Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Apa salah aku?


__ADS_3

Keesokan harinya, Ardi dan Arka mengantar kedua orangtua Kay menuju bandara. David dan Merisa hendak pergi ke Kalimatan karena adanya undangan dari sahabatnya. Setelah memastikan kedua mertuanya menuju keberangkatan, Arka mengajak Ardi untuk pergi dari bandara itu. Sebelum pulang ke rumah, Arka mengajak Ardi untuk pergi ke tempat perbelajaan.


Setelah mereka sampai di tempat tujuan, Ardi mengikuti kemanapun kaki Arka melangkah, karena dia sebenarnya tidak ingin membeli apapun. Tapi Ardi terlihat sangat terkejut saat Arka melangkahkan kakinya masuk ke sebuah toko perhiasan.


Arka tampak tengah melihat-lihat, ada satu barang yang sangat menarik kedua matanya. Arka meminta pelayan toko itu untuk mengambilkan benda itu.


“Untuk apa kamu membeli kalung itu?” tanya Ardi penasaran.


Arka mengambil kalung dengan mata berlian yang mengantung di kalung itu, “apa kakak lupa hari ini hari apa?” pria itu terus menatap kalung yang berada di tangannya.


“Hari ini hari kamis, memangnya ada yang spesial di hari ini?”


“Aku akan mengambil kalung ini.” Arka memberikan kalung itu kepada pelayan itu, dia lalu mengalihkan padangannya menatap Ardi, “aku ingin memberikan kalung itu sebagai hadiah ulang tahun Kay. Seharusnya aku membelinya kemarin dan memberikannya tepat jam 12 malam kemarin, tapi aku lupa membelikannya hadiah. Jadi aku ingin memberikannya hari ini,” imbuhnya.


Ardi yang menjawab dengan ‘oh’ saja. Ini pertama kalinya dirinya melupakan ulang tahun Kay. Bahkan setiap tahun dia selalu mengucapkan selamat ulang tahun kepada mantan istrinya itu, meskipun hanya ucapan selamat.


Ardi menatap ke arah etalase yang berada di depannya, “aku juga ingin membelikan sesuatu untuk Zahra, meskipun hari ini bukan ulang tahunnya,” ucapnya.


“Apa kakak benar-benar sangat mencintai Zahra?” Ardi menganggukkan kepalanya, “tapi dia terlihat masih sangat muda. Dia bahkan lebih muda dari aku, apa kakak tidak takut akan gagal lagi nantinya?” tanyanya yang mampu membuat Ardi mengernyitkan keningnya.


“Maksud kamu apa?”


“Em...aku hanya nggak ingin kakak kembali terluka nantinya.” Arka menundukkan kepalanya.


“Kamu nggak usah memikirkan aku, karena aku tau apa yang harus aku lakukan!” seru Ardi penuh penekanan.


Arka hanya mampu mengucapkan kata maaf, ‘aku berharap Zahra akan benar-benar mencintai kakak, karena aku nggak mau kakak terluka lagi, aku tau aku lah dalang dari penderitaan kakak selama ini, itu sebabnya aku ingin yang terbaik untuk kakak.’


Ardi akhirnya mengambil sebuah kalung dengan liontin dengan insial A. setelah selesai membayar, dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Mereka pergi dari mall itu dan masuk kembali ke dalam mobil, Ardi lalu melajukan mobilnya.


Dalam perjalanan pulang tidak ada percakapan di antara keduanya, Ardi menatap lurus ke depan, sedangkan Arka menatap ke luar jendela. Arka menyadari akan kesalahannya, tidak seharusnya dia mengatakan semua itu kepada kakaknya. Tanpa pengalihkan pandangannya Arka mengucapkan maaf kepada Ardi.

__ADS_1


Ardi menghela nafas panjang, “kenapa kamu terus menerus minta maaf?”


“Karena nggak seharusnya aku berbicara seperti itu sama kakak. Aku tau jika selama ini aku lah biang dari masalah yang kakak hadapi selama ini, tapi aku malah mengatakan itu kepada kakak. Aku seharusnya bahagia, saat kakak memutuskan untuk menikah lagi, bukannya malah mengucapkan kata-kata yang nggak pantas itu.” Arka lalu menundukkan wajahnya.


“Ka, apa aku boleh jujur sama kamu?” Ardi menatap Arka sekilas, dia lalu kembali menatap ke depan.


“Apa?”


“Jujur, aku sangat membenci kamu jika mengingat semua yang kamu lakukan sama aku. aku bahkan ingin menghajarmu sampai aku puas. Sejak awal Kay memang milikmu, tapi apa salah aku, karena aku nggak mengetahuinya sejak awal. Aku ingin mengakhiri pernikahan itu, jika Kay menginginkannya, tapi ternyata Kay nggak ingin mengakhirinya. Lalu apa salah aku?” Ardi menghela nafas dengan kasar, “aku nggak suka dengan cara kamu memperlakukan Kay waktu itu, jika saja Kay bisa jujur sama aku, jika saja Mama nggak menutup-nutupi semua itu dari aku, aku juga nggak tau apa yang akan aku lakukan saat itu. Apa aku harus membunuhmu?” tanyanya.


“Kak, kenapa kakak mengingat itu lagi?”


“Jika aku membunuhmu, apa semua akan kembali normal? Apa aku akan bahagia setelah itu? Apa pernikahan aku akan tetap berjalan seperti biasanya?”


“Kak!”


Ardi menghentikan mobilnya di tepi jalan, “apa Kay akan kembali suci? Apa Kevin akan menjadi anak aku?” pria itu lalu menggelengkan kepalanya, “semuanya akan tetap hancur, Ka. Akan hancur! Bahkan yang lebih buruknya lagi, aku mungkin nggak bisa memperlakukan Kay seperti dulu lagi!” teriaknya.


“Apa salah aku, Ka? Apa? Apa selama ini aku masih kurang baik sama kamu? Apa kasih sayang yang aku berikan masih kurang cukup, hingga kamu tega melakukan ini sama kakak kamu sendiri?”


“Kak, maafkan aku. Waktu itu aku di butakan oleh keinginan aku untuk memiliki Kay, aku bahkan nggak memikirkan dampak apa yang akan kakak alami nantinya. Maafkan aku,” ucap Arka sambil menggenggam tangan Ardi dan menundukkan kepalanya.


Ardi mencengkeram kedua bahu Arka, “apa kamu tau, aku ingin mengatakan semua ini sama kamu sejak dulu, aku ingin sekali meluapkan semua ini dan menampar kamu dengan sangat keras, tapi...” Ardi lalu memeluk Arka, “aku nggak bisa melakukan itu, karena jika aku melakukan itu, bukan hanya kamu yang akan terluka, tapi Mama, Papa dan hati aku,” imbuhnya.


“Kak...”


Ardi melepaskan pelukannya, “hati aku akan sakit jika aku sampai menampar kamu, karena kamu adalah adik yang sangat aku sayangi, tapi sayang...adik aku ini ternyata nggak menyayangi kakaknya seperti aku menyayanginya,” ucapnya sambil menepiskan senyuman.


“Aku sayang sama kakak, kakak adalah kakak terbaik di dunia. Maafkan aku, Kak. maaf.”


Ardi menepuk bahu Arka, “sekarang kamu dan Kay sudah bahagia. Aku juga bahagia melihat kalian bisa bersatu kembali. Maaf, karena aku telah hadir di antara kalian berdua,” ucapnya.

__ADS_1


“Kakak nggak salah, itu bukan salah kakak.”


Ardi dan Arka kembali saling memeluk, Ardi akhirnya bisa meluapkan semuanya, rasa kesalnya dan juga kemarahannya selama ini. Kini hati Ardi merasa sangat lega, dia pun akhirnya bisa melepaskan semua masa lalunya dan menyambut masa depannya dengan wanita yang sangat dia cintai.


***


“Sayang, aku punya hadiah untukmu.” Seusai makan siang, Ardi mengajak Zahra untuk duduk di teras belakang, tiba-tiba Ardi menyodorkan sebuah kotak perhiasan berwarna merah beludru kepada Zahra.


“Apa ini, Kak?” Zahra tidak langsung menerima kotak perhiasan itu, dia mengamati kotak perhiasan itu dengan seksama, sebelum tangannya benar-benar mengambil kotak perhiasan itu dari tangan Ardi.


Tangan Zahra bergerak untuk membuka kotak perhiasan itu, kedua mata Zahra membulat dengan sempurna saat melihat isi kotak perhiasan itu, “Kak, ini benar-benar untukku?” tanyanya terkejut.


“Apa kamu suka?”


Zahra menganggukkan kepalanya, “sangat suka, ini sangat cantik.” Wanita itu lalu menyentuh liontin yang tergantung di kalung itu, “A...apa kakak sengaja menaruh inisial kakak di sini?” tanyanya kemudian.


“Aku ingin kamu selalu memikirkan aku saat melihat liontin itu. Sini aku bantu memakainya.”


Ardi mengambil kalung itu dari tangan Zahra, kemudian pria itu menarik tubuh Zahra hingga kini menghadap ke arahnya. Ardi lalu mengalungkan kalung itu ke leher Zahra. Dia mulai di sibukkan untuk mengaitkan pengait kalung itu saat rambut Zahra yang tergerai yang terasa menganggu berhasil dia singkirkan.


“Sudah.” Ardi tersenyum sambil menatap kedua mata Zahra hingga membuat kedua pipi wanita itu merona, “cantik,” imbuhnya.


“Terima kasih,” ucap Zahra sambil menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman.


Zahra menyentuh liontin kalung itu, dan menatapnya, “bukan hanya terukir di kalung ini saja, tapi nama kakak sudah terukir di hati aku.” wanita itu lalu mendongakkan wajahnya, “terima kasih untuk hadiahnya,” imbuhnya.


“Apa hanya ucapan terima kasih yang akan aku terima?” Ardi menarik tubuh Zahra agar semakin lekat dengan tubuhnya hingga tak ada cela di antara keduanya.


“La—lu apa yang kakak minta?” tanya Zahra gugup.


Ardi lalu mendekatkan wajahnya ke wajahnya Zahra, dia lalu membenamkan bibirnya ke bibir tipis wanita itu. Untuk sesaat mereka tenggelam dalam pangutan itu, hingga akhirnya mereka mengakhiri ciuman panas itu saat mendengar langkah kaki yang terdengar semakin mendekat.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2