini sangat cocok untuk kamu, cantik,” puji Ardi yang baru menyadari jika gaun yang dikenakan istrinya adalah gaun yang kemarin dia berikan untuk istrinya itu.

__ADS_1


“Terima kasih, Kak, aku sangat suka dengan gaun ini,” ucap Zahra dengan senyuman di wajahnya.


Walaupun momen ini bukan lagi hal yang pertama untuk Ardi, namun Ardi merasa malam ini seperti awal dia menikah dulu. Rasa gugup, berdebar-debar dan lainnya kini bercampur jadi satu. Pria itu lalu menatap lekat wajah cantik istrinya yang kini tengah menundukkan wajahnya. Dengan perlahan dia mulai mendongakkan wajah itu, dia tatap lekat-lekat kedua mata cantik istrinya itu.


Ardi memulainya dengan membenamkan bibirnya ke bibir tipis istrinya itu, dengan perlahan dia mulai mengecap, menikmati setiap bagian-bagian bibir tipis itu dan tidak melewatkan satu jengkal pun. Ciuman Ardi semakin memanas bersamaan dengan suhu tubuhnya yang saat itu juga semakin panas karena gejolak di dalam tubuhnya semakin membara. Hasratnya sudah memuncak dan segera ingin dia salurkan.


Tubuh Zahra menggelinjang, gemetar saat hembusan hangat nafas Ardi mulai dia rasakan di ceruk lehernya. Hembusan nafas hangat suaminya yang menyentuh pori-pori kulitnya semakin membangkitkan gejolak hasrat yang terpendam dalam diri Zahra. Dengan perlahan tapi pasti Ardi mulai melucuti pakaian yang Zahra kenakan hingga tak menyisakan satu helai kain pun yang melekat pada tubuh istrinya itu.


Kedua mata Ardi membulat dengan sempurna, dia pun menelan ludahnya berkali-kali. Meskipun pencahayaan di kamar itu tidak begitu terang, tapi dia bisa melihat jelas lekuk tubuh istrinya itu. Zahra hanya mampu memejamkan kedua matanya, dia terlihat begitu malu saat mengetahui suaminya kini tengah menatap setiap bagian-bagian tubuhnya.


Ardi pun mulai menarik handuk yang melilit di tubuhnya, dan kini dua insan itu sama polos dan tak terhalang oleh apapun lagi. Dengan perlahan Ardi mulai merebahkan tubuh istrinya yang sampai saat ini masih betah memejamkan kedua matanya.


“Sayang, jangan pejamkan kedua mata kamu, karena aku ingin melihat kedua mata indahmu.”


Dengan perasaan malu yang bahkan kini membuat wajahnya semakin merah merona, Zahra mencoba untuk membuka kedua matanya secara perlahan. Dan saat ini kedua mata itu bertemu tatap dengan kedua mata suaminya yang saat ini juga tengah menatapnya dengan senyuman di wajahnya.


Zahra mengangguk pelan, dia mulai mengambil nafas secara perlahan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang semakin tidak beraturan, lalu membuangnya secara perlahan pula. Zahra dengan perlahan mulai menggerakkan kedua tangannya, lalu dia lingkarkan ke leher suaminya yang saat ini tengah menindihnya.


“Aku nggak akan memejamkan kedua mataku, aku ingin melihat apapun yang akan Kak Ardi lakukan nanti,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


“Jadi...apa kamu sudah siap sekarang?” tanya Ardi sambil menyikap rambut Zahra yang hampir menutupi wajah cantik gadis itu.


Zahra dengan kedua pipinya yang bersemu merah, jujur dia takut, tapi dia juga tidak mungkin menolak keinginan suaminya itu, dan akhirnya dia mengangguk pelan. Zahra sedikit mengernyit saat mendapatkan sentuhan di pipinya oleh salah satu tangan suaminya. Dan hal itu membuat Ardi tersenyum, “pelan-pelan saja,” ucapnya.


Zahra ingin sekali memejamkan kedua matanya saat Ardi mulai menenggelamkan wajahnya di ceruk lehernya, hembusan nafas pria itu, terasa panas menerpa permukaan kulit tubuhnya. Begitu memburu dan terasa menggebu. Ardi adalah orang pertama yang menggerayangi setiap inci bagian tubuhnya, orang pertama yang mencium lehernya dan meninggalkan jejak-jejak merah yang membuat hatinya semakin resah.


Zahra mulai menggigit bibirnya sendiri, saat mendapatkan serangan yang tidak dia duga rasanya akan sememabukkan ini, membuat dirinya setengah mati menahan lenguhan.

__ADS_1


Mendapatkan usapan di sekitar dada dan sekujur perutnya masih bisa Zahra tahan walaupun dia tidak memejamkan kedua matanya. Bahkan gadis itu bisa melihat dengan jelas apa yang kini tengah suaminya lakukan dengan kedua asetnya yang sangat berharga, yang tentu saja membuat sekujur tubuhnya mengelinjang. Rasa nikmat yang baru pertama kali dia rasakan sama sekali tidak ingin dia lewatkan.


Tapi saat ini Zahra sudah tidak sanggup menahan kedua matanya untuk tidak terpejam, saat tangan suaminya mulai membelai daerah sensitifnya di bawah sana, dia pun memekik tertahan, “Kak!” satu kata itu yang pertama dia lenguhkan di sela perasaannya yang semakin bergairah.


Ardi mendongakkan wajahnya menatap kedua mata istrinya yang masih terpejam dengan nafasnya yang memburu, “sayang, kamu sudah basah,” godanya.


Zahra yang merasa begitu malu saat suaminya mengatakan kata basah, membuat gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “kenapa Kak Ardi mengatakan itu, aku kan malu, kak,” ucapnya.


Ardi menyingkirkan kedua telapak tangan istrinya yang menutupi wajah cantik istrinya itu. Kemudian pria itu menautkan jemarinya ke jemari istrinya, menyalurkan rasa aman bahwa apa yang akan terjadi tidak seburuk yang dia pikirkan.


“Untuk yang pertama mungkin akan terasa sedikit sakit, kamu tahan sebentar ya,” ucap Ardi lalu mengecup punggung tangan istrinya.


Zahra semakin bersemu merah, saat suaminya meminta izin untuk melakukan penyatuan mereka, dan dengan perlahan Ardi mulai melakukan penestrasi dengan hati-hati. Rambut Ardi yang mulai basah dengan keringat, dan tubuh kekarnya yang sudah berkucuran keringat, membuat penampilan Ardi semakin liar di mata Zahra.


Mendapati pemandangan seperti itu membuat Zahra enggan untuk memejamkan kedua matanya, meskipun rasa nyeri mengoyak bagian tubuhnya yang membuatnya meneteskan air mata dan merintih kesakitan.


Melihat air mata yang mulai mengalir dari kedua sudut mata istrinya membuat Ardi memperlambat tempo gerakannya, dia mulai mencium bibir, leher istrinya untuk mengalihkan rasa sakit yang saat ini tengah Zahra rasakan.


Hingga beberapa saat kemudian, Ardi terasa terbakar di sekujur tubuhnya, mendidih dan rasanya ingin meledak, seiring cengkraman kuat dari kuku sang istri yang mengores kulit lengannya, Ardi mengerang tertahan, melepaskan gairah yang mendesak untuk ditumpahkan, sesaat tenaganya melemas dan kemudian tumbang tepat di atas tubuh Zahra.


Zahra dengan perlahan mulai membelai punggung suaminya yang basah dengan keringat sisa-sisa pergulatan panas yang baru saja mereka lakukan. Ardi mengubah posisinya dan berbaring di samping istrinya, dan memeluk tubuh istrinya dengan hati-hati, “makasih sayang, malam ini adalah malam terindah untuk cinta kita,” ucapnya.


Zahra mengangguk pelan, dia lalu membelai kening suaminya yang juga di penuhi oleh peluh yang membuat kedua mata suaminya yang semula terpejam kini mulai membuka kedua matanya secara perlahan, nafasnya masih terlihat begitu memburu.


Ardi berdecak sebal, secepat itu gairahnya mulai memuncak lagi, sekujur tubuhnya mulai kembali mendidih. Apa ini karena sudah lama aku nggak melakukan ini, hingga gejolak ini kembali memuncak? Pikirnya. Ardi sejenak memejamkan kedua matanya, lalu kembali membukanya dengan tatapan penuh mendamba saat senyuman manis merekah dari kedua sudut bibir istrinya, “sekali lagi ya sayang,” pintanya dan membuat senyuman manis istrinya lenyap secara perlahan, beralih dengan kedua mata istrinya yang saat ini sudah membulat dengan sempurna.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2