
Kay kini sudah di pindahkan ke ruang rawat inap bersama dengan buah hatinya, di sana nampak Merisa dan David menyambut bahagia kelahiran cucu kedua mereka. Meskipun Kay masih tampak lemah bahkan ada jarum infus di lengannya, tetapi itu tidak menghalangi rasa bahagianya.
Tetapi ada yang kurang, Kevin belum hadir di antara mereka. Arka sudah mengabari kakaknya jika Kay akan segera melahirkan, tapi sayang, saat itu Ardi sedang menghadiri rapat penting, hingga membuatnya tidak bisa langsung memberi tahu keluarganya dan langsung berangkat ke Pekanbaru.
“Arka, apa kamu sudah menghubungi Kak Ardi, apa mereka sudah berangkat dari Jogja?” tanya Kay cemas. Dia begitu sangat merindukan putranya, sudah satu minggu lebih Kevin tinggal bersama dengan Ardi, bahkan itu sudah melewati jangka waktu yang telah mereka sepakati.
“Tadi Kak Ardi sudah WhatsApp aku jika dia sudah berada di bandara bersama dengan Mama, Papa, Kevin dan juga Rasya,” ucap Arka.
Kay mengangguk, dia merasa sangat lega, akhirnya dia akan bertemu kembali dengan putra yang sangat di rindukannya. Tinggal menunggu beberapa jam lagi, hingga mereka sampai di rumah sakit.
“Sayang, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kamu?” tanya Merisa sambil mengendong cucu keduanya.
“Kay belum mempersiapkannya, Ma. Tapi nggak tau dengan Arka,” ucap Kay sambil menatap wajah suaminya yang kini tengah duduk di tepi ranjang.
Arka nampak tengah berfikir, “Arka ingin menamai anak kedua Arka dengan nama Ansel Arsenio Raditya, yang artinya seorang bangsawan yang gagah berani, sedangkan Raditya itu nama keluarga,” ucap Arka.
“Aku setuju, nama yang sangat bagus, Ansel, aku suka,” ucap Kay dengan senyuman di wajahnya.
Saat mereka tengah saling bercakap-cakap bahkan saling mengecup pipi gembul bayi mungil itu, tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.
“Bunda...” teriak Kevin sambil berlari masuk dan langsung berhambur kepelukan bundanya. Arka pun kini juga tengah memeluk putra pertamanya dan juga istrinya.
“Sayang, Bunda sangat merindukan Kevin,” ucap Kay sambil mencium kedua pipi Kevin.
“Kevin juga sangat merindukan Bunda, maafkan Kevin karena tidak langsung pulang setelah Bunda suruh,” ucap Kevin sedih. Kay memang menyuruh Kevin untuk pulang dua hari sebelum dia melahirkan, karena dirinya sangat merindukan putra tampannya itu.
“Bunda sudah memaafkan Kevin. Sekarang Kevin sudah mempunyai adik laki-laki, dia sangat mirip dengan Kevin saat masih bayi,” ucap Kay. Saking senangnya Kay bertemu dengan Kevin, dia tidak menyadari akan kehadiran Ardi dan keluarganya.
__ADS_1
Ardi mencium tangan kedua orang tua Kay. David nampak cuek dengan kehadiran Ardi, dia lebih memilih untuk mengobrol bersama sahabatnya Jonny. Ardi tau jika selama ini sudah banyak kesalahan yang telah dia perbuat terhadap Kay, tapi dia terus akan mencoba untuk meminta maaf kepada David.
Tetapi berbeda dengan Merisa, dia menyambut hangat kedatangan Ardi, dia bahkan mengendong Rasya.
“Anak kamu sangat mirip denganmu,” ucap Merisa sambil menurunkan Rasya dari gendongannya. Ardi hanya tersenyum, sesekali dia melirik ke arah Arka, Kay dan Kevin yang tengah asyik dengan bayi mungil yang berada di gendongan Arka.
“Ardi, bagaimana kabar kamu, Tante dengar dari Kay, kamu dan Monic sudah bercerai? Kenapa itu sampai terjadi?” tanya Merisa.
“Ardi hanya merasa tidak cocok dengan Monic, Tante,” ucap Ardi sambil menepiskan senyumannya.
“Tante hanya bisa berharap kamu akan segera menemukan penganti Monic, wanita yang benar-benar menjadi jodoh kamu,” ucap Merisa sambil mengusap lengan Ardi.
Ardi hanya terus menepiskan senyumannya. Merisa mendekati Lina yang sedang mengendong Rasya, dia mengajak besannya itu untuk melihat cucu mereka. Ardi mengikuti mereka dari belakang, dia juga ingin melihat keponakan barunya. Arka dan Kay mencium tangan Lina, Kay juga menjabat tangan Ardi.
“Siapa nama anak kamu ini sayang?” tanya Lina sambil mengambil alih cucunya dari gendongan Arka.
“Ansel sangat mirip seperti kakaknya saat masih bayi, kedua matanya, hidung mancungnya dan juga lesung di kedua pipinya,” ucap Ardi sambil mengusap pipi gembul Ansel.
“Kakak tau banyak tentang Kevin ya, tidak seperti aku, yang bahkan tidak tau apa-apa,” ucap Arka sambil menepiskan senyumannya.
“Em...maaf, Ka. Aku tidak bermaksud untuk...”
“Tidak apa-apa lagi, Kak. Lagian itu juga bukan salah kakak, Ansel akan tumbuh seperti Kevin, itu semua juga berkat didikan kakak, hingga Kevin bisa menjadi seperti sekarang,” ucap Arka sambil mengusap puncak kepala Kevin.
Ardi menatap Kay yang kini tengah menatap Arka, terlihat raut kesedihan di wajah Kay. Ardi mencoba mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin di hari bahagia ini menjadi hari yang menyedihkan dan itu semua karena sikap ketidak sengajaannya.
“Ayah Ardi akan menginap di sini, kan?” tanya Kevin.
__ADS_1
“Tapi Ayah nggak bisa sayang, besok Ayah ada pekerjaan,” tolak Ardi sambil mengusap puncak kepala Kevin.
“Kak, menginaplah beberapa hari di sini, aku mohon. Apa kakak nggak kasian kepada Kevin, selain itu Rasya pasti juga sangat capek,” pinta Arka.
“Tapi, Ka...aku...”
“Kakak tenang saja, soal Ayah nanti biar aku yang membujuknya, lagian Kay juga nggak keberatan, ya kan sayang?” tanya Arka sambil menggenggam tangan Kay. Kay menatap Ardi lalu menganggukkan kepalanya.
“Menginaplah beberapa hari, Kak. Demi Kevin, seperti Kevin masih ingin bersama dengan kakak,” ucap Kay dengan menepiskan senyumannya.
Lina menatap Ardi lalu menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, aku akan tinggal beberapa hari di sini.” Ardi tidak bisa menolak di saat semuanya memintanya untuk tetap tinggal. Dia juga bisa mempunyai lebih banyak waktu untuk meminta maaf kepada ayah Kay.
“Ma, biar Ardi yang mengendong Ansel.” Ardi lalu mengambil alih Ansel dari gendongan mamanya, “halo jagoan kecil, Om. Selamat terlahir ke dunia sayang, cepatlah tumbuh besar dan bermain bersama dengan Kak Kevin dan juga Kak Rasya yang sayang. Om juga ingin bermain dengan Ansel,” imbuhnya sambil mengecup kening bayi mungil itu.
“Kakak cepetan menikah makanya, biar cepet nyusul nanti,” goda Arka.
“Memangnya gampang mencari calon istri, sulit lagi, Ka. Lagian aku juga nggak ingin terburu-buru menikah, aku sedang menikmati masa lajang aku,” ucap Ardi sambil terus menatap wajah bayi mungil yang berada di
gendongannya.
“Itu pasti sangat mudah, Kak. Kakak kan tampan, sukses lagi, Kak, ya kan, sayang?” tanya Arka dan langsung mendapat anggukkan dari Kay.
Ardi hanya tersenyum menanggapi ucapan Arka yang selalu menyinggung soal pernikahannya. Ardi bahkan tidak pernah berfikir ke arah itu, tetapi Arka dan kedua orangtuanya terus membujuknya untuk segera menikah, mereka ingin Ardi kembali bahagia seperti dulu lagi.
~oOo~
__ADS_1