Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 18


__ADS_3

Kenzo mengambil ponselnya dari atas meja, dia lalu mengangkat telfon itu, “ada apa?” tanyanya dengan malas.


“Ayo kita nongkrong malam ini,” ajak Leo.


“Aku lagi malas ke mana-mana.”


“Nggak kayak biasanya kamu menolak ajakan aku, apa kamu sedang ada masalah?” tanya Leo penasaran.


Kenzo menghela nafas lelah, “aku hanya ingin sendiri,” ucapnya lalu mengakhiri panggilan.


Kenzo memasukkan ponselnya ke saku celananya, dia lalu berjalan keluar dari kamar. Pria itu nampak begitu lesu, seperti orang yang mempunyai beban yang teramat berat. Beberapa hari ini Kenzo tidak pergi ke kantor Ardi untuk menemui gadis yang di sukai.


Kenzo mulai ragu untuk terus mengejar gadis itu, saat dirinya mengetahui sang pujaan hati sudah tertarik dengan pria lain. Jika dirinya tidak mengenal pria itu, maka dia tidak akan menyerah semudah itu, tapi pria itu adalah sahabatnya sendiri.


Kenzo mengacak-acak rambutnya karena frustasi, belum pernah dia merasa sefrustasi ini hanya gara-gara seorang gadis. Apa aku harus menyerah? Apa Ardi juga menyukai Micel? Apa yang harus aku lakukan? Perasaan yang seperti apa yang aku rasakan saat ini, aku bahkan tidak pernah sefrustasi


ini. Pikirnya.


Kenzo merasakan getaran di saku celananya, dia mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelfon nya, Zahra! Pria itu lalu menjawab telpon itu, “ada apa?” tanyanya.


“Kak, apa yang harus aku lakukan? Mama terus menghubungi ku, Mama terus meminta aku untuk pulang ke Jogja. Aku bingung, Kak.”


“Aku nggak tau, semua keputusan ada di tangan kamu. Kemarin aku minta pendapat temen aku, dia bilang, jika kamu sayang sama kedua orang tua kamu, kamu harus kembali ke Jogja dan menemani keluarga kamu. Tapi jika kamu memilih untuk tetap kuliah di sana, itu namanya kamu egois.”


“Memangnya kakak minta pendapat siapa, memangnya salah kalau aku mengejar impian aku, memangnya salah kalau aku lebih memilih untuk tetap di sini. Siapa yang bisa seenaknya mengatakan jika aku egois!” seru Zahra kesal.


“Ardi.”


“Apa! Maksud kakak, Ardi teman kakak yang saat itu ikut makan malam?”

__ADS_1


“Heem...” kenzo menjawab dengan malas. Masalahnya sendiri saja belum ada jalan keluarnya, sekarang dirinya masih harus memikirkan masalah sepupunya.


“Sekarang kirimi aku nomor telfon teman kakak itu.”


“Bukannya kamu punya nomor telfonnya, lalu untuk apa kamu meminta nomor telfonnya lagi?”


“Sudah aku hapus, lagian nggak penting juga,” sahut Zahra ketus.


“Apa kamu dan Ardi ada masalah?” tanya Kenzo penasaran. Pria itu kembali teringat akan ucapan Micel di restauran waktu itu, tentang kecurigaan bahwa Ardi tertarik dengan sepupunya.


‘Nggak ada, Kak. Hanya saja untuk apa aku menyimpan nomor telfonnya, sedangkan dia juga bukan siapa-siapa, sahabat bukan, keluarga juga bukan. Selain itu aku sama dia tidak akan bertemu lagi.”


“Tapi jika takdir akhirnya mempertemukan kalian lagi bagaimana? Jika ternyata kamu dan Ardi akan tetap terhubung bagaimana?”


Pertanyaan Kenzo membuat Zahra


mengernyitkan dahi, gadis itu tidak paham dengan ucapan kakak sepupunya itu, “maksud kakak apa? Takdir! Takdir apa yang akan mempertemukan aku dan dia?” tanyanya.


***


Setelah menyelesaikan setumpuk berkas-berkas di atas meja kerjanya, Ardi lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Pria itu menghela nafas panjang, dirinya kini tengah memikirkan apa yang harus dia lakukan. Setiap hari anaknya selalu merengek ingin bertemu dengan Kay dan juga Kevin.


“Apa yang harus aku lakukan?” Ardi mendengar suara dering ponselnya.


Pria itu mengernyitkan dahi saat melihat nama yang tertera di layar pipih itu, “Zahra!” serunya. “untuk apa dia menelfonku, ini pertama kalinya dia menghubungiku sejak pertemuan terakhir waktu itu,” imbuhnya.


Ardi akhirnya menjawab panggilan itu, “halo,” sahutnya.


“Apa maksud kakak bilang sama Kak Kenzo kalau aku egois?” tanya Zahra langsung.

__ADS_1


Ardi mengernyitkan dahinya bingung, setelah sekian lama tidak bertemu, bahkan tidak saling menghubungi, tapi saat pertama kalinya gadis itu menghubunginya yang dia dengar malahan pertanyaan yang sama sekali tidak dia mengerti apa maksudnya, “maksud kamu apa? Memangnya apa yang sudah aku katakan sama Kenzo?” tanyanya balik.


“Kakak nggak perlu berpura-pura lupa. Bukannya kakak bilang sama Kak Kenzo kalau aku egois jika aku lebih memilih


mengejar impian aku dari pada aku menuruti permintaan kedua orang tuaku?”


Ardi mengangguk mengerti, dia mulai bisa mengerti arah pembicaraan ini. Soal pendapat aku itu ya, pikirnya. “aku memang bilang seperti itu kepada Kenzo, tapi aku nggak bermaksud untuk mengatai kamu egois. Itu kan pendapat aku, jika aku di posisi kamu, tapi semua keputusan kan ada di tangan kamu. Apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?” tanyanya.


“Apa!” seru Zahra ketus.


Dasar gadis galak, pikirnya. “kalau aku boleh tau, kenapa kamu nggak suka kuliah di Jogja dan lebih memilih kuliah di Jepang, bukannya universitas di sini juga bagus?” tanyanya penasaran.


“Kakak nggak perlu tau,” sahut Zahra masih dengan nada ketus.


Ardi menghela nafas panjang, menghadapi gadis yang baru beranjak dewasa memang mesti exstra bersabar, “apa di sini kamu nggak bisa bebas seperti di Jepang? Apa kamu suka dengan kehidupan yang bebas hingga kamu bisa melakukan apa yang kamu mau tanpa larangan siapapun?” tuduh Ardi.


“Kakak ini tau apa soal aku. Apa kakak tau betapa sulitnya hidup aku selama ini, mempunyai kedua orang tua, tapi tak pernah merasakan kasih sayang mereka. Yang mereka perduli kan hanya kerja...kerja dan kerja. Mereka pikir dengan memberiku uang yang banyak itu bisa membuat aku bahagia. Kakak sama sekali tidak mengerti perasaan aku, jadi jangan ikut campur urusan aku!” teriak Zahra, cairan bening kini mengalir dari


kedua sudut matanya.


Ardi bisa mendengar isak tangis gadis itu, dirinya merasa sangat bersalah karena telah membuat gadis itu menangis. Pria itu bingung harus berkata apa untuk menghibur gadis itu. Saat dirinya ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba gadis itu mengakhiri panggilannya.


Ardi meraup wajahnya dengan sangat gusar, apa yang telah aku lakukan. Aku telah membuat Zahra menangis, pikirnya. Pria itu lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya, “apa aku terlalu ikut campur dengan kehidupan gadis itu, tapi aku hanya mengutarakan pendapat aku saja, letak kesalahan aku di mana coba.”


Ardi memijit kedua pelipisnya yang terasa sangat pening. Masalah dengan putranya belum selesai, tapi kini timbul masalah baru, yang tidak terduga adalah masalah itu berhubungan dengan gadis yang sering muncul di benaknya akhir-akhir ini.


~oOo~


__ADS_1



__ADS_2