Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Kekhawatiran Kay..


__ADS_3

Jonny bingung harus memulainya dari mana, dia takut rencananya ini akan membuat David terkejut.


"Ada apa Jon ? katakan saja," ucap David yang semakin merasa penasaran.


"Aku berencana ingin menjodohkan anak-anak kita, aku ingin melamar anak kamu Nikayla untuk anak aku Ardi."


"Apa kamu serius? Kamu tau kan anak aku masih kuliah?" Tanya David yang benar-benar terkejut.


"Ya aku serius, aku tau, Nikayla bisa terus kuliah setelah mereka menikah. Aku maupun Ardi tidak akan melarang Nikayla untuk mengejar cita-citanya," sahut Jonny dengan nada seperti tengah membujuk David.


Jonny berharap David akan menyetujui rencananya ini.


"Aku ingin hubungan persahabatan kita berubah menjadi hubungan keluarga," sambung Jonny lagi.


"Tapi...apa kamu sudah membicarakan ini sama anak kamu Ardi? Apa Ardi setuju dengan perjodohan ini?"


"Ya, Ardi juga sudah menyetujuinya, bahkan dia yang menyuruh aku untuk bilang sama kamu, kalau Ardi ingin melamar anak kamu secepatnya."


David menghela nafas panjang.


"Baiklah, aku setuju. Aku akan membicarakan ini sama keluarga ku."


"Baiklah, aku akan menunggu jawabannya," ucap Jonny dengan senyuman di wajahnya.


"Ok." David lalu mematikan telfon.


Merisa merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan suaminya dengan sahabatnya itu.


"Ada apa, Yah? Apa yang Jonny bicarakan?" Tanya Merisa penasaran.


"Jonny ingin melamar Kay untuk anaknya Ardi," sahut David sambil menatap ke arah langit.


"Apa! Tapi Kay kan masih kuliah, Yah!" Merisa terlihat sangat terkejut.


"Ayah tau, tadi Ayah juga sudah bilang sama Jonny, tapi Jonny tidak mempermasalahkan itu, katanya Kay bisa terus kuliah setelah menikah."


"Terus apa jawaban Ayah?"


"Ayah menyetujuinya, Bunda tau kan Ayah nggak bisa menolak permintaan Jonny. Kita berhutang budi sama Jonny, dia sudah banyak membantu Ayah."


"Tapi kita nggak bisa langsung memutuskannya, kita harus minta persetujuan Kay, karena ini juga menyangkut masa depan Kay," ucap Merisa masih belum bisa menerima keputusan suaminya.


Sebenarnya David juga ragu dengan keputusannya, tapi dia tidak bisa menolak permintaan Jonny yang telah banyak membantunya.


"Bunda tenang saja, Kay nggak akan menolak permintaan ayah."


"Tapi Bunda nggak yakin Kay akan menerima perjodohan ini," ucap Merisa khawatir.


"Bunda nggak usah khawatir, nanti biar Ayah yang bicara dan meyakinkan Kay. Ardi juga anak yang baik, Kay pasti juga menyukainya."


"Terserah Ayah saja, jika ini memang yang terbaik untuk Kay," ucap Merisa pasrah.


David tau kalau istrinya tidak setuju dengan keputusannya ini, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin ini yang terbaik untuk Kay.


"Terus gimana caranya memberitahu Kay tentang perjodohan ini?" Tanya Merisa bingung.


"Bunda telfon saja Kay, bilang sama Kay kalau Ayah sedang sakit. Dengan begitu Kay akan pulang, setelah itu sisanya biar Ayah yang mengurus," usul David.

__ADS_1


"Tapi apa itu nggak membuat Kay jadi khawatir?"


Merisa tidak ingin membuat Kay khawatir, maka dari itu Merisa tidak memberitahu Kay tentang penyakit ayahnya.


"Tapi hanya itu cara satu-satunya agar Kay mau pulang."


"Baiklah, jika itu kemauan Ayah," ucap Merisa menuruti permintaan suaminya.


Merisa mencoba untuk menelfon Kay.


Tutt..tutt..tutt..( ponsel Kay berbunyi )


Kay mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat siapa yang menelfon. Kay langsung mengangkat telfonnya.


"Halo, Bun," sahut Kay.


"Halo sayang, apa kabar?"


"Kabar Kay baik, Bun. Bagaimana kabar Ayah dan Bunda?" Tanya Kay balik.


"Kabar Bunda baik, oya kamu lagi dimana sekarang?"


"Kay lagi di kantin sama teman-teman Kay." Kay merasa curiga, karena bundanya jarang menelfon nya jika dia masih di area kampus.


"Ada apa bun? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Kay cemas.


Merisa hanya diam, dia tidak tau harus bilang apa sama Kay, karena Merisa takut membuat Kay cemas.


"Ada apa bun? Kenapa diam saja?" Tanya Kay lagi.


"Ayah kamu sayang," ucap Merisa gugup.


"Penyakit lama Ayah kamu kambuh lagi."


Wajah Kay menjadi pucat, dia terkejut mendengar kabar ayahnya yang sedang sakit. Arka dan Vero cemas melihat Kay.


"Ada apa sayang?" Tanya Arka cemas.


Kay merasa sangat sedih tak terasa air mata jatuh membasahi kedua pipinya. Kay langsung menjatuhkan ponselnya. Arka yang melihat Kay menangis menjadi semakin cemas.


"Sayang, katakan ada apa?" Tanya Arka yang semakin khawatir melihat keadaan Kay.


"Ayah aku, penyakit jantung Ayah aku kambuh lagi," ucap Kay disela tangisannya.


"Sayang kamu jangan sedih ya, Ayah kamu pasti baik-baik saja," ucap Arka sambil menghapus air mata Kay.


Vero mengambil ponsel Kay yang terjatuh dan menaruhnya di atas meja.


"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Vero.


"Aku akan pulang ke Pekanbaru, aku ingin melihat keadaan Ayahku."


"Terus kuliah kamu bagaimana sayang?" Tanya Arka cemas.


"Aku akan izin tiga hari, setelah itu aku akan balik lagi ke sini."


Arka tidak tega melihat Kay bersedih tapi Arka juga tidak mau jauh dari Kay lama-lama.

__ADS_1


"Kapan kamu akan berangkat?" Tanya Vero.


"Hari ini juga."


"Tapi sayang, terus aku bagaimana? Atau aku ikut kamu saja sekalian aku minta restu kedua orang tua kamu?"


"Nggak, kamu tau kan Ayah aku lagi sakit, jadi aku nggak mau membuat Ayah aku semakin cemas," tolak Kay.


"Baiklah sayang, tapi jangan lama-lama, karena aku nggak mau jauh darimu. Aku pasti akan sangat merindukan kamu," ucap Arka sambil menggenggam tangan Kay.


Sebenarnya Kay juga tidak tega meninggalkan Arka, tapi dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan ayahnya.


"Cuma tiga hari kok sayang," ucap Kay sambil menyentuh pipi Arka.


"Nanti biar aku antar kamu ke bandara," ucap Arka.


"Aku juga ikut," ucap Vero.


Setelah selesai makan, mereka kembali ke kelas. Setelah dua jam kelas berakhir. Mereka mengantar Kay ke ruangan Pak Faisal untuk meminta izin. Kay mengetuk pintu ruangan Pak Faisal.


Tok...tok...tok...


"Masuk," sahut Pak Faisal.


Kay membuka pintu dan masuk ke ruangan Pak Faisal.


"Ada apa Kay?" Tanya Pak Faisal.


"Gini Pak, saya mau minta izin sama Pak Faisal," ucap Kay gugup.


"Izin untuk apa?"


"Untuk pulang kampung, Pak. Ayah saya sedang sakit, saya sangat mengkhawatirkan keadaan Ayah saya."


"Ayah kamu sakit apa?" Tanya Pak Faisal ingin tau.


"Ayah saya sakit jantung."


"Bapak ikut sedih atas sakitnya ayah kamu, terus kamu mau izin berapa hari?"


"Tiga hari, Pak."


Kay menatap Pak Faisal penuh harap, dia berharap Pak Faisal mau memberinya izin.


"Baiklah, bapak akan mengizinkan kamu, tapi setelah itu kamu harus kembali lagi ke sini. Kamu tau kan sebentar lagi mau ujian, Bapak tidak ingin kamu ketinggalan materi pelajaran."


"Baik, Pak. Terima kasih ya Pak," ucap Kay sambil menjabat tangan Pak Faisal.


"Iya sama-sama, salam juga untuk ayah kamu semoga lekas sembuh."


Kay merasa sangat senang, karena Pak Faisal memberinya izin, dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Kay sangat mengkhawatirkan ayahnya, dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan ayahnya.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Kay.


"Silahkan."


Kay keluar dari ruangan Pak Faisal dan menutup pintu. Dia menatap Arka dan Vero yang sedari tadi menunggunya diluar pintu.

__ADS_1


"Gimana?" Tanya Arka dan Vero bersamaan.


~oOo~


__ADS_2