
“Kenapa kakak hanya diam, apa kata-kata aku ada yang salah?” tanya Zahra sambil mengernyitkan dahinya.
“Aku belum cerita sama kamu ya soal kehidupan aku.”
Zahra menggelengkan kepalanya, “tapi jika kakak nggak ingin cerita juga nggak apa-apa, lagi pula itu juga nggak ada hubungannya dengan aku,” ucapnya.
“Aku dan Kay menikah karena di jodohkan, Kay sama sekali tidak mencintai aku. Tapi aku sudah mencintai Kay sebelum perjodohan itu. Aku dan Kay memang tidak saling mengenal. Waktu itu aku kuliah di Pekanbaru, dengan
tidak sengaja aku berpapasan dengan gadis remaja, dia sangat cantik, ceria, dan selalu peduli dengan sesama. Aku waktu itu sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk berkenalan dengannya...”
“Jadi kakak hanya diam saja?”
Ardi mengangguk, “aku hanya mengamatinya saja, dengan melihatnya itu bagi ku sudah cukup. Setelah aku lulus aku kembali ke Jogja, dan setelah satu tahun aku kembali ke Pekanbaru untuk mencarinya tapi aku tidak
menemukannya,” ucapnya.
“Apa kakak juga tidak tau alamat rumahnya?” tanya Zahra penasaran.
“Jangankan alamat rumah, nama saja aku nggak tau,” ucap Ardi dengan menepiskan senyumannya.
“Astaga! Jadi selama itu apa yang kakak lakukan? Ternyata masih ada ya pria seperti kakak yang takut untuk mendekati cewek yang dia suka,” ucap Zahra sambil menggelengkan kepalanya.
“Dulu sifat aku nggak seperti sekarang. Aku dulu pria yang dingin, aku aku juga nggak suka bergaul. Dari dulu sampai sekarang sahabat aku hanya Kenzo dan Leo,” aku Ardi dengan sedikit merasa malu.
“Aku nggak percaya kalau Kak Ardi orang yang dingin dan nggak pandai bergaul, nyatanya Kak Ardi sekarang bisa dekat dan mengenal aku, padahal awalnya kita juga tidak saling kenal.”
Itu karena aku ada rasa sama kamu, aku ingin memperjuangkan perasaan ini, aku ingin mengejarmu, aku nggak ingin seperti dulu, mencintai seseorang dalam diam, “sekarang aku sudah berubah, itu semua karena Kay, dia yang merubah sifat aku yang dingin menjadi hangat. Dan soal keakrapan kita itu karena aku nggak mau mengulang masa lalu yang mungkin akan aku sesali seumur hidup aku.”
“Memangnya apa itu? Penyesalan seperti apa yang kakak maksud?” tanya Zahra penasaran.
“Sekarang kamu sudah seperti wartawan yang haus akan berita,” ledek Ardi.
Zahra terkekeh, “itu karena cerita kakak menarik. Ada yang membuat aku penasaran sampai sekarang,” ucapnya.
“Apa itu?”
__ADS_1
“Kenapa Kak Kay bisa menikah dengan adik kakak? Apa kakak nggak sakit hati melihat wanita yang kakak cintai menikah dengan adik kakak sendiri?”
Sakit hati...tentu aku sakit hati, bahkan rasa sakit itu masih aku rasakan sampai sekarang. Ardi menggelengkan kepalanya, “justru aku yang sudah membuat Arka sakit hati,” ucapnya.
“Kok bisa gitu? Bukannya Kak Arka yang sudah merebut Kak Kay dari kakak? Pada hal Kak Kay itu kakak iparnya sendiri.”
“Sebelum menikah denganku ternyata Arka dan Kay adalah sepasang kekasih.” Zahra membulatkan kedua matanya, “Kay tidak tau kalau aku kakaknya Arka, aku juga tidak tau kalau Kay kekasihnya Arka. Kita sama-sama
tidak tau, kami menikah karena di jodohkan, aku mau menerima perjodohan itu karena aku mencintai Kay, tapi Kay menerima perjodohan itu karena terpaksa. Demi membahagiakan kedua orangtuanya Kay rela melepaskan Arka dan menikah denganku,” jelasnya.
“Ternyata ada juga ya kisah seperti ini, aku nggak menyangka perjalanan cinta kakak serumit ini. Apa lagi kakak setiap hari harus melihat wanita yang sangat kakak cintai menjadi milik adik kakak sendiri.” Zahra merasa
iba mendengar kisah cinta Ardi, di mata gadis itu selama ini pria itu sudah sangat menderita dengan menahan perasaannya kepada wanita yang sangat di cintainya yang kini sudah menjadi adik iparnya.
“Kamu sudah mendengar cerita cinta aku, sekarang giliran kamu, ceritakan tentang cinta kamu.”
“Kakak kan sudah tau kalau aku belum pernah pacaran, jadi nggak ada yang bisa aku ceritakan,” ucap Zahra sambil menepiskan senyumannya.
“Kalau sekarang, apa ada pria yang kamu sukai?” Ardi ingin tau isi hati Zahra yang sebenarnya.
“Apa nggak ada pria yang membuat kamu tersentuh sedikitpun?” tanya Ardi lagi, dia sedikit merasa kecewa dengan jawaban gadis itu.
“Pria yang membuat aku tersentuh ya...kayaknya ada.”
“Siapa?” tanya Ardi begitu ingin tau, dia berharap dirinyalah orang itu.
“Rahasia,” ucap Zahra sambil menggerakkan kedua alisnya.
“Ya...” kecewa.
“Kak Kenzo mana ya, makan siang saja lama banget,” ucap Zahra sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
“Kenapa, apa kamu nggak betah ngobrol sama aku?”
“Hem...bukan gitu, Kak. Aku..aku lapar,” ucapnya sambil menyengir kuda.
__ADS_1
“Dasar, kenapa nggak bilang dari tadi. Gimana kalau kamu makan siang di rumah aku, sekalian aku ingin lebih mengenalkan kamu sama keluarga aku,” tawar Ardi.
“Hah...kakak serius! Nanti keluarga kakak mikir yang macam-macam gimana? Bukannya mamanya Kak Ardi ingin mencarikan jodoh untuk Kak Ardi?” tanya Zahra terkejut.
“Kamu tenang saja, aku sudah menemukan jodoh aku. Jadi mama nggak akan membicarakan itu lagi.”
Pasti wanita itu Kak Micel, aku sampai lupa kalau Kak Micel melarang aku untuk dekat-dekat dengan Kak Ardi, lalu apa yang harus aku katakan sama Kak Ardi? Zahra nampak tengah melamun.
Ardi menyikap rambut Zahra ke belakang daun telinga Zahra yang membuat gadis itu begitu terkesiap, “kenapa malah bengong, mau nggak?” tanyanya lagi.
Zahra sedikit memundurkan tubuhnya karena sekarang jarak tubuhnya begitu dekat dengan pria itu, “apa tidak apa-apa, nanti calon istri kakak marah?” tanyanya.
Ardi tersenyum sambil mengusap puncak kepala gadis itu, “dia nggak akan marah, justru sekarang dia tengah bimbang, antara mau atau tidak,” godanya.
Zahra mengernyitkan dahinya, “nggak usah bercanda deh, aku ini serius. Aku takut di tuduh perebut calon suami orang,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Ardi kini malahan ikutan mengernyitkan dahi, pria itu terkejut mendengar kata perebut calon suami orang. Dia begitu penasaran, siapa yang tega menuduh gadis yang tengah duduk di depannya, “siapa yang bilang seperti itu
sama kamu?” tanyanya.
“Ya calon istri kakak lah, siapa lagi.”
“Calon istri? Siapa?” Ardi semakin di buat bingung dengan jawaban Zahra yang terus berbelit-belit.
“Kan kakak yang punya calon istri, masa kakak tidak tau siapa dia, gimana sih!” seru Zahra kesal.
“Bagaimana aku bisa tau, sedangkan calon istri aku aja di depan...” Ardi menghentikan ucapannya, aku hampir saja keceplosan, rutuknya.
“Di depan apa, Kak? Jangan bilang Kak Micel ada di depan?” tanya Zahra cemas.
“Micel!”
“Iya..Kak Micel, bukannya calon istri kakak itu Kak Micel?”
~oOo~
__ADS_1