
Zahra dengan langkah kakinya yang santai berjalan mendekati seseorang yang sudah menunggunya di bangku taman. Gadis itu melipat kedua lengannya di dada saat dirinya sudah berada tepat di depan orang itu.
“Kenapa kakak menyuruh aku ke sini?” tanyanya.
“Duduk dulu.”
Zahra menggelengkan kepalanya, “aku nggak mau, kalau marah sama kakak,” ucapnya.
Kenzo menarik tangan Zahra lalu mendudukkannya di bangku taman, “itu tadi nomor aku yang lain, terserah mau kamu save apa nggak,” ucapnya.
“Itu nggak penting!”
“Aku tau kamu marah sama aku karena yang terjadi tadi di restoran, tapi...” Kenzo belum sempat menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh Zahra.
“Kakak tega ya sama aku, apa kakak sengaja menyuruh Kak Ardi untuk mencium ku? Kakak kan tau itu ciuman pertama aku, Kak!” seru Zahra marah.
“Maafin aku, tapi kamu harus tau satu hal, sebenarnya Ardi...dia...”
“Kenzo!” teriak Ardi dari jauh. Ardi lalu berlari menghampiri Zahra dan Kenzo, “jangan katakan apa pun sama Zahra, karena aku sendiri yang akan mengatakannya,” ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.
“Kamu tau dari mana kalau kita di sini?” tanya Kenzo terkejut.
Ardi mengatur nafasnya yang terengah-engah, setelah merasa nafasnya sudah mulai teratur dia menjawab pertanyaan Kenzo, “aku tadi mengikuti taksi yang Zahra tumpangi, dan aku melihat taksi itu keluar dari arah taman,”
ucapnya.
“Kenapa Kak Ardi mengikuti aku, di antara kita sudah tidak ada lagi yang harus di bicarakan, sandiwara kita sudah berakhir,” ucap Zahra sambil memalingkan wajahnya.
“Kenzo, bisa tinggalkan kita berdua?” pinta Ardi.
“Nggak! Kak Kenzo nggak boleh kemana-mana. Bukannya Kakak yang tadi menyuruh aku ke sini, pakai acara mengancam segala,” ucap Zahra.
“Aku sebenarnya ingin membicarakan soal Ardi, tapi berhubung Ardi nya sudah ada di sini, biar dia yang mengatakannya sendiri.” Kenzo lalu beranjak dari duduknya, “lebih baik aku pergi, aku harap kalian bisa segera
__ADS_1
menyelesaikan urusan kalian,” imbuhnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.
Ardi mendudukkan tubuhnya di samping Zahra, dia ingin menggenggam tangan gadis itu, tapi dengan cepat Zahra menepis tangan Ardi. Ardi menghela nafas, “aku minta maaf karena aku telah lancang mencium bibir kamu, tapi aku
punya alasan,” ucapnya.
Zahra menaikkan kedua alisnya, matanya membulat dengan sempurna, “apa! Alasan! Maksud kakak alasan untuk memanfaatkan situasi!” serunya emosi.
Ardi menggeleng, “bukan seperti itu, aku melakukan itu karena aku...aku mencintai kamu. Ini bukan sandiwara tapi kenyataan, kenyataan kalau aku benar-benar jatuh cinta sama kamu. Aku nggak tau kenapa aku bisa begitu mencintai kamu, mungkin karena tatapan mata kamu,” ucapnya.
Zahra tersenyum miring, “apa kakak bilang, kakak jatuh cinta sama aku karena tatapan mata aku? Aku bukan Kak Kay, Kak. Aku Zahra...aku tau kenapa suka sama aku, karena tatapan mata aku yang sama seperti tatapan mata
Kak Kay, wanita yang sampai sekarang masih kakak cintai, begitu kan maksud kakak!” serunya.
“Aku tau ini terlihat sangat konyol dan kamu tidak percaya sama aku. Tapi aku benar-benar...”
“Cukup, Kak! Aku kenal kakak sudah lebih dari 3 bulan, kakak juga sudah menceritakan semua tentang kakak, termasuk cinta kakak terhadap Kak Kay yang sampai sekarang belum bisa kakak lupakan. Tapi aku bukan gadis bodoh yang mau menerima pernyataan cinta kakak hanya karena tatapan mata aku mengingatkan kakak dengan
nggak yakin dengan perasaan kakak yang sebenarnya,” imbuhnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.
Ardi beranjak dari duduknya lalu menarik Zahra ke dalam pelukannya. Zahra meronta dan mendorong tubuh Ardi, “kasih aku waktu untuk mencari jawabannya,” pintanya.
Zahra tertawa, “jawaban untuk apa, Kak. Aku bisa melihat jelas dari kedua mata kakak, karena di situ aku hanya melihat cinta untuk Kak Kay,” ucapnya.
“Tapi aku nggak mungkin bisa memiliki Kay lagi, dia sudah menikah dengan Arka. Kay juga udah bahagia, apa aku juga nggak boleh bahagia?” tanya Ardi sambil menggenggam tangan Zahra.
“Aku nggak pernah melarang kakak untuk bahagia, tapi...aku nggak tau kebahagiaan kakak ada pada siapa.”
“Maka dari itu, kasih aku waktu untuk mencari jawabannya,” pinta Ardi lagi.
“Ini bukan kuis, Kak. Hingga kakak harus mencari jawaban yang tepat. Tapi semua itu ada pada ini.” Zahra meletakkan telapak tangannya di dada Ardi, “jantung kakak akan berdebar untuk siapa? Hati kakak untuk siapa?”
imbuhnya.
__ADS_1
“Hati aku untuk kamu.”
“Lalu jantung kakak berdebar untuk siapa?”
“Itu...”
“Kak Ardi nggak perlu menjawabnya, karena aku sudah tau jawabannya.” Zahra melepaskan tangan Ardi, “lebih baik kakak renungkan semua ini dengan baik,” imbuhnya lalu melangkah pergi.
Ardi hanya diam sambil melihat kepergian Zahra. Dia memang sudah menyerahkan hatinya untuk Zahra, tapi saat bersama dengan Zahra jantungnya tidak berdebar-debar, beda dengan saat dirinya berada di dekat dengan Kay.
Ardi mengacak-acak rambutnya karena frustasi, “sampai kapan aku akan seperti ini terus, sampai kapan! Dasar brengsek!” umpatnya sambil menjabat rambutnya dengan sangat kuat.
Mereka tidak menyadari jika sejak tadi Kenzo masih berada di sana. Diam-diam pria itu bersembunyi di balik pohon yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat Ardi dan Zahra duduk.
Kenzo lalu berjalan mendekati Ardi, pria itu lalu menonjok wajah Ardi dengan sangat keras, “brengsek!” teriaknya.
Ardi tersungkur di tanah, dia terkejut karena tiba-tiba Kenzo muncul lalu menonjok wajahnya. Pria itu lalu mencoba untuk berdiri, “pukul aku, jika itu bisa membuat kamu puas,” ucapnya.
“Apa maksud kamu tadi, kenapa kamu membuat Zahra menangis? Bukan kan kamu sudah berjanji nggak akan membuat dia menangis, lalu apa ini, hah!” seru Kenzo emosi.
“Aku tau aku salah, aku nggak seharusnya segegabah ini. Aku memang sangat mencintai Zahra, tapi saat Zahra bertanya, kenapa aku bisa jatuh cinta padanya...” Ardi menghentikan ucapannya.
“Apa kamu menjawab karena tatapan dia sama dengan tatapan Kay?” tebak Kenzo dan langsung mendapat anggukkan dari Ardi.
“Bodoh! Kenapa hal kayak gitu kamu katakan kepada Zahra, kamu cukup bilang kalau kamu jatuh cinta pada pandangan pertama. Alasan itu nggak perlu kamu katakan, toh Kay juga nggak bakalan jadi milik kamu lagi!”
“Tapi aku nggak mau membohongi Zahra, aku sebenarnya juga ingin menyakinkan diri aku sendiri. Apa selama ini aku benar-benar sudah move on dari Kay atau belum. Tapi saat bersama Zahra, jantung aku sama sekali tidak
berdebar-debar,” ucap Ardi sambil mendudukkan tubuhnya di bangku taman.
Kenzo menghela nafas panjang, “terserah! Aku sudah berusaha untuk mendekatkan kamu dengan Zahra, tapi ternyata masalahnya ada pada diri kamu sendiri. Aku sudah nggak bisa membantu kamu lagi, mungkin saat ini Zahra juga marah sama aku,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Ardi yang masih terduduk di bangku taman sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya dengan posisi menunduk. Pria itu sepertinya telah menyesali semua yang telah dia lakukan dan katakan.
~oOo~
__ADS_1