
Setelah mandi berendam dengan sedikit aromaterapi membuat tubuh Zahra menjadi lebih segar. Dia lalu keluar dari dalam kamar mandi sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk di tangannya.
“Kak Ardi hari ini lembur, apa aku tidur sebentar ya, badan aku rasanya capek sekali.”
Zahra lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Dia lalu meraih ponselnya yang berada di tepat di sebelahnya, dia memeriksa apa ada pesan masuk dari suaminya itu, tapi ternyata tidak. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk memejamkan kedua matanya, tubuhnya sungguh merasa sangat lelah.
Sementara itu selang waktu tak lama, mobil milik Ardi masuk ke dalam gerbang, mobil itu mulai menepi tepat di halaman rumah Zahra. Ardi membuka pintu mobil dan keluar dari mobil. Pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju pintu utama dan masuk ke dalam rumah itu.
Ardi membuka pintu kamarnya secara perlahan, dia melihat istrinya tengah tertidur di atas ranjang. Pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju ranjang, dia lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, menusuk-nusuk pipi Zahra yang kemudian membuat wanita itu menggeliat.
Ardi tiba-tiba ambruk di samping tubuh istrinya dan mencium pipi Zahra yang masih terlelap. Ardi nampak menikmati wajah cantik istrinya yang tidur di sebelahnya. Pria itu tidak ingin mengganggu tidur nyenyak istrinya, dia lalu berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Zahra membuka kedua matanya secara perlahan setelah mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, “apa Kak Ardi sudah pulang?” Zahra mengubah posisinya menjadi duduk di tepi ranjang, dia lalu melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 21.00 malam.
Pintu kamar mandi mulai terbuka, Ardi dengan rambut basahnya keluar dari dalam kamar mandi, “kamu sudah bangun sayang?” tanyanya sambil berjalan menuju ranjang.
Zahra beranjak dari duduknya, “maaf, aku ketiduran,” ucapnya sambil berjalan mendekati suaminya.
“Aku tau kamu pasti juga capek, jadi aku memaklumi itu.”
Zahra lalu mengambil kan pakaian tidur untuk suaminya, “apa kakak sudah makan malam?” tanyanya sambil memberikan pakaian itu kepada suaminya.
Ardi menganggukkan kepalanya, “tadi aku sekalian bertemu dengan Client,” ucapnya sambil memakai pakaiannya.
Zahra hanya mengangguk, dia lalu kembali duduk di tepi ranjang. Ardi yang sudah berpakaian lengkap duduk di samping istrinya, “kenapa sayang, apa kamu belum makan?” tanyanya.
“Aku sengaja menunggu kakak pulang, baru kita makan malam bareng, tapi ternyata kakak malahan sudah makan malam,” ucap Zahra sambil mengerucutkan bibirnya.
Ardi menggenggam tangan istrinya, “maaf ya sayang, aku kan nggak tau kalau kamu menunggu aku untuk makan malam.” Pria itu lalu beranjak berdiri, “ayo, aku akan membuatkan makan malam untuk kamu,” ajaknya.
__ADS_1
Zahra menggelengkan kepalanya, “kakak pasti capek, kakak kan baru saja pulang kerja,” tolaknya secara halus.
“Aku nggak capek kok sayang, aku senang bisa masakin makan malam untuk istriku yang cantik ini,” goda Ardi sambil mencolek hidung mancung Zahra.
Zahra pun menganggukkan kepalanya, mereka lalu keluar dari dalam kamar dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Seperti biasanya saat berada di rumah Ardi, Zahra hanya duduk di meja makan sambil melihat Ardi membuatkan makan malam untuknya.
Setelah setengah jam sepiring nasi goreng sudah tersaji di atas meja. Ardi lalu duduk di depan Zahra, dia lalu meminta istrinya itu untuk segera mencicipi masakannya. Seperti biasanya, Zahra selalu menikmati masakan suaminya itu.
“Papa, Mama...” panggil Rasya yang terbangun dari tidurnya karena merasa kehausan. Rasya berjalan mendekati mama dan papanya.
“Sayang, kenapa kamu bangun? Apa kamu bermimpi buruk?” tanya Zahra sambil menaruh sendok di atas piring.
Rasya menggelengkan kepalanya, “Rasya hanya haus,” ucapnya.
Zahra menyuruh Rasya untuk duduk disampingnya, “maafkan Mama ya sayang, Mama lupa menaruh botol air putih di kamar kamu,” ucapnya. Rasya hanya menganggukkan kepalanya.
“Sayang, apa kamu mau makan?” tawar Ardi.
Ardi lalu beranjak dari duduknya, dia lalu menaruh sisa nasi goreng ke atas piring, “untung tadi Papa masak lebih,” ucapnya lalu menaruh sepiring nasi goreng di depan Rasya.
“Rasya suka nasi goreng buatan Papa, rasanya sangat enak,” puji Rasya lalu mulai menyantap nasi goreng itu.
“Papa kamu ini memang jago memasak, Mama juga suka sama masakan Papa kamu ini,” puji Zahra lalu kembali melanjutkan makannya.
Mereka pun akhirnya selesai makan malam.
“Apa Rasya mau tidur sama Mama dan Papa malam ini?” tawar Zahra yang seketika membuat kedua mata Ardi membulat dengan sempurna.
‘Kenapa malahan meminta Rasya untuk tidur di kamar kita sayang, kan malam ini kita mau bikin baby,’ gumam Ardi dalam hati. Ardi berharap Rasya akan menolak ajakan istrinya itu, tapi tubuh Ardi seketika melemas saat melihat anggukkan dari kepala Rasya.
__ADS_1
“Ayo Kak, kita tidur, malam ini Rasya akan tidur sama kita.” Ardi hanya bisa pasrah sambil menganggukkan kepalanya.
Zahra menggandeng tangan Rasya dan mengajaknya menuju kamarnya. Untung kasur di dalam kamar Zahra sangat besar, jadi bisa muat untuk tiga orang.
“Ma, Pa, Rasya senang deh bisa tidur sama Mama dan Papa.” Rasya menggenggam tangan mama dan papanya.
“Mama juga senang tidur sama Rasya,” ucap Zahra.
Ardi merasa sangat bersalah, karena tadi sempat berharap anaknya itu akan menolak ajakan Zahra untuk tidur di kamarnya, “Papa juga senang bisa tidur sama Rasya lagi, karena terakhir Papa tidur sama Rasya saat Rasya masih TK,” ucapnya sambil mengecup puncak kepala Rasya.
“Sayang, kapanpun kamu mau tidur sama Mama dan Papa, Rasya tinggal bilang sama Mama atau Papa, dengan senang hati Mama dan Papa akan menyambut kamu sayang. Iya kan, Kak?” tanya Zahra sambil menatap suaminya.
Ardi hanya menganggukkan kepalanya, “lebih baik sekarang kita tidur, sudah malam juga,” ajaknya.
Rasya pun mulai memejamkan kedua matanya, dan tak butuh waktu lama anak kecil itu mulai terlelap. Tapi tidak dengan Ardi dan Zahra, mereka masih tetap terjaga.
“Kenapa kakak belum tidur?” Zahra lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang.
Ardi juga mengubah posisinya menjadi duduk, “aku belum mengantuk, sebenarnya malam ini aku ingin itu, tapi kamu malah mengajak Rasya untuk tidur di kamar ini,” ucapnya.
“Maaf ya, Kak. Tapi apa kakak nggak suka Rasya tidur di sini?”
Ardi menggelengkan kepalanya, dia lalu menatap Rasya yang masih terlelap dalam tidurnya, “aku senang bisa menemani Rasya tidur, sudah lama juga aku nggak menemaninya tidur,” ucapnya.
“Jadi kakak nggak keberatan kan kalau Rasya setiap malam tidur bersama dengan kita?” goda Zahra, dia sengaja ingin menggoda suaminya itu.
Ardi sontak langsung membulatkan kedua matanya, “kalau setiap malam Rasya tidur disini, lalu nasib Jerry bagaimana dong sayang, masa kamu tega membiarkan si Jerry menganggur,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Zahra hanya menahan tawa melihat raut wajah suaminya itu, dia merasa puas sudah mengerjai suaminya itu. Zahra tahu jika suaminya itu paling tidak bisa menahan diri kalau soal urusan ranjang, setiap malam suaminya itu selalu meminta jatahnya, kalau tidak dituruti, Ardi akan mengancam dirinya dengan cara mogok makan seperti anak kecil.
__ADS_1
Zahra bahkan tidak tega menolak keinginan suaminya itu, tapi malam ini suaminya itu harus menahan diri, puasa dulu satu hari, tapi entah besok atau lusa, karena Zahra juga tidak tau, apa Rasya akan tidur di kamar mereka lagi atau tidak.
~oOo~