Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Bonus Chapter 22


__ADS_3

“Bunda...” teriak Rasya saat melihat Kay berdiri di depan rumahnya. Rasya lalu memeluk Kay dengan sangat erat. Kay pun membalas pelukan anak itu.


“Halo sayang, gimana kabar kamu?” tanya Kay sambil mengusap puncak kepala Rasya.


“Baik, Bun.”


“Kamu nggak kangen sama kakak?” tanya Kevin sambil berpura-pura cemberut.


“Aku juga kangen sama Kak Kevin,” ucap Rasya lalu memeluk kakak tercintanya.


Lina menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumah.


“Kak Ardi mana, Ma?” tanya Arka.


“Katanya tadi mau ke rumah temannya,” ucap Lina.


“Terus Papa?”


“Papa kamu pergi bersama dengan teman-temannya, kalau nggak salah tadi katanya mau memancing.” Lina mengambil Ansel dari gendongan Arka, “cucu Oma sudah besar, ganteng lagi. Kak Kevin kalah ganteng pokoknya,” godanya sambil melirik ke arah Kevin.


Kevin mengerucutkan bibirnya, “masih gantengan Kevin lah, Oma. Ansel kan baru satu tahun,” ucapnya.


“Cucu Oma semuanya ganteng,” ucap Lina sambil mengusap puncak Kevin dan juga Rasya.


Lina mengajak mereka untuk duduk di ruang tengah, sedangkan Rasya mengajak Kevin untuk bermain di luar. Saat Kevin membuka pintu, dia melihat Ardi tengah berdiri di depan pintu, anak kecil itu lalu memeluk Ardi dengan sangat erat, kata rindu pun dia ucapkan.


“Kamu ke sini sama siapa?” tanyanya terkejut.


“Sama Ayah, Bunda dan juga Ansel,” ucap Kevin.


Kedua mata Ardi membulat dengan sempurna, kenapa Kay datang di saat seperti ini? Di saat hati ku mulai terbuka buat orang lain. Pikirnya.


“Ayah kenapa?” tanya Kevin saat melihat Ardi tengah melamun.


“Hah...em... nggak apa-apa, bukannya tadi kalian ingin bermain?” tanyanya mencoba untuk tetap tenang.


Kevin dan Rasya mengangguk lalu melangkah pergi, sedangkan Ardi melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ardi melihat Kay dan Arka tengah mengobrol bersama dengan mamanya di ruang tengah.


“Kapan kalian tiba di Jogja?” tanya Ardi sambil berjalan menghampiri mereka.


“Baru saja, Kak. Kakak habis dari mana?” tanya Arka.


Ardi duduk di samping mamanya, “aku dari rumah Kenzo. Tadi aku menemani Kenzo untuk menjemput sepupunya yang baru pulang dari Jepang,” ucapnya, pria itu mengambil alih Ansel dari pangkuan mamanya.


“Jagoan Om sudah sebesar ini ternyata, apa kabar sayang?” Ardi mencium kedua pipi gembul Ansel. Bayi mungil itu nampak tengah tertawa sambil menyentuh kedua pipi Ardi. Nampaknya bayi mungil itu suka dengan ketampanan Ardi.


“Sepertinya Ansel suka sama kakak, padahal Ansel sangat sulit dekat dengan orang lain,” ucap Arka terkejut melihat anaknya bisa langsung menempel saat kakaknya memangkunya.

__ADS_1


“Mungkin Ansel mengira aku ini ayahnya,” ucap Ardi sambil terus menciumi pipi gembul yang begitu menggemaskan.


“Ansel ternyata sama dengan kakaknya, sama-sama menganggap kakak sebagai ayahnya,” ucap Arka dengan nada tidak suka.


“Ka, bukan itu maksud aku. Maksud aku, karena wajah kita mirip, makanya Ansel mengira aku ini kamu.” Ardi merasa ucapannya tadi sudah menyinggung perasaan adiknya, pada hal dirinya sama sekali tidak mempunyai niat


apa pun dengan ucapannya itu.


“Aku juga tau, Kak. Kenapa kakak jadi serius seperti itu?” tanya Arka sambil menepiskan senyumannya.


Terdengar suara pintu di ketuk.


“Biar aku saja yang buka,” ucap Kay lalu beranjak dari duduknya. Kay berjalan menuju pintu utama.


“Maaf, mencari siapa ya?” tanyanya saat melihat seorang gadis kini tengah berdiri di depan pintu.


“Apa Kak Ardi nya ada?”


“Maaf, ini dengan siapa ya?”


“Maaf, saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Zahra,” ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


“Kay,” ucap Kay sambil menjabat tangan Zahra. Kay menyuruh Zahra untuk masuk dan mempersilahkannya duduk.


“Aku akan panggilkan Kak Ardi dulu,” ucap Kay dan mendapat anggukan dari gadis itu.


“Siapa gadis itu?” Kay terlihat sangat penasaran. Dia lalu berjalan menuju ruang tengah, “Kak, ada gadis yang nyariin kak Ardi,” ucapnya.


“Tadi katanya namanya Zahra,” ucap Kay.


Kedua mata Ardi membulat dengan sempurna, mulutnya menganga. Pria itu benar-benar di buat terkejut dengan kedatangan Zahra ke rumahnya. Dari mana dia tau rumah aku? Pikirnya.


“Zahra? Siapa itu, Kak?” tanya Arka penasaran.


“Adik sepupu Kenzo.” Ardi lalu beranjak dari duduknya dan melangkah menuju ruang tamu, pria itu sampai lupa jika saat ini dirinya tengah mengendong bayi mungil yang sejak tadi memasukkan jarinya ke dalam mulutnya, hingga cairan yang menetes dari mulutnya membasahi kemeja Ardi.


“Zahra! Untuk apa kamu datang ke rumah aku? Kamu tau rumah aku dari mana?” Ardi memberondong pertanyaan kepada gadis itu.


Bukannya menjawab, gadis itu malah tengah asyik menatap bayi mungil yang berada di gendongan Ardi, “bayi mungil ini siapa, Kak?” tanyanya penasaran.


“Anak aku,” ucap Ardi berbohong.


Zahra membulatkan kedua matanya, “kakak sudah punya anak?” tanyanya terkejut.


Ardi mengangguk lalu duduk di sofa tunggal tak jauh dari tempat gadis itu duduk, “kenapa? Apa aku masih terlihat seperti anak muda,” godanya.


“Hah...bukan gitu. Ya aku nggak menyangka aja Kak Ardi sudah mempunyai anak, sedangkan Kak Kenzo sampai sekarang masih suka gonta ganti pacar, sampai pusing aku melihatnya.”

__ADS_1


“Apa kamu menyukai anak kecil?”


Zahra mengangguk, “aku sebenarnya ingin mempunyai adik, tapi Mama dan Papa tidak mau memberikannya,” ucapnya.


“Kenapa kamu nggak membuatnya sendiri kalau kamu suka anak kecil?”


“Hah..maksud kakak apa?” tanya Zahra sambil mengernyitkan dahinya.


Ardi merutuki dirinya sendiri, kenapa juga tadi mulutnya mengucapkan semua kata-kata itu? “em...maksud aku, apa kamu mau mengendong Ansel?” Ardi terlihat sangat gugup.


“Apa aku boleh mengendongnya?”


Ardi mengangguk, dia lalu berdiri dan beralih duduk di samping gadis itu. Ardi memindahkan Ansel ke pangkuan Zahra. Entah mengapa Ansel hanya diam dalam pangkuan gadis itu, tidak seceria saat Ardi memangkunya.


“Sepertinya Ansel tidak suka sama aku,” ucap Zahra sedih.


“Walau Ansel nggak suka sama kamu, tapi aku tetap menyukaimu,” ucap Ardi dengan senyuman di wajahnya.


Zahra kembali mengeryitkan dahinya, “apa maksud kakak? Kak Ardi menyukai ku?” tanyanya memastikan.


“Hah...nggak, aku nggak bilang kayak gitu. Kamu salah mendengar mungkin,” ucap Ardi menggelak.


“Masa aku salah denger. Tadi kakak benar-benar bilang kalau kakak menyukaiku,” ucap Zahra sambil mengernyitkan keningnya.


“Tadi itu aku bilang, meskipun Ansel tidak suka sama kamu. Tapi lama kelamaan dia akan suka sama kamu. Itu karena Ansel belum terbiasa sama kamu.” Ardi mencoba menahan deru detak jantungnya yang seakan ingin


meloncat keluar.


“Mungkin juga, nggak mungkin kan Kakak suka sama aku. Apa lagi kakak sudah mempunyai anak, nanti mama nya Ansel salah paham lagi,” ucap Zahra sambil menciumi kedua pipi gembul Ansel.


Ardi mengambil Ansel dari pangkuan Zahra, pria itu takut jika nanti Ansel akan menangis jika terlalu lama berada di pangkuan Zahra, “kamu belum menjawab pertanyaan aku. Bagaimana kamu tau rumah ku dan untuk apa kamu datang ke rumah aku? Apa ada sesuatu hal yang penting, yang ingin kamu bicarakan sama aku?” tanyanya penasaran.


~oOo~


 


Kevin



 


Rasya



 

__ADS_1


Ansel



__ADS_2