Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 34


__ADS_3

Kini Zahra sudah berada di rumah Ardi. Gadis itu kini tengah bercengkrama dengan keluarga Ardi selagi menunggu Ardi memasak makan siang untuknya. Zahra tidak menyangka jika Ardi lah yang akan memasakkan makan siang


untuknya. Gadis itu begitu tersentuh dengan sikap pria itu.


“Maafkan tante ya. Tante tidak tau kalau kamu mau makan siang di sini. Tau gini tadi tante nggak ngajak Kay dan Arka untuk makan siang lebih awal,” ucap Lina.


“Nggak apa-apa kok, Tan. Zahra juga nggak tau kalau Kak Ardi ingin mengajak makan siang di rumahnya, ini sama sekali nggak di rencana,” ucap Zahra sambil menepiskan senyuman.


“Em...kalau boleh tau, apa hubungan kamu sama Kak Ardi?” tanya Arka penasaran.


“Em...kami hanya berteman. Iya...hanya sebatas teman,” ucap Zahra.


Arka mengangguk mengerti, “tapi...kalau menurut sudut pandang aku, Kak Ardi bukan hanya menganggap kamu teman,” ucapnya.


“Kak Arka pasti salah, Kak Ardi hanya menganggap aku teman, karena Kak Ardi kan sudah punya calon istri,” ucap Zahra. Arka, Kay, dan Lina membulatkan kedua matanya, mereka nampak terkejut mendengar kata-kata Zahra.


“Calon istri? Siapa? Kok Ardi nggak pernah bilang sama Tante,” ucap Lina terkejut.


Arka dan Kay saling menatap, “siapa? Kok kami tidak tau?” tanya mereka kompak.


Zahra menyengir kuda, apa aku salah bicara? Pikirnya. Gadis itu lalu menggaruk-ngaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Apa kamu tau siapa wanita itu? Kalau kamu tau kasih tau tante,” pinta Lina.


“Em...sebenarnya Zahra...sebenarnya...itu...” gadis itu nampak bingung dengan apa yang akan dia katakan.

__ADS_1


“Apa Kak Ardi melarang kamu untuk memberi tahu kami?” tanya Arka sambil mengernyitkan dahinya.


“Memberi tahu soal apa?” tanya Ardi sambil berjalan mendekati mereka.


“Soal calon istri kamu sayang. Kata Zahra kamu sudah mempunyai calon istri, kenapa kamu tidak memberi tahu Mama?” tanya Lina.


Ardi menghela nafas, dia lalu menatap Zahra yang nampak menyengir kuda sambil mengatupkan kedua telapak tangannya, “Ardi memang sudah mempunyai calon istri, Ma. Tapi dia tidak tau kalau Ardi menyukainya,” ucapnya.


“Hah...” apa maksudnya? Mungkin ini sekarang yang ada di pikiran Arka, Kay, Lina dan juga Zahra. Mulut mereka menganga, kedua mata mereka mengerjap tidak percaya.


“Kakak ini bercanda ya, mana ada kakak sudah menganggap dia calon istri tapi wanita itu tidak tau kalau kakak menyukainya,” ucap Arka sambil menggelengkan kepalanya.


“Sayang, bercanda kamu ini nggak lucu,” ucap Lina.


“Tapi kata Kak Micel...kalian itu saling mencintai,” ucap Zahra.


“Siapa? Micel? Siapa itu?” tanya Lina sambil mengernyitkan dahinya.


“Apa maksud kamu Micel...Micel sekretaris Kak Ardi?” tanya Kay begitu terkejut.


“Wah...kakak, aku nggak menyangka kakak akan jatuh cinta sama sekretaris kakak. Sudah kayak judul novel aja... Bos ku adalah suamiku,” ledek Arka sambil tertawa.


“Aku dan Micel nggak ada hubungan apa-apa. Hubungan kami murni hanya bos dan sekretaris, nggak lebih,” elak Ardi.


“Tapi waktu itu Kak Micel...”

__ADS_1


“Zahra, katanya kamu lapar, ayo makan, makanan sudah siap,” ucap Ardi lalu melangkah pergi.


Apa dia marah? Apa kata-kata aku ada yang salah? Zahra menatap Kay yang kini juga tengah menatapnya, “apa semua ini karena ada Kak Kay di sini, hingga Kak Ardi menyangkalnya?” gumamnya dalam hati.


Zahra beranjak dari duduknya, dia lalu meminta izin untuk pergi ke ruang makan. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju ruang makan, dia melihat Ardi tengah duduk di meja makan sambil melipat kedua lengannya di dada. Dia benar-benar marah, pikirnya.


Zahra menarik salah satu kursi di depan meja makan, tepatnya di depan tempat Ardi duduk, “apa aku melakukan kesalahan?” tanyanya.


“Duduklah, katanya tadi kamu lapar.”


Zahra mengangguk, dia lalu mendudukkan tubuhnya di kursi itu, “maaf,” ucapnya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.


Ardi menghela nafas, dia lalu mengambilkan makanan untuk gadis itu lalu meletakkannya di depan gadis itu, “makanlah,” ucapnya.


“Kak...” gadis itu merasa tidak enak hati, apa yang akan dia lakukan jika pria di depannya ini benar-benar marah padanya. Apa aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadinya? Pikirnya.


“Kamu mau makan sendiri atau harus aku suapi,” ucap Ardi dengan sorot mata yang tajam.


Zahra mengerucutkan bibirnya, “iya-iya aku makan,” ucapnya lalu mulai mengambil satu sendok makanan lalu dia suapkan ke mulutnya.


Astaga, bagaimana aku bisa marah kalau mukanya imut seperti itu kalau sedang kesal. Bagaimana aku bisa jatuh cinta dengan gadis ini? Pikirnya sambil menatap Zahra yang masih mencemberutkan bibirnya saat tengah makan.


“Nggak usah cemberut kayak gitu, kalau kamu masih cemberut kayak gitu, nanti aku akan memakanmu,” ucap Ardi sambil melipat kedua lengannya di dada. Kedua mata Zahra membulat seketika.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2