Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 13


__ADS_3

Kenzo menatap lekat ke arah Ardi, kini mereka tengah berdiri di luar cafe sambil menikmati angin malam yang begitu dingin dan sangat menusuk.


“Benaran kamu nggak ingat sama dia?” tanya Kenzo sambil terus menatap sahabatnya itu.


“Siapa? Maksud kamu gadis tadi?” tanya Ardi mengernyitkan dahinya.


Kenzo mengangguk, “kamu benar-benar nggak ingat?” tanyanya lagi.


Ardi menggeleng pelan, “memang dia siapa? Apa aku perlu mengingatnya?” tanyanya.


“Dia sepupu aku, dia gadis kecil yang dulu sempat kamu tabrak, saat kamu mabuk waktu kelulusan SMA. Apa kamu sudah melupakan kejadian itu?” Kenzo menghela nafas


panjang, “dia sempat mengalami koma selama 2 tahun lebih,” imbuhnya.


“Maksud kamu gadis yang tadi itu....Zahra!” seru Ardi terkejut. Kenzo tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


“Astaga, kenapa aku nggak bisa mengenalinya!” seru Ardi sambil meremas rambut kepalanya.


“Waktu itu Zahra baru berusia 7 tahun, mungkin itu yang membuat kamu tidak mengenalinya.”


“Aku minta maaf, aku nggak bisa menemaninya sampai dia siuman, karena aku harus kuliah di Pekanbaru.


Lalu apa yang terjadi pada Zahra saat aku pergi?” tanya Ardi penasaran.


“Setelah dua tahun kepergian kamu, Zahra sadar dari komanya, tapi dia sama sekali tidak bisa mengingat siapa dirinya. Gadis kecil itu hidup dalam ketakutan setiap waktu, entah apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Menurut dokter itu karena sebelum kecelakaan itu terjadi, ada sesuatu hal yang menimpa Zahra. Bahkan setelah ingatannya pulih dia tidak bisa mengingat hal buruk apa yang sempat dia alami dulu,” jelas Kenzo dengan wajah sedihnya.


“Maafkan aku, aku sendiri juga tidak ingat dengan apa yang terjadi malam itu, karena kondisiku yang mabuk. Yang aku ingat hanya tiba-tiba ada seorang gadis kecil berlari di depan mobil aku, dan saat aku melihat gadis yang tergeletak bersimbah darah itu ternyata adalah Zahra.” Ardi menghela nafas panjang, dia menatap langit


malam yang begitu indah dengan bertaburan bintang-bintang yang berkelip. “malam itu aku sangat panik, hingga akhirnya aku menghubungimu,” imbuhnya.

__ADS_1


“Nggak ada gunanya juga kamu menyesali semua itu, sekarang Zahra sudah bisa menjalani hidupnya seperti dulu lagi. Senyuman dan keceriaannya kini sudah kembali terpancar di wajahnya. Dia tumbuh menjadi gadis yang sangat cerdas bahkan sekarang dia kuliah kedokteran, dia bercita-cita ingin menjadi seorang dokter.”


“Kejadian itu terjadi 13 tahun yang lalu, berarti umur Zahra sekarang 20 tahun?” Kenzo mengangguk, “tapi wajahnya terlihat sangat dewasa,” imbuh Ardi.


“Itu kan menurut kamu, Zahra itu bagi aku masih gadis kecil yang manja. Dia sebenarnya sangat kesepian, karena kedua orangtuanya selalu sibuk bekerja. Makanya dia memutuskan untuk kuliah di Jepang.”


Tiba-tiba gadis yang tengah mereka bicarakan berjalan menghampiri mereka. Zahra tersenyum menatap Ardi, setelah itu dia menatap kakak sepupunya, “Kak, maaf ya, aku nggak bisa lama-lama. Aku takut nanti Mama dan Papa nyariin lagi,” ucapnya.


“Kamu pulang sama siapa? Apa kamu membawa mobil sendiri?” tanya Kenzo.


Zahra menggelengkan kepalanya, “aku bisa naik taksi,” ucapnya.


Kenzo menatap ke arah Ardi, “kamu nggak boleh naik taksi, ini sudah malam.” Kenzo mengerakkan


kedua alisnya dan memelototkan kedua matanya menatap Ardi tajam. Ardi mengerakkan bibirnya seolah-olah bertanya apa maksud dari isyarat sahabatnya itu.


“Aku nggak apa-apa kok, Kak. Aku pulang duluan.” Zahra menatap Ardi lalu sedikit membungkukkan tubuhnya dan tersenyum. Gadis itu pergi meninggalkan Kenzo dan Ardi.


“Kenapa sih kamu malah marah-marah sama aku, salah aku apa coba?”


“Aku tadi itu menyuruh kamu untuk mengantar Zahra pulang, anggap aja itu sebagai penebus kesalahan kamu selama ini sama dia, dasar stupid!”


“Makanya kalau ngomong itu yang jelas, mana paham aku bahasa isyarat seperti itu!” seru Ardi kesal.


“Kamunya saja yang nggak peka, kalau begitu sekarang kamu kejar Zahra dan antar dia pulang, aku ingin kamu


mengantarnya selamat sampai di rumah. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Zahra, kamu yang harus tanggung jawab,” ancam Kenzo lalu pergi meninggalkan Ardi.


Ardi mendengus kesal, “memangnya aku mau ngpain Zahra, pakai acara mengancam segala, dasar!” Ardi menepuk keningnya, “astaga Zahra!”

__ADS_1


Ardi bergegas mengejar gadis itu, beruntung gadis itu masih berdiri di pinggir jalan sambil menunggu taksi. Ardi berjalan mendekati Zahra, “mau aku antar pulang?” tawarnya saat dirinya sudah berdiri di samping gadis itu.


Zahra menatap ke arah samping, dia terkejut melihat Ardi sudah berdiri di sampingnya, “nggak usah, Kak. Terima kasih atas tawarannya,” tolaknya dengan senyuman di wajahnya.


“Aku mohon, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu.”


Zahra mengernyitkan dahinya, “soal apa ya?” tanyanya penasaran.


“Em...apa kamu masih ingat sama aku?”


Zahra menggelengkan kepalanya, “tapi tadi kata Kak Leo, kakak adalah orang yang menyelamatkan aku saat aku mengalami kecelakaan beberapa tahun yang lalu,” ucapnya.


Ardi tidak menyangka Leo akan mengatakan hal seperti itu kepada Zahra. Dia tidak ingin membohongi gadis itu lagi, dirinya akan menceritakan hal yang sebenarnya terjadi, meskipun semua itu bukan murni kesalahannya.


“Izinkan aku mengantar kamu pulang, aku akan menceritakan semuanya,” pinta Ardi.


Zahra menatap lekat wajah pria yang kini tengah berdiri di depannya, “sebenarnya siapa dia, kenapa wajahnya seakan tidak asing? Apa aku dulu mengenalnya?” tanyanya dalam hati.


“Gimana, mau nggak?” tanya Ardi lagi, kali ini pertanyaannya itu mendapat anggukkan dari gadis yang berdiri di depannya sambil terus menatap wajahnya.


Ardi mengajak Zahra menuju mobilnya, dia bahkan membukakan pintu mobil untuk gadis itu. Ardi bergegas menuju pintu pengemudi dan masuk ke dalam mobil. Saat hendak melajukan mobilnya Ardi menyuruh Zahra untuk memasang sabuk pengaman.


Ardi melihat gadis itu begitu kesulitan saat memasang sabuk pengaman itu, dia lalu mencondongkan tubuhnya semakin dekat dengan gadis itu, saat ini wajahnya hanya berjarak beberapa cm dari wajah Zahra.


Kedua mata Zahra membulat seketika saat jarak wajahnya terlalu dekat dengan Ardi. Ardi menatap lekat wajah cantik gadis itu, tatapan mata gadis itu mengingatkannya dengan seseorang. Tanpa Ardi sadari dirinya memanggil nama Kay.


Zahra mendorong tubuh Ardi, “apa yang kamu lakukan!” serunya.


Ardi tersentak, dia tersadar dari lamunannya yang terbuai akan tatapan mata Zahra. Tatapan itu sama seperti tatapan mata Kay, “m—maaf, aku nggak bermaksud untuk...aku tadi hanya ingin membantu kamu memasang sabuk pengaman. Maafkan aku,” ucapnya menyesal.

__ADS_1


Zahra akhirnya bisa mengancingkan sabuk pengaman itu, dia lalu menatap ke arah Ardi, “sebenarnya siapa kamu, apa kamu mengenalku? Apa kita saling mengenal?” tanyanya penasaran.


~oOo~


__ADS_2