Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bukan istri yang sempurna


__ADS_3

Ardi dan Zahra sangat terkejut saat Arka, Kay, Kevin dan Ansel mendatangi rumah mereka. Ardi begitu sangat merindukkan Kevin, setelah dia menikah dengan Zahra, Ardi dan Kevin memang sudah jarang berkomunikasi. Itu juga alasan Kevin memutuskan sekolah di Jogja, agar dia bisa dekat dengan Ardi.


“Apa kabar, Ra?” tanya Kay.


“Baik, Kak,” ucap Zahra sambil menepiskan senyumannya.


Ardi duduk berjongkok di depan Ansel, “keponakan Om ini ternyata sudah besar, sekarang kamu sudah kelas berapa sayang?” tanyanya.


“Sekarang Ansel sudah kelas 4, Om,” ucap Ansel.


“Wah, sudah secepat itu, Om nggak mengira kamu akan secepat itu tumbuh besar,” ucap Ardi sambil mengusap puncak kepala Ansel.


Ardi lalu berdiri, “kamu juga sudah besar sayang, bahkan tinggi badan kamu sudah hampir sama dengan Ayah,” ucapnya.


Kevin lalu memeluk Ardi dengan sangat erat, “Kevin kangen sama Ayah,” ucapnya.


Ardi mengusap punggung Kevin, “Ayah juga sangat merindukkan Kevin,” ucapnya.


Setelah itu Kevin memeluk Rasya, dia juga sangat merindukkan adiknya itu. Ansel dan Kevin tidak lupa mencium tangan Zahra. Setelah acara kangen-kangennya selesai, Zahra lalu menyuruh mereka untuk duduk di sofa ruang tamu. Wanita itu juga menyuruh asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman untuk keluarganya yang baru datang dari jauh.


Arka mengatakan kepada Ardi apa alasan mereka datang ke Jogja. Ardi dan Zahra sangat senang mendengar jika Kevin ingin melanjutkan sekolahnya di Jogja, itu berarti Rasya akan mempunyai teman nantinya.


“Lalu bagaimana dengan kamu sayang, jika kakak kamu tinggal sama Om disini, nanti kamu nggak punya teman dong di rumah,” ucap Ardi menggoda Ansel.


“Kan teman Ansel bukan hanya kakak, Om. Teman Ansel itu banyak, dan mereka setiap hari datang ke rumah Ansel,” ucap Ansel.


“Kevin memang jarang main sama Ansel, Kak, karena Ansel lebih suka main sama teman sebayanya, sedangkan Kevin sibuk dengan buku pelajarannya,” ucap Arka.


Ardi mengusap lengan Kevin, “itu baru anak Ayah, lebih baik belajar daripada bermain, nggak kayak ayah kamu itu yang lebih suka bermain dan malas untuk belajar,” ledeknya.


“Karena bermain itu lebih menyenangkan, Kak, ketimbang belajar. Cukup di sekolah saja kita belajar, kalau di rumah ya bermain,” ucap Arka.


“Tapi Kevin nggak suka membuang-buang waktu untuk hal yang nggak penting seperti itu, Yah,” ucap Kevin dan langsung mendapatkan acungan ibu jari dari Ardi dan Kay.


“Jangan tiru Ayah kamu, jadilah anak yang bisa membanggakan bagi Ayah dan Bunda,” ucap Kay.

__ADS_1


“Silahkan di minum,” ucap Zahra saat asisten rumah tangganya sudah meletakkan minuman itu di atas meja.


***


 


Saat ini Ardi dan Arka tengah mengobrol di teras depan, sedangkan Zahra dan Kay sedang menyiapkan makan siang. Kevin, Rasya dan Ansel tengah bermain playstation di ruang tamu.


“Kak, aku titip Kevin ya, sebenarnya aku sangat berat melepaskan Kevin, tapi kakak tau sendirikan, dia sangat keras kepala. Apa yang dia minta harus dituruti.”


Ardi tersenyum, “kalau urusan keras kepala, Kevin sangat mirip denganmu. Kamu dulu juga keras kepala seperti Kevin, apa yang kamu inginkan harus kamu dapatkan,” ucapnya.


“Kak,” panggil Arka pelan.


“Hem...” Ardi hanya menjawab dengan deheman.


“Kakak baik-baik saja kan?”


Ardi menganggukkan kepalanya, “tapi kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanyanya penasaran.


“Kakak jangan pernah menyerah, kakak pasti akan mempunyai anak lagi nantinya.”


“Kakak jangan pernah berkata seperti itu, nggak akan ada karma untuk orang baik seperti kakak. Yang seharusnya mendapatkan karma itu seharusnya aku, karena aku sudah jahat sama kakak.”


Ardi menepuk bahu Arka, “sudahlah nggak usah membahas itu lagi, kalau di bahas nggak akan ada habisnya, yang ada kita akan semakin terluka nantinya,” ucapnya.


***


 


Kay yang sejak tadi mengamati raut wajah Zahra yang terlihat sangat murung pun merasa penasaran. Wanita itu memberanikan diri untuk bertanya kepada Zahra.


“Ra, apa kamu sedang sakit?” tanya Kay saat melihat wajah Zahra yang terlihat pucat.


Zahra menggelengkan kepalanya, “mungkin aku hanya kecapean, Kak. apalagi tugas seorang dokter itu sangat melelahkan,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.

__ADS_1


“Lebih baik kamu duduk saja.” Kay lalu membantu Zahra untuk duduk, “biar aku yang menyelesaikannya,” imbuhnya.


“Makasih ya, Kak. maaf aku sudah merepotkan kakak.”


“Santai saja lagi.” Kay lalu mulai membuat makanan untuk makan siang.


Kay memasak sambil bercerita dengan Zahra, Kay ingin tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Zahra dengan Ardi selama dua tahun ini. Kay terlihat sangat terkejut saat Zahra menceritakan tentang kedatangan Monic waktu itu. Dan bagaimana Monic berusaha untuk meracuni jalan pikiran Rasya.


“Lalu apa yang dilakukan Kak Ardi? Apa dia hanya akan diam saja?”


Zahra menggelengkan kepalanya, “Kak Ardi bahkan sampai mengancam Kak Monic kalau dia sampai macam-macam dan membawa pulang Rasya ke negaranya,” ucapnya.


“Jadi Kak Ardi sudah bisa melawan Monic?” Kay terlihat sangat terkejut saat mendengar apa yang Zahra katakan. Sedangkan saat dulu mereka masih bersama, Ardi bahkan tidak berani meninggalkan Monic untuk bisa hidup bersamanya.


“Memangnya dulu Kak Ardi seperti apa?” tanya Zahra penasaran.


“Bukan apa-apa, lagian itu hanya masa lalu, dan kamu adalah masa depannya,” ucap Kay dengan senyuman di wajahnya.


“Tapi aku hanyalah istri yang tak sempurna untuk Kak Ardi,” ucap Zahra sambil menundukkan wajahnya.


“Kenapa kamu bilang seperti itu? Kamu adalah istri yang paling Kak Ardi sayangi selama ini. Kamu adalah istri yang sempurna untuk Kak Ardi.”


“Tali aku nggak bisa memberikan apa yang Kak Ardi inginkan.”


Kay mengernyitkan dahinya, “apa itu? Keinginan apa lagi yang Kak Ardi inginkan di dunia ini selain dirimu?” tanya Kay penasaran.


“Hadirnya seorang anak, dan aku nggak bisa memberikan itu untuk Kak Ardi.”


Kay yang sudah selesai memasak, mulai menyiapkan makan siang untuk mereka. Setelah itu wanita itu menepuk pundak Zahra, “jangan pernah menyerah, karena kamu juga harus berpikir positif. Kak Ardi aku yakin nggak mempermasalahkan semua itu,” ucapnya.


Kay memang sangat berbeda dengan Monic. Zahra merasa nyaman saat berbicara dengan Kay, karena Kay wanita yang sangat ramah dan baik hati. Selain itu Zahra juga sudah menganggap Kay seperti kakaknya sendiri. Meskipun dirinya terkadang masih cemburu saat Ardi dan Kay hanya mengobrol berdua saja, meskipun dia tau tidak ada apa-apa di antara mereka. Karena mereka hanya membahas soal Kevin maupun Rasya.


Kay pun memanggil Ardi, Arka dan anak-anak untuk makan siang bersama, sedangkan Zahra hanya duduk diam sambil menghapus air matanya. Dia tidak ingin suaminya dan yang lainnya menjadi begitu khawatir nantinya, saat melihat dirinya yang tengah menangis.


~oOo~

__ADS_1


 


 


__ADS_2