
“Kenapa kamu diam? Beritahu aku, apa alasan kamu melarang Kevin untuk menganggap Zahra sebagai ibunya juga?” Ardi terus menatap Kay dengan penuh rasa penasaran. Kenapa Kay bisa berkata seperti itu kepadanya? ‘Apa dia tidak suka dengan Zahra? apa jangan-jangan dia....’ Ardi segera menepis pikirannya sendiri karena itu tidak mungkin terjadi.
Zahra dan Ansel berjalan mendekati Ardi dan Kay. Ansel duduk di samping bunda nya, “Bunda, tante Zahra sangat baik sama Ansel. Ansel suka sama tante Zahra, mulai sekarang tante Zahra akan menjadi tante kesayangan Ansel,” ucapnya dengan tersenyum riang.
Kay tersenyum lalu mengusap puncak kepala Ansel, “apa Ansel mau minum susu? Biar Bunda buat kan dulu,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya.
“Kay, kamu belum menjawab pertanyaan aku!” seru Ardi.
“Nggak ada yang perlu aku jawab, Kak. Selain itu, aku juga punya hak untuk melarangnya, karena aku ibunya.” Kay lalu melangkahkan kakinya menjauh. Ansel mengikuti bundanya dari belakang sambil membawa mainan yang diberikan oleh Zahra.
“Apa ada masalah? Kenapa Kak Kay bersikap seperti itu?” tanya Zahra penasaran.
Ardi menggelengkan kepalanya, tidak mungkin dirinya akan memberitahu Zahra tentang apa yang baru saja Kay katakan padanya. Zahra akan merasa tersinggung dan sakit hati nantinya, mungkin itu yang ada di pikiran Ardi saat ini.
“Aku nggak menyangka Kevin sudah sebesar itu.” Zahra melihat ke arah Kevin yang tengah asyik bermain dengan Rasya, “dia juga tampan, sama seperti Kak Ardi,” imbuhnya.
“Aku dan Arka waktu kecil memang sangat mirip, bahkan semua orang mengira kami adalah saudara kembar. Saat Kevin lahir, aku sangat bahagia, aku akhirnya bisa merasakan menjadi seorang ayah. Tapi aku sungguh tidak menyangka, jika ternyata dia bukan darah dagingku. Yang lebih menyakitkan lagi Mama dan Kay sama sekali nggak memberitahu aku apa yang sebenarnya terjadi antara Kay dan Arka.” Ardi menghela nafas panjang, “tapi...jika waktu itu Mama dan Kay memberitahu aku tentang apa yang Arka lakukan sama Kay, apa aku akan sanggup menerima semua itu?”
Zahra menggenggam tangan Ardi, “kenapa kakak masih mengingat semua itu? Bukankah kakak sudah melupakan semuanya? Apa selamanya kakak akan tenggelam dalam masa lalu kakak? Lalu...lalu apa artinya aku buat kakak?” tanyanya dengan menatap Ardi dengan kedua mata sendunya.
Ardi menarik Zahra ke dalam pelukannya, “kamu sangat berarti buat aku, kamu adalah kehidupan aku. Karena dirimulah, aku sampai di titik ini sekarang.” Ardi lalu mengecup kening Zahra, “maafkan aku, karena aku kembali mengingat kejadian itu. Nggak seharusnya aku menyakiti kamu dengan masa laluku,” imbuhnya.
__ADS_1
“Lalu apa yang tadi kakak perdebatkan dengan Kak Kay?”
“Bukan apa-apa, itu juga nggak ada hubungannya dengan hubungan kita,” ucap Ardi berbohong. Maafkan aku, tapi aku benar-benar nggak bisa memberitahu kamu semua yang Kay tadi katakan. Itu aku lakukan untuk menjaga hati kamu, karena aku nggak ingin kamu terluka saat mendengar semua itu, pikirnya.
***
“Kakak datang ke sini dengan membawa kabar baik. Aku senang mendengarnya.” Arka menatap langit malam yang terlihat begitu indah. Ardi sudah memberitahu Arka tentang hubungannya dengan Zahra, bahkan soal dirinya yang sudah melamarnya dan mendapatkan restu dari kedua belah pihak keluarga.
“Tapi aku masih harus membuat Rasya mau menerima Zahra sebagai ibu sambungnya. Aku tau Rasya sudah menganggap Kay sebagai ibunya, tapi aku juga ingin Rasya menganggap Zahra seperti dia menganggap Kay.” Ardi beranjak dari duduknya, dia lalu memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, “apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?” tanyanya kemudian.
Ardi masih begitu penasaran dengan sikap Kay tadi siang. Seperti Ardi yang sangat mengenal Kay selama ini, Kay tidak mungkin mengatakan semua itu jika tidak memiliki alasan yang mendasar.
“Apa Kay nggak menyukai Zahra?”
Arka mengernyitkan dahinya, “maksud kakak apa? Nggak mungkin Kay nggak menyukai Zahra, walaupun Kay membenci Zahra, lalu apa alasannya? Sedangkan Kay dan Zahra nggak begitu dekat juga?” tanyanya.
“Kenapa kamu malah bertanya sama aku? aku bertanya sama kamu, karena aku kira kamu tau semua itu.”
Arka menggelengkan kepalanya, “aku nggak tau apa-apa, dan setahu aku, Kay juga nggak membenci Zahra,” ucapnya.
__ADS_1
“Tapi tadi Kay mengatakan sesuatu yang sangat membuat aku heran. Jika dia memang nggak membenci Zahra, lalu kenapa Kay melarang Kevin untuk menganggap Zahra sebagai ibunya? Bukankah itu aneh? Meskipun Kevin memanggil Zahra dengan panggilan Mama, itu juga nggak akan mengurangi kasih sayang Kevin untuk Kay, karena Kay tetaplah ibu kandung Kevin.”
Arka beranjak dari duduknya, dia lalu melangkah mendekati Ardi, “aku nggak tau kenapa mengatakan semua itu, tapi aku bisa merasakan apa yang Kay rasakan jika Kevin mempunyai ibu lain selain dirinya,” ucapnya.
Ardi mengubah posisinya menjadi berhadap-hadapan dengan Arka, “apa maksud kamu?” tanyanya penasaran. Arka hanya diam, dia bahkan tidak berani menatap kedua mata Ardi.
“Ka, jangan bilang kamu juga nggak suka Kevin memanggil aku ayah?” tanyanya kemudian.
Arka menghela nafas panjang, “bukannya aku nggak suka Kevin memanggil kakak dengan panggilan ayah, karena sejak awal memang kakak lah ayahnya Kevin. Aku hanya iri dengan kakak, karena aku bisa melihat betapa Kevin sangat menyayangi kakak. Walaupun Kevin juga menyayangi aku, tapi kasih sayang yang dia tunjukkan itu berbeda. Mungkin itu juga yang Kay takutkan, Kay takut Kevin akan lebih menyayangi Zahra ketimbang dirinya,” ucapnya.
“Ka, aku nggak bermaksud untuk merebut Kevin dari kamu, tapi kamu tau kan jika Kevinlah penyemangat hidup aku selama ini.”
Arka tersenyum, “aku tau, sebab itu lah aku nggak terlalu mempermasalahkan jika Kevin masih tetap menganggap kakak sebagai ayahnya,” ucapnya.
Ardi menghela nafas, dia lalu kembali mengubah posisinya, “aku memang akan menikahi Zahra, apapun yang terjadi aku akan tetap menikahinya. Jika pernikahan aku akan membuat Kay cemas, aku minta maaf. Aku nggak akan memaksa Kevin untuk menganggap Zahra sebagai ibunya, karena memang Kay lah yang lebih berhak atas Kevin. Aku hanya ingin mencarikan ibu untuk Rasya, karena selama ini dia nggak pernah sepenuhnya mendapatkan perhatian dan kasih sayang seorang ibu,” ucapnya.
“Kak, apa kakak tersinggung dengan permintaan Kay?”
Ardi menggelengkan kepalanya, “aku akan mencoba untuk memahami apa yang kalian rasakan selama ini. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih karena selama ini Kay sudah mau menganggap Rasya seperti anaknya sendiri. Setelah aku dan Zahra menikah, aku nggak akan membebani Kay lagi, karena Zahra yang akan berperan sebagai ibunya, Zahra juga yang akan memberikan kasih sayang dan perhatian seorang ibu kepada Rasya,” ucapnya.
Ardi melangkahkan kakinya pergi menjauh, dia tidak ingin lagi memperdebatkan sesuatu yang tidak pernah akan ada ujungnya, karena sebenarnya tidak ada yang salah dalam situasi ini. Jika dia terus memperdebatkan masalah ini, maka akan ada orang yang akan tersakiti nantinya. Apalagi Kevin yang bahkan tidak tau apa-apa harus di sangkut pautkan dalam urusan kedua orangtuanya.
__ADS_1
~oOo~