Kekasihku Kakak Iparku

Kekasihku Kakak Iparku
Aku bukan lelaki sempurna...


__ADS_3

Zahra melepaskan pelukan Ardi, dia tatap kedua mata sendu Ardi, “Kak...aku, aku nggak pantas untuk kakak,” ucapnya.


Ardi menggenggam tangan Zahra, “hanya kamu yang pantas untuk aku, aku nggak mau siapapun selain kamu,” ucapnya.


Zahra menundukkan wajahnya, dia tidak tau harus berkata apa. Dirinya tidak memungkiri jika saat ini dia sangat bahagia saat mengetahui bukan Ardi yang menikah dengan Micel. Gadis itu seakan mempunyai harapan baru, tapi saat pria itu kembali menyatakan perasaannya, kenapa dia begitu takut untuk menjalani hubungan itu?


“Apa kamu nggak percaya sama aku? Apa karena sekarang aku sudah kelihatan tua hingga kamu nggak ingin bersama ku? Apa kamu malu saat bersama ku? Apa...”


Zahra menutup mulut Ardi dengan jari telunjuknya, dia lalu menggelengkan kepalanya, “bukan begitu, Kak. Tapi, apa kakak yakin ingin menjalani hubungan ini sama aku?” tanyanya.


Ardi mengecup punggung tangan Zahra, “aku sangat yakin, aku bahkan rela menunggu kamu selama empat tahun ini,” akunya.


“Aku nggak percaya, kalau kakak memang mencintai aku selama empat tahun ini, tapi kenapa kakak nggak pernah menemui aku dan juga menghubungi aku?” tanya Zahra penasaran. Padahal selama empat tahun ini Zahra berharap Ardi akan datang untuk menemuinya, tapi selama empat tahun itu pula dia harus menelan kekecewaan karena Ardi tidak pernah datang ke rumahnya, dia juga tidak menghubunginya.


“Selama satu tahun aku selalu datang ke rumah kamu, tapi aku hanya melihat kamu dari kejauhan. Aku nggak bisa menemuimu karena aku pikir kamu sudah melupakan aku saat aku melihat kamu sedang bersama dengan Samuel.”


“Kenapa Kak Ardi nggak datang untuk menemui aku? Jika waktu itu kakak menemui aku, maka kesalahpahaman ini nggak perlu terjadi.”


Ardi menakup kedua pipi gadis itu, “aku nggak menyesali kesalahpahaman ini, karena aku bisa mendengar semua curahan isi hati kamu. Aku bahagia saat kamu mengatakan jika kamu ternyata juga mencintai aku,” ucapnya.


Zahra tersenyum malu, dia sendiri juga tidak menyangka dirinya akan mengatakan itu semua.

__ADS_1


“Sekarang jawab pertanyaan aku tadi, apa kamu mau menjalani hubungan ini dari awal lagi, dengan ku tentunya?” tanya Ardi dengan senyuman di wajahnya.


Zahra tersenyum, dia lalu menganggukkan kepalanya. Gadis itu tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Dia juga tidak ingin kehilangan Ardi lagi hanya karena sifat kekanak-kanakannya dulu.


Ardi memeluk Zahra dengan sangat erat, dia terlihat begitu bahagia. Ardi membuka pintu mobil dan keluar dari mobil, dia lalu berjalan menuju pintu penumpang untuk membukakan pintu untuk gadis itu. Ardi mengulurkan tangannya, dengan senang hati Zahra menyambut uluran tangan itu.


Mereka kembali masuk ke dalam gedung. Kenzo tersenyum saat melihat Ardi dan Zahra masuk ke dalam gedung sambil bergandengan tangan. Mereka pun kembali menikmati acara pernikahan Kenzo yang masih berlangsung.


Samuel berjalan menghampiri Zahra dan Ardi, “apa masalah di antara kalian sudah berakhir?” tanyanya.


Ardi tersenyum lalu merangkul pundak Zahra, “sekarang dia milikku, bukan lagi tunangan kamu,” sindirnya.


Samuel dan Zahra tertawa, “maaf, jika aku harus ikut-ikutan membohongi kamu. Awalnya aku ingin memperkenalkan diri aku sebagai kakak sepupunya Zahra, tapi aku nggak menyangka Zahra akan mengenalkan aku sebagai tunangannya,” ucapnya.


Zahra mengerucutkan bibirnya, “aku belajar itu juga dari kakak, apa kakak lupa?” sindirnya balik.


Ardi dan Samuel terkekeh. Ardi terus menatap wajah cantik Zahra yang terus berceloteh tiada henti, gadis itu bagaikan magnet yang mampu menarik Ardi dimanapun dia berada. Jika saat ini mereka hanya berdua saja, mungkin saat ini Ardi sudah membungkam mulut Zahra dengan bibirnya.


Ardi meninggalkan Zahra yang sedang mengobrol bersama dengan Samuel. Pria itu berjalan menuju meja tempat di mana tadi Zahra dan Samuel duduk. Dia lalu mengambil buket bunga yang tadi dia berikan kepada Samuel.


Ardi kembali berjalan menghampiri Zahra dan Samuel yang masih terus mengoceh tiada habisnya, “Zahra,” panggilnya.

__ADS_1


Zahra menoleh ke arah Ardi, dia terkejut saat melihat Ardi membawa buket bunga yang tadi diberikan oleh Samuel.


“Kak, itu...”


Ardi tersenyum, menggenggam buket bunga itu lalu mulai bersimpuh di depan Zahra. Seketika mereka berdua menjadi tontonan para tamu undangan yang hadir di sana. Bukan hanya para tamu undangan, bahkan Samuel, Kenzo, Sahwa, Micel, dan Kris sangat terkejut saat melihatnya.


“Apa yang akan Ardi lakukan?” Kenzo beranjak dari duduknya dengan kedua mata menatap ke arah Ardi dan Zahra yang saat itu menjadi pusat perhatian.


“Kak, apa yang kamu lakukan? Semua orang menatap ke arah kita,” ucap Zahra lirih.


Ardi tidak menjawab, dia lalu mengeluarkan satu kotak berwarna merah dari dalam saku celananya dan membukanya. Sebelum menemui Zahra dan Samuel, Ardi keluar dari gedung dan berjalan menuju mobilnya. Dia mengambil sebuah kotak yang diletakkan di dashboard mobilnya. Kotak itu sudah dibeli sejak lama dan akan dia berikan kepada Zahra, tapi baru sekarang dia memberikannya.


“Zahra...” mulainya, “aku tau, aku bukan lelaki sempurna yang memiliki segalanya untuk kamu. Aku juga bukan pria muda yang bisa membuatmu bangga saat kamu berjalan dengan ku dengan menggandeng tanganku.”


Kedua mata Zahra mulai menggenang, dan tangannya bergetar gugup. Dia begitu terkejut mendapati Ardi yang kini tengah berlutut di depannya dengan membawa kotak yang berisi cincin di dalamnya. Gadis itu juga tidak bodoh, dia tau apa maksud semua itu.


“Aku nggak bisa menjanjikan apapun sama kamu, atau mungkin aku juga nggak bisa memberikan kamu sesuatu yang spesial. Tapi...” Ardi mulai menarik nafasnya, “kamu harus tau. Rasa cinta aku sama kamu dari dulu sampai sekarang tidak pernah berkurang sedikitpun, tapi malah semakin tumbuh setiap harinya. Rasa ini akan aku bawa sampai kita menua nantinya, sampai akhir hayat ku.”


Zahra mulai terisak, dia sudah tidak sanggup lagi menahan cairan bening yang sudah sejak tadi memenuhi kedua sudut matanya.


“Zahra, mungkin untuk kamu ini terlalu cepat, karena baru tadi kita berjanji untuk memulainya dari awal lagi. Tapi aku sudah mempersiapkan semua ini sejak lama, sejak aku menyadari kesalahan aku dulu, aku sudah berniat untuk melakukan ini. Tapi ternyata ada kesalahpahaman di antara kita hingga aku menundanya.” Ardi mengambil cincin dari kotak itu, “sekarang aku nggak ingin menundanya lagi, cukup sekali aku kehilangan kamu, dan aku nggak ingin itu terjadi lagi. Mungkin ini bukan waktu dan tempat yang tepat untuk melakukan ini, tapi aku benar-benar sudah tidak bisa menahan diriku untuk mengatakan ini sama kamu. Zahra...mau kah kamu menikah dengan ku? Menjadi ibu dari anak-anak ku, dan menua bersama dengan ku?”

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2